
Samuel dan Rose terlihat telah memasuki area perusahaan konveksi tersebut.
Rose menatap sekelilingnya dengan kening berkerut, ia merasa aneh dengan perusahaan konveksi itu.
“Senior, bukankah yang sedang kita datangi ini adalah perusahaan konveksi? Tapi, kenapa disini banyak sekali kontainer?” tanya Rose.
Samuel yang tadinya tampak mefokuskan kewaspadaannya, kini ia menoleh ke arah juniornya itu.
“Saya bahkan merasa kalau saya ini sedang berada di pelabuhan impor dan ekspor daripada di perusahaan konveksi.” sambung Rose.
“Ck, apa kau masih ingin mengeluh dengan semua ini?” tanya Samuel.
“Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja— ”
“Pemilik perusahaan ini menurut rumor yang beredar, dia adalah seorang pelobi dan broker bisnis gelap.” kata Samuel.
“Eh? Benarkah? Tapi kalau sudah ada rumor seperti itu, kenapa pihak yang berwajib tidak menginvestigasinya? Kenapa perusahaan yang terlihat aneh ini masih berjalan dengan baik?” tanya Rose.
Samuel tampak menghela nafasnya kasar, lalu menghentikan langkahnya sembari menatap Rose sejenak.
“Karena tidak ada bukti fisik atau bukti secara nyata. Lagipula kenapa kau penasaran sekali tentang hal itu? Tugas kita disini hanya— ”
“Melindungi saksi yang ingin di wawancarai. Senior, bukankah semua yang kita lakukan ini seharusnya menjadi tugas kepolisian?” kata Rose.
“Kau ini, ck, pergilah, pulang ke rumahmu sana, tapi besok jangan kembali lagi ke ruanganku. Aku sungguh tidak butuh rekan kerja yang suka mengeluh sepertimu ini.” ujar Samuel sembari melangkahkan kakinya kembali.
“Senior, tunggu, tunggu.” ucap Rose. “Maaf, bukan maksud saya ingin mengeluh. Tapi saya hanya merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, saya merasa kalau kita ini sedang masuk ke sarang hyena.” kata Rose, mengutarakan isi hatinya yang sejak awal telah menggangu dirinya.
“Sarang hyena?” ucap Samuel mengulangi salah satu kalimat Rose. Lalu kemudian, pria itu tampak tertawa kecil. “Orang lain biasanya akan memakai hewan seperti singa, atau harimau untuk kata kiasan. Sedangkan dirimu ini, ck, menggunakan hewan hyena yang lebih menjijikan dari seekor rubah liar.” katanya.
“Bukankah senior sendiri yang bilang kalau pemilik perusahaan ini adalah pelobi dan broker bisnis gelap? Sama seperti hyena yang tinggal di bagian gelap dunia.” ujar Rose.
“Tahu dari mana kau kalau hyena tinggal di bagian gelap dunia?” tanya Samuel.
“Dari film yang belum lama ini aku tonton, film The Lion King.” jawab Rose dengan polosnya.
Jawaban Rose itu seketika membuat suasana yang tadinya suram dan penuh aura kegelapan, kini terasa bersinar seperti cahaya mentari pagi yang hangat. Walau hanya sementara, tapi itu mampu membuat hati Samuel tertawa.
“Gadis bodoh.” ucap Samuel. “Sudahlah, ayo cepat, kita kehilangan banyak waktu karena harus mendengarkan lelucon burukmu itu.” ujar Samuel sembari melangkahkan kakinya menuju ke bagian barat perusahaan itu.
“Ah iya.” kata Samuel yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Rose yang ikut menghentikan langkahnya kembali.
“Kau harus ingat ini. Nanti kau harus memainkan sebuah peran. Aku tahu ini sangat konyol bagimu, tapi itu untuk kebaikan diri kita sendiri.” ujar Samuel.
“Ah, aku mengerti. Tapi, peran seperti apa?”
“Mulai saat ini, namaku adalah Louis, manajer Louis dari perusahaan departemen store Edilo. Aku adalah manajer distributor barang. Dan kau— ” ucap Samuel, sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Dan saya?” tanya Rose dengan raut wajah penuh tanda tanyanya.
“Tentu saja kau akan berperan sebagai sekertarisku. Ck, hal mudah seperti itu saja kau tidak bisa menebaknya.” ujar Samuel.
“Ah, itu, maaf.” ucap Rose.
“Simpan saja maafmu itu. Sekarang kita akan pergi ke bagian barat perusahaan ini. Di sana adalah ruangan kepala pengawasan berada. Kita kesana untuk mengetahui titik-titik kamera pengawas yang ada disini, dengan mengetahui letak setiap kamera pengawas, kita bisa mengetahui titik butanya, dengan begitu akan lebih aman bagi kita untuk bergerak dan melakukan pencarian.” ujar Samuel.
“Aku menjelaskan sebanyak itu. Apa kau sudah mengerti? Aku sungguh berharap otakmu yang minus itu bisa cepat tanggap di situasi seperti ini.” sambungnya lagi.
“Senior tenang saja, saya sudah mengerti dan paham dengan semua yang tadi senior jelaskan.” jawab Rose.
“Baguslah, aku harap kau benar-benar mengerti dan paham.” kata Samuel yang kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Beberapa menit mereka berjalan ke bagian barat tempat itu, dari jarak sekitar dua puluh meter, mereka melihat seorang pria berbadan besar dengan pakaian keamanannya yang lengkap sedang berdiri menatap mereka.
“Dia pasti akan menanyakan identitas kita. Kau jangan sampai gugup, kalau tidak pandai berakting, akan lebih baik jika kau diam saja. Mengerti?”
“Iya senior.” jawab Rose lirih.
Sesampainya mereka di hadapan pria berbadan kekar itu. Rose tampak menggigit bibir bawahnya, ia merasa takut, ingatannya tentang penagih hutang yang pernah ingin membawanya untuk di jadikan sebagai jaminan pun kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
__ADS_1
Samuel yang melihat mimik wajah dari Rose itu, ia segera menepuk bahu Rose. Menyadarkan gadis itu dari ingatan buruknya.
“Jangan membuat kesalahan.” bisik Samuel yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Rose.
“Siapa kalian?” tanya pria dengan badan kekar seperti seorang gangster itu.
Samuel tidak langsung menjawab pertanyaan dari pria penjaga keamanan tersebut, ia lebih memilih mengeluarkan dompetnya sembari mengambil sebuah kartu nama, lalu menyerahkannya kepada si pria berbadan kekar.
“Saya kemari untuk menawarkan kerjasama antara perusahaan konveksi Liem dengan departemen store Edilo. Apa saya bisa bertemu dengan atasanmu? Membicarakannya langsung dengan orang yang memang ahli di bidangnya akan terasa lebih baik daripada saya harus menjelaskannya disini padamu.” kata Samuel.
Petugas keamanan itu tampak diam sesaat, sikapnya itu membuat Rose mengira kalau si petugas keamanan akan marah karena perkataan seniornya yang terdengar sangat arogan dan penuh dengan kalimat merendahkan pria itu.
Tapi untungnya, perkiraan Rose tersebut tidaklah benar. Karena si petugas keamanan itu kemudian terlihat menatap ramah ke arah Samuel.
“Baiklah. Tapi saya perlu melaporkannya terlebih dahulu kepada kepala pengawasan.” ujar si pria petugas keamanan.
“Tidak masalah. Tapi, bisakah kami ikut bersamamu? Bukankah lebih bagus kalau kami ikut, jadi nanti kau tidak perlu menjelaskan dengan panjang lebar pada atasanmu itu. Karena dia bisa melihat kami secara langsung.” kata Samuel.
Pria petugas keamanan itu kembali diam, ia tampak berpikir sejenak. Lalu kemudian menatap lagi ke arah Samuel dan Rose secara bergantian.
“Tapi hanya satu orang yang boleh ikut. Wanita yang bersamamu ini harus menunggu disini.” katanya.
Samuel menoleh ke arah Rose sekilas, lalu kemudian kembali menatap petugas keamanan itu.
“Oke, tidak masalah. Dia akan menunggu di sini dan saya akan ikut bersamamu.” ujar Samuel.
“Kalau begitu ikuti saya.” kata si petugas keamanan yang kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah ruangan kepala pengawasan berada.
Sebelum Samuel mengikuti pria petugas keamanan itu, ia menatap Rose sejenak.
“Dengarkan aku. Kau tunggulah disini, jangan pergi kemana-mana. Diamlah dengan tenang di sini, aku akan segera kembali.” kata Samuel.
“Iya, dimengerti.” ucap Rose.
“Bagus. Dan ingat untuk tidak membuat masalah ataupun kesalahan.” ujar Samuel.
“Iya, saya paham. Senior sebaiknya cepat ikuti petugas keamanan itu. Lihatlah, dia sudah mengeluarkan ekspresi curiganya pada kita.” ucap Rose sembari mengarahkan pandangannya ke arah petugas keamanan yang tampak menatap mereka berdua.
“Tadi itu, senior sedang mengkhawatirkan kebodohanku kan?” gumam Rose.
Setelah seniornya itu pergi, Rose terlihat menatap area sekitarnya dengan tangan yang sesekali mengusap leher bagian belakangnya. Ia merasa takut sekaligus khawatir.
“Rasanya ada yang aneh, kenapa aku tidak melihat satu orang pekerja pun disini?” gumam Rose.
“Tempat ini lebih mirip seperti sarang mafia daripada sebuah perusahaan konveksi yang seharusnya penuh warna. Benar-benar seperti ada sesuatu yang salah.” gumamnya lagi.
Lalu, di saat Rose masih disibukkan dengan pemandangan sekitarnya yang tampak suram, tiba-tiba sebuah suara dentuman keras terdengar menggema di area itu. Sejenak, Rose tampak menutup matanya, ia terkejut dan takut.
“Suara apa itu?” tanya Rose pada dirinya sendiri.
“Tidak Rose, kau tidak boleh penasaran. Hilangkan naluri burukmu itu. Terkadang dalam situasi seperti ini, lebih baik aku berpura-pura tidak tahu dan tidak mendengar apa-apa. Iya benar. Jangan bergerak kemanapun dan jangan penasaran oleh apapun.” gumamnya.
Tapi walaupun ia berkata seperti itu, tapi naluri adalah sifat lahiriyah yang sangat sulit di campakkan. Tanpa sadar, Rose pun telah mengabaikan apa yang ia katakan sendiri dan bahkan ia juga telah mengabaikan perintah seniornya untuk tetap diam di tempatnya.
Rose pun dengan nalurinya, ia mengikuti sumber suara dentuman itu berasal.
Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, melewati beberapa kontainer dengan warna-warna yang berbeda.
Hingga akhirnya, gadis itu sampai di depan sebuah kontainer berwarna merah maroon. Pintu kontainer itu tampak terbuka sedikit, membuat Rose semakin yakin kalau suara dentuman keras tadi berasal dari dalam sana.
Lalu kemudian, Rose maju beberapa langkah, mendekati pintu kontainer itu dengan mengendap seperti seorang pencuri kecil. Setelah ia sampai di pintu kontainer itu. Rose dapat mendengar dengan jelas sebuah percakapan yang terjadi di dalam ruang kontainer yang gelap gulita itu.
“Apa kau masih tetap ingin menemui pengacara itu dan memberikan kesaksianmu untuk membela temanmu yang hampir membusuk di penjara ha?”
“Apa kau sungguh tidak menginginkan uang dari kami?! Kau! Keparat sialan!” kata seorang pria.
“Jangan hanya diam saja dasar pria bodoh! Jordi! Ayo jawab dan buat keputusanmu! Apa kau bisu hah?!” teriak pria itu.
Rose yang dari luar mendengar sebuah nama familier disebut, ia pun tampak berpikir keras. Tidak butuh waktu lama, Rose pun akhirnya mengingat nama itu. Jordi, orang yang akan mereka wawancarai sebagai seorang saksi.
“Hai manis, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?” tanya seorang pria tepat di telinga Rose.
__ADS_1
Tindakan dari pria asing itu membuat Rose terkejut hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan, hal itu membuat Rose jatuh terduduk. Dan yang lebih buruknya lagi, tanpa sengaja tangan Rose mendorong pintu kontainer itu hingga terbuka lebar.
“Oh, sepertinya aku mengejutkanmu.” ucap pria asing itu. Lalu kemudian, ia tampak berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Rose yang masih dalam posisi terduduk di tanah.
Pria asing dengan wajah yang dapat dikategorikan tampan itu, ia kemudian menyentuh dagu Rose, mengangkat dagu gadis itu hingga dirinya mampu melihat wajah cantik Rose.
“Bukan hanya manis tapi memang sangat cantik.” pujinya dengan senyum seringaian yang mengembang sempurna.
Rose pun kemudian menepis tangan pria itu, lalu menatap pria itu dengan raut wajah tanpa ekspresinya.
“Siapa disana?!” tanya pria yang ada di dalam kontainer.
Si pria asing itu pun menoleh ke arah suara itu. “Ini aku.” ucapnya dengan nada dinginnya yang terdengar berwibawa. Setelah itu, ia berdiri.
Tidak lama setelah pria asing itu menjawab, Sebuah suara langkah kaki dari beberapa orang terdengar mendekatinya.
Lalu terlihat tiga orang pria dengan badan yang terlihat persis seperti seorang gangster.
“Tuan muda Sean.” sapa mereka dengan penuh rasa hormat dan juga takut.
“Apa kalian sudah mendapatkan hasilnya?” tanya pria yang dipanggil Sean.
“Maafkan kami tuan. Tapi pria itu sangat keras kepala, bahkan sekarang— ”
“Jangan memberi alasan. Cepat selesaikan saja tugas kalian.” katanya.
“Ah iya, saat mendisiplinkan karyawan, jangan membuat suara kegaduhan. Apa kalian tidak sadar telah mengundang seekor kupu-kupu cantik ini kemari?” ucapnya sembari menatap ke arah Rose yang masih belum berdiri.
Sebenarnya Rose bukan sedang duduk diam saja. Ia diam disana karena sedang menekan-nekan ponselnya secara sembunyi-sembunyi untuk melakukan panggilan darurat.
“Perempuan ini. Tuan muda Sean tenang saja. Kami akan mengurusnya.” ucap salah satu dari tiga pria itu.
“Tidak perlu.” ucapnya. “Aku rasa rencana kita sudah gagal karena kupu-kupu cantik ini.” kata Sean sembari mendekati Rose yang perlahan tampak bergerak mundur ketika pria itu mendekatinya.
Sesampainya di hadapan Rose, Sean pun langsung menarik lengan gadis itu, kemudian terlihatlah tangan Rose yang tampak menggenggam ponselnya. Sean juga dapat melihat sebuah panggilan yang sudah terhubung hampir tiga menit itu.
“Pintar.” ucap Sean sembari merampas ponsel Rose dan mematikan panggilan itu.
“Tapi— daripada menghubungi temanmu yang bernama Yana ini, kenapa kau tidak langsung menghubungi polisi saja?” tanya Sean yang kemudian mengarahkan ponsel Rose ke arah gadis itu.
Rose tampak terkejut, ia ternyata salah menekan tombol panggilan cepat. Ia pikir tadi dirinya menghubungi polisi, tapi siapa sangka karena ia menekan tombol ponselnya tanpa melihat, Rose pun akhirnya salah melakukan panggilan. Tapi walaupun salah, ia tetap masih memiliki harapan untuk mendapatkan pertolongan.
“Kenapa hanya diam saja? Padahal aku sangat ingin sekali mendengar suaramu.” ujar pria itu.
“Aku akan memeriksa ponselmu terlebih dahulu, lalu baru mengembalikannya padamu. Jadi untuk sementara waktu, kau bisa menunggu di ruanganku. Bagaimana?” kata pria bernama Sean itu.
Rose menghela nafasnya, lalu kemudian ia bangkit dari posisinya. Mengusap pakaiannya yang sedikit kotor, setelah itu balas menatap Sean yang selalu memperhatikan gerak-geriknya.
“Kembalikan ponselku.” ucap Rose dengan nada datarnya.
Sean pun tertawa, lalu menatap gadis itu dari atas sampai kebawah.
“Menarik.” katanya.
“Cepat kembalikan ponselku!” teriak Rose.
“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu kalau aku akan mengembalikannya setelah aku memeriksa isi ponselmu.” jawab Sean.
“Kau pikir aku merekam sesuatu atau memotret sesuatu?! Tidak ada sedikitpun yang menarik disini untuk di foto. Jadi cepat berikan padaku. Lagipula waktumu untuk kabur tidak banyak lagi, temanku itu bukan orang biasa, aku pastikan tidak lama lagi dia akan datang membawa serta polisi.” ujar Rose.
Sean tersenyum, sebuah senyum yang tidak dapat Rose deskripsikan. Senyum misterius.
“Ah kau pandai berkata-kata juga. Lebih pandai daripada rekan pengacaramu tadi.” ujar Sean.
“Senior. Apa yang kau lakukan padanya?!”
“Kau memanggilnya senior? Ah, jadi kau ini masih anak magang ya? Atau— pengacara baru? Tapi dilihat dari wajahmu, kau sepertinya masih berusia di awal dua puluhan tahun. Masih sangat muda dan segar. Cocok untuk menjadi kekasihku.” ujar Sean.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1