The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Menghindarimu, apa aku bisa?


__ADS_3

Kelas yang harus Rose hadiri hari ini telah usai semua. Gadis itu berjalan keluar dari gedung fakultasnya.


"Rose, kelasmu sudah selesai?" Tanya seorang gadis yang tiba-tiba sudah berjalan di sampingnya.


"Nana? Ah— ya sudah selesai. Bagaimana denganmu?"


"Sama sepertimu." Jawab Nana.


"Begitu ya."


"Apa kau ingin pulang bersama kami?" Tanya Nana sembari menunjuk pada seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka dari belakang.


Rose menoleh kebelakang, mengikuti arah jari Nana yang menunjuk seorang pria, pria itu ternyata adalah Yuan.


"Ah tidak terimakasih, maaf aku harus menolaknya. Karena aku harus pergi ke tempat kerja paruh waktu ku." Kata Rose.


"Kami bisa mengantarmu." Ujar Nana.


"Tidak— tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkannya lagi." Ucap Rose, maksud Rose adalah, ia tidak ingin merepotkan Yuan lagi.


Saat ini, Rose tengah  berjuang  untuk melupakan Yuan. Itu yang sempat ia janjikan pada Yana, tapi entah dirinya bisa atau tidak, Rose sedang mencobanya.


Karena itu, ia tidak mau berada dalam jarak dekat dengan Yuan, Rose harus menjaga jarak, dan sebisa mungkin, mengurangi intensitas pertemuan mereka, baik sengaja ataupun tidak sengaja.


"Aku tidak merasa direpotkan, lagipula anggap saja ini sebagai balasan untukmu karena sudah membantu—"


"Eh! Sepertinya bus nya hampir datang, aku harus cepat, jika tidak, aku bisa tertinggal bus nanti. Aku pergi dulu ya, sampai jumpa." Sela Rose, gadis itu kemudian berlari begitu saja, menyisakan ribuan pertanyaan di kepala Nana dan Yuan yang melihat sikap anehnya itu.


"Ada apa dengannya?" Tanya Nana.


Yuan hanya diam, tatapannya terpaku pada Rose yang sudah berlari jauh dari mereka.


"Apa kau menyuruhnya untuk menjauhi dirimu?!"


"Tidak." Jawab Yuan singkat.


"Jangan berbohong Yuan! Kau ini tidak tahu terimakasih ya? Dia sudah membantumu, tapi sekarang kau bersikap seperti itu padanya."


"Sudah aku katakan, aku tidak menyuruhnya untuk menjauhi atau apapun itu. Terserah kau mau percaya atau tidak, aku tidak ada waktu untuk berdebat dengan mu. Kau ingin pulang bersamaku atau tidak, jika iya cepatlah." Ujar Yuan sembari berjalan mendahului Nana yang mendecih kesal padanya.


Mereka berjalan menuju ke area parkir, masuk ke dalam mobil sport Yuan, tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan area kampus.


Saat melintasi halte bus yang dulu sering ia duduki untuk menunggu bus datang. Terlihat oleh Yuan sosok yang sering bersamanya beberapa minggu kemarin.

__ADS_1


Rose tampak duduk seorang diri disana, Yuan tahu kalau tadi itu, Rose berbohong soal tertinggal bus. Karena Yuan sudah hafal jadwal bus yang akan gadis itu tumpangi.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Nana.


"Tidak ada." Jawab Yuan, pria itu menginjak pedal gas dan semakin mempercepat laju mobil, menjauh dari halte bus itu.


•••


Beberapa menit perjalanan, Yuan dan Nana sampai dirumah keluarga Gavin. Dua kakak beradik sepupu itu masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobil ke dalam garasi.


"Aku pulang." Ucap Yuan yang sudah menjadi kebiasaannya.


"Oh Nana, kau ikut Yuan pulang ya. Sudah lama kau tidak berkunjung kemari." Ujar nenek Calista, tadinya ia berniat menyambut Yuan, tapi ketika pandangannya menangkap sosok Nana, rasa senang yang begitu kentara menyelimuti dirinya.


"Halo nenek, apa kabar?" Sapa Nana.


"Seperti yang kau lihat, semakin tua." Jawab nenek Calista.


"Tapi bagaimanapun juga, nenek tetap terlihat awet muda." Sanjung Nana.


"Ah kau ini bisa saja. Oh iya, kalian belum makan siang kan? Ayo makan siang dulu."


"Yuan belum lapar grandma." Ujar Yuan.


"Mom ada dirumah?" Tanya Yuan.


"Belum lama tadi sudah kembali ke restorannya." Jawab nenek Calista.


"Coba tadi kau memaksa Rose untuk mengantarnya, kau juga bisa bertemu dengan bibi Ana disana." Ujar Nana.


"Rose? Siapa itu?" Tanya nenek Calista.


"Pacar Yuan nek." Jawab Nana asal.


"Apa yang kau katakan? Jangan asal bicara. Grandma jangan dengarkan perkataan Nana, dia berbohong." Ujar Yuan.


"Ck, jangan sampai menyesal kalau dia menjadi milik orang lain." Ucap Nana.


"Kau pikir dia itu barang yang bisa di klaim kepemilikannya? Sudahlah, aku ingin istirahat." Kata Yuan pada Nana.


"Yuan pergi ke kamar untuk istirahat ya grandma." Ujar Yuan sopan pada neneknya itu.


Nenek Calista mengangguk dengan senyuman-nya.

__ADS_1


"Iya, jika nanti kau lapar, minta kepala pelayan untuk menyiapkan makanan yang mommy mu buat ya."


"Iya grandma." Jawab Yuan, pria itu kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Hah anak itu, belum paham juga dengan perasaannya." Gumam Nana.


"Ayo Nana, kita makan." Ajak nenek Calista.


"Iya nek." Balas Nana sembari mengalihkan pandangannya dari Yuan yang masih menaiki tangga.


•••


Rose berjalan menyusuri trotoar jalan raya itu. Kakinya terus melangkah di bawah terik matahari yang menyengat.


Ia tidak sedang menuju ke restoran tempatnya bekerja, karena hari ini sebenarnya dirinya sedang mendapatkan libur mingguannya.


Sengaja ia berbohong pada Yuan dan Nana karena dirinya benar-benar harus memulai perjuangannya untuk berhenti mencintai Yuan.


Dari segi apapun, dirinya tidak sebanding dengan Yuan. Rose pikir, ia tidak akan pernah bisa bersama Yuan. Maka dari itu, ia harus berhenti mencinta pria itu mulai dari sekarang, sebelum semuanya terlambat, yang menyebabkan luka di dalam hatinya semakin terbuka lebar.


Rose menghentikan langkahnya ketika kakinya telah sampai pada ujung trotoar, didepannya terlihat sebuah jalanan aspal yang terlihat seperti tanjakan.


Sebuah jembatan layang atau flyover berada tepat di depan matanya. Sebuah tempat sederhana namun sangat bermakna baginya, tempat yang sampai saat ini terus bersemayam di ingatannya.


Kenangan manis yang telah mampu merubah pola pikir dan hidupnya itu terjadi di tempat ini.


Rose mulai berjalan, melangkahkan kakinya ke arah flyover itu, ia terus berjalan di sisi jembatan sampai akhirnya kakinya berpijak pada tempat dimana semuanya dimulai.


Tempat Rose berdiri saat ini adalah sebuah tempat awal pertemuannya dengan pria itu.


Walaupun pria itu telah melupakan hari itu, tapi Rose masih mengingatnya dengan sangat jelas.


Rose tersenyum mengenang sebuah kenangan yang telah berlalu selama enam tahun ini.


Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah permen yang terlihat usang dan pastinya sudah kadaluwarsa dari dalam tasnya.


Lama ia memandangi permen itu, bahkan jika berkedip bukan suatu kebutuhan, maka Rose mungkin tidak akan berkedip saat ini, karena terlalu fokus pada permen yang ada dalam genggamannya itu.


Pada kedipan mata yang kesekian kalinya, Rose seakan terhempas jauh dalam kenangan enam tahun yang lalu.


Roll film seolah sedang terputar dikepala-nya. Perlahan-lahan, ingatan itu membawanya kembali pada masa enam tahun silam.


Dimana saat itu ia berdiri sebagai seorang gadis belia berusia enam belas tahun, seorang gadis sekolah menengah atas yang tengah bertaruh pada hidupnya.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2