The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Di bawah Payung Hitam yang Sama


__ADS_3

Ray kembali tersenyum. Tapi, tak lama dari itu, senyum Ray tiba-tiba luntur dari wajahnya. Senyum itu menghilang dan digantikan oleh raut wajah sedihnya.


"Ada apa kak?" Tanya Alex yang dapat melihat jelas perubahan ekspresi kakaknya.


"Alex, apa kau tidak berniat untuk menikah?" Tanya Ray.


Saat pertama kali mendengar pertanyaan itu, Alex tampak terkejut. Tapi, itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Karena, pada detik berikutnya. Pria itu kemudian menampilkan raut wajah tersenyum. Hanya saja, bukan senyum bahagia. Tapi, sebuah senyuman yang menutupi kesedihan di dalam hatinya.


"Aku pikir, itu bukan hal penting untuk di bahas." Kata Alex.


Ray menghela nafasnya. Pria paruh baya itu sudah menebaknya, ia tahu kalau Alex akan menghindari pembahasan semacam itu. Tapi masalahnya, ini demi masa depan Alex. Di umurnya yang sudah memasuki paruh baya, pria itu belum menikah. Kalaupun dirinya menikah, ia pasti hanya akan mendapatkan pasangan seorang janda. Karena, tidak mungkin seorang gadis mau menikah dengan seorang pria tua seperti Alex. Sekalipun wajahnya masih tergolong mempesona.


"Alex. Bagaimanapun juga, memiliki pasangan hidup yang akan menemani hari tuamu itu lebih baik daripada tidak. Aku tahu, kau memiliki alasan tersendiri untuk hal ini. Tapi, coba kau pikirkan tentang hari kedepanmu. Apa kau selamanya akan melajang seperti ini terus?"


Alex diam, pria itu terlihat memikirkan sesuatu. Ia ingin menjawab perkataan kakaknya. Namun, tidak ada kata yang dapat dirinya ucapkan.


Melihat adik beda ibunya itu hanya diam saja. Ray kembali menghela nafasnya. Membahas hal semacam ini bersama Alex, memang selalu tidak pernah menemukan jalan keluar. Adiknya itu akan selalu bungkam, entah sengaja atau tidak, tapi Alex akan diam.


"Hah— aku harus pergi sekarang." Ucap Ray sembari melihat sebuah arloji yang melekat ditangannya.


Alex mengangguk menanggapinya. Pria itu ikut berdiri ketika melihat Ray telah berdiri dari duduknya.


"Aku berharap, lain waktu kita bisa membahas hal ini lagi. Dan kau— aku berharap, kau bisa lebih terbuka pada hatimu. Baiklah, sepertinya— aku banyak berbicara hari ini. Aku pergi dulu, sampai jumpa." Kata Ray sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu.


Alex berdiri menatap kepergian kakaknya. Pintu ruangan yang telah tertutup kembali itu menjadi titik tumpu pandangan Alex saat ini. Pria itu tampak melamun, menatap kosong kedepan.


•••


Mobil yang Yuan kendarai telah sampai di parkiran kampus.


Hujan deras masih mengguyur wilayah itu, membuat suasana tempat parkir yang biasanya ramai dengan para gadis, kini tampak sepi.


"Diam disini dan tunggu sebentar." Ucap Yuan sebelum kemudian turun dari mobil dengan payung yang terbuka.


Yuan berjalan di bawah payung yang melindungi dirinya dari hujan. Pria itu melangkahkan kakinya menuju pintu mobil di sisi kiri.

__ADS_1


Rose dari dalam mobil hanya bisa diam dan memperhatikan seorang pria yang berjalan di bawah payung hitam itu.


Butuh beberapa detik, sebelum akhirnya Yuan sampai di sisi kiri pintu mobil. Setelah itu, Yuan tampak menggerakkan tangannya dan membuka pintu mobil itu.


"Keluarlah." Kata Yuan sembari mencondongkan payungnya ke arah pintu mobil.


Rose diam, ia masih merasa bingung dengan sikap Yuan pagi ini. Semua perlakuan Yuan ini benar-benar membuatnya gagal untuk berhenti menaruh hati pada pria itu.


Rose ingin memberi umpatan kekesalannya pada Yuan. Tapi, rasa bahagianya yang seperti mimpi indah ini telah mengalahkan semua rasa kesalnya.


"Kenapa diam saja? Kau ingin membuatku menunggu? Cepat keluar, kalau tidak aku akan meninggalkanmu disini tanpa payung." Ujar Yuan.


"Iya, maaf." Ucap Rose yang hanya bisa mengeluarkan dua kata itu dari mulutnya.


Kemudian, Rose turun dari mobil itu. Payung hitam langsung melindunginya dari hujan ketika kakinya mulai menapaki area parkir.


Yuan dengan sigap merengkuh tubuh gadis itu seperti sebelumnya. Tindakannya itu kembali membuat Rose terkejut, walaupun ini bukan yang pertamakalinya.


Setelah menutup pintu mobil itu kembali. Yuan berjalan diiringi Rose yang berada dalam dekapannya.


Dari balik kaca jendela gedung-gedung bertingkat universitas itu. Terlihat banyak mahasiswa dan mahasiswi berdiri disana. Mereka tampak berebut tempat untuk dapat melihat kehebohan besar yang terjadi saat ini.


Dalam hitungan detik, platform universitas menjadi ramai dengan topik pembahasan 'siapa gadis di balik payung hitam bersama Yuan itu?'


Banyak komentar yang telah tertoreh di postingan itu, foto mereka pun telah tersebar dan dibagikan ke berbagai media online.


Tak sedikit orang yang memuji keromantisan mereka. Tapi, banyak juga yang membencinya, terutama kebencian untuk gadis itu.


Entah kenapa hawa dingin dan menusuk ini— rasanya berbeda sekali, tidak seperti sebelumnya. Aku merasa— seperti banyak pasang mata yang sedang menatapku dengan penuh ke-irian. — Batin Rose.


"Ada apa?" Tanya Yuan.


"Eh? Apa?"


"Wajahmu itu terlihat sekali kalau kau sedang memikirkan sesuatu." Ujar Yuan.

__ADS_1


"Begitukah? Tapi, itu bukan hal penting. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Rose.


"Ck, kau itu ternyata memang punya rasa percaya diri yang tinggi sekali ya. Siapa yang khawatir padamu. Aku hanya sekedar bertanya saja."


"Maaf."


Yuan merasa jengah mendengar kata maaf keluar dari mulut gadis itu lagi.


"Rose, aku beritahu kau ya. Jangan terlalu mudah mengatakan maaf."


"Kenapa?"


Yuan menghentikan langkahnya ketika dirinya melihat sebuah gedung dengan tulisan fakultas hukum telah berada di depan matanya.


Sejenak, pria muda itu diam memperhatikan Rose. Menatap kedalam mata gadis yang ada di sampingnya itu.


"Rose." Panggil seseorang yang baru saja keluar dari dalam gedung fakultas hukum, itu Feng.


Rose menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Tapi kemudian, kepalanya kembali teralih menatap Yuan lagi saat pria disampingnya itu menahan kepalanya untuk tidak mengalihkan pandangan dari pria itu.


"Saat aku ada disampingmu, jangan pernah menoleh pada siapapun, apalagi seorang pria. Sekarang masuklah ke dalam gedung fakultasmu dan abaikan pria itu." Ujar Yuan.


"Kenapa kau— "


"Ssttt— satu lagi yang harus kau ingat. Jangan pernah bertanya 'kenapa' padaku. Karena aku tidak membutuhkan alasan untuk melakukan apapun yang kumau padamu, selama itu baik untukmu, kau cukup diam dan menurut saja." Kata Yuan yang sengaja menyela pertanyaan Rose.


"Sekarang, masuklah. Aku tidak bisa terus berdiri disini bersamamu. Aku juga punya mata kuliah yang harus aku hadiri pagi ini." Ujar Yuan, lagi.


Rose mengangguk, lalu setelah itu ia segera berlari kecil menuju gedung fakultasnya. Disana ia berhenti sejenak, kemudian berbalik dan menatap ke arah Yuan.


"Terimakasih." Ucap Rose sembari melemparkan senyum tulusnya.


Yuan tampak mengangguk. Pria itu kemudian berlalu dan pergi menuju fakultasnya sendiri.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang.✍

__ADS_1


__ADS_2