
Yuan menghentikan langkahnya ketika dirinya dan Rose telah sampai di depan pintu ruangan Ana.
Pria itu kemudian membuka knop pintu ruangan ibunya.
Setelah pintu terbuka, ia kembali menarik lengan Rose untuk ikut bersamanya masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Yuan?” ucap Ana, lalu pandangannya tertumpu pada tangan anaknya yang tampak memegang erat lengan Rose, membuat si empunya lengan meringis menahan sakit. “Ada apa kau datang kemari membawa Rose?” tanya Ana.
“Mom, hari ini beri dia libur.” ujar Yuan.
“Apa?” ucap Rose dan Ana bersamaan.
“Yuan, kau tidak boleh memutuskan seenaknya seperti ini. Aku sudah sering mendapatkan libur. Aku ini pekerja disini, bagaimana bisa aku bekerja semauku.” kata Rose.
“Ini restoran milik ibunya pacarmu, tentu saja kau bisa bekerja semaumu.” ujar Yuan.
Rose langsung terdiam saat itu juga, ia merasa tersinggung, sangat tidak suka dengan apa yang Yuan katakan.
Masalahnya, perkataan Yuan itu seakan-akan menjadikan dirinya adalah seorang perempuan penggoda, yang mendekatinya hanya karena harta.
“Tapi aku tidak ingin seperti itu.” ucap Rose dengan nada datarnya.
“Bisakah kau lepaskan tanganmu, aku harus kembali bekerja.” sambungnya lagi.
Rose melepaskan lengannya dari genggaman tangan Yuan, walaupun ia sempat berhasil lepas, namun detik berikutnya, Yuan kembali menahan lengannya, melarang Rose untuk pergi dari ruangan itu.
“Aku tidak mengijinkanmu pergi.” ujar Yuan.
“Yuan, sayang, dengarkan mommy. Rose punya alasan tersendiri kenapa dia tidak mau seperti yang kau inginkan.” kata Ana, menasihati.
Ibu dari Yuan itu sudah mendengar gosip yang sedang hangat di antara para karyawan. Ana tahu kalau Rose sedang di gosipkan sebagai perempuan yang tidak baik karena telah berani mendekati orang seperti Yuan.
“Aku tidak peduli.” ucap Yuan. “Mom, berikan dia ijin untuk pulang lebih cepat hari ini, tapi jangan potong gajinya, mommy ambil saja jatah uang bulanan ku sebagai gantinya.” katanya.
“Yuan, apa kau memang seegois ini?” ujar Rose tiba-tiba, kilatan mata gadis itu kali ini berubah menjadi lebih tajam. Rose sudah tidak sungkan lagi dengan apa yang akan ia katakan pada Yuan walaupun disana ada Ana yang notabenenya adalah ibu dari Yuan.
“Egois? Katamu aku egois?!” tanya Yuan.
Ana yang melihat pertengkaran pasangan itu, ia sungguh tidak tahan lagi.
“Kalian berdua.” ucap Ana, membuat Yuan dan Rose menoleh ke arahnya. “Apa dengan emosi bisa menyelesaikan masalah?” ucapnya.
“Yuan, apa yang Rose katakan itu benar, tidak semua kehidupan Rose harus kau yang mengaturnya. Dan Rose, Yuan bersikap seperti itu padamu, juga bukan tanpa alasan.” ujar Ana.
Sejenak, Ana menghela nafasnya.
“Hah, kalian berdua ini hanya belum bisa saling memahami satu sama lain saja. Coba lebih bersikap terbuka lagi.” sambungnya.
Yuan dan Rose hanya diam mendengarkan. Keduanya terlihat tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan.
“Kau boleh bawa Rose pergi. Tapi Rose, mulai besok kau tidak perlu bekerja disini lagi.” kata Ana.
Mendengar dirinya yang secara tidak langsung di pecat, Rose pun menatap Ana dengan raut wajah terkejutnya.
“Bi— maksud saya Bos Ana, kenapa saya tiba-tiba dipecat? Saya sudah menolak pergi bersama Yuan. Saya mohon tolong jangan pecat saya. Kebutuhan hidup saya sehari-hari bergantung pada pekerjaan saya saat ini. Jadi saya mohon kepada anda untuk mempertimbangkan kembali keputusan anda.” ujar Rose sembari memohon kepada ibu dari kekasihnya itu.
“Mom, kenapa mommy pecat Rose? Kan Yuan sudah bilang, kalau mommy bisa ambil jatah bulanan Yuan sebagai ganti rugi sewaktu Rose tidak masuk kerja. Sekarang kenapa mommy bersikap seperti ini?” tanya Yuan.
Ana pun menghela nafasnya, ia tahu jika perkataannya tadi dapat menimbulkan variabel yang berbeda dari apa yang Ana pikirkan. Karena sebenarnya Ana memecat Rose juga disebabkan oleh suatu hal.
Hal yang membuat Ana harus mengambil keputusan berat ini.
“Mommy pecat Rose bukan karena masalah itu Yuan.” ujar Ana. “Dan kau Rose, saya memecatmu bukan karena saya marah atau apalah itu. Tapi saya hanya tidak ingin kalau dirimu itu selalu menjadi bahan gosip buruk para karyawan.”
“Gosip? Maksud mommy apa?” tanya Yuan.
__ADS_1
“Belakangan ini, diantara karyawan mom, ada banyak gosip buruk yang beredar tentang Rose. Mereka bilang kalau Rose adalah wanita penggoda karena sudah merayu anak dari bos-nya sendiri, yaitu kau. Hah, Jika saat ini mommy tidak mengatakannya padamu, mungkin kau juga tidak akan pernah tahu. Karena Rose pasti akan menyembunyikan-nya darimu agar kau tidak merasa khawatir padanya.” kata Ana.
“Apa itu benar?” tanya Yuan sembari menatap Rose yang tampak diam menundukkan kepalanya. “Apa kau sungguh di gosipkan seperti itu?”
Rose tetap diam, gadis itu seperti tidak memiliki niatan untuk menjawab pertanyaan dari Yuan.
“Rose, katakan padaku. Kenapa kau tidak ingin memberitahukannya padaku? Kau takut aku khawatir? Sudah sewajarnya aku sebagai kekasihmu khawatir pada dirimu, kenapa kau seperti ini?” tanya Yuan.
“Maaf.” ucap Rose, hanya kata itu yang bisa ia keluarkan dari bibirnya.
“Maaf? Apa tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan selain kata maaf? Apa kau juga berkata seperti itu pada mereka yang telah menggosipkan-mu? Kenapa kau naif sekali ha? Kenapa tidak kau lawan saja mereka? Kau punya aku yang akan selalu membela dirimu.” kata Yuan.
Mendengar ocehan dari Yuan, Rose merasa geram dan kesal pada pria itu. Gadis itu bahkan terlihat mengepalkan tangannya.
“Karena itulah mereka menggosipkan aku.” ucap Rose.
“Apa?” tanya Yuan, ia tidak paham dengan apa yang Rose katakan padanya.
“Karena mereka tahu kalau aku memiliki backing yang luar biasa seperti dirimu, karena itu lah mereka menggosipkan aku. Aku sudah membela diriku sendiri, tapi apa kau tahu? Ketika kita sudah di anggap buruk oleh orang lain, maka apapun yang kita katakan atau bahkan yang kita lakukan sekalipun itu hal yang baik dan benar, mereka itu tetap akan menilai buruk diri kita, itulah hukum tentang nilai seseorang. Yang bahkan hukum tertulis pun tidak dapat menyanggahnya lagi.” ujar Rose yang seolah langsung membuat Yuan skakmat.
Pria itu tidak dapat berkata apa-apa lagi.
“Kau hanya bisa berkata kalau kau akan selalu melindungiku, mendukungku, membelaku. Tapi apa kau bisa menyembuhkan rasa sakit di hatiku karena perkataan mereka? Tidak, tidak ada obat untuk sakit hati.” ujar Rose yang tampak mulai mengeluarkan buliran air matanya.
“Bibi Ana, maksudku bos Ana. Saya setuju dengan apa yang anda katakan tadi. Mulai besok, saya tidak akan bekerja disini lagi. Maaf, saya permisi.” ucap Rose yang kemudian langsung pergi begitu saja dari ruangan Ana.
“Rose, Rose, kau mau kemana? Rose!” panggil Yuan.
“Yuan, berhenti. Tidak perlu mengejarnya.” ucap Ana.
“Tapi mom— ”
“Yuan, dengarkan mom. Dia butuh waktu untuk sendiri. Biarkan dia sendiri untuk beberapa jam kedepan. Setelah itu kau bisa mencarinya dan menemuinya lagi. Saat ini hatinya sedang kacau, ia sendiri pasti juga merasa bingung dengan dirinya. Jadi beri dia waktu untuk tenang.” kata Ana.
Lalu kemudian, wanita paruh baya itu terlihat mengambil sesuatu dari dalam lacinya.
“Berikan itu padanya. Itu formulirnya, katakan juga padanya, kalau dia tidak perlu khawatir tentang masalah waktu dan gajinya. Karena waktunya cukup fleksibel dan tidak harus bertatap muka selalu. Lalu untuk gajinya, lumayan tinggi, lebih tinggi dari bekerja disini. Hanya ini yang bisa mommy lakukan untuknya.” ujar Ana sembari memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada anaknya.
Yuan pun tanpa menunggu lama lagi, ia langsung meraih amplop coklat tersebut.
“Terimakasih mom, maaf tadi Yuan juga sempat salah paham dengan mommy yang tiba-tiba memecat Rose begitu saja.” kata Yuan.
Ana menanggapinya dengan sebuah senyum hangat, layaknya matahari pagi yang bersinar.
•••
Alex menatap anaknya yaitu Nana dengan wajah yang masih tidak percaya dengan kelakuan gadis itu.
“Sejak kapan kau jadi gadis yang rakus seperti ini hm?” tanya Alex sembari memakan potato wedges-nya.
Nana menatap ayah kandungnya itu sekilas, lalu kemudian kembali fokus pada makanannya.
“Dari dulu aku memang banyak makan.” jawab Nana dengan mulut yang masih terisi penuh oleh makanan.
“Makan-nya pelan-pelan saja Nana. Lagipula tidak ada yang ingin berebut makanan denganmu. Satu lagi, jangan berbicara saat kau sedang mengunyah makanan, nanti kau bisa tersedak.” ujar Alex, mengingatkan.
“Papa seharusnya sering-sering beri aku makan gratis sebanyak ini. Jangan hanya sesekali.” kata Nana tanpa mempedulikan nasihat sang ayah, ia pun masih berbicara dengan mulut yang dipenuhi makanan.
Hal itu membuat Nana terdesak, ia tampak terbatuk-batuk, hidungnya terasa perih.
Alex yang melihat anak gadisnya itu tersedak, ia segera meraih air mineral yang ada di meja itu, lalu memberikannya pada Nana.
Pria paruh baya itu membantu anaknya minum sembari menepuk-nepuk punggung Nana pelan.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Alex.
__ADS_1
Nana menghela nafasnya lega setelah tenggorokannya terasa lebih baik. Lalu kemudian ia menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari sang ayah.
“Itulah akibatnya kalau tidak mendengarkan nasihat dari papa. Bukankah tadi papa sudah bilang, kalau sedang mengunyah makanan itu jangan berbicara. Telan dulu makananmu, lalu baru bicara.” ujar Alex.
“Tapi kan tadi yang mengajakku berbicara papa, kenapa papa menyalahkanku?” keluh Nana.
Alex menghembuskan nafas beratnya, merasa kalau putrinya itu hari ini memang terasa lebih sensitif dari sebelumnya. Nana selalu saja menyanggah perkataan dan juga nasihatnya.
Bahkan nafsu makan Nana tiba-tiba melonjal naik hingga ribuan persen.
Sungguh, Nana saat ini tidak terlihat seperti Nana yang sebelumnya.
“Kau itu baru berusia dua puluhan tahun apa sudah menopause? Kenapa sensitif sekali ha? Apalagi sampai membantah perkataan papa-mu sendiri. Mau papa tarik telingamu itu agar kau tahu bagaimana cara berbicara baik pada orangtua?” kata Alex.
Nana yang mendengar perkataan ayahnya itu, ia mengasumsikan kalau sang ayah sedang marah padanya. Karena itu, Nana tiba-tiba menampilkan wajah tertekuknya, gadis itu terlihat seperti sedang ingin menangis.
“Itu, itu wajahmu kenapa lagi? Mau menangis? Hah, astaga Nana. Kau itu sungguh sedang ada masalah dengan Kai kan? Makanya sekarang kau lampiaskan segala macam emosimu itu pada papa? Pantas saja kau tiba-tiba makan banyak sekali, lalu menjadi super sensitif seperti ini.” ujar Alex.
“Ayo, ikut papa.” ucap Alex yang kemudian meraih lengan anaknya.
“Kemana? Papa ingin membawaku kemana?” tanya Nana.
“Kerumah pacarmu itu. Kita selesaikan masalah kalian segera. Kalau tidak, papa sungguh tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan dirimu yang tiba-tiba seperti orang lain saja.” kata Alex sembari menarik pelan lengan Nana. Pria paruh baya itu kemudian membawa Nana menuju mobilnya, ingin membawa putrinya ke rumah Kai.
“Papa, tidak, aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang.” ujar Nana, menahan dirinya agar tidak ditarik oleh sang ayah. Nana pun meronta dan melepaskan tangannya dari genggaman Alex.
“Kenapa tidak bisa? Kalau ketemu ya tinggal ketemu saja. Memangnya apa yang membuatmu tidak bisa bertemu dengannya? Siapa yang berani melarangmu bertemu dengan kekasihmu sendiri ha?” tanya Alex.
Nana menghela nafasnya, gadis itu tampak mengusap keningnya sekilas, merasa bingung, bagaimana harus menjelaskannya pada sang ayah.
“Dia, dia yang memintaku untuk tidak menemuinya lebih dulu.” jawab Nana dengan kepala tertunduk.
“Dia? Dia itu siapa? Katakan yang jelas pada papa.” kata Alex.
“Tentu saja Kai, memangnya siapa lagi yang sedang kita bahas.” ujar Nana.
“Ck, lihat cara bicarmu pada papa-mu ini, sungguh tidak sopan. Kau benar-benar butuh bertemu dengannya agar dirimu ini tidak sensitif seperti ini lagi. Ayo cepat.” ucap Alex, ia tampak menarik lengan Nana lagi. Tapi Nana kembali melepaskannya dengan cepat.
“Tidak, tidak mau papa. Dia bilang kalau dia butuh waktu untuk sendiri. Lagipula, besok kami juga masih bertemu lagi.” kata Nana.
“Setidaknya malam ini kau harus bertemu dan berbicara dengannya. Lebih cepat selesai masalahnya maka lebih baik bagi hubungan kalian. Jadi cepat masuk ke dalam mobil dan kita pergi ke rumah Kai malam ini juga.” ujar Alex.
“Kalau kau tidak mau datang ke rumahnya, hubungi dia, ajak ketemu dimana saja, yang penting kalian bertemu dan menyelesaikan masalah kalian. Papa sungguh tidak sanggup lagi melihat sifatmu yang seperti ini hanya karena sedang frustasi dengan hubunganmu dengan Kai.” kata Alex
•••
Setelah cukup lama berdiam diri, Yuan pun akhirnya beranjak dari sofa yang ada di dalam ruangan ibunya tersebut.
Hari sudah menggelap, sore juga sudah berlalu. Karena ingin memberikan ruang bagi Rose untuk menenangkan diri. Yuan sudah berjam-jam menahan dirinya untuk tidak menemui Rose.
Tapi kali ini, setelah beberapa jam berlalu, Yuan tidak dapat lagi menahannya.
Ia pun segera keluar dari dalam ruangan ibunya yang sudah terlihat kosong karena ibunya itu sudah pulang sejak sore hari tadi ketika ayahnya datang menjemput sang ibu.
“Tuan muda Yuan, anda sudah mau pulang?” tanya manajer Dita saat Yuan telah sampai di anak tangga yang terakhir.
Yuan pun mengangguk menanggapinya, “Iya. Manajer Dita tolong urus restoran mommy ya.” ujar Yuan.
“Tentu saja, itu sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu tuan muda Yuan selamat malam dan hati-hati di jalan.” kata manajer Dita sembari tersenyum ramah kepada anak dari bos-nya itu.
Yuan membalas senyuman ramah dari manajer Dita, lalu setelah itu, ia pergi keluar dari dalam restoran menuju ke area parkir mobil.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1