
Waktu tanpa terasa telah cepat berlalu, matahari sudah mulai naik ke atas, menandakan siang sudah hampir datang.
Yuan tampak melihat jam tangannya, lalu kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Pria itu terlihat ingin menghubungi seseorang, Yuan menekan angka tiga pada tombol panggilan cepatnya.
Angka tiga pada panggilan cepatnya adalah Rose. Sedangkan angka satu dan dua adalah ibu dan ayahnya.
Setelah menekan tombol panggilan cepat, Yuan pun meletakkan ponselnya ke sisi telinganya.
Tapi cukup lama Yuan menunggu, Rose tidak kunjung mengangkat panggilan darinya.
Yuan pun menghembuskan nafas beratnya, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian, ia bergegas pergi menuju fakultas hukum.
Namun tidak lama ia melangkahkan kakinya, Yuan merasakan ponselnya bergetar, sebuah nada notifikasi pesan masuk terdengar dari balik saku celananya.
Yuan pun segera mengambil ponselnya kembali dan mengecek pesan masuk tersebut.
Ketika Yuan menekan tombol power pada ponselnya, layar ponsel itu pun menyala, lalu terlihat olehnya sebuah pesan masuk yang di kirimkan oleh seseorang yang saat ini sedang ingin ia temui.
Dengan cepat, Yuan pun langsung membuka pesan tersebut.
Yuan, maaf, aku tidak ingin merepotkanmu, aku pulang lebih dulu. Nanti kalau sudah sampai di restoran ibumu, aku akan menghubungimu. Maaf ya.
Setelah membaca pesan itu, Yuan segera menghubungi nomor Rose, tapi gadis itu sama sekali tidak mau mengangkatnya.
“Sial, kenapa tidak diangkat?!” ucap Yuan.
“Baik, aku akan terus menghubungimu sampai kau mengangkatnya, kita lihat seberapa lama kau akan tahan untuk terus mengabaikan panggilan dariku?” kata Yuan.
Seperti yang ia katakan, Yuan terus menghubungi Rose untuk beberapa kali, walau gadis itu terus mengabaikan panggilannya, tapi Yuan tidak gentar sama sekali.
Pada akhirnya, seperti yang sudah Yuan duga, Rose tidak akan tahan mengabaikan panggilan yang sudah puluhan kali Yuan lakukan.
Panggilan itu pun akhirnya tersambung.
“Ha— ”
“Kau ada dimana sekarang? Aku akan menyusulmu, lalu mengantarmu. Jangan coba-coba untuk mengabaikan kata-kataku tadi pagi. Bukankah sudah aku bilang kalau aku akan mengantarmu ke restoran ibuku. Kenapa kau keras kepala sekali ha?!” kata Yuan yang langsung memotong sapaan panggilan dari Rose.
“Yuan, aku hanya tidak ingin merepotkanmu, kau juga masih harus masuk ke kelas mata kuliah ketigamu. Jangan hanya karena aku, kau terlambat masuk kelas atau bahkan absen di kelas mata kuliah itu. Lagipula, aku sudah hampir sampai di restoran ibumu. Saat ini aku sedang ada di dalam bus.” ujar Rose dari seberang sana.
“Katakan posisi pastimu saat ini, aku akan menyusulmu.” ucap Yuan, tanpa mengindahkan perkataan kekasihnya yang tidak ingin ia pergi dari kampus sehingga membuat Yuan harus meninggalkan mata kuliah ketiganya.
“Aku tidak tahu." jawab Rose.
“Rose, katakan saja dimana kau sekarang, jangan keras kepala." ujar Yuan.
“Siapa yang keras kepala? Kau itu yang keras kepala. Aku kan sudah bilang tidak dan jangan menyusulku. Tapi kau masih keras kepala ingin menyusulku.”
“Baik, kalau kau tidak mau mengatakannya, aku akan menggunakan pelacak GPS, aku pastikan untuk— ”
Belum sudah Yuan mengatakan apa yang ingin ia katakan pada sang kekasih. Rose sepertinya langsung mematikan panggilannya. Bukan hanya panggilannya saja yang Rose matikan, tapi juga ponselnya.
Karena Yuan berkata ingin melacak posisinya melalui GPS, Rose pun langsung mematikan ponselnya begitu saja.
“Sial.” ucap Yuan.
__ADS_1
•••
“Sebelum saya keluar, apa ada yang ingin kalian tanyakan?” ujar dosen pengajar mata kuliah jurusan seni modern itu.
“Tidak ada?” kata dosen itu lagi sembari menghela nafasnya karena tidak ada mahasiswa-nya yang ingin mengajukan pertanyaan.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di minggu depan. Semoga hari kalian menyenangkan.” ucapnya, setelah itu ia pergi dari ruang kelas tersebut.
Melihat dosen pengajar telah keluar, Nana terlihat berdiri dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Kai yang tampak duduk di kursi yang bersebelahan dengan Kin dan Julian.
“Kai.” panggil Nana.
“Hm.” jawab Kai.
“Hei, bro. Ada apa dengan nadamu itu? Kau terlihat seperti seorang pria yang sedang marah dengan kekasihnya. Apa kalian sedang bertengkar? Kemarin Yuan dengan Rose yang bertengkar, sekarang apa kalian juga ikut bertengkar? Ck, dasar kalian ini.” ujar Kin.
“Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya. Kita pergi saja ke kantin, tidak perlu ikut campur urusan asmara mereka.” ucap Julian yang langsung merangkul Kin layaknya seorang teman akrab, lalu kemudian, mereka berjalan bersama keluar dari ruang kelas tersebut.
“Kai, apa kau sungguh marah padaku? Apa salahku? Katakan padaku, dimana letak kesalahanku?” tanya Nana.
Kai menghela nafasnya, “Tidak ada.” ucapnya, kemudian ia berdiri dari kursinya, meraih tasnya dan berlalu dari hadapan Nana.
“Kalau tidak ada, kenapa kau seperti orang yang sedang menghindariku?” tanya Nana.
Kai pun sejenak menghentikan langkahnya,
“Aku memang sedang menghindarimu.” jawab Kai.
“Apa?! Kenapa? Kenapa kau ingin menghindariku? Apa karena aku memaksa untuk menunggumu tadi pagi?”
“Bukan” jawab Kai sembari menghela nafasnya sesaat. “Ada beberapa hal yang harus aku pikirkan kembali tentang hubungan kita.” ucap Kai.
Kai menundukkan kepalanya, lalu menghela nafasnya panjang.
“Aku, aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Aku hanya ingin memikirkannya saja. Kau jangan khawatir. Aku hanya butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku.” ujar Kai.
“Kenapa kau tiba-tiba ingin memikirkannya? Ada apa? Apa ada yang mengancammu? Katakan padaku jika itu benar.”
Kai tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, sama sekali tidak ada.” katanya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa di kelas terakhir.” ucap Kai yang kemudian kembali melangkahkan kakinya. Pergi dari pandangan Nana yang masih diam ditempatnya.
Entah kenapa, saat ini aku merasa tidak percaya diri untuk berada di sampingmu Nana. Perkataan ibuku tadi pagi, benar-benar mengganggu pikiranku. — batin Kai.
•••
Rose berjalan memasuki restoran milik Ana. Gadis itu hari ini karena hanya memiliki dua mata kuliah, makanya ia mendapatkan jadwal kerja pukul dua belas siang.
“Rose, kau datang lebih awal.” kata manajer Dita ketika Rose baru saja masuk ke bagian crew area.
“Iya manajer, kelas terakhir saya berakhir lebih cepat dari biasanya. Makanya bisa datang lebih awal kemari.” ujar Rose sembari menampilkan senyum hormatnya.
“Baguslah, kalau begitu cepat ganti bajumu, lalu absen. Setelah itu, untuk loyalitas, mulailah membantu yang lain walaupun jam kerjamu belum dimulai.” kata manajer Dita.
Rose mengangguk, lalu kemudian masuk ke dalam ruang ganti khusus karyawan perempuan. Rose mengambil baju kerjanya dari dalam tasnya, setelah itu ia memasukkan tas tersebut ke dalam lokernya.
“Tidak biasanya kau datang lebih awal.” ujar seorang perempuan yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Rose menoleh setelah ia selesai memakai pakaian kerjanya.
“Maria? Sudah lama tidak satu jam kerja denganmu. Bagaimana kabarmu?” kata Rose dengan sapaan ramahnya.
Perempuan yang di panggil Maria oleh Rose itupun tertawa sinis.
“Sudah lama tidak satu jam kerja? Bagaimana kabarmu? Cih! Jangan berpura-pura ramah. Dasar perempuan penggoda.” ujar Maria, membuat Rose mengernyit heran padanya.
“Apa maksdumu Maria?” tanya Rose yang sungguh tidak mengerti dengan ungkapan kebencian dari perempuan di hadapannya itu.
“Apa maksudku? Kau berpura-pura tidak tahu ya? Menjijikkan sekali. Kau itu dari luar seperti seorang gadis polos, tapi ternyata sangat murahan.” ujar Maria yang membuat Rose semakin tidak paham padanya.
“Maria, aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan. Kenapa kau tiba-tiba menghinaku seperti ini? Apa salahku padamu?” tanya Rose, ia mulai merasa kesal dengan sikap Maria yang sesuka hatinya menghina Rose tanpa alasan yang jelas.
“Rose, kau itu ternyata sangat munafik ya. Rayuan apa yang kau gunakan sampai anak dari bos Ana tertarik padamu?! Kau pikir tidak ada yang tahu tentang kedekatanmu dengan tuan muda Yuan?! Semua karyawan disini tahu kalau kau itu telah menggoda anak dari bos Ana, yaitu tuan muda Yuan, pewaris Tnp group. Kau sangat menjijikan, diam-diam menghanyutkan.” ujar Maria.
Rose terdiam, kini ia paham kenapa Maria tiba-tiba marah dan terus menghinanya.
“Kau iri?” tanya Rose, ia bukanlah tipe wanita yang mudah di intimidasi apalagi di tindas ketika dirinya sama sekali tidak bersalah.
Rose mungkin terlihat seperti seorang perempuan lemah lembut, tapi dirinya itu sesungguhnya tegas dalam hal pembelaan diri. Hanya saja, ia cukup pandai menempatkan dirinya dalam situasi yang terjadi. Rose tahu kapan ia harus bersikap tegas dan kapan ia harus bersikap mengalah.
Faktanya, seekor semut yang tampak kecil dan lemah, bukan berarti tidak bisa menggigit.
“Iri?” Maria tampak tertawa hambar mendegar pertanyaan dari Rose itu. “Kau sungguh tidak tahu malu, beraninya berkata seperti itu setelah ketahuan menggoda tuan muda Yuan.” kata Maria.
“Aku tidak menggodanya. Kau harus tahu, kalau Yuan datang padaku karena kemauannya sendiri. Jadi kau tidak seharusnya menyebarkan gosip yang tidak benar.” sahut Rose.
“Apa katamu?!” Maria terlihat memandang rendah Rose, meremehkan gadis itu. “Kau bilang tidak menggodanya dan tuan muda Yuan yang datang sendiri padamu? Kau pikir, kau itu siapa? Jangan besar kepala, terlalu percaya diri bisa membuatmu jatuh lebih sakit. Satu lagi, beraninya kau menyebut nama tuan muda Yuan dengan namanya saja. Apa kau tidak takut dipecat oleh bos Ana karena sudah bersikap tidak sopan?”
Rose menghela nafasnya, “Terserah kau saja mau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Minggir, aku harus keluar untuk bekerja.” ujar Rose sembari menggeser tubuh Maria yang menghalangi jalannya.
“Kau, beraninya mendorongku dengan tangan hinamu itu.” kata Maria yang tidak suka dengan tindakan Rose yang menggeser tubuhnya. Padahal Rose melakukannya dengan pelan, sama sekali tidak bermaksud membuat perempuan di hadapannya itu merasa tersinggung karena harus dipaksa menyingkir dari hadapannya.
Rose tampak diam, ia mencoba mengabaikan perkataan Maria, gadis itu memilih untuk segera keluar dari ruang ganti karyawan khusus perempuan itu, ia sungguh tidak betah berada dalam satu ruangan bersama gadis bermulut pedas seperti Maria.
“Kau mau pergi kemana setelah mendorongku ha?” kata Maria yang kemudian tiba-tiba menarik rambut pendek Rose, membuat si pemilik rambut jatuh terduduk di lantai.
“Maria, kau sungguh keterlaluan, aku hanya menggeser tubuhmu pelan, sama sekali tidak mendorongmu. Kenapa kau menarik rambutku?!” ujar Rose.
“Kau baru saja berteriak padaku?! Bukannya minta maaf malah berteriak. Bagus sekali Rose, kau sungguh sudah besar kepala ya? Merasa dirimu hebat karena memiliki backing-an dari orang luar biasa seperti tuan muda Yuan ya? Kau sangat murahan, tidak tahu malu, kau itu bukan hanya mirip seorang *******, tapi memang *******. Cih.” kata Maria
Setelah mengatakan cibiran yang terasa menohok hati Rose, Maria pun pergi dari ruangan itu, meninggalkan Rose yang masih terduduk dilantai ruangan ganti khusus karyawan perempuan itu.
Rose memang bukan seseorang yang seperti Maria katakan. Tapi entah kenapa, kata-kata kejam dari Maria tadi sangat menyakiti hati Rose, seolah-olah perkataan itu adalah sebuah fakta.
Lalu kemudian, sebuah pikiran negatif pun mulai menggerogoti kepala Rose.
Apa aku sungguh seorang *******? Apa aku wanita murahan? Apa aku ini benar-benar seorang penggoda?
Aku, aku wanita dari kalangan rendah, bisa dekat bahkan menjadi kekasih seorang pria dari kalangan atas— hah, tentu saja akan membuat semua orang berpikir kalau aku ini adalah seorang wanita penggoda.
Bagaimanapun, jika Maria melihat dari sudut pandangnya, ia sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Wajar baginya berfikiran buruk seperti itu tentangku.
Tapi walaupun semua perkataan Maria itu tidak ada yang benar, kenapa aku merasa kalau itu benar?! Kenapa hatiku merasa seolah aku ini sedang tersinggung?
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍