
Feng menghela nafas beratnya, ia bahkan mengusap kepalanya kasar, merasa geram dengan Rose yang seolah sudah tersihir oleh pesona Yuan, tanpa peduli lagi dengan nasihat orang lain.
“Dengarkan aku Rose, kelak kau akan menyesal telah berada disisinya.” ucap Feng, setelah itu ia pergi menjauh dari mereka.
“Feng.” panggil Rose, tapi pria itu seperti sengaja menulikan telinganya, Feng tetap melangkahkan kakinya, pergi dari area kantin.
“Sudahlah Rose, biarkan dia pergi, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.” ujar Yana.
Tapi entah kenapa, perkataannya itu terdengar seperti sebuah nasihat daripada ancaman. Feng, sebenarnya apa maksudmu? Kenapa aku merasa tidak tenang. — batin Rose.
“Jangan di pikirkan lagi.” ucap Yuan.
Rose menoleh pada kekasihnya itu, kemudian tersenyum diiringi dengan anggukan kecil.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Rose, menatap ke arah kerah kemeja Yuan yang tampak kusut.
“Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” jawab Yuan sembari tersenyum manis.
“Ya sudah, kalau begitu, kita makan siang bertiga saja. Aku harap nafsu makan kalian tidak hilang setelah keributan tadi.” ujar Yana.
Rose diam, ia menatap ke arah Yuan, menunggu respon dari pria itu, apakah Yuan akan tetap makan siang disana atau tidak.
“Ayo kita makan siang. Aku akan pesankan untuk kalian, katakan saja apa yang ingin kalian makan.” ucap Yuan.
•••
Feng berjalan gusar menuju parkiran kampus, sepanjang langkah kakinya, ia terus menampilkan aura gelap di sekitarnya, membuat siapapun yang melihatnya merasa takut ataupun heran.
“Kakak.” panggil Rue yang saat itu kebetulan berada di area parkir.
Mendengar sebuah suara yang ia yakini milik adiknya, Feng pun menghentikan langkahnya, tapi ia tidak berniat untuk menoleh.
“Kakak, apa kau sudah ingin pulang?” tanya Rue, adiknya itu sekarang sudah berdiri di sampingnya.
“Hm.” jawab Feng.
“Ah ya, apa kakak melihat kak Yuan?” tanya Rue, lagi.
Mendengar nama orang yang sangat ia benci itu disebut, Feng mendengus kesal, ia menatap adiknya tajam, bukan marah, tapi sangat tidak suka kalau Rue menyebut nama itu.
“Kak? Kau ini kenapa?” tanya Rue, merasa heran dengan tatapan sang kakak.
“Kau masih saja mencarinya, apa masih belum menyerah juga?!”
“Apa? Menyerah apa? Kakak, ada apa denganmu? Kau terlihat sedang marah, apa aku membuatmu marah? Kakak sedang marah padaku ya?” tanya Rue yang benar-benar merasa heran dengan sikap kakaknya yang sangat aneh.
Feng menghela nafasnya, ia rasa, takdir sedang mempermainkan mereka, bagaimana mungkin dirinya dan Rue sama-sama mencintai dua orang yang telah menjadi sepasang kekasih, sungguh miris.
“Kakak sedang tidak marah padamu, aku hanya tidak suka kau menyebut nama pria itu. Ah sudahlah, ayo ikut kakak pulang.” ujar Feng, ia menarik lengan Rue, memaksa adiknya itu untuk ikut pulang bersamanya.
“Kakak, tunggu dulu, lepas. Kakak, aku belum ingin pulang. ” rengek Rue.
Feng menghentikan langkahnya. Lalu, dengan tangan yang masih memegang erat lengan adiknya, Feng menoleh ke arah Rue.
“Kau sudah tidak ada mata kuliah lagi kan?” tanya Feng dengan nada yang sama sekali tidak ramah.
“Iya memang tidak ada lagi. Tapi aku masih ingin menunggu kak Yuan, aku ingin pulang bersamanya, bukan hanya ingin, tapi sebenarnya juga agar ayah tidak curiga kalau kak Yuan sedang marah padaku karena sikapku waktu itu.” kata Rue.
Feng kembali mendengus kesal,
“Persetan dengan alasanmu itu, aku tidak peduli, intinya sekarang, kau harus ikut kakak pulang. Aku tidak akan pernah mengijinkan-mu menunggu pria itu, karena dia tidak akan pernah datang padamu. Satu lagi, mulai besok, kau berangkat kuliah bersama kakak.” ujar Feng yang kemudian kembali menarik paksa adiknya itu.
“Kakak, aku tidak mau, jangan paksa aku. Kakak, lepas.” pinta Rue, meronta, berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman kakaknya.
“Rue! Dengar kakak, setelah ini, kau tidak boleh lagi menyukai Yuan, kakak benar-benar menentang perasaanmu itu. Jangan pernah menyukai dia lagi, kakak mohon padamu, kalau kau terus keras kepala, kau sendiri yang akan terluka. Terkadang, lebih baik kau harus merelakannya dari awal daripada kau terus berjuang, tapi berujung pada jurang kekecewaan.” kata Feng yang sejujurnya merupakan ungkapan perasaannya saat ini, kecewa, sedih, hancur berkeping-keping.
Rue, kakak hanya tidak ingin kau merasakan rasa sakit yang sama seperti apa yang kakak rasakan saat ini. Rasanya benar-benar sakit. Di dalam tubuh ini seperti ada sesuatu yang menghalangi jalan masuk dan keluarnya oksigen, membuatku merasakan sesak yang menggelisahkan jiwa.
__ADS_1
Rue menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca, ia merasa haru, paham dengan maksud sang kakak.
Kakaknya itu sedang mencoba melindungi-nya. Feng sangat menyayangi-nya, karena itu, Feng terlihat sangat khawatir juga takut dengan perasaan yang Rue miliki pada seorang pria yang telah memiliki kekasih.
“Kakak mohon, ikut kakak pulang. Kalau nanti ayah bertanya kenapa kau tidak pulang bersama pria itu, biar kakak yang akan membantumu memberikan alasan pada ayah.” ujar Feng yang telah berada di dekat mobilnya.
Rue masih diam, ia tidak berani menatap manik mata hazel sang kakak.
“Tapi, jangan katakan yang sejujurnya pada ayah. Aku sungguh tidak ingin ayah tahu tentang kejadian waktu itu. Bagaimanapun juga, kejadian waktu itu karena kecerobohan-ku sendiri.” ucap Rue.
“Kau takut ayah memarahimu?”
“Bukan, ayah tidak akan mungkin marah padaku. Hanya saja, aku tidak ingin ayah kecewa padaku, dan lagi, kalau ayah sampai tahu masalah itu, dia pasti juga akan merasa kesal pada kak Yuan. Aku tidak ingin itu terjadi.” jawab Rue.
“Ck, kau masih saja berusaha melindungi-nya. Seharusnya, kau lebih khawatirkan dirimu sendiri daripada pria yang sama sekali tidak peduli padamu. Sudah, ayo masuk.” kata Feng sembari membukakan pintu untuk adiknya itu.
“Aku mau ikut kakak pulang, tapi kakak harus berjanji tentang perkataanku tadi.” ujar Rue.
Feng mengangguk kecil,
“Iya, aku janji. Sekarang, masuklah ke mobil.” ucapnya.
Setelah mendengar janji dari sang kakak yang akan menuruti permintaannya. Rue pun perlahan masuk ke dalam mobil dan pulang bersama kakaknya, Feng.
•••
“Presdir, ada sekertaris ketua Ray datang kemari ingin menyampaikan pesan dari ketua Ray kepada anda, dia juga membawa seorang pria yang sepertinya karyawan perusahaan kita.” kata seorang pria yang merupakan sekertaris Alex, dia bernama Aldo.
Sekertaris kakak? Bukankah itu si jenius Chenli Wang? Tapi kenapa kakak tiba-tiba menyuruhnya datang menemuiku? Tidak biasanya kakak menyuruhnya untuk turun langsung ke lapangan.
“Presdir?” panggil sang sekertaris ketika ia melihat CEO-nya yang hanya diam memikirkan sesuatu.
Mendengar sekertarisnya memanggil, Alex pun tersadar dari pikiran singkatnya, ia kemudian menoleh, menatap sekertarisnya.
“Ah, apakah yang datang itu— sekertaris Chenli?” tanya Alex, kemudian berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mendekat ke arah sofa yang tersedia di ruangannya.
“Iya presdir.” jawab Aldo.
“Kalau begitu kenapa kau harus melapor padaku? Lain kali kalau ada bawahan dari ketua Ray, langsung saja suruh mereka masuk, tidak perlu mengikuti prosedur atau melapor padaku, karena aku sudah pasti akan mengijinkan mereka masuk.” kata Alex.
“Maaf presdir, ini salah saya.” ucap Aldo dengan tubuh yang langsung membungkuk, meminta maaf.
“Sudahlah, lebih baik kau cepat suruh dia masuk.” kata Alex.
“Baik, saya akan segera menyuruhnya untuk masuk, saya permisi presdir.” ujar Aldo, setelah itu ia pergi dari hadapan Alex, keluar dari ruangan CEO itu.
Tidak lama setelah Aldo keluar, ia kembali lagi, namun kali ini dirinya tidak masuk seorang diri, melainkan bersama seorang pria paruh baya dengan wajah tegasnya.
Pria dengan pakaian rapi itu, Alex mengenalnya, dia adalah Chenli, Chenli Wang. Chenli merupakan orang nomor dua setelah Yohan yang sangat di percaya oleh Ray. Chenli sendiri telah berkerja sebagai sekertarisnya Ray sejak dua puluh tahun yang lalu.
“Presdir, ini sekertaris Chenli.” ucap Aldo.
“Ya, kau boleh pergi.” kata Alex.
“Baik presdir, saya permisi.” ujar Aldo yang kemudian pergi keluar dari ruangan itu, meninggalkan Chenli yang siap membahas masalah perusahaan dan menyampaikan pesan Ray kepada Alex.
“Sekertaris Chenli, apa yang membuat kakak-ku sampai menyuruhmu datang kemari? Dan siapa pria yang kau bawa bersamamu? Dia ada dimana sekarang? Bukankah dia datang bersama-mu?” tanya Alex.
“Dia ada diluar, aku menyuruhnya untuk menunggu di luar sebentar, karena ada hal yang harus kita bahas mengenai masalah perusahaan.” jawab sekertaris Chenli.
“Ah iya, dari laporan yang aku dapat, sebelum dia mendatangi tempat ketua Ray, dia lebih dulu mendatangimu untuk membahas masalah penggelapan dana. Tapi kau malah langsung mengusirnya tanpa mendengar ataupun mengusutnya lebih dalam lagi, sikapmu itu, ketua Ray tidak menyukainya.” kata sekertaris Chenli.
Alex menampilkan raut wajah bingungnya. Jelas sekali kalau dirinya belum pernah didatangi oleh orang yang berhubungan dengan masalah ini, tapi bagaimana bisa seseorang memberikan laporan yang salah seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi?
“Sepertinya, laporan yang aku dapatkan itu salah. Dari raut wajahmu, kau sendiri tampak bingung.” ujar sekertaris Chenli.
“Jadi, pria itu siapa? Kenapa dia mendatangi tempat ketua Ray?” tanya Alex.
__ADS_1
“Dia itu orang yang dilaporkan menggelapkan dana proyek baru, kau bahkan sepertinya belum mengetahuinya juga.” kata sekertaris Chenli.
“Maksudmu proyek destinasi wisata yang akan dibangun di dekat taman kota? Aku memang sudah mendengar kabar itu, tapi sampai sekarang, sama sekali belum mendapatkan laporan siapa pelakunya, aku tidak tahu kalau ternyata kak Ray sudah menemukan pelakunya lebih dulu.” kata Alex.
Sekertaris Chenli menghela nafasnya, ia pikir, masalah ini akan memiliki kerumitan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk memecahkannya.
“Proyek ini, karena merupakan kerjasama kedua antara Tnp group dan Jhoneq group, makanya ketua Ray langsung turun tangan setelah mendengar kabar buruk itu. Dan lagi, perusahaan kita ini adalah pemegang kendali utama dalam proyek tersebut, kita juga yang sepenuhnya bertanggungjawab menerima investor, jadi kalau sampai proyek ini gagal, maka semua kesalahan jatuh penuh ketangan kita, Tnp group.” ujar sekertaris Chenli.
“Karena itu, ketua Ray tidak bisa hanya diam dan menunggu. Apalagi, kerjasama ini sangatlah penting, bagaimanapun juga, Jhoneq group sudah lama menjalin kerjasama dengan kita, jangan sampai masalah ini membuat mereka merasa ragu dengan Tnp group, kalau sampai itu terjadi, kemungkinan besar, pondasi kekuatan Tnp group akan berkurang.” sambungnya lagi.
Alex menghela nafasnya, ia setuju dengan apa yang Chenli katakan. Masalah ini memang terlihat kecil, tapi lebih rumit dari apa yang Alex bayangkan. Apalagi kalau sampai masalah ini bocor ke telinga para investor atau bahkan Jhoneq group, habis sudah, dirinya pasti akan disibukan dengan pertemuan-pertemuan yang seakan tidak pernah memiliki ujung.
“Jadi, apa pria yang ada diluar itu benar-benar pelakunya? Apa hanya ada satu orang? Aku pikir, uang yang lumayan besar bagi mereka itu, digelapkan oleh beberapa orang yang bekerjasama.” ujar Alex.
“Katua Ray juga memikirkan hal yang sama seperti yang kau katakan barusan. Karena itu, ketua Ray belum melakukan tindakan padanya, ketua Ray masih terus menyelidikinya. Presdir Alex, masalah ini memang terlihat sederhana, dana yang digelapkan pun hanya berkisar seperdua dari laba bersih perusahaan. Tapi yang paling dikawatirkan dari masalah ini yaitu menyangkut kredibilitas Tnp group.” kata sekertaris Chenli.
Alex menghela nafasnya, memijat pelipisnya sekilas, merasakan nyeri di bagian dalam kepalanya.
“Kau benar, kalau sampai masalah ini jatuh ke tangan publik, maka para investor, baik investor baru atau investor biasa sampai para investor penting, mereka semua pasti akan merasa ragu dengan Tnp group, jika itu terjadi, kredibilitas kita benar-benar akan turun. Hukum sentimen publik terkadang lebih mengerikan daripada hukum legal yang dibuat.” ujar Alex.
•••
Mobil itu melaju normal, melintasi jalan raya yang tampak renggang. Terlihat tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan, tidak ada juga kemacetan panjang yang terkadang membuat hati merasa kesal.
Yuan mengendarai mobilnya dengan kepala yang sesekali menoleh ke arah Rose.
Kekasihnya itu, sejak kejadian siang tadi, Rose lebih banyak diam dan melamun. Entah apa yang Rose pikirkan, tapi setiap kali Yuan bertanya tentang keadaannya, gadis itu selalu memberikan jawaban yang sama sekali tidak membuat Yuan merasa puas dengan jawaban tersebut.
“Rose, sekali lagi aku bertanya padamu, apa kau sungguh baik-baik saja? Tolong jawablah dengan jujur. Aku tidak tahan lagi melihatmu hanya diam dan melamun. Apa kau menyesal telah menolak Feng?” tanya Yuan pada Rose yang sedang menatap kosong ke arah jalanan.
“Rose.” panggil Yuan, membuat Rose tersentak keluar dari alam bawah sadarnya.
Rose pun menoleh, melihat kekasihnya itu dengan raut wajah penuh tanya.
“Ada apa?” tanya Rose.
“Ada apa katamu? Ck, kau bahkan tidak mendengarkan apa yang baru saja aku katakan.” keluh Yuan.
“Kau, memangnya tadi mengajakku bicara ya?” tanya Rose dengan ekspresi bersalahnya.
Yuan diam, tidak menjawab. Sikapnya itu menegaskan kalau ia sedang marah pada gadis di sampingnya itu.
“Maaf.” ucap Rose, hanya satu kata itu yang bisa ia ucapkan saat ini.
“Sudahlah, lupakan saja. Aku juga tidak ingin membahasnya lagi.” ujar Yuan.
“Memangnya, apa yang ingin kau bahas? Sekarang aku siap mendengarnya.” kata Rose.
“Tidak ada. Lagipula, tadi aku sudah bilang padamu, lupakan saja, tidak perlu kau pikirkan, tidak penting juga.” ucap Yuan sembari menambah kecepatan mobilnya.
“Yuan, kenapa kau menambah kecepatan mobilnya?” tanya Rose dengan raut wajah terkejutnya. Ia terkejut karena Yuan tiba-tiba melajukan mobilnya dengan kencang.
Yuan tidak merespon, ia kembali diam.
“Yuan— apa kau sedang marah?” tanya Rose.
“Tidak, tidak sedang marah.” jawab Yuan singkat, tanpa menoleh sedikitpun, bahkan pria itu tampak mengeluarkan aura dinginnya.
Rose menatap Yuan, ragu kalau pria itu sedang tidak marah. Tampak jelas diwajah rupawannya, Yuan pasti sedang menahan emosinya. Tapi sayangnya, Rose tidak tahu apa penyebab dari kemarahan Yuan.
Intinya, emosi Yuan kali ini tidak sama seperti yang tadi pagi, Yuan saat ini bagaikan api yang tidak dapat disentuh.
Rose menggigit bibir bawahnya, entah kenapa, melihat Yuan yang seperti itu, membuatnya kembali teringat dengan perkataan Feng tadi siang.
Kenapa melihat Yuan yang tiba-tiba marah seperti ini, pikiranku langsung teringat dengan ucapan Feng siang tadi? Apa aku benar-benar akan menyesal sudah memilih untuk berada disisinya? — batin Rose.
Ah Rose, apa yang sedang kau pikirkan?! — ucap Rose yang sedang merutuki dirinya dalam hati.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍