The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
She and He (bagian satu)


__ADS_3

Sesampainya di lobby utama firma hukum Anyu, bunyi suara klakson terdengar dari sebuah mobil berwarna hitam bersih.


Lalu kemudian, kaca mobil itu tampak terbuka, menampilkan sosok Samuel yang sudah menunggu Rose lebih dari lima belas menit lamanya.


“Apa kau baru saja berubah menjadi seekor siput? Lama sekali.” ujar Samuel dengan wajah masamnya.


“Maaf senior, tadi saya harus menerima panggilan dulu, karena itu sedikit lebih lama. Maaf.” ucap Rose sembari menundukkan kepalanya.


Samuel terlihat berdecak kesal. “Sudah aku bilang, jika sedang bekerja, kesampingkan urusan pribadi.” kata Samuel yang membuat Rose semakin menundukkan kepalanya.


Lalu kemudian, Samuel tampak menatap dokumen yang Rose bawa. “Apa kau sudah membawa semua yang dibutuhkan?” tanya Samuel.


“Sudah, sudah saya bawa semuanya.” jawab Rose.


“Pastikan kau membawa semua berkas yang diperlukan, jangan sampai karena kau menerima panggilan yang kurang penting itu, ada berkas yang tertinggal.” ujar Samuel.


“Iya, saya pastikan kalau saya sudah membawa semua berkas yang diperlukan.” jawab Rose.


“Ck, kau ini, masih bisa menjawab juga.” ucap pria itu sembari menatap Rose sinis, membuat si gadis hanya bisa tersenyum kikuk.


“Cepat masuk ke dalam mobil, waktu kita sudah terkuras banyak karenamu.” ujar Samuel.


“Baik senior.” ucap Rose, ia kemudian tampak berjalan ke arah bagian tengah mobil dan duduk di kursi penumpang.


“Kenapa duduk disana?” tanya Samuel. “Kau pikir aku ini sopirmu ya?!” tanyanya lagi dengan nada yang lebih tinggi. “Cepat pindah ke depan.” perintahnya.


“Ah, iya senior, saya akan pindah ke depan.” ucap Rose.


Mendapat perintah itu, Rose pun segera bergegas pindah tempat duduknya. Ia berpindah ke bagian depan mobil, duduk di samping seniornya.


“Berkasnya letakkan saja di kursi penumpang, kau tidak perlu membawanya bersamamu. Ck, apa kau suka sekali merepotkan dirimu sendiri? Kenapa harus membawanya kesana-kemari bersamamu? Orang lain yang melihatnya bisa mengira kalau aku ini sedang menindasmu.” kata Samuel.


“Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu.” ujar Rose.


“Ck, sudah, cepat letakkan saja berkas itu ke kursi penumpang, jangan membuang waktu dengan kata maafmu itu.” kata Samuel.


“Iya, baik.” ucap Rose, setelah itu ia turun dari dalam mobil dan segera meletakkan tumpukan berkas yang di bawanya ke bagian kursi penumpang. Lalu kemudian, ia kembali ke bagian depan dan duduk disana dengan perasaan yang tidak bisa tenang sedikitpun. Mungkin dirinya mulai merasa sedikit tertekan dengan seniornya itu.


“Pakai seatbeltmu, kita akan berangkat.” ujar Samuel yang kemudian langsung menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukan mobil itu keluar dari area perusahaan firma hukum Anyu.


Sepanjang perjalanan, kedua orang berbeda jenis dan usia itu hanya diam satu sama lain. Tidak ada di antara mereka yang ingin berbicara ataupun memulai pembicaraan. Hal itu membuat suasana di dalam mobil terasa horor karena kecanggungan yang menimpa keduanya.


“Apa tidak ada hal yang ingin kau tanyakan tentang pekerjaan hari ini?” tanya Samuel, memulai basa-basinya dengan pertanyaan yang menyangkut masalah pekerjaan.


“Eh? Itu— ” Rose tampak berpikir, ia tidak ingin menjawab ‘tidak’, karena kalau kata itu yang keluar dari mulutnya, sang senior pasti akan memberikan petuah pedas untuknya.


“Katakan saja kalau memang tidak ada hal yang ingin kau tanyakan. Tidak perlu mengeluarkan ekspresi seperti orang yang sedang berpikir.” ujar Samuel sembari melirik ke arah spion bagian dalam mobil.


“Maaf.” ucap Rose.


Kata ‘maaf’ yang kembali Samuel dengar dari mulut Rose, membuatnya merasa ingin tertawa miris pada gadis di sampingnya itu.


“Kau itu ternyata tipe orang yang mudah sekali mengucapkan kata maaf ya? Apa kata maaf terlalu murah dan mudah untukmu? Aku tebak, selama hidupmu, kau pasti sangat sering mengucapkan kata-kata itu, entah sadar atau tidak, entah tulus atau tidak, kata-kata itu selalu keluar dari mulutmu. Dari satu kata itu, aku dapat menebak dengan pasti, kau adalah gadis dari kalangan bawah yang sangat mudah di tindas dan di pandang rendah.” ujar Samuel, perkataannya itu secara tidak langsung menohok hati Rose yang paling dalam.


Apa dia memang selalu bermulut pedas seperti itu? Bagaimanapun juga, tidak seharusnya dia membahas tentang latar belakangku kan?


“Kau merasa tidak suka dengan perkataanku barusan?” tanya Samuel sembari menoleh sekilas ke arah Rose yang sejak tadi hanya diam. “Tapi, walaupun kau tidak suka, aku tidak akan meminta maaf.” katanya.

__ADS_1


Rose rasanya ingin tertawa hambar dengan perkataan terakhir dari Samuel itu, ia merasa pria disampingnya ini sangat arogan, bahkan sifat arogannya itu melebih seorang Yuan yang merupakan tuan muda dari perusahaan besar.


“Saya tahu itu, lagipula walaupun baru beberapa jam saya bekerja di bawah bimbingan anda, saya sudah merasa terbiasa menghadapi sifat anda yang sangat pedas itu.” ujar Rose.


Samuel tampak tertawa kecil. “Kau juga bisa berkata seperti itu ternyata.” ucapnya.


“Orang yang tampak seperti mudah ditindas, bukan berarti dia memang mudah ditindas. Hanya karena saya sering berkata maaf, bukan berarti saya orang yang bisa di pandang rendah.” kata Rose.


“Ah, begitukah?” tanya Samuel. “Tapi, menurutku tidak.” katanya.


“Kalau kau terlalu sering berkata ‘maaf’, orang dari kalangan atas atau orang yang merasa dirinya berada di puncak teratas, mereka hanya akan menjadikanmu bahan tertawaan. Setidaknya walaupun mereka tidak menindasmu, tapi mereka akan memandangmu rendah seumur hidup mereka.” kata Samuel.


“Jadi maksud anda, saya harus bersikap seperti anda yang selalu di penuh dengan sifat arogan? Maaf, saya adalah saya dan anda adalah anda. Jadi anda tidak perlu menasihati tentang sifat dan sikap pribadi saya. Karena saya tahu apa yang saya lakukan dan apa yang tidak akan pernah saya lakukan.” ujar Rose yang mampu membuat Samuel berdecak kagum dari dalam hatinya. ‘Baiklah, satu hal yang aku tahu, dia adalah gadis yang teguh pada pendiriannya.’ pikir Samuel.


Aku hanya berharap, keteguhannya itu tidak membuatnya hancur suatu saat nanti, yaa semoga saja tidak. — batin Samuel yang kemudian kembali fokus pada jalanan.


•••


“Sudah selesai menelponnya?” tanya seorang pria yang merupakan pegawai tetap di departemen manajemen keuangan perusahaan Tnp group itu.


“Sudah.” jawab Yuan.


“Ck, lihat caramu menjawab. Kau menjawabku tanpa rasa bersalah? Ya, bagus sekali. Anak magang dengan latar belakang sepertimu memang berbeda.” kata pria itu.


“Egi, apa yang sedang kau katakan padanya? Beberapa tahun lagi setelah dia menjadi pewaris perusahaan, kau bisa habis di pecat olehnya. Sekarang kau hanya bisa berharap saja kalau dia tidak mengingatmu di kemudian hari atau lebih bagus kalau dia memaafkanmu.” bisik teman dari pria bernama Egi itu.


“Pecat ya tinggal pecat saja. Lagipula, itulah rantai kehidupan manusia, yang tertinggi tidak akan pernah salah dan akan selalu menang. Aku sudah tidak heran lagi.” katanya.


“Permisi senior, saya rasa perkataan anda itu terlalu berlebihan. Kelas sosial memang terkadang menentukan nilai pribadi seseorang di mata orang lain. Tapi anda harus ingat, kalau tidak semua orang dengan nilai sosial tinggi memiliki sifat yang sama. Mereka pada dasarnya hanya manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan yang berbeda-beda.” ujar Yuan.


“Senior Egi, kelak setelah saya membuktikan kemampuan saya untuk memimpin perusahaan ini. Saya akan selalu mengingatkan diri saya untuk mengangkat anda menjadi direktur manajemen keuangan. Saya pastikan itu, karena orang yang jujur dan terbuka seperti anda inilah yang nantinya akan menjadi salah satu atasan terbaik di perusahaan ini.” kata Yuan sembari tersenyum sopan ke arah seniornya itu.


“Apa aku harus bersikap ketus dan kasar sepertimu agar aku bisa di angkat ke posisi tinggi sepertimu?” tanya teman Egi.


Egi hanya diam, ia sendiri masih terdiam karena perkataan dari Yuan yang seolah membuatnya membisu.


•••


Ray terlihat duduk di kursi kebanggaannya, pria itu tampak menatap lurus ke depan, sebuah tatapan kosong yang membuat jiwanya melayang entah kemana.


Ray kembali menghela nafasnya, kemudian melonggarkan dasinya yang  memang terlihat sudah tidak rapi sejak awal. Karena biasanya yang memasangkan dasi itu adalah Ana, tapi hari ini karena Ana marah padanya, Ray harus memasangnya seorang diri, karena itu penampilannya saat ini terlihat sedikit berbeda dan terkesan tidak rapi seperti biasanya.


Tok. Tok. Tok


Pintu ruangan itu terdengar diketuk beberapakali oleh seseorang dari luar ruangannya.


Ray terhempas dari lamunan panjangnya,  ia kemudian menoleh ke arah pintu ruangannya itu.


“Kak Ray, ini aku.” ucap seorang pria dari luar ruangan.


Ray tampak mengernyitkan keningnya. “Alex?” ucapnya.


“Iya.” jawab pria paruh baya itu. “Apa aku boleh masuk?” tanya Alex.


“Masuklah.” jawab Ray.


Lalu, tidak lama setelah ia berkata seperti itu, pintu ruangannya pun tampak terbuka, terlihat seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


“Ada perlu apa?” tanya Ray, tanpa mengeluarkan basa-basinya.


“Ck, apa tidak ada sapaan atau sambutan untuk adik laki-lakimu ini? Selalu saja seperti itu.” keluh Alex.


“Ya, terserah kau saja. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku, lebih baik kau kembali ke ruanganmu. Aku pikir, kau saat ini seperti seorang pengangguran yang memiliki banyak waktu luang. Apa pekerjaanmu begitu terasa mudah dan sepele bagimu?” ujar Ray.


“Ah itu, kenapa kakak berkata seperti itu. Aku datang kemari bukan tanpa alasan. Lagipula, pekerjaanku sudah cukup membuat rambutku memutih lebih cepat. Haruskah aku berterimakasih pada kakak karena hal itu?” tanya Alex dengan nada bercandanya.


Ray tersenyum tipis mendengarnya, kemudian ia terlihat bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arah sofa yang ada di ruangannya. “Duduklah.” ucap Ray, ia sendiri pun kemudian duduk di sofa itu.


“Ya, terimakasih, ketua Ray.” balas Alex masih dengan candaannya.


“Jadi ada apa kau datang kemari?” tanya Ray setelah adik beda ibunya itu tampak duduk di sofa.


“Ah itu, tadi pagi aku bertemu Yuan.” jawab Alex.


“Hanya karena itu kau datang kemari? Lagipula untuk apa kau melaporkan hal semacam itu padaku. Kau bahkan setiap pagi bertemu dengannya di rumah.” ujar Ray sembari membenarkan kancing yang ada di lengan kemejanya.


“Yaa— itu memang benar. Tapi maksudku, aku bertemu dengannya tadi pagi di perusahaan sebagai atasan dan bawahan.” kata Alex.


“Rasanya lucu dan aneh sekali, apalagi saat aku bertemu dengan Nana.” sambungnya.


Ray menganggukkan kepalanya, tapi kemudian ia tampak mengernyitkan keningnya, merasa ada yang salah dengan perkataan Alex.


“Bukankah kau berangkat pagi-pagi sekali bersama Yuan?” tanya Ray.


Pagi tadi, Ray bangun lebih siang dari hari biasanya. Saat ia bangun pun, ruang makan sudah terlihat kosong. Para pelayan rumahnya bilang kalau tuan kedua Alex dan tuan muda Yuan sudah pergi sejak pukul enam pagi tadi.


“Ya, kami memang berangkat di waktu yang hampir sama, tapi kami tidak berangkat bersama. Lagipula, anak laki-lakimu itu berangkat beberapa menit lebih awal dariku.” kata Alex.


“Tapi anehnya, entah jalur tikus mana yang Yuan lalui, karena aku yang lebih dulu sampai di perusahaan.” sambung Alex.


“Benarkah?”


“Hm. Ah, sudahlah. Itu bukan hal yang perlu kakak pikirkan. Mungkin saja Yuan mampir ke suatu tempat seperti rumah temannya atau ke restoran ibunya.” ujar Alex.


Ray mengangguk setuju, “Ya, mungkin saja. Aku harap begitu. Asalkan dia tidak datang terlambat hanya karena dirinya adalah anak pemilik perusahaan, aku akan mentoleransinya.” kata Ray.


“Ck, apa kakak tidak berpikir kalau kakak terlalu keras padanya?” tanya Alex.


“Ini juga untuk kebaikan dirinya, mendidiknya dengan keras agar kelak dia tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tangguh.” jawab Ray.


Alex menghela nafasnya, membahas masalah anak dengan kakaknya itu, ia sama sekali tidak pernah menemukan titik persamaan. Mungkin itu karena Yuan dan Nana merupakan dua orang yang berbeda jenis, karena itu cara mendidik sampai cara memperlakukan mereka pun banyak memiliki perbedaan.


“Oh iya kak, sebenarnya aku datang kemari untuk membahas pesta ulang tahun kakak yang dua minggu lagi akan segera tiba.” ujar Alex.


Ray yang mendengar perkataan Alex barusan, ia sendiri pun baru sadar kalau dirinya akan mengalami pertambahan usia beberapa hari lagi.


“Persiapkan saja seperti biasanya. Lagipula, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai perayaan ulang tahun, untuk apa aku merayakan hari dimana waktu hidupku berkurang. Tapi karena formalitas, ya, kau saja yang mengurusnya.” kata Ray.


“Bagi kakak itu mungkin tidak penting, tapi bagi kebanyakan orang dan termasuk para pegawai perusahaan, hari itu adalah hari penting, karena mereka bisa bertemu dan mengenal banyak orang-orang luar biasa yang mungkin bisa saja menjadi backing bagi mereka.” ujar Alex.


Ray tersenyum hambar, ia sangat setuju dengan fakta menyedihkan itu.


Senyum di depan terlihat manis, senyum di belakang terlihat miris. Itulah kalimat yang menjadi pedoman bagi kaum yang menjelajahi dunia sosial yang memiliki tingkatan dan kelas.


“Kau benar. Fakta yang menyedihkan seperti itu, makhluk sosial mana yang tidak tahu.” ucap Ray.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2