
Pukul sebelas malam Greenwich Mean Time minus empat (GMT-4). Langit menggelap, kerlipan bintang yang biasanya menemani bulan malam ini tidak ada satupun yang terlihat. Bahkan bulan tampak ikut bersembunyi di balik awan hitam keabu-abuan.
Di bagian kanan ruang tamu terdapat sebuah jendela kaca dengan ukuran besar. Tingginya sekitar seratus empat puluh centimeter dengan lebar sekitar seperdelapan panjang tangan seorang gadis.
Dengan dress tidur berwarna putih yang menjuntai hingga ke bawah lututnya, Rose berdiri di sana dengan tangan bersedekap di depan dada. Perempuan itu tanpa rasa takut menatap kilatan petir yang menyambar-nyambar dalam pandangannya.
“Astaga, Rose. Apa yang kau lakukan di sana?!” pekik Sarah. Perempuan itu kemudian berlari mendekat ke arah jendela tersebut. Lalu kemudian, ia segera menutup jendela yang tadi sengaja di buka oleh Rose.
Melihat tindakan Sarah yang khawatir padanya. Rose hanya diam, tubuhnya sama sekali tidak menampakkan reaksi apapun. Pandangannya masih lurus ke depan. Menatap kilatan cahaya yang menyapa bumi.
Sarah pun mengikuti arah pandang perempuan itu. Lalu kemudian menghela nafasnya. Rose melamun lagi. Ia yakin hati perempuan itu masih belum tenang. Karena pandangan Rose kini tengah mengarah ke padang rumput yang terlihat samar dari arah pandang mereka saat ini.
“Ayo masuk ke dalam kamarmu.” ucap Sarah dengan penuh kekhawatirannya.
Rose diam. Ia seperti patung yang tidak akan pernah bergerak walaupun dunia runtuh sekalipun.
Sarah pun mendesah. Ia sudah frustasi dengan keadaan kekasih bosnya itu. Sarah khawatir kalau Rose bisa saja mengalami gangguan mental ataupun sejenisnya.
“Rose.” panggilnya. Tapi tetap tidak ada respon.
“Rose. Please. Back to earth.” pinta Sarah sembari mengguncang pelan tubuh Rose hingga perempuan itu tersadar dari lamunannya yang seperti medan magnet, menariknya kuat sampai dirinya pun lupa untuk tersadar kembali.
“Ada apa?” tanya Rose dengan raut wajah bingung. Ia seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Helaan nafas kembali terdengar dari Sarah. “Ayo masuk ke dalam kamarmu.” ucapnya, mengulangi perkataannya yang tadi.
Rose menatap Sarah sejenak, lalu kemudian memandang padang rumput itu kembali.
Sarah yang sudah merasa gemas dengan sikap Rose itu, ia pun menolehkan kepala Rose dengan tangannya. “Jangan menatap ke arah sana lagi. Kau sungguh membuatku merasa sedih padamu.” ucap Sarah.
“Sarah, apa Yuan sama sekali tidak menghubungimu?” alih-alih menanggapi permintaan Sarah. Rose malah melemparkan pertanyaan yang semakin membuat Sarah merasa tak berdaya padanya.
Sarah menghembuskan nafasnya pelan, menatap Rose sendu. “Ayolah Rose. Kau sungguh membuatku merasa bersalah padamu. Bisakah sehari saja kau abaikan Presdir Yuan sebentar, hum?” pinta Sarah, lagi.
•••
Tiga jam berlalu, sekertaris Chenli yang sepertinya memiliki hobi melihat jam tangannya, ia pun kembali melakukan hal tersebut, ia melihat jam tangannya lagi dan lagi.
Waktu Indonesia Barat menunjukkan pukul dua belas siang lebih sembilan belas menit.
Sekertaris Chenli menatap ke arah ruang cuci darah berada. Rasa tidak sabar sudah sejak satu jam yang lalu merayapi hatinya. Terkadang ia pun terlihat bangkit dan berniat pergi ke ruang cuci darah, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya itu dan duduk kembali ke kursinya.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Pak? Sejak beberapa menit yang lalu saya melihat anda seperti sedang gelisah. Apa ada masalah, Pak?” tanya seorang perawat pria yang datang menghampirinya.
Sekertaris Chenli menatap perawat pria itu dari atas sampai ke bawah, seperti sedang menilainya.
“Pak?” panggil si perawat itu lagi, ia merasa risih dengan tatapan sekertaris Chenli.
“Ah tidak, bukan apa-apa. Abaikan saja aku.” ucapnya, sekertaris Chenli.
Perawat pria itu pun kemudian mengangguk paham, “Oh baiklah, kalau begitu saya permisi. Jika anda butuh sesuatu, silahkan datang ke bagian informasi.” katanya. Setelah itu, ia pergi dari hadapan sekretaris Chenli.
“Tunggu.” panggil sekertaris Chenli, si perawat pun menoleh ke arahnya.
“Ya?” tanya sang perawat.
“Itu, bisakah kau— ah tidak, tidak ada. Pergilah.” katanya sembari duduk kembali di kursinya.
Perawat itu mengernyit heran pada sekertaris Chenli. Tapi kemudian ia hanya bisa menghela nafasnya dan pergi.
•••
“Bisakah kau pinjamkan ponselmu sebentar padaku?” ujar Yuan pada pelayan dapur Penny.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang dimintai ponselnya itu terlihat bingung. Membuat Yuan tampak mengernyitkan keningnya.
“Ada apa?” tanya Yuan.
“Maaf tuan muda Yuan. Semenjak anda pergi, sistem kerja para pelayan rumah tangga banyak yang di ubah oleh tuan besar Ray. Salah satunya tidak boleh membawa ponsel saat sedang bekerja, kalaupun terpaksa membawanya, kami harus menyerahkan ponsel tersebut dalam keadaan dimatikan kepada kepala keamanan rumah ini.” kata pelayan dapur Penny.
Luar biasa, itulah kata yang terlintas di kepala Yuan ketika mendengar penjelasan dari pelayan rumah tangga itu.
Ayahnya sungguh luar biasa dalam menjalankan semua rencananya.
Sekarang Yuan benar-benar seperti berada di ruang penjara besar. Ia mungkin bebas berjalan dan bergerak kesana-kemari. Tapi dirinya tidak akan bisa keluar dar rumah ini.
“Apa tuan muda Yuan ingin menghubungi seseorang?” tanya pelayan itu.
Yuan yang tadinya menunduk, ia pun mengangkat kepalanya. Lalu kemudian sebuah ide terbesit di dalam kepalanya.
“Pelayan Penny. Bisakah kau membantuku. Ini bukan hal besar. Hanya sedikit bantuan kecil, tapi itu sangat penting untukku. Bisakah?” tanya Yuan dengan penuh harapan besar.
Penny sebagai seorang bawahan. Ia tentu tidak bisa begitu saja menolak permintaan tuannya. Apalagi dirinya itu terlihat seperti memang berniat untuk membantu si tuan mudanya.
“Tentu saja bisa. Apapun yang anda butuhkan, selama saya bisa membantu, saya akan membantu anda, tuan muda Yuan.” ujarnya.
Yuan pun tersenyum dengan rasa syukurnya.
“Apa kau punya kertas dan pena?” tanya Yuan.
“Pena? Kertas?” ucap Penny, “Ada, tunggu sebentar tuan muda, saya akan mengambilnya.” katanya sembari begerak cepat menuju ke arah sudut kiri dapur itu.
Pelayan Penny terlihat membuka sebuah lemari. Disana terlihat ada sebuah buku note kecil yang biasa digunakan untuk mencatat bahan-bahan makanan. Lalu disana ada juga dua buah bolpoin berwarna hitam, Penny pun mengambilnya salah satunya.
Setelah mengambil semua yang tuan mudanya minta. Penny kembali ke hadapan Yuan lagi.
“Ini tuan muda. Pena dan Kertas yang anda minta.” ucapnya.
Yuan kembali menyunggingkan senyumannya. Dengan wajahnya yang kini tampak sedikit lebih ceria karena adanya secercah cahaya harapan, Yuan pun menulis sebuah pesan singkat di salah satu kertas dalam buku note tersebut. Tak lupa ia sematkan dua belas digit angka yang merupakan nomor ponsel milik Rose.
“Tuan muda Yuan, ini— ”
“Tolong kirimkan pesan itu ke nomor yang aku tulis di dalamnya. Dan jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini.” kata Yuan sembari menatap area sekitarnya.
“Baik tuan muda. Saya akan mengirimkan pesan singkat ini pada nomor yang anda tuliskan. Dan saya pastikan tidak akan ada yang tahu tentang hal ini.”
“Bagus.” ucap Yuan. “Aku berharap besar padamu.” ucapnya lagi.
•••
Rue berjalan memasuki rumahnya. Tapi baru saja ia masuk, dirinya dikejutkan oleh sosok pria yang berusia lebih tua darinya tampak berdiri di depan pintu masuk rumah dengan tangan terlipat di depan dada. Pria itu sepertinya memang sengaja berdiri di sana karena menunggu kepulangan Rue.
“Kakak. Kau mengejutkanku. Apa yang kakak lakukan?” keluh Rue sembari mengusap dadanya pelan, menetralkan jantungnya yang sempat berdegup kencang.
“Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu.” kata pria itu, Feng. “Ayo kita ke kamarmu, dan mulai membahas sesuatu.” ucapnya lagi, lalu kemudian, ia tampak berjalan pergi menjauhi adiknya.
Pria itu memijakkan kakinya pada tangga yang terhubung ke lantai dua, di sana kamar Rue berada.
Rue menghela nafasnya pelan, lalu dengan langkah tertatih ia mengikuti kakaknya menaiki tangga untuk menuju ke kamar miliknya.
Sesampainya di depan pintu kamar yang terpasang finger lock itu, Feng berdiri di sana dengan tenang. Ia menunggu Rue yang berada di belakangnya. Menunggu gadis itu untuk menempelkan sidik jarinya agar pintu itu terbuka.
Dengan dengusan kesalnya. Rue pun menekankan jari tangan kanannya ke arah scanner sidik jari. Setelah mendapatkan pemindaian dan berhasil di konfirmasi oleh sistem keamanan. Pintu itu pun akhirnya terbuka.
Tanpa menunggu Rue lagi, Feng pun langsung membuka pintu kamar itu dan masuk kedalamnya tanpa menunggu si pemilik kamar masuk lebih dulu.
“Ck, tidak sopan sama sekali.” gumam Rue, mencibir sang kakak kandung.
__ADS_1
“Apa yang ingin kakak bicarakan denganku?” tanya Rue setelah ia menutup pintu kamarnya kembali. Kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar kedap suara itu.
“Aku tidak suka basa-basi. Jadi aku akan bicarakan intinya langsung padamu.” kata sang kakak.
Rue mengangguk paham dan juga setuju, “Baik, katakan saja.” ucapnya.
“Kau, apa kau yakin ingin menikah dengan Yuan?” tanya Feng.
Rue kembali menganggukkan kepalanya tanpa ragu, “Tentu saja. Aku sudah sejak lama mengharapkan hal itu. Dan sekarang, hanya tinggal hitungan hari lagi aku akan bertunangan dengannya. Kakak, kau jangan mencoba menghalangiku ya. Aku bukan lagi gadis kecil yang akan menuruti perkataanmu.” katanya.
“Batalkan pertunanganmu dengan Yuan. Dan jangan pernah berharap untuk menikah dengannya. Cari laki-laki lain yang pantas kau cintai dan juga mencintaimu. Aku yakin, di luar sana banyak sekali laki-laki lain yang menyukaimu.” kata Feng.
Rue tampak tersenyum sinis, samar tapi jelas sekali di mata Feng, gadis itu tidak suka dengan apa yang kakaknya katakan.
“Aku tidak mau.” ucap Rue dengan mantap. “Aku tidak akan pernah membatalkan pertunangan dengan kak Yuan.”
“Bukankah barusan sudah aku katakan pada kakak. Kakak jangan mencoba menghalangiku, karena aku tidak akan pernah mundur sedikitpun untuk mendapatkan apa yang aku mau.” katanya.
“Ah iya. Satu lagi. Laki-laki di luar sana memang banyak yang menyukaiku, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyatakan perasaannya padaku dan ingin menikah denganku. Tapi hatiku ini hanya milik satu orang, dari pandangan pertama sampai sekarang hanya kakak Yuan yang mampu membuat getaran semacam ini di hatiku.” kata Rue, lagi.
Feng terlihat mengusap wajahnya kasar. Ia tahu kalau diskusi ini tidak akan berhasil. Tapi bagaimanapun juga Feng harus tetap berusaha membujuk adiknya itu untuk membatalkan pertunangan dengan Yuan.
Semua ini Feng lakukan karena tidak ingin seseorang yang dicintainya tersakiti.
Ya, walaupun ia sudah mendapatkan penolakan menyedihkan dari Rose. Tapi pria itu masih saja memiliki sepercik rasa cinta yang membara di hatinya.
Karena rasa itulah, ia tidak ingin dan tidak suka melihat Rose terluka ataupun tersakiti.
Melihat bagaimana Rose begitu mencintai sosok Yuan. Feng tentu tahu apa yang akan gadis itu rasakan kalau sampai Yuan bertunangan dengan wanita lain. Apalagi wanita lain itu adalah adik kandung Feng sendiri.
“Rue, Yuan sama sekali tidak mencintaimu. Akan jadi seperti apa rumah tanggamu nanti kalau kau masih saja menuruti keegoisan dirimu sendiri? Pikirkan itu.” ucap Feng. Kemudian ia pergi keluar dari dalam kamar Rue setelah menghela nafasnya kasar.
•••
Sekertaris Chenli berdiri dari duduknya ketika sosok pria paruh baya terlihat berjalan ke arahnya.
“Ketua Ray.” sapanya sembari membungkuk hormat pada bosnya itu.
“Maaf membuatmu menunggu lama.” ucap Ray sembari membenarkan kancing lengan kemejanya.
“Biar saya bantu anda.” kata sekertaris Chenli. Tapi kemudian gerakan tangannya yang ingin membantu bosnya itu terhenti ketika Ray memberikan tatapan penolakan.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” ujar Ray setelah lengan kemejanya itu terkancing dengan benar.
“Apa ada laporan dari rumah?” tanya Ray.
“Itu, ada seorang pelayan rumah anda yang melaporkan kalau Presdir Yuan meminta tolong padanya untuk mengirimkan sebuah pesan singkat pada seorang perempuan bernama Rose.” kata sekertaris Chenli menyampaikan informasi pada bosnya.
Ray menghela nafasnya, sejenak ia tampak diam sembari membenarkan dasinya yang sedikit berantakan.
“Bagaimana dengan rapat dewan direksi pagi ini? Apa Yohan mengurusnya dengan baik? Dia tidak bertanya apapun kan tentang aku?” tanya Ray, lagi.
“Rapat bulanan bersama para direksi terlaksana dengan baik. Hasil laporan rapatnya nanti akan dikirimkan melalui alamat surel (surat elektronik) anda. Dan untuk pertanyaan anda yang terakhir. Seperti biasa, wakil presdir Yohan bersikap profesional, dia tidak akan mencari tahu ataupun bertanya kalau anda tidak memberitahukannya sendiri padanya.” jawab sekertaris Chenli.
“Baguslah. Setidaknya kita bisa menekan para direksi atas protes mereka karena Yuan sebagai Presdir Tnp group sudah lama tidak terlihat.” ujar Ray.
“Tapi ketua Ray. Cepat atau lambat, semua yang kita sembunyikan dengan baik ini pada akhirnya akan diketahui oleh mereka. Tidak hadirnya Presdir Yuan dan juga kondisi kesehatan anda, suatu hari nanti pasti akan terungkap.” ucap sekertaris Chenli
“Kau tidak perlu mengingatkannya. Aku sendiri sudah tahu akan hal itu. Entah kapan hari itu akan tiba, tapi aku harap ketika hari itu tiba semua rencanaku berjalan dengan baik. Dengan begitu aku bisa tidur damai dan tenang.” kata Ray, perkataannya itu membuat sekertarisnya merasakan sedih yang tersembunyi di dalam hatinya.
Bosnya seolah sudah memiliki banyak kartu yang akan ia mainkan sebelum waktunya untuk bermain habis.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
NP : Untuk yang tidak suka dengan konflik yang ada di dalam cerita. Plis guys, this is a story, butuh konflik agar tidak monoton. Sorry kalau konfliknya tidak sesuai selera kalian karena mungkin saya buat konfliknya pakai mie Sedap tapi kalian sukanya mie Indomie. Tapi lagi, Konfliknya ini sudah di persiapkan dari episode sebelumnya. Jadi kalau ada yang minus sama konflik yang di buat. Saya harus berkata maaf yang sebesar-besarnya. Karena alurnya sudah saya buat draft dan gak ada niatan untuk saya rubah. Sorry guys tolong nikmati saja mie sedapnya walaupun tidak sesuai selera. Ty vm💌