The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
The Day


__ADS_3

“Kau, bagaimana bisa kau tidak tahu malu berpacaran dengan anak dari majikan ibu?! Kenapa kau tega melakukannya pada ibumu ini?! Bagaimana ibu akan menghadapi tuan kedua Alex?! Kau itu seharusnya tahu diri Kai! Ingat siapa dirimu itu!” kata Jeni, ia masih berusaha memukul Kai yang tampak terus menghindar dari ayunan sapunya, bahkan Kai beberapa kali terlihat berlari menjauhi ibunya yang terus mengejarnya.


“Ibu, berhenti. Bukan seperti itu, aku bisa menjelaskannya pada ibu. Ibu, aw, sakit, ibu, sudah cukup, hentikan, kumohon.” pinta Kai sembari menghindari ibunya yang masih gigih memberinya pelajaran.


Setelah beberapa saat kemudian, Jeni, wanita paruh baya itu terlihat menghentikan aksinya, ia merasa lelah begitu cepat, nafasnya tampak terengah-engah.


“Ibu baik-baik saja?” tanya Kai, ia berjalan mendekati ibunya yang tampak merunduk mengatur nafasnya.


“Kau! Masih berani bertanya seperti itu pada ibumu ini?!” kata sang ibu.


“Putus dengannya. Katakan kalau kau tidak pantas untuknya, kau terlalu rendah untuknya, kau sungguh tidak pantas berdiri disisinya.” sambung ibunya lagi.


Untuk beberapa detik, Kai terlihat diam, menatap ibunya yang masih merundukkan badan untuk mengatur nafas.


“Ibu.” panggil Kai lirih, seraya mensejajarkan tubuhnya dengan sang ibu.


“Apa lagi? Kau ingin merayu ibu agar setuju dengan hubunganmu itu? Ya! Tentu ibu akan sangat setuju. Tapi itu hanya akan terjadi kalau ibu ini orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Kai, dia itu memiliki latar belakang keluarga yang luar biasa. Bagaimana bisa kau menjalin hubungan dengannya? Kau ingin membuat ibu dipecat ya?!” kata ibunya.


“Ibu, paman Alex sudah tahu semuanya. Dia sudah tahu kalau aku dan Nana berpacaran, kenapa aku harus merasa takut kalau orangtua Nana tidak setuju? Aku sudah mendapatkan restu dari orangtuanya.” ujar Kai.


Jeni tampak menghembuskan nafas frustasinya, lalu kemudian, tangannya tampak bergerak memukul punggung putranya itu.


“Apa yang coba kau katakan ha?! Orangtua? Apa kau lupa? Nona muda Nana itu punya tiga orang tua, nyonya Rachel, tuan Yohan, dan tuan besar kedua Alex. Kau baru mendapatkan restu dari salah satunya, bagaimana bisa kau berkata tidak perlu takut. Pokoknya ibu mau kau putus dengannya, jangan sakiti dia.” kata Jeni.


“Kalau aku memutuskannya, itu sama saja aku menyakiti hatinya. Ibu, kami saling mencintai, apa salahnya dua orang yang saling mencintai bersatu. Kenapa hanya karena masalah latar belakang yang berbeda, kami harus berpisah? Apa salahnya jika kami bersatu? Apa dunia ini akan kiamat jika kami bersatu? Maaf bu, aku tidak bisa menuruti perkataan ibu. Maaf.” ujar Kai yang kemudian berjalan kembali ke arah mobilnya.


“Kai berangkat kuliah dulu, sampai jumpa, aku sayang ibu. Bu, percayalah padaku, semua akan tetap baik-baik saja walaupun aku berpacaran dengan anak majikan ibuku sendiri.” sambungnya lagi.


Setelah itu, Kai masuk ke dalam mobilnya, lalu tak lama kemudian, mobil itu melaju keluar dari halaman rumah sederhananya.


Melihat anaknya yang telah pergi, Jeni tampak menghela nafas beratnya. “Anak itu.” gumamnya sembari memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


•••


“Masuklah, nanti aku akan datang kemari lagi dan mengantarkanmu ke restoran ibuku.” ucap Yuan ketika mereka sudah berada di depan kelas dosen mata kuliah pertama Rose.


“Tapi Yuan, hari ini aku hanya memiliki dua mata kuliah saja. Sedangkan dirimu ada empat mata kuliah, bagaimana kau bisa mengantarku ke restoran ibumu? Kau nanti bisa tertinggal mata kuliah ketigamu. Aku tidak mau itu terjadi.” ujar Rose.


Yuan tersenyum,


“Tidak masalah, aku akan ijin sebentar dengan dosennya. Kau jangan memikirkannya. Aku ini Yuan Mauli Gavin, apa yang tidak bisa aku lakukan? Dan jangan lupa, kalau kau itu adalah pacarnya Yuan, apa yang tidak bisa kau dapatkan dariku? Semua milikku adalah milikmu, termasuk waktuku juga.” kata Yuan sembari mengusap lembut puncak kepala Rose.


“Jangan menaburkan gula di pagi hari seperti ini. Aku takut nanti tidak bisa konsentrasi belajar karena teringat perkataan manismu itu.” ucap Rose dengan senyumannya.


“Kau juga, jangan memberiku gula saat masih pagi seperti ini, lihat senyummu itu, kenapa manis sekali. Aku sungguh tidak bisa melupakannya hanya dalam hitungan jam, butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melupakannya, atau mungkin malah tidak bisa melupakannya seumur hidupku.” kata Yuan, kembali melontarkan perkataan manisnya.


“Ck, kau ini. Ya sudah, aku masuk ke dalam kelas dulu, sampai jumpa, bye-bye.” ucap Rose sembari melambaikan tangannya sekilas.


“Ya masuklah, jangan lupa hubungi aku setelah kelasmu selesai.” kata Yuan.


Rose membalas perkataan pria itu dengan anggukan, lalu kemudian, ia berjalan masuk ke dalam kelas.


Setelah memastikan Rose duduk di salah satu kursi mahasiswa, Yuan pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan gedung fakultas hukum itu dan beralih menuju gedung fakultasnya, yaitu fakultas ekonomi dan bisnis.


•••


Kai menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Nana. Karena kekasihnya itu terlihat sudah berdiri di depan pintu gerbang.


Melihat itu, Kai merasa tidak enak, kalau saja tadi ibunya tidak mengajaknya berdebat, pasti ia tidak akan terlambat untuk menjemput Nana. Tapi bagaimanapun juga, Kai tetap tidak bisa menyalahkan ibunya.


“Maaf terlambat menjemputmu.” ujar Kai setelah keluar dari dalam mobilnya.


Nana tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, “Tidak masalah, ayo segera berangkat.” ucapnya.


Kai pun kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Nana, lalu seperti biasa, ia memasangkan seatbelt untuk Nana.


Setelah itu, Kai menutup pintu mobil sisi kiri itu, lalu beralih ke sisi kanan dan masuk ke dalamnya, memasang seatbelt-nya sendiri, kemudian menghidupkan mesin mobilnya.


“Apa orangtuamu sudah berangkat lebih dulu?” tanya Kai ketika ia telah melajukan mobil itu ke jalanan.

__ADS_1


“Sudah, beberapa menit yang lalu.” jawab Nana.


“Kenapa kau tidak berangkat bersama mereka? Kalau aku tadi datang lebih terlambat lagi bagaimana? Kau bisa terlambat masuk kelas mata kuliah pertamamu karena aku.” ujar Kai.


Nana tersenyum, “Apa maksudmu. Kalaupun aku terlambat, itu semua karena ulahku sendiri. Lagipula, aku sendiri yang ingin menunggumu, kau sama sekali tidak memaksa diriku untuk menunggumu. Jadi jangan coba-coba menyalahkan dirimu.” kata Nana.


Kai terlihat menghela nafasnya, ia tampak menginjak pedal gasnya, menambah laju kecepatan mobil yang dikendarainya.


“Kai, ada apa denganmu, apa kau tidak bisa pelan sedikit?” tanya Nana.


“Tidak.” ucap Kai.


“Kau marah padaku?” tanya Nana lagi.


“Tidak.” jawab Kai, masih menggunakan kata yang sama.


Kenapa kau selalu bersikap baik dan tidak apa-apa padaku Nana? Kau sungguh membuatku kembali teringat dengan perkataan ibuku. Apa aku sungguh pantas berada disisimu?


•••


Dengan senyum tipis yang masih tampak mengembang di wajahnya. Yuan berjalan memasuki gedung fakultas ekonomi dan bisnis.


Namun kemudian, langkah pria itu terhenti ketika seorang gadis dengan sengaja menghalangi jalannya.


“Kak Yuan.” kata gadis itu, Rue.


Yuan memandang gadis itu dalam diam, lalu ia terlihat menggeser tubuhnya, hendak berjalan kembali melalui jalan lain. Tapi Rue kembali menghalangi jalannya.


Yuan pun mendengus kesal, “Minggir.” ucap Yuan dengan nada dinginnya.


Rue menggelengkan kepalanya, gadis keras kepala itu terlihat menolak apa yang Yuan perintahkan padanya.


“Ck, menyebalkan.” ucap Yuan, ia kembali menggeser tubuhnya, tapi lagi dan lagi, Rue pun kembali menghalangi langkah Yuan.


“Kau! Katakan apa maumu?!” tanya Yuan dengan geramnya.


Yuan tampak tertawa kecil, ia menertawakan sikap Rue yang terlalu bodoh atau entah bagaimana sangat tidak tahu malu, membuat pria itu merasa semakin jijik padanya.


“Paman Ray yang menyuruhku untuk berkata seperti itu pada kak Yuan.” ujar Rue ketika menyadari kalau Yuan pasti mengejeknya.


Mendengar nama itu keluar dari mulut Rue, Yuan pun langsung terdiam seketika, untuk beberapa saat, Yuan merasa kepalanya kosong.


Dad? Daddy ingin menjodohkan aku dengannya lagi? Tidak, tidak mungkin. Sudah hampir beberapa minggu ini daddy tidak pernah menyuruhku ini itu yang berhubungan dengan Rue. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba kembali menyuruhku berhubungan dengan Rue?! Atau gadis ini yang sedang berbohong padaku? — batin Yuan.


“Kakak Yuan, apa kau tidak percaya padaku? Aku bisa menelpon paman Ray sekarang, dan kakak Yuan bisa menanyakan-nya langsung padanya.” ujar Rue.


Yuan berdecih, semakin menatap Rue rendah, tapi walaupun Yuan memberikan tatapan seperti itu pada Rue. Rue terlihat tidak gentar sedikitpun, itu karena ia memiliki dukungan di belakangnya, yaitu Ray dan ayahnya sendiri. Dua orang itu yang menjadi orang di belakang Rue.


“Tidak perlu kau yang menelponnya, aku sendiri bisa.” ucap Yuan, membalas perkataan Rue tadi.


“Minggir.” sambungnya lagi.


Kali ini, Rue tampak menurut, ia menggeser tubuhnya dan membiarkan Yuan berjalan melewatinya.


“Kak Yuan, ingat perkataanku. Kita harus pulang bersama.” kata Rue pada Yuan yang sudah berlalu menjauhinya.


Dalam sekali lihat, pria itu memang tampak mengabaikan dirinya. Tapi Rue yakin kalau Yuan tidak akan mengabaikan perkataannya tadi, apalagi itu kata-kata yang Rue katakan dengan membawa nama ayah Yuan, sudah pasti Yuan akan menuruti perkataan itu.


Bagus, sudah hampir berminggu-minggu aku membiarkannya keluar-masuk mobil bersama wanita lain. Kali ini hanya aku yang boleh keluar-masuk mobilnya.


Ayah bilang, paman Ray setuju ingin menjodohkan kami. Dengan begitu, aku tidak akan ragu lagi untuk terus mengejar kak Yuan, seberapa banyakpun dia menolaknya, aku akan terus berusaha mendapatkan hatinya.


Rue terlihat menampilkan senyum lebarnya, sebuah senyum yang lebih mirip seperti seringaian.


•••


Yohan menghela nafasnya, ia terlihat tidak tidur dengan nyenyak selama beberapa hari.


Sebuah lingkaran hitam pun tampak samar terlihat di bawah matanya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu tidak bisa tidur karena memikirkan masalah penggelapan dana proyek kerjasama Tnp group dengan Jhoneq group.


Yohan merasa ada yang tidak beres dengan masalah tersebut.


Bukan hanya masalah penggelapan dana saja yang menjadi beban pikirannya, tapi masalah lain yang ikut menyertai.


Yohan kembali menghela nafasnya, ia merasa frustasi karena sekarang harus menjadi orang yang hanya bisa duduk diam dan menunggu.


Sejujurnya, ia lebih suka memiliki pekerjaan sebagai asisten Ray, karena dengan begitu ia akan lebih banyak melakukan tindakan daripada hanya duduk diam tanpa action.


Tok. Tok. Tok


“Wakil presdir Yohan?” panggil sekertarisnya. Namun Yohan masih diam tidak menjawab, lalu kemudian, sekertarisnya itu pun memutuskan untuk langsung masuk karena ingin menyerahkan sebuah map berisi salinan dokumen laporan keuangan dana proyek yang sedang bermasalah saat ini.


“Pak, maaf saya langsung masuk. Tadi saya— ” perkataan sekertarisnya itu tergantung, bukan karena seseorang menyelanya, tapi karena ia sadar kalau orang yang ia ajak bicara sedang melamun dan pastinya tidak akan mendengarkan apa yang ia katakan. Karena itu si sekertaris sengaja menghentikan perkataannya.


“Pak?” panggil si sekertaris.


Yohan masih belum menyadarinya, pria itu saat ini terlihat tengah diam melamun menatap ke arah luar jendela ruangannya.


“Wakil presdir Yohan?” panggil si sekertaris, lagi. Tapi sepertinya Yohan masih tidak dengar.


Akhirnya, si sekertaris bernama Leon itu pun melakukan deheman yang cukup keras hingga mampu menyentak Yohan dari lamunan panjangnya.


Yohan pun kemudian menoleh, membalikkan badannya dan menatap ke arah Leon, sekertarisnya.


“Kau? Kenapa bisa ada di dalam ruanganku? Bukankah aku pernah mengatakannya padamu, kalau ingin masuk ketuk pintu dulu, apa kau tidak punya tangan?! Setidaknya ucapkan permisi terlebih dulu, benar-benar tidak paham aturan perusahaan ya?! Sudah bosan bekerja disini?” tanya Yohan dengan nada marahnya, padahal sebenarnya ia sedang melampiaskan pikiran kacaunya dengan emosi yang ia arahkan pada Leon.


Leon pun menghela napasnya, “Saya tadi sudah mengetuk pintu beberapakali dan juga sudah memanggil nama anda pak, tapi anda tidak menjawab. Jadi saya putuskan untuk masuk, saat masuk pun, saya langsung meminta maaf pada anda, tapi anda tidak mendengarnya. Karena itu tadi saya— ”


“Ah sudahlah, lupakan apa yang terjadi. Apa kau sudah membawa salinan dokumen laporan keuangan dana proyek kerjasama perusahaan kita dengan Jhoneq group?” kata Yohan.


Leon pun mengangguk, lalu menyerahkan map yang ia bawa kepada Yohan.


“Ini pak.” ujar Leon.


“Bagus, kau boleh pergi.” kata Yohan.


“Baik pak, saya permisi.” ucap Leon yang kemudian pergi dari dalam ruangan wakil presdir itu.


•••


Di ruangan lain perusahaan Tnp group. Alex terlihat duduk dan menatap layar PC-nya. Tangan pria paruh baya itu dengan lihai menekan setiap dial yang ada pada keyboard PC-nya.


Lalu kemudian, tangannya berhenti mengetik ketika suara ketukan pintu terdengar oleh indera pendengarannya.


“Masuk.” ucap Alex.


Tidak lama kemudian, pintu ruangannya itu terbuka, tampak sekertarisnya yaitu Aldo, pria itu masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Ada apa?” tanya Alex.


“Ini tentang Wakil presdir Yohan" ucap Aldo.


“Yohan?”


“Iya presdir, anda waktu itu menyuruh saya untuk mengawasi gerak-gerik wakil presdir  Yohan yang berhubungan dengan proyek tersebut, karena itu sampai sekarang saya mengawasinya. Tapi selama ini saya tidak melihat adanya pergerakan wakil presdir Yohan dalam proyek itu. Dan baru tadi, tiba-tiba tim pengurus keuangan untuk dana proyek kerjasama dengan Jhoneq group melaporkan kalau sekertarisnya wakil presdir Yohan meminta salinan laporan keuangan dana proyek itu.” kata Aldo.


Alex tampak diam, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Kau boleh pergi.” ucap Alex.


“Baik.” jawab Aldo yang kemudian keluar dari dalam ruangan tersebut.


Untuk apa Yohan meminta salinan laporan keuangan dana proyek itu? Apa dia benar-benar ingin mencari akar masalah yang menyeret nama baiknya? Astaga, walaupun si pelaku sudah di tindak tegas, tapi masalah ini sepenuhnya belum selesai, masih banyak cabang yang menimbulkan tanda tanya.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2