The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Match Made in Heaven


__ADS_3

Ray terlihat menuruni tangga. Pria paruh baya itu melangkah menyusul Ana yang sudah lebih dulu sampai di ruang tamu.


"Dimana Yuan? Aku belum melihatnya." Ucap Ana.


"Apa Yuan masih belum pulang?" Tanya Ray pada salah satu pelayan di rumah itu.


"Maaf tuan besar dan nyonya besar. Sepertinya, tuan muda belum pulang. Apa perlu saya menelponnya, agar tuan muda cepat pulang?" Tanya pelayan itu dengan rasa hormatnya.


"Oh iya, coba kau tanyakan pada anakmu, Kai. Bukankah dia teman dekat Yuan? Katakan padanya untuk menyuruh Yuan pulang sekarang juga." Perintah Ray.


"Tidak perlu. Sayang, lebih baik kita tunggu sebentar lagi. Mungkin saja— saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang. Bersabarlah sedikit lagi." Saran Ana.


"Baiklah, kita akan menunggunya sebentar lagi. Aku harap anak itu tidak membuat kita menunggu terlalu lama." Ujar Ray.


Setelah itu, ia menoleh ke arah pelayan yang tadi ia suruh untuk menghubungi Yuan. Pelayan itu adalah ibu dari Kai, bibi Jeni.


"Kau boleh pergi, tidak perlu menghubungi Yuan ataupun Kai." Kata Ray.


"Baik tuan, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi." Ujar wanita paruh baya itu, yang kemudian pergi dari hadapan Ray dan Ana.


"Ray, memangnya— Yuan harus ikut ke acara ini ya? Sebelumnya kau tidak pernah mengajak putramu itu untuk pergi ke acara seperti ini." Tanya Ana.


"Yaa— karena kali ini berbeda. Kau tahu kan, ini adalah acara perayaan ulang tahun dari ketua perusahaan Jhoneq, yaitu ketua Barack. Dia teman baikku di dunia bisnis. Sudah banyak kerjasama yang telah kami jalin bersama."


"Lalu, apa hubungannya dengan mengajak Yuan untuk ikut?" Tanya Ana.


"Kau ingat? Ketua Barack mempunyai dua anak. Anak pertamanya laki-laki, dari yang aku dengar— dia kuliah di universitas City Center. Dia satu universitas dengan Yuan, tapi aku rasa— mereka tidak saling mengenal walaupun ayah mereka sangat dekat sekali. Lalu— anak keduanya perempuan, dia lebih muda satu tahun dari Yuan. Sejak kecil, anak perempuannya itu sudah menempuh pendidikan di luar negeri. Tapi, khusus hari ini, dia pulang. Karena itu, aku mengajak Yuan." Kata Ray.


"Tunggu dulu. Jangan bilang— kau ingin menjodohkan anakku?!" Tanya Ana yang terlihat kesal dengan dugaannya itu.


"Yang benar adalah anak kita. Ya, aku memang berniat ingin menjodohkan mereka. Sayang, coba kau bayangkan, kalau mereka benar-benar menikah, kedua belah pihak akan sama-sama di untungkan. Kita juga tidak perlu khawatir tentang masa depan Yuan." Ujar Ray yang semakin membuat Ana merasa geram dengan suaminya itu.


Ana terlihat menatap Ray dengan aura dinginnya. Wanita paruh baya itu seratus persen terlihat tidak senang dengan pemikiran suaminya itu.


Bagaimanapun juga, Ana tidak pernah setuju dengan yang namanya perjodohan. Apalagi, sebuah perjodohan yang terjadi karena kepentingan bisnis. Ana benar-benar menentang hal tersebut.


"Kalau kau mengakuinya sebagai anakmu. Maka dari itu, jangan pernah berpikir kalau kau ingin menjodohkan Yuan." Kata Ana yang masih menampilkan pancaran sinar lasernya.


"Bukan seperti itu maksudku, sayang. Aku hanya ingin mengenalkannya. Siapa tahu mereka berjodoh. Ya, tapi juga sedikit mendorongnya untuk lebih dekat dengan anak perempuan ketua Barack juga."

__ADS_1


"Dengar ya. Apapun alasanmu dan bagaimanapun caramu. Selama itu mengandung unsur paksaan dan tidak sesuai dengan keinginan dari Yuan sendiri. Maka aku, sebagai ibunya, seribu persen menentang hal itu. Kumohon padamu, biarkan Yuan memilih pasangan hidupnya sendiri." Ucap Ana.


•••


Yuan menghentikan mobilnya tepat di depan restoran milik ibunya. Pria itu sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi kalau sampai ibunya tahu jika dirinya saat ini sedang bersama seorang gadis.


"Sudah sampai, kenapa hanya diam saja? apa kau tidak ingin turun?" Tanya Yuan ketika dirinya melihat Rose yang hanya diam melamun.


"Eh, sudah sampai ya? Maaf, aku tidak menyadarinya. Sekali lagi, terimakasih banyak untuk hari ini." Ujar Rose yang kemudian melepas sabuk pengamannya sendiri.


"Jam berapa kau selesai bekerja?" Tanya Yuan ketika Rose hendak membuka pintu keluar mobil itu.


"Eng— untuk apa kau ingin mengetahuinya?"


"Aduh, tinggal jawab saja apa susahnya? Lagipula, kau tidak perlu tahu alasannya. Karena memang tidak ada alasan tertentu. Aku hanya ingin sekedar bertanya saja." Ujar Yuan sembari mengalihkan pandangannya dari Rose.


"Maaf, tapi aku sungguh merasa heran dengan sikapmu pagi ini. Apalagi— semenjak kejadian sore hari itu. Kau terlihat over protective padaku." Kata Rose yang sedang mengutarakan isi kepalanya.


Awalnya, Yuan tampak diam. Namun, detik berikutnya, pria itu terlihat tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rose.


"Kau masih belum menghilangkan rasa percaya dirimu yang berlebihan itu ya? Kau pikir aku ini sedang perhatian dan peduli padamu? Apa kau lupa dengan apa yang sudah aku katakan di kampus tadi? Kau itu milikku, aku hanya tidak ingin sesuatu yang telah menjadi hak milikku lecet sedikitpun." Ujar Yuan di sela-sela tawa mengejeknya.


"Lalu, apa maksud dari kalimat kalau aku ini milikmu? Bukankah itu artinya aku ini paca— "


"Jangan sembarang bicara. Apa kau sebegitu berharapnya menjadi kekasihku? Ck, jangan terlalu tinggi bermimpinya. Kalau kau jatuh, akan terasa sangat sakit. Aku mana mungkin mau menjadi kekasihmu. Kita— tidak mungkin." Kata Yuan.


Masih dengan tangan yang terus mengelus keningnya, Rose menatap Yuan kesal. Tatapan yang belum pernah ia berikan pada pria itu sebelumnya. Karena itu, Yuan tampak mengernyit heran dengan cara pandang Rose pada dirinya saat ini.


"Kalau bukan sepasang kekasih. Lalu, kau ini anggap aku apa?! Waktu itu kau sudah dengan sengaja men— "


"Ssssttt— ayo turunlah. Bukankah kau harus bekerja? Hari ini aku ada acara bersama ayah dan ibuku. Jadi, aku juga harus segera pergi. Kau tidak mungkin tega membuatku terkena amukan ayahku kan? Apalagi aku terlambat karenamu." Ujar Yuan yang sekali lagi, dengan sengaja menghentikan perkataan Rose.


"Siapa yang peduli kau terkena amukan dari ayahmu atau tidak, tapi akan sangat bagus kalau kau mendapatkannya. Dan lagi, kau terlambat bukan karena aku, tapi karena salahmu sendiri yang memaksakan diri untuk mengantarku." Kata Rose, semua perkataannya itu tidak benar-benar ia ucapkan dengan serius. Ia hanya mencoba untuk berpura-pura kesal dan tidak peduli pada pria itu.


"Kau bisa berkata seperti itu juga ya ternyata. Ah ya, baiklah. Kau memang sudah membuatku terlambat beberapa menit untuk sampai ke rumah. Aku sepertinya benar-benar akan terkena amukan dari ayahku." Ucap Yuan dengan wajah yang dibuat seolah-olah ia sedang tertimpa musibah berat.


Rose terdengar menghela nafasnya sejenak, sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil itu dan langsung keluar dari mobil Yuan.


"Kau ingin pergi begitu saja tanpa berkata apapun padaku?!" Tanya Yuan.

__ADS_1


Pertanyaan dari pria itu terdengar sangat familiar di telinga Rose. Gadis itu seolah merasa de javu dengan pertanyaan yang baru saja Yuan utarakan padanya.


Masalahnya, Yuan memang pernah menggunakan pertanyaan yang sama seperti itu, tadi pagi. Karenanya, Rose merasa tidak asing dengan pertanyaan itu. Tapi sayangnya, Rose sulit mengingatnya, sehingga ia hanya berpikir kalau dirinya sedang mengalami de javu.


"Terimakasih dan sampai jumpa." Ujar Rose sembari menutup pintu mobil itu dan berjalan pergi menuju ke arah pintu masuk restoran.


Dalam diamnya, Yuan tampak tersenyum lebar sembari memperhatikan gadis itu yang perlahan menghilang dari jangkauan pandangannya.


Setelah memastikan Rose masuk ke dalam restoran milik ibunya. Yuan langsung menghidupkan mesin mobilnya kembali dan melajukannya untuk pulang ke rumah.


•••


Ray menghembuskan nafasnya, pria itu hanya bisa mengalah ketika dirinya sudah dihadapkan dengan situasi seperti ini.


Adu debat dengan istrinya itu, tidak mungkin Ray akan menang. Sekalipun dirinya membawa banyak bukti yang konkret.


Bagaimanapun juga, seorang suami yang begitu mencintai istrinya seperti Ray ini, tidak akan mungkin membiarkan istrinya bersedih karena kalah debat dengannya. Karena itu, Ray hanya bisa mengalah.


"Kalau begitu, aku hanya akan mengenalkannya pada Yuan. Itu saja." Ujar Ray.


Ana tampak mencebikkan mulutnya, wanita paruh baya itu sepertinya tidak percaya dengan janji yang baru saja dibuat oleh suaminya itu.


"Tapi, di belakangku, kau pasti akan mendorong mereka untuk saling mengenal lebih dekat lagi dan lagi. Kalau seperti itu, apa bedanya dengan menjodohkannya secara paksa?!" Kata Ana.


"Kau jangan salah paham sayang. Aku mana ada berani menipumu. Aku tidak akan memaksa Yuan untuk dekat dengan anak ketua Barack. Aku berjanji padamu."


"Siapa yang sedang daddy coba tipu? Dan apa maksud mom tadi— apa daddy mencoba untuk menjodohkan aku?" Tanya Yuan yang sudah tiba dirumah beberapa menit sebelumnya.


"Yuan, kapan kau pulang. Kenapa kami tidak mendengar suara mobilmu?" Tanya Ray.


"Tidak mendengarnya? Dad sendiri yang terlalu sibuk berdebat dengan mom." Jawab Yuan.


"Ya sudah. Kalau begitu cepatlah pergi ke kamarmu dan berganti pakaian. Semua kebutuhanmu untuk pergi ke acara ini sudah di siapkan oleh pelayan." Ujar Ray.


"Acara ini— bukan tempat dimana aku akan dijodohkan oleh dad kan?" Tanya Yuan yang kembali mengungkit apa yang tidak sengaja ia dengar tadi.


"Jangan banyak bertanya, ayo cepat pergi ke kamarmu dan bersiap. Kita sudah terlambat karena menunggumu." Perintah Ray.


"Iya iya, aku mengerti." Ucap Yuan yang kemudian pergi menuju ke kamarnya, walau hatinya masih ingat bertanya.

__ADS_1


"Aku benar-benar akan mengawasimu. Jangan sampai aku melihatmu menjodohkan Yuan. Kecuali, kalau Yuan memang menyukai perempuan yang ingin kau jodohkan dengannya itu." Ucap Ana yang kembali memulai perdebatan dengan Ray lagi.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2