
Malam hari telah tiba. Gugusan bintang-bintang tampak menyapa setiap penduduk bumi yang masih berkeliaran di luar ruangan.
“Kenapa Rose tidak ada kabar sama sekali ya? Bahkan ponselnya mati.” gumam Yuan, saat ini dirinya sedang bersandar pada pagar pembatas balkon kamarnya.
Pria itu kemudian menghembuskan nafas beratnya, lalu menatap layar ponselnya kembali. Beberapa menit yang lalu ia baru saja menghubungi Rose, namun gadis itu bukan hanya tidak menjawab panggilannya tapi sepertinya ponsel Rose mati dan tidak akan bisa dihubungi.
“Aku sangat ingin bertemu dengannya.” ucap Yuan.
“Entah kenapa tiba-tiba sangat ingin bertemu dengannya.” ucapnya lagi sembari menghela nafasnya panjang.
“Baiklah, karena tidak bisa di hubungi, aku akan pergi untuk menemuinya langsung.” ujar Yuan.
Lalu kemudian, pria itu terlihat meraih jaket dan kunci mobil. Setelah itu, ia keluar dari dalam kamarnya untuk pergi ke apartemen Rose demi melepaskan rindu yang tidak dapat ia tahan lagi.
“Yuan, kau ingin pergi kemana?” tanya nenek Calista yang tidak sengaja melihat Yuan turun dari lantai atas.
“Grandma. Selamat malam, tadi pagi aku lupa menyapa grandma. Maaf.” ucap Yuan, menyapa neneknya itu terlebih dahulu.
“Tidak masalah. Grandma tahu kalau kau sudah mulai sibuk sama seperti dad dan paman Alex-mu.” jawab nenek Calista dengan senyum hangatnya.
“Oh ya, kau belum menjawab pertanyaan grandma, kau ingin pergi kemana?” tanya nenek Calista, lagi.
“Eng, itu, Yuan ingin pergi ke rumah teman Yuan. Ada sedikit urusan yang harus Yuan selesaikan malam ini juga.” kata Yuan sembari melemparkan senyum lebarnya. Sebenarnya, urusan yang Yuan maksud itu adalah urusan rindunya pada Rose.
“Ah begitu ya. Ya sudah, kalau begitu pergilah. Hati-hati dijalan, berkendaralah dengan benar.” ujar nenek Calista.
“Iya, grandma tenang saja. Yuan tidak akan mengebut. Tapi— mungkin sedikit mengebut, hanya sedikit.” gurau Yuan.
Nenek Calista pun tertawa kecil. “Kau ini, ada-ada saja. Cepat sana pergilah, nanti takutnya terlalu malam.” katanya.
“Hm, iya, kalau begitu Yuan pergi dulu.” ucap Yuan.
“Ah iya, grandma kalau ingin keluar jangan terlalu lama ya. Cuaca di luar sangat dingin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Grandma lebih baik istirahat saja di kamar.” ujar Yuan sembari membelai lembut punggung tangan neneknya itu.
“Iya, sebentar lagi grandma juga akan pergi ke kamar.” ucapnya.
Yuan pun tersenyum mendengarnya, lalu ia terlihat mengecup lembut puncak kepala neneknya itu.
“Bye grandma. Good night.” ucap Yuan yang kemudian pergi dari dalam rumahnya menuju ke garasi mobil.
•••
“Feng, kau bisa pergi sekarang.” ucap Rose. “Aku sudah merasa lebih baik. Lagipula, aku ini bukannya anak kecil yang perlu kau jaga. Kau tidak perlu khawatir berlebihan.” katanya.
Feng kembali menggelengkan kepalanya. Pria itu sejak Rose ditemukan dan sampai sekarang ini ia terus kekeuh ingin menemani gadis itu. Feng tidak ingin pergi dengan alasan khawatir pada Rose kalau saja penjahat yang membius Rose tadi sore tiba-tiba datang mencari Rose lagi.
Alasan Feng itu memang terdengar klasik, tapi juga terasa begitu meyakinkan dan masuk akal. Karenanya Yana pun yang tadinya terus memaksa Feng untuk ikut pulang bersamanya, akhirnya Yana meninggalkan Feng bersama dengan Rose, hanya berdua di dalam apartemen kecil itu.
“Rose, aku bukannya khawatir saja padamu. Tapi aku takut kalau para pria itu datang lagi mencarimu.” kata Feng, menjawab perkataan Rose tadi.
Rose menghela nafasnya, mulutnya itu sudah hampir berbusa hanya karena menyuruh Feng agar lekas pergi dari tempat tinggalnya. Tapi pria itu entah sejak kapan menjadi sangat keras kepala.
“Feng, masalahnya ini sudah malam. Aku tidak ingin ada yang salah paham tentang situasi kita berdua saat ini. Berada di ruangan tertutup bersamamu sungguh membuatku tidak nyaman.” ujar Rose, ia terpaksa mengucapkan apa yang hatinya katakan, perkataan jujur yang sebenarnya Rose takutkan akan menyinggung hati Feng.
“Maaf karena telah membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi aku tidak akan pergi dari sini.” jawab Feng.
Rose kembali menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah hampir frustasi dengan pria itu.
“Feng, jangan berkata seperti itu. Perkataanmu itu seolah mengatakan kalau kau akan menginap di apartemen kecilku ini.” kata Rose.
“Ya, memang begitu.” jawab Feng.
“Apa katamu?! Kau, sejak kapan kau menjadi pria— ”
Tok. Tok. Tok
__ADS_1
Perkataan Rose terhenti ketika sebuah suara ketukan pintu terdengar menggema ke penjuru apartemen kecilnya itu.
“Rose? Apa kau ada di dalam?” tanya seseorang dari luar apartemennya. Sekali dengar saja, Rose sudah dapat menebak siapa orang yang telah mengetuk pintunya malam hari seperti ini, itu pasti adalah Yuan, kekasihnya.
“Rose? Kenapa tidak menjawab? Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku langsung masuk ke dalam.” ujar Yuan, ia kemudian mencari kunci cadangan apartemen Rose yang ia simpan di dalam saku jaketnya.
Sedangkan Rose, gadis itu tampak terbengong untuk beberapa saat. Lalu kemudian, ia terlihat menatap pintu itu dan Feng secara bergantian.
“Gawat.” ucap Rose. “Feng, kau harus bersembunyi, bukan maksudku ingin menyembunyikanmu. Hanya saja, aku tidak ingin Yuan salah paham dengan keberadaanmu di apartemenku.” kata Rose sembari mencari tempat persembunyian yang pas untuk Feng.
“Kenapa harus sembunyi? Kalau Yuan melihatku, kau cukup katakan saja yang sejujurnya. Kalau dia masih tidak bisa memahami situasi yang terjadi, berarti dia bukan pria yang baik untukmu karena tidak bisa— ”
“Sssttt...tidak ada waktu untuk berbicara lagi. Ayo cepat sembunyi di dalam lemari kosong ini.” ujar Rose sembari memaksa Feng untuk masuk ke dalam sebuah lemari kosong yang jarang sekali ia gunakan.
“Rose— ”
“Diam Feng, berjanjilah padaku untuk tidak mengeluarkan suara apapun, bahkan kalau bisa suara nafasmu jangan sampai terdengar.” kata Rose, setelah itu ia menutup lemari itu.
Tepat ketika Rose baru saja menutup lemari yang di dalamnya ada Feng. Yuan pun tampak masuk ke dalam apartemen.
“Rose? Kenapa tadi kau tidak menjawab perkataanku?” tanya Yuan sembari berjalan mendekati Rose yang terlihat masih belum bisa menyesuaikan diri dengan situasi saat ini.
“Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti seseorang yang sedang gugup.”
“Benarkah? Ah itu mungkin hanya perasaanmu saja.” jawab Rose dengan tawa canggungnya.
“Oh, apa yang kau bawa?” tanya Rose sembari menatap ke arah kantong plastik yang Yuan bawa.
“Ah iya hampir lupa. Aku tadi mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Kau masak untukku ya. Aku lapar, dari tadi siang tidak makan.” ujar Yuan.
“Benarkah? Kenapa kau tidak makan? Apa kau ini anak kecil yang perlu di ingatkan untuk makan? Ck, dasar kau ini.” ucap Rose sembari meraih katong plastik yang Yuan berikan padanya.
“Aku bukannya tidak ingat untuk makan siang. Tapi karena seseorang, nafsu makanku jadi menghilang begitu saja. Karena itu, sampai sekarang aku belum makan.” keluh Yuan.
“Ck, baiklah, apapun alasanmu, aku akan memasak untukmu. Tunggulah di ruang tamu, nanti kalau sudah selesai, aku akan memanggilmu.” ujar Rose yang kemudian berjalan ke arah dapur kecilnya.
“Jangan keras kepala. Cepat tunggu saja di— ”
Belum sempat Rose menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara panggilan masuk dari ponsel milik Feng terdengar memecah percakapan diantara Rose dan Yuan.
“Nada dering ini, aku merasa tidak asing mendengarnya.” ucap Yuan sembari mencari sumber suara nada dering itu berasal.
“Eh, Yuan, tunggu, kau ingin pergi kemana? Kau bilang ingin membantuku memasak, kena— ”
Suara nada dering panggilan masuk dari ponsel milik Feng itu kembali terdengar lagi. Membuat Rose hanya bisa berharap kalau dirinya tidak akan ketahuan karena sedang menyembunyikan seorang pria yang merupakan rival kekasihnya sendiri.
“Rose, apa ada orang lain di apartemenmu?” tanya Yuan yang sudah tidak dapat lagi menutupi rasa curiganya. “Apa Yana menginap lagi di rumahmu?”
“Eng, itu— ”
“Tunggu dulu. Ini, ini bukan suara nada dering dari ponsel milik Yana. Aku sungguh pernah mendengar nada dering ini di suatu tempat.” ucap Yuan sembari mengedarkan pandangannya dan menajamkan pendengarannya untuk mencari asal suara nada dering itu.
Lalu ketika Yuan baru saja ingin menatap sebuah lemari. Rose langsung menghalangi pandangan pria itu dan mencoba mengalihkan perhatian Yuan.
“Yuan, apa kau ingin makan di luar? Aku, aku akan mentraktirmu.” ujar Rose yang malah semakin membuat Yuan merasa aneh padanya.
“Minggir.” ucap Yuan sembari menggeser pelan tubuh Rose dari hadapannya. Lalu setelah itu, tangan Yuan dengan cepat langsung membuka lemari yang ada di depannya.
Melihat ada sosok Feng di dalam sana. Yuan membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan kenyataan yang terasa menohok hatinya itu.
“Rose— kau, kau dan dia, kalian— ” ucap Yuan yang tidak mampu lagi berkata-kata dengan benar.
“Yuan, aku bisa menjelaskannya padamu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Feng tidak ada hubungan apa-apa.” kata Rose yang langsung menyentuh lengan Yuan, menahan pria itu agar tidak pergi dari apartemennya.
“Aku kecewa padamu Rose. Kalau kau tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kenapa kau harus menyembunyikan dia dariku?! Kenapa?!” tanya Yuan dengan nada tingginya.
__ADS_1
“Keparat sialan. Apa kau perlu membentaknya seperti itu?!” ujar Feng, memberi pembelaan pada Rose.
Yuan tersenyum sinis, ia menatap Feng, lalu beralih kepada Rose yang tampak menundukkan kepalanya tanpa berani membalas tatapan dari Yuan.
“Aku sungguh tidak menyangka kau bisa berbuat seperti ini.” kata Yuan sembari melepaskan pegangan tangan Rose pada lengannya.
Setelah itu, Yuan terlihat melangkahkan kakinya, ia ingin pergi dari apartemen Rose.
“Tidak Yuan. Jangan pergi. Aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu.” ujar Rose yang mampu mengehentikan langkah kaki Yuan.
“Dua menit, aku beri kau waktu dua menit untuk menjelaskannya.” ucap Yuan tanpa membalikkan badannya untuk menatap Rose.
“Kau itu sungguh keterlaluan Yuan.” kata Feng.
“Dua menitmu sudah di mulai sejak tujuh detik yang lalu Rose.” ucap Yuan yang sengaja mengabaikan perkataan Feng.
“Aku diculik.” ucap Rose.
Ia sengaja menggunakan penjelasan awalnya dengan kata itu agar Yuan mulai percaya padanya dan mau membalikkan badannya untuk mendengarkan seluruh penjelasannya yang akan memakan waktu lebih dari dua menit.
“Apa katamu?” tanya Yuan sembari membalikkan badannya. Seperti perkiraan Rose, pria itu mulai percaya padanya.
Rose pun menghembuskan nafasnya lega, sebelum kemudian mulai menjelaskan semuanya pada Yuan.
“Aku di culik, tadi sore, di bagian timur ibu kota dekat perusahaan konveksi Liem.” ujar Rose.
“Bagaimana bisa itu terjadi?! Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal? Kenapa malah dia yang lebih dulu tahu daripada aku?” tanya Yuan sembari menunjuk Feng sekilas.
“Semua itu terjadi begitu saja. Semua karena kelalaian dan kesalahanku. Aku saat itu sedang ikut bersama seniorku untuk urusan pekerjaan seperti yang aku katakan padamu di telepon tadi siang. Tapi saat seniorku bilang kalau aku harus menunggunya selama dia pergi sebentar, aku tidak mendengarkan perkataannya. Aku pergi ketika sebuah suara dentuman membuatku penasaran.” ujar Rose.
“Salahku karena terlalu penasaran jadi aku mengikuti arah suara itu. Sesampainya di tempat asal suara itu, aku melihat beberapa orang pria sedang berbincang, lalu kemudian seseorang membekapku dengan obat bius. Setelah itu aku pingsan dan tidak tahu lagi apa yang terjadi. Untung saja mereka hanya membuatku pingsan dan tidak benar-benar menculikku karena sebelum aku pingsan, aku masih sempat menghubungi Yana.” kata Rose.
“Feng bisa tahu juga karena Yana. Dan masalah kenapa aku tidak memberitahumu, itu karena aku tidak ingin kau khawatir, lalu nantinya kau akan melarangku magang di firma hukum Anyu.” sambungnya.
Mendengar penjelasan panjang dari Rose itu. Yuan pun tampak berjalan mendekati Rose, lalu kemudian pria itu merengkuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya.
“Maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi sebenarnya itu bukan sepenuhnya penculikan. Hanya saja polisi bilang itu termasuk kasus penculikan.” ucap Rose dalam pelukan Yuan.
“Sssttt...sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Maaf karena tadi sudah membentakmu dan hampir salah paham padamu, padahal dirimu ini pasti sedang sangat ketakutan dan masih shock dengan kejadian itu.” kata Yuan sembari mengusap lembut puncak kepala Rose.
“Sampai kapan kalian akan berpelukan seperti itu di depanku?” tanya Feng yang terlihat tidak suka dengan adegan mesra sepasang kekasih itu.
“Rose, bisakah kau usir lalat pengganggu itu?” tanya Yuan.
Rose pun kemudian melepaskan pelukannya, lalu menatap ke arah Feng.
“Maaf Feng, aku bukannya— ”
“Tidak masalah. Aku paham, kalau begitu karena sudah ada Yuan, aku akan pergi pulang ke rumahku.” ujar Feng.
“Yuan, pastikan dia baik-baik saja. Aku pergi pulang lebih dulu bukan berarti aku akan menyerah begitu saja. Tapi karena ada hal lain yang harus aku urus. Ingat, jaga dia baik-baik.” kata Feng.
“Rose, aku pulang dulu ya, selamat malam.” pamitnya, setelah itu Feng terlihat bergegas keluar dari apartemen Rose.
“Hati-hati di jalan.” ucap Rose yang sudah terlambat mengatakannya.
“Ck, kau begitu perhatian padanya.” ujar Yuan, terlihat tidak senang dengan ucapan Rose barusan.
“Bukan seperti itu, aku hanya— ”
“Sudahlah, lupakan apa yang aku katakan, aku hanya bercanda.” sela Yuan.
“Sekarang, kau lebih baik duduk dengan tenang dan biarkan aku yang akan memasak untukmu.” ucap Yuan.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍