
Nana berjalan perlahan dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur di tangannya. Ia melangkah memasuki kamar neneknya, Calista.
"Nenek, ayo makan siang dulu. Aku sudah buatkan bubur untuk nenek." Ujar Nana.
Nenek Calista membuka matanya, ia menoleh pada sang cucu perempuan.
"Kau masih disini? Nenek pikir kau sudah pulang." Ucap nenek Calista.
Nana tersenyum, ia meletakkan nampan berisi bubur itu ke atas nakas, lalu berdiri disamping neneknya, membantu wanita tua itu untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Aku bagaimana bisa pulang begitu saja dan meninggalkan nenek, walaupun akan ada pelayan yang mengurus nenek. Tapi aku sudah berjanji dengan papa, selama papa pergi bekerja, maka aku yang akan menjaga nenek." Ujar Nana sembari duduk di sisi ranjang neneknya.
"Kenapa kau merepotkan dirimu hanya untuk orang tua sepertiku? Lagipula, memangnya kau tidak pergi kuliah? Nenek khawatir nanti orangtuamu marah bagaimana?" Tanya nenek Calista.
Nana dengan setia menampilkan senyum hangatnya, seperti matahari yang bersinar di pagi hari, tidak menyengat namun begitu hangat dan menyehatkan kulit.
Nana meraih bubur yang tadi ia letakkan di atas nakas, perlahan ia menyendok bubur itu dan mulai menyuapkannya kepada sang nenek.
"Nenek tidak perlu khawatir, aku sudah ijin dengan ibuku, dan lagi, hari ini kan hari minggu, universitas-ku libur." Jawab Nana setelah ia berhasil menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut neneknya.
"Begitu ya. Kalau memang seperti itu, nenek merasa tenang sekarang. Nenek hanya takut nanti orangtuamu marah karena kau terlalu lama ada di rumah ini dan sering bertemu dengan papa-mu." Kata nenek Calista sembari membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur lagi dari cucunya itu.
"Iya. Oh ya nek, apa Nana boleh bertanya suatu hal pada nenek?" Tanya Nana, raut wajahnya terlihat ragu dengan pertanyaan yang akan ia ajukan itu.
"Tentu saja boleh, tanyakan saja apapun itu, jangan takut pada nenekmu sendiri, selama nenek bisa menjawabnya, akan nenek jawab."
"Itu— nek, apa alasan papa tidak mau menikah lagi?" Tanya Nana.
Mendengar pertanyaan itu, nenek Calista untuk beberapa saat, ia tampak diam. Entah apa yang dipikirkannya.
"Nenek? Apa pertanyaan ku ini menyinggung hati nenek? Maaf, bukan maksud Nana menyakiti hati nenek. Nana hanya penasaran dan ingin tahu alasannya. Tapi kalau nenek tidak mau menjawabnya juga tidak masalah. Nenek lupakan saja pertanyaan Nana barusan. Nana juga minta maaf karena telah bertanya seperti itu pada nenek." Ujar Nana dengan raut wajah khawatir-nya. Ia khawatir kalau neneknya juga akan mendiamkannya seperti Alex waktu itu.
Setelah Nana berkata seperti itu, nenek Calista, dalam diamnya, ia menatap cucu kandungnya itu. Lalu, sebuah semburat senyum yang dibaluri aura kesedihan terpancar dari wajahnya.
"Tidak perlu meminta maaf. Memangnya kau berbuat salah apa? Sungguh tidak salah kalau kau bertanya seperti itu. Semua orang di luar sana pasti juga merasa penasaran dengan papa-mu yang memilih untuk melajang sampai umur empat puluhan ini." Kata nenek Calista.
Nana meletakkan mangkuk yang masih tersisa sedikit bubur itu ke atas nakas. Lalu kemudian, tangannya bergerak meraih tangan sang nenek, Nana menggenggam tangan neneknya itu, memberikan rasa hangat dan ketenangan bagi si tua Calista.
"Aku tebak, nenek pasti juga tidak tahu alasan kenapa papa masih belum menikah sampai sekarang kan?"
Nenek Calista tersenyum sembari membalas genggaman tangan cucunya itu.
"Kau benar. Nenek tidak tahu alasan kenapa papa-mu tidak mau menikah sampai sekarang. Tapi yang pasti itu berhubungan denganmu dan ibumu." Kata nenek Calista.
Wajah Nana tampak tertekuk, ia sudah menduganya selama ini, alasan ayah kandungnya tidak ingin menikah pasti karena dirinya dan ibunya, Rachel. Tapi yang Nana ingin tahu adalah kenapa? Kenapa karena ia dan ibunya, Alex tidak pernah berniat untuk menikah?
"Sungguh sesuai dugaanku. Aku sudah tahu tentang hal itu nek. Tapi— apa nenek tahu kenapa karena aku dan ibuku, papa jadi tidak mau menikah?" Tanya Nana.
"Entahlah, nenek juga tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Tapi seingat nenek. Dulu, dulu sekali saat nenek dan papa-mu bertengkar, dia pernah berkata kalau kau adalah bukti bahwa dirinya sudah menikah. Jadi kemungkinan, selama ini dia mengatur mindset-nya kalau dirinya itu adalah seorang pria duda yang pernah gagal dalam pernikahan. Tapi itu hanya kemungkinan saja, masalah benar atau tidaknya, semua hanya tuhan dan papa-mu yang tahu." Kata nenek Calista.
•••
Waktu telah berlalu, langit sudah menampakkan warna jingga. Sedangkan matahari tampak berjalan mendekati ufuk barat, bersiap untuk tenggelam dan menyelesaikan tugasnya.
Suara ketukan pintu dari arah luar ruang kerja Ana terdengar, membuat wanita paruh baya itu menghentikan kegiatannya yang sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
"Siapa? Masuk." Ucap Ana sembari menatap pintu ruang kerjanya itu.
Tak butuh waktu lama setelah Ana menyuruh orang di luar pintu untuk masuk, pintu itu pun terbuka, memperlihatkan sosok paruh baya yang masih terlihat gagah mempesona.
"Ray, kau sengaja datang untuk menjemputku kah?" Tanya Ana sembari menarik tas-nya, membawanya. Lalu kemudian, ia mendekat ke arah suaminya itu.
__ADS_1
"Hm, tentu saja. Aku sudah lama tidak datang ke restoran untuk menjemputmu. Si Yuan itu selalu saja mencuri kesempatanku untuk menjemputmu." Kata Ray, ia meraih tubuh Ana dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Ada apa denganmu? Kau sedang cemburu pada anakmu sendiri ya?"
"Bagaimana mungkin aku cemburu dengan bocah itu. Aku hanya sedang merindukanmu." Jawab Ray.
Ana mengusap lembut punggung suaminya itu.
"Kau lelah? Apa kau sudah makan? " Tanya Ana.
Ray melepaskan dekapannya, kemudian mengecup lama kening Ana, meninggalkan rasa hangat di hati dan jiwa wanita paruh baya itu.
"Sangat lelah, sejak pagi tadi sampai sore hari, aku harus melangkahkan kakiku kesana dan kemari untuk mengawasi proyek penting di dekat taman kota. Mungkin kalau aku masih muda, kegiatan seperti itu bukan masalah, tapi mengingat usiaku yang sudah paruh baya ini, membuat sekujur tubuhku merasa lelah seketika." Keluh Ray.
Ana tertawa kecil mendengar keluhan dari suaminya itu, lantas ia menggerakkan tangannya dan memijat bahu Ray. Namun hanya sebentar saja, karena bagaimanapun juga Ray itu masih seperti tiang listrik yang menjulang terlalu tinggi bagi Ana.
"Kau mau aku pijat?" Tanya Ana.
"Boleh."
"Baiklah, ayo kita pulang, kau pasti sangat lelah. Kasihan sekali suamiku ini." Ucap Ana sembari menarik lengan Ray untuk keluar dari ruang kerjanya itu dan pulang ke rumah mereka.
•••
Yuan berdiri di depan pintu apartemen Rose dengan raut wajah sedihnya. Sebenarnya tidak benar-benar sedih, tapi lebih seperti sebuah keluhan.
"Ayo pulang, kenapa masih berdiri disini?" Tanya Rose pada kekasihnya itu.
"Apa boleh aku menginap disini?" Yuan balik bertanya dengan pertanyaan yang mampu membuat Rose menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya.
"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Bagaimana bisa kau berpikir untuk menginap di apartemen seorang gadis? Bagaimana kalau orangtuamu tahu? Nanti mereka bisa salah paham padaku." Ujar Rose.
"Yuan, dengar ya. Waktu itu masalahnya berbeda, kau saat itu sedang dalam posisi kabur dari rumah dan tidak memiliki tempat tinggal, aku sebagai orang yang memiliki banyak hutang padamu, bagaimana mungkin saat itu tidak menolongmu."
"Ya sudah, kalau begitu, sekarang aku akan kabur dari rumahku lagi. Jadi kau akan mengijinkan aku untuk tinggal di apartemenmu ini kan?"
"Jangan gila Yuan. Awas saja kalau sampai kau mencoba kabur dari rumah lagi." Ancam Rose.
Yuan semakin menekuk wajahnya, ia terlihat sangat lesu, merasa malas untuk pergi dari sisi Rose.
"Kau sungguh tidak mengerti aku." Keluh Yuan.
"Apa yang harus aku mengerti dari sikap tidak terpuji seperti itu? Kalau kau sampai kabur dari rumah lagi atau kau memaksa untuk tinggal di apartemenku, lalu banyak orang yang tahu, bagaimana kau dan aku akan menghadapi orangtuamu, mereka pasti akan merasa malu dan sangat kecewa padamu." Kata Rose.
"Aku kan hanya ingin tinggal di rumahmu, bukan berarti aku akan menghamilimu, yaa— walaupun itu bisa saja terjadi."
"Yuan! Coba kau katakan sekali lagi kalau kau berani. Kau ingin aku marah ya?!"
"Aku mana berani membuatmu marah. Baiklah, aku akan pulang. Tapi besok pagi, aku akan datang lagi dan menjemputmu untuk berangkat ke kampus bersama." Kata Yuan.
Rose menghembuskan nafasnya, merasa sedikit lega, akhirnya si pria keras kepala itu mengalah juga.
"Iya, pulanglah. Hati-hati di jalan, berkendaralah dengan baik, jangan mengebut. Besok pagi aku akan menunggumu." Ujar Rose.
"Em, kalau begitu ayo beri aku salam perpisahan." Ucap Yuan.
"Eh? Salam perpisahan? Maksudmu— seperti kata-kata sampai jumpa besok?" Tanya Rose yang tidak mengerti dengan maksud Yuan.
Yuan menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian, ia melangkah maju ke depan, mendekatkan dirinya pada Rose.
"Yuan?"
__ADS_1
"Sssttt..."
Yuan diam sejenak, menatap manik mata sang kekasih yang kini berada dalam jarak beberapa centimeter darinya.
"Yuan, kau terlalu dekat." Ucap Rose.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rose atau menjauh dari Rose. Yuan, ia mengecup lama kening kekasihnya itu, setelah merasa cukup, ia baru mundur beberapa langkah dari Rose.
"Sampai jumpa besok." Ucap Yuan dengan senyum puasnya, lalu kemudian pergi dari hadapan Rose.
"Eh iya, sampai jumpa besok." Gumam Rose, ia terlambat menyadari kepergian Yuan karena terlalu sibuk terpaku dengan tindakan Yuan yang tiba-tiba mencium keningnya tadi.
•••
Nana terlihat turun dari sebuah taxi yang berhenti di depan gerbang rumah keluarga Gavin. Gadis itu tadi pergi keluar sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan neneknya.
"Nona kembaliannya." Teriak sang sopir taxi ketika Nana baru saja ingin memasuki gerbang rumah sepupunya itu.
"Ambil saja kembaliannya." Ucap Nana.
"Ah begitu, terimakasih banyak nona." Kata si sopir taxi, lalu kemudian ia melajukan taxi-nya pergi dari depan rumah Yuan.
Melihat taxi itu telah pergi, Nana kembali berbalik untuk masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Gavin. Tapi, sebuah suara kembali membuat Nana menoleh dan otomatis menghentikan langkahnya.
"Nana, kau Nana kan? Sepupunya Yuan." Tanya seorang perempuan yang baru saja keluar dari sebuah mobil berwarna merah menyala.
"Iya, aku Nana, sepupunya Yuan. Kau— "
"Aku Rue, apa kau ingat aku, di pesta perayaan ulang tahun ketua Barack malam itu." Kata Rue.
"Ah, iya aku ingat. Kau anak ketua Barack itu ya, adiknya Feng kan?"
"Iya, kau juga mengenal kakak-ku ternyata."
"Eh, bukan seperti itu, kau jangan salah paham, aku mengenalnya bukan karena sengaja. Dia itu kebetulan satu jurusan dengan teman baikku. Jadi tidak sengaja aku kenal dia." Kata Nana dengan senyum canggungnya.
Aku mengenalnya juga karena dia terlihat sering menempel pada Rose terus. Dan lagi, siapa yang tidak kenal dengan rival sejati dari sepupuku sendiri. — Batin Nana.
"Ah begitu ya." Ucap Rue yang hanya mampu Nana balas dengan senyum penuh paksaan.
"Oh iya, apa Yuan ada di rumahnya?" Tanya Rue, itu adalah tujuan sebenarnya Rue datang ke kediaman keluarga Gavin, yaitu untuk bertemu dengan Yuan.
"Yuan? Dia sepertinya sejak pagi tadi sampai sekarang belum pulang. Entah pergi kemana, mungkin sedang berkencan dengan kekasihnya." Kata Nana yang hanya asal bicara saja. Sengaja ia berkata seperti itu karena ingin membuat Rue merasa kesal dan pergi dari hadapannya. Walau sebenarnya, tanpa Nana ketahui, kalau perkataannya itu sepenuhnya benar.
"Yuan punya kekasih?" Tanya Rue.
"Tidak tahu. Aku tidak suka mencampuri urusan asmara orang lain walaupun itu sepupu dekatku sendiri. Tapi siapa yang tahu kalau seorang pria dengan pakaian rapi dan wangi, pergi dari pagi sampai sore hari seperti ini belum juga kembali. Dugaan terbaiknya ya sudah pasti kalau dia sedang pergi berkencan." Kata Nana.
"Aku pikir kau salah paham dengan sepupumu sendiri. Yuan tidak terlihat seperti pria yang sudah memiliki kekasih." Ujar Rue.
Sial, perempuan ini gigih juga ya. Masih bisa berkata seperti itu walau aku sudah mengucapkan kalimat yang seharusnya membuatnya putus asa. — Batin Nana.
"Oh, benarkah? Tapi walau dia tidak terlihat seperti seorang pria yang memiliki kekasih, bukan berarti sepupuku itu tidak mempunyai seorang perempuan yang ia sukai kan?"
Tepat setelah Nana menyelesaikan kalimatnya itu, sebuah mobil yang Nana yakini milik Yuan tampak mendekat ke arah mereka.
"Kenapa tidak tanyakan saja padanya?" Ucap Rue yang juga melihat mobil milik Yuan itu.
*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*
__ADS_1