The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kencan Pertama yang Tertunda


__ADS_3

Pagi yang sejuk menyapa belahan bumi bagian timur.


Suasana yang dingin, membuat setiap orang akan merasa enggan untuk bergerak pergi dari atas tempat tidurnya.


Semburat cahaya matahari, dengan malu-malu muncul dari sisi timur. Perlahan-lahan mulai naik ke atas, menampilkan sang surya yang kini telah menampakkan dirinya, bersiap untuk melaksanakan tugasnya sepanjang pagi, siang dan sore.


Pukul 08:39 pagi.


Rose berada di dapur apartemen kecilnya, ia terlihat sudah berpenampilan rapi dengan dress musim kemarau yang membalut tubuhnya dengan sempurna.


Gadis itu tampak sedang memasukkan makanan yang ia masak ke dalam beberapa kotak berbentuk persegi empat.


Ada banyak makanan yang telah susah payah ia buat sejak fajar terbit tadi. Semua itu sengaja Rose buat bukan untuk ia makan sendiri, tapi untuk ia bawa pergi ke suatu tempat bersama seseorang, seseorang yang spesial.


Malam tadi, Yuan menghubungi dirinya, kekasihnya itu mengajaknya pergi piknik berdua ke taman kota hari ini.


Merasa kalau itu akan menjadi kencan pertama mereka, tentu saja Rose segera setuju dan berkata 'iya'.


Yuan, pria itu berjanji akan datang menjemput Rose pukul sembilan pagi.


Maka dari itu, sejak matahari baru akan muncul dan sampai sekarang pun Rose masih terlihat sibuk mempersiapkan semua keperluan untuk acara piknik mereka berdua. Rose bahkan rela bangun lebih awal dari hari biasanya.


Setelah selesai memasukkan semua makanan ke dalam kotak persegi empat itu. Rose meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan. Gadis itu membuka bilik pesan untuk menghubungi Yuan.


'Selamat pagi! Hai, aku sudah siap untuk pergi ke taman kota. Kau tidak lupa dengan janjimu tentang hari ini kan?'


Belum lama Rose mengirim pesan itu, sebuah pesan balasan dari Yuan langsung muncul di layar ponselnya.


'Maaf ya~'


Membaca dua kata singkat itu, wajah Rose yang tadinya berseri-seri, kini menjadi tertekuk sedih.


'Kau tidak bisa datang ya? Ya sudah, tidak apa-apa, kita bisa pergi lain kali saja.' — Balas Rose.


Setelah pesan singkat dari Rose itu terkirim, sebuah ketukan pintu terdengar. Sepertinya, seseorang sedang mengetuk pintu apartemen Rose dari luar.


Rose mengernyitkan keningnya, ia merasa aneh, siapa yang pagi-pagi seperti ini datang bertamu ke apartemennya? Tidak mungkinkan kalau itu pemilik gedung apartemen? Seingat Rose, ia sudah membayar lunas sewa apartemennya.


"Iya, tunggu sebentar." Kata Rose dengan nada sedikit berteriak agar orang yang berada di luar apartemennya itu mendengarnya.


Rose menatap ponselnya sekilas, tidak ada pesan balasan dari Yuan, gadis itu sejenak menghela nafasnya, lalu meletakkan ponselnya ke atas meja makan kembali. Setelah itu, ia bergegas pergi menuju ke arah pintu apartemennya.


"Ada ap— " Ucap Rose sembari membuka pintu apartemennya. Tapi, ketika dirinya melihat siapa orang yang telah mengetuk pintu apartemennya itu, Rose seakan tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi. Seketika dirinya speechless untuk beberapa saat.


"Yuan?!" Pekik Rose antara senang dan juga bingung.


Yuan tersenyum manis ke arah kekasihnya itu. Kemudian, ia menyerahkan sebuket bunga mawar merah yang masih terlihat sangat segar kepada Rose. Setelah itu, Yuan langsung masuk begitu saja ke dalam apartemen yang dulu sempat ia jadikan tempat tinggal untuk sementara.


Rose mengikuti Yuan yang telah masuk lebih dulu, ia menutup pintu dan menoleh ke arah Yuan yang kini sudah duduk di sofa apartemennya.


"Bukankah tadi kau mengirim pesan padaku, kalau kau tidak bisa datang?" Tanya Rose.


"Eh, kapan aku bilang begitu?" Yuan balik bertanya.


"Belum lama tadi, aku masih menyimpan pesannya." Ucap Rose.


"Benarkah? Coba kau ambil ponselmu dan baca lagi dengan teliti pesan dariku itu." Sanggah Yuan.


"Tapi aku benar-benar mengingatnya, kau mengirimkan pesan dengan kata 'maaf' padaku." Kata Rose.


Yuan tertawa geli mendengarnya, ia menatap Rose yang balas menatapnya dengan tatapan polos, membuat Yuan merasa gemas dengan gadis itu.


"Aku memang mengirim pesan padamu dengan kata 'maaf', tapi bukan berarti kalau aku tidak bisa datang." Ujar Yuan.

__ADS_1


"Eh? Salah ya? Lalu, kenapa tadi mengirimiku pesan seperti itu? Apalagi, ternyata kau sudah ada di depan pintu apartemen ini."


"Ah itu—  aku berniat ingin meminta maaf padamu karena datang terlalu cepat." Ujar Yuan dengan raut wajah menahan tawanya.


Rose mendengus kesal dengan tingkah kurang kerjaan dari kekasihnya itu. Helaan nafas pun juga mengiri diri Rose, lalu kemudian, ia melangkah pergi dari hadapan Yuan.


"Mau kemana? Oh iya, apa kau tidak berniat memberi suamimu ini makan?" Tanya Yuan sembari melihat Rose yang sedang berada di dapur.


"Kau belum makan?"


"Belum." Jawab Yuan dengan menampilkan wajah melasnya. Pria itu kemudian berjalan menghampiri Rose yang tengah sibuk merapikan kotak makanan.


"Apa itu?" Tanya Yuan ketika dirinya sudah berdiri di samping Rose.


"Kau bilang ingin pergi piknik bersamaku hari ini. Jadi aku menyiapkan banyak makanan untuk kita piknik nanti." Jawab Rose.


Yuan menganggukkan kepalanya paham, pria itu kemudian semakin mendekat ke arah Rose dan melakukan back hug pada kekasihnya itu.


Rose yang tiba-tiba dipeluk Yuan dari arah belakang, merasa tubuhnya kaku seketika. Rose sungguh sangat terkejut dengan tindakan dari Yuan itu.


"Yu—yuan, apa yang kau lakukan?"


"Apa? Oh iya, apa kau memasukkan semua makanan yang kau masak ke dalam kotak makan ini?"


"Lepaskan dulu pelukanmu." Ujar Rose, ia bergerak, mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Yuan.


"Tidak."


"Yuan."


"Baiklah baiklah." Ucap Yuan sembari melepaskan pelukannya dari Rose.


"Sudah, apa sekarang kau merasa senang?" Tanya Yuan setelah dirinya melepaskan pelukannya dari sang kekasih.


"Maaf Yuan. Tapi aku sungguh belum terbiasa. Aku harap kau tidak marah dan bisa memahaminya." Ucap Rose dengan kepala tertunduk.


"Tidak apa, aku tidak marah." Kata Yuan.


Rose mendongakkan kepalanya, menatap Yuan dengan senyum tipisnya.


"Baiklah, sekarang aku sangat lapar, bisakah kau beri aku ini makan?" Ucap Yuan.


"Kau lapar? Tapi, semua makanan yang aku buat sudah aku masukkan ke dalam kotak makanan itu." Ujar Rose sembari menunjuk kotak makan berbentuk persegi empat yang ada di atas meja makan itu.


"Semuanya? Tidak menyisakan sedikitpun untukku?"


"Tidak."


"Kau jahat sekali."


"Eh? Tapi itu kan juga untuk kau makan. Semua makanan yang ada di dalam kotak itu adalah bekal piknik kita." Ujar Rose.


"Ah iya baiklah, kalau begitu ayo cepat pergi ke taman kota, aku benar-benar sudah lapar."


"Kalau kau sungguh lapar. Aku rasa— kita tidak perlu pergi ke taman kota hanya untuk makan, kita bisa makan disini saja." Kata Rose.


Yuan menatap kekasihnya itu dalam diam. Sejenak raut wajahnya terlihat datar, namun detik berikutnya, semburat senyum tak tertahankan terpancar jelas di wajahnya.


"Ada apa dengan senyuman-mu itu?" Tanya Rose.


"Dari awal, aku berharap kau berkata seperti itu."


"Kata-kata yang mana?"

__ADS_1


"Lebih baik kita makan disini daripada di taman kota."


"Eh? Kenapa?" Tanya Rose.


"Bukan apa-apa, hanya saja, aku merasa lebih baik makan berdua bersamamu di sini, daripada di taman kota yang ramai itu pasti nantinya akan ada banyak orang yang menggangu suasana romantis kita." Ujar Yuan.


Rose merasakan wajahnya memanas ketika mendengar Yuan mengucapkan kata romantis di hadapannya. Ia sungguh merasa seperti ada kembang api yang tengah meletup-letup di dalam hatinya.


Maaf Rose, alasan sebenarnya aku tidak ingin pergi ke taman kota karena dad hari ini sedang mengadakan kunjungan proyek perusahaan, sialnya, proyek itu dikerjakan tepat di dekat taman kota. Karena aku belum bisa mengungkapkan hubungan kita, jadi aku terpaksa harus menghindari pertemuan antara kau dan dad. Bukan maksudku ingin berbohong padamu, tapi sungguh, aku hanya tidak ingin hatimu terluka nantinya. Karena aku belum tahu pasti apakah dad akan setuju dengan hubungan kita atau tidak.


•••


"Baiklah, rapat hari ini sampai disini saja." Kata Alex setelah selesai memimpin rapat pagi itu.


"Untuk proyek yang dipilih tadi, tolong kepada penanggung jawab proyeknya, bawa salinan dokumen tentang proyek itu ke ruanganku." Kata Alex lagi.


"Baik pak."


"Silahkan, kalian boleh pergi." Ujar Alex kepada para pegawai kantor yang berada di dalam rapat itu.


"Alex." Panggil seseorang ketika Alex baru saja melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat.


Alex menoleh, ia membalikkan badannya dan menatap ke arah pria paruh baya yang tadi memanggil namanya.


"Oh, kau. Ada apa?" Tanya Alex pada pria paruh baya itu, Yohan.


"Hari ini bawa Nana pulang ke rumahku. Dia sudah cukup lama menginap di rumah keluargamu." Ujar Yohan.


"Baru dua hari dan dua malam, kau sudah bilang itu cukup lama? Biarkan dia menginap selama tiga atau empat hari lagi." Balas Alex.


"Tidak bisa, dia itu bukan yatim piatu yang tidak punya tempat tinggal sehingga kau harus menampungnya, dia masih punya rumah sendiri untuk dirinya pulang, dia juga masih punya keluarga yang selalu menunggunya untuk pulang." Kata Yohan.


Alex menghela nafasnya, sekilas ia tersenyum membalas sapaan seorang pegawai terakhir yang keluar dari ruang rapat itu, lalu kemudian kembali fokus pada Yohan yang masih berdiri di hadapannya.


"Kau pikir Nana itu sedang menginap di rumah siapa? Dia itu menginap di rumah keluarga Gavin, rumah keluarga kandungnya sendiri. Kau jangan pernah lupa kalau di tubuh Nana itu mengalir darahku, yang artinya, dia itu keturunan murni keluarga Gavin." Ujar Alex.


"Kau bangga dengan darah yang ada di dalam dirimu? Kau juga jangan lupa siapa dirimu yang sebenarnya, kau itu dulunya hanyalah anak haram dari keluarga Gavin." Balas Yohan. Kalimatnya itu seperti tembakan peluru yang tepat mengenai sasarannya.


Alex tersenyum miring, tadinya ia tampak terguncang. Tapi kemudian, ia berhasil mengontrol emosinya yang hampir meluap dari dalam hatinya itu. Lagipula, puluhan tahun yang lalu, celaan seperti itu adalah makanannya sehari-hari. Jadi sekarang, ia sudah sangat kebal dengan kata beracun itu.


"Oh ya? Ingatanmu itu sangat tajam ya rupanya. Aku sungguh kagum padamu, walaupun usiamu sudah menginjak angka lima puluhan, tapi memorimu itu masih berputar dengan baik." Ucap Alex sembari menepuk-nepuk bahu Yohan dengan santai.


"Tapi walaupun seperti itu, dulu ataupun sekarang, darah yang mengalir di tubuhku juga darah murni keluarga Gavin. Jadi biarpun banyak ****** yang menggonggong padaku, aku akan mengabaikannya." Kata Alex lagi, lalu setelah itu, ia pergi dari hadapan Yohan.


"Kau ingin pergi kemana?! Jangan sampai kau melupakan perkataanku tadi. Kau harus membawa Nana pulang apapun alasannya." Ujar Yohan ketika Alex sudah berjalan beberapa meter di depannya.


Mendengar perkataan dari orang yang seolah menjadi musuh abadinya itu, Alex pun menghentikan langkahnya, namun sama sekali tidak berniat untuk menoleh.


"Kau itu hanya ayah tirinya. Jangan pernah memaksakan kehendakmu padanya. Hanya karena kau tidak suka melihatnya dekat denganku, kau sampai membuat hatinya sedih dan juga membuat hidupnya menjadi terkekang karenamu. Biarkan Nana memilih apa yang dia inginkan. Aku juga tidak akan pernah mencegahnya kalau dia lebih memilih dekat denganmu daripada aku. Sama seperti saat aku membiarkan Rachel memilihmu dan menikah denganmu daripada menikah denganku. Jadi, biarkan Nana memilih jalan hidupnya sendiri." Kata Alex, setelah itu ia kembali melangkah dan pergi dari jangkauan mata Yohan.


•••


"Apa kau sangat lapar? Makanlah dengan perlahan, jangan terburu-buru seperti itu, kau akan tersedak nanti. Lagipula tidak ada yang ingin berebut makanan denganmu." Ujar Rose sembari memandangi Yuan yang sedang makan seperti orang kelaparan.


Rose menghela nafasnya ketika Yuan lagi-lagi tidak menghiraukan nasihatnya dan masih makan dengan rakusnya.


"Melihatmu seperti ini, aku merasa khawatir dengan sistem makan di rumahmu. Apa mereka membatasi makananmu? Atau ada aturan tertentu sehingga kau tidak bisa makan dengan puas? Tapi, bagaimanapun juga, walaupun kau tidak bisa makan di rumahmu, kau kan bisa makan di restoran ibumu. Dan juga, bibi Ana tidak mungkin membiarkan dirimu ini kelaparan." Kata Rose.


"Apa yang sedang kau bicarakan? Mana mungkin keluargaku kekurangan makanan, bahkan kalau mom dan grandma mengijinkannya, kami bisa makan steak dengan daging berkualitas tinggi tiap harinya." Ucap Yuan sembari menguyah makanannya.


"Kalau memang seperti itu, lalu kenapa sekarang kau terlihat sangat rakus? Seperti tidak pernah makan selama berhari-hari saja."


"Ini karena makanan yang dimasak oleh istriku sangat enak. Jadi— aku sebagai suami yang baik, harus menghargainya dengan baik, karena itu aku harus makan dengan lahap." Kata Yuan yang mampu membuat pipi Rose merah merona.

__ADS_1


*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*


__ADS_2