The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Pernikahan dan Masa Depan


__ADS_3

Malam itu langit tampak ceria. Suasananya terasa sejuk dan damai.


Hembusan angin malam yang bagaikan belaian lembut dari orang terkasih membuat hati merasa tenang dan nyaman.


Rose terlihat duduk pada salah satu meja yang sudah di reservasi atas nama Yuan.


Malam itu Rose tampak mengenakan gaun dengan warna merah maroon, sebuah gaun yang Yuan berikan padanya tadi sore.


“Permisi nona, apakah anda ingin memesan sesuatu?” tanya seorang waittres restoran tersebut.


Rose tersenyum kaku, lalu dengan sopan ia menggelengkan kepalanya sembari berkata. “Maaf, saya masih menunggu seseorang.”


“Oh baiklah, kalau sudah ingin memesan, panggil saja saya. Permisi.” ujar si pelayan, kemudian ia pergi dari hadapan Rose.


Gadis itu kemudian menghembuskan nafasnya setelah melihat pelayan tadi pergi dari hadapannya.


“Kenapa Yuan masih belum datang juga?” gumam Rose sembari menatap arloji yang melekat di tangan kanannya.


Sejujurnya, Rose sangat tidak nyaman berada di suatu tempat yang semestinya dia tidak bisa menginjakkan kakinya di sana.


Restoran ini sangat mewah, bahkan menu yang di tawarkan begitu berkelas.


Rasa tidak percaya diri pun kembali menyelimuti diri gadis itu.


Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi Rose berada di lingkungan yang bukan semestinya ia berada. Tapi tetap saja, setiap kali Yuan mengajaknya ke tempat seperti ini, rasanya sangat membuatnya tidak percaya diri.


“Apa kau sudah menunggu lama?” tanya seorang pria dengan tangan yang tiba-tiba menyentuh bahu Rose, membuat gadis itu sedikit berjengkit kaget.


Kemudian, Rose menatap tangan Yuan yang masih menempel di bahunya itu, lalu ia tampak menoleh ke arah sang pria tersebut.


“Tidak, tidak begitu lama.” jawab Rose sembari tersenyum manis.


“Maaf ya Rose. Yuan terlambat datang karena menunggu bibi yang lama merias diri.” ujar Ana yang keberadaannya belum disadari oleh Rose.


Mendengar suara lain yang ia kenali, Rose langsung mengalihkan pandangannya dari Yuan dan berganti menatap ibu pria itu yang berada di sisi kanannya.


“Bibi Ana?” ucap Rose dengan respon tubuhnya yang tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya dan membungkuk hormat pada wanita paruh baya itu.


“Apa yang kau lakukan? Tidak perlu seperti itu pada ibuku.” ujar Yuan sembari menekan bahu Rose ke bawah, agar gadis itu duduk kembali ke kursinya.


Ana tersenyum melihat wanita yang dicintai anaknya itu tampak masih canggung di hadapannya.


Ya, bagaimanapun juga, kedua wanita berbeda usia itu dulunya adalah seorang atasan dan bawahan.


“Benar apa yang Yuan katakan, kau tidak perlu bersikap canggung seperti itu di hadapanku. Bagaimanapun juga, kau ini kan calon menantuku di masa depan.” kata Ana dengan senyum hangatnya.

__ADS_1


Rose membalas senyuman dari Ana itu dengan senyum canggungnya. Ia sungguh belum bisa bersikap biasa saja pada seseorang yang baginya sangat tinggi status sosialnya.


“Rose, mommy, kalian berdua duduklah. Aku akan memanggil pelayan untuk memesan makanan.” ujar Yuan.


“Iya, baiklah.” ucap Ana, kemudian ia duduk di salah satu kursi meja makan tersebut.


Lalu, Ana tampak mengajak Rose mengobrol, mengobati kecanggungan di hati gadis muda itu.


Di sisi lain. Tanpa Ana dan Yuan sadari, sejak mereka keluar dari pekarangan rumah tadi, keduanya sebenarnya diikuti oleh seseorang. Seorang pria paruh baya yang merupakan orang terdekat mereka.


Ray, dia merasa curiga dengan Ana yang tidak biasa pergi keluar malam kecuali ada jamuan makan malam, itu pun Ana pergi bersama dengan dirinya.


Kalau hanya makan malam bersama Yuan, pasti Ana juga akan mengajak Ray walau wanita paruh baya itu masih marah dengannya.


Karena semua alasan yang cukup masuk akal itu. Ray pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka. Dan sekarang, disinilah pria itu berakhir sebagai seorang penguntit dan penguping pembicaraan orang lain.


Ray duduk pada salah satu kursi yang berada tidak jauh dari meja yang Yuan reservasi atas namanya.


Pria paruh baya itu tampak duduk membelakangi ketiga orang yang saat ini sedang mengobrol dengan candaan yang mengiringi.


“Jadi seperti itu.” gumam Ray disela-sela kegiatan mengupingnya. “Ini alasanmu menolak permintaanku yang ingin menjodohkan Yuan dengan Rue.” sambungnya lagi dengan senyum sinis yang membuat orang lain merasa tidak nyaman melihatnya.


“Sudah berapa lama kalian berdua menyembunyikan hal ini dariku? Cih, bagus sekali. Kalian berdua benar-benar keterlaluan. Baik, kita lihat saja, siapa yang akan menang pada akhirnya. Gadis pilihanmu atau gadis pilihanku, Ana, istriku sayang.” kata Ray. Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kakinya pergi dari restoran tersebut sebelum ada yang menyadari keberadaannya.


Rumah itu terlihat sederhana, tapi tidak sesederhana yang dibayangkan.


Rumah dengan ukuran delapan ratus meter persegi itu berdiri di area perumahan yang berada di pusat ibu kota.


Sebuah rumah yang di huni oleh dua orang dewasa dan satu orang yang masih belum lahir.


Dua orang itu adalah Kai dan Nana. Sepasang sejoli yang menikah dua tahun lalu.


Setelah lulus kuliah, Kai mendapatkan beasiswa masternya di Inggris, selama lebih dari satu tahun Kai berada di sana, ia akhirnya pulang dengan membawa kesuksesan besar. Siapa sangka kalau Kai akan menjadi seorang seniman yang cukup digemari kalangan bangsawan Inggris.


Kesuksesan yang ia bawa itu akhirnya membuat dirinya membuka sebuah galeri dengan pameran karya seninya.


Banyak karya seni dalam pameran itu terjual dengan harga tinggi. Bahkan beberapa lukisannya masuk ke dalam lelang kalangan kelas atas.


Setelah puas dengan kesuksesan besarnya itu. Kai dengan nyali seadanya, ia melamar Nana. Mengajak wanita yang sangat dicintainya itu untuk menjalin hubungan yang lebih serius.


Sebuah hubungan rumah tangga yang terikat dengan pondasi cinta, rasa percaya dan saling mendukung satu sama lainnya.


Dua tahun yang lalu. Nana saat itu masihlah seorang pengusaha tingkat pemula.


Seperti mimpinya, gadis itu mendirikan sebuah perusahaan entertainment yang masih belum begitu besar.

__ADS_1


Perusahaannya bisa berdiri kokoh pun juga karena bantuan investasi dan promosi dari Tnp group.


Tanpa backing perusahaan besar itu, sebuah perusahaan entertainment baru tidak mungkin mampu berdiri kuat dan tahan lama.


Setelah dua tahun menikah, lima bulan lalu akhirnya kedua pasangan yang kini resmi menjadi suami-istri itu di karuniai seorang bayi.


Nana hamil lima bulan atau dalam hitungan medisnya dua puluh minggu lebih.


Anak yang Nana kandung adalah calon bayi perempuan yang akan sangat cantik seperti ibunya.


“Kai!” teriak Nana dari dalam kamarnya.


Semenjak usia kandungannya masuk ke dalam hitungan empat bulan, Nana yang awalnya tampak biasa saja ketika hamil, kini ia terlihat sering sekali muntah, lemas dan bahkan sangat sensitif.


Morning sickness, itulah yang sedang Nana alami saat ini. Karena itu sebagai seorang suami yang siaga, Kai pun setiap saat selalu berada di sisi Nana, membantu semua keperluan dan keinginan mengidam wanita hamil itu.


“Iya, ada apa? Apa ada yang kau inginkan?” tanya Kai yang baru saja berlari dari arah dapurnya. Pria itu tadinya sedang memasak sup krim untuk istrinya tersebut.


“Aku ingin pergi ke kamar mandi, bantu aku.” kata Nana sembari mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang sedang meminta gendong.


Kai tersenyum, lalu kemudian berjalan mendekati istrinya itu.


“Kamar mandi kan hanya berjarak beberapa meter darimu, kenapa harus meminta bantuanku? Ck, kau ini manja sekali.” ucap Kai dengan gurauannya.


Tapi yang namanya wanita hamil, hatinya sangat sensitif, sekalipun itu hanya candaan, walaupun Nana tahu kalau Kai tidak benar-benar sedang menyindirnya. Salahkan hati Nana yang langsung merasa kesal dengan perkataan suaminya itu.


“Oh jadi kau merasa terbebani dengan semua permintaanku padamu ya? Jadi selama ini kau itu terpaksa ya melakukan ini dan itu untukku?!” tanya Nana dengan nada tingginya.


Melihat sikap Nana itu, Kai kemudian sadar, ia tidak seharusnya bercanda dengan seorang wanita hamil di usia kandungan yang masih muda.


“Aku lemas, muntah dan perutku membesar seperti ini juga karena ulahmu! Jadi kau harus seratus persen tanggung jawab dengan semua perbuatanmu yang membuatku hamil anakmu ini.” kata Nana sembari menunjuk perutnya.


“Dia juga anakmu, sayang.” ucap Kai.


“Aku tahu.” jawab Nana masih dengan nada kesalnya.


“Baiklah, kalau begitu, ayo, tadi kau bilang ingin pergi ke kamar mandi, aku akan menggendong mu kesana.” kata Kai.


“Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri.” ucap Nana.


“Aku sadar diri kok. Berat badanku sekarang bertambah banyak, tidak seperti dulu lagi. Tubuhku bahkan mungkin tidak terlihat menarik lagi di matamu. Ck, padahal dirimu yang membuatku seperti ini, tidak adil.” ucap Nana.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2