
Yuan membuka pintu apartemen milik Rose, sedangkan si pemilik apartemen baru saja tiba dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
"Masuklah." Ucap Yuan yang kemudian masuk ke dalam mendahului Rose lagi.
"Ck, dia pikir ini tempat tinggalnya? Aku yang seharusnya berkata seperti itu." Gumam Rose sembari menarik kopernya kembali, gadis itu melangkahkan kakinya memasuki apartemen yang sudah lama ia tinggalkan.
Rose melihat ke sekeliling apartemen itu, matanya membulat sempurna ketika pandangannya mengarah pada setiap inci apartemen.
Apartemennya saat ini lebih terlihat seperti gudang yang sudah lama tidak di jamah.
Banyak barang-barang milik Yuan tergantung dan tergeletak di sembarang tempat, yang tampak lebih buruk adalah tempat sampah yang terlihat penuh dan mengeluarkan bau tidak sedap, sangat menusuk indera penciuman.
"Yuan, apa kita salah masuk apartemen?" Tanya Rose, pandangan gadis itu masih menelusuri setiap inci apartemennya, ia tidak percaya dengan perubahan apartemennya, dulu sebelum ia meninggalkan apartemen kecilnya ini, semua masih tertata rapi dan bersih, namun kini, sangat berantakan dan bau.
Yuan terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menampilkan wajah merasa bersalah dengan senyum anehnya, membuat Rose menghela nafas beratnya, gadis itu tampak menutup matanya sejenak, kemudian terbuka kembali dengan mengeluarkan tatapan tajamnya pada Yuan.
"Apa yang kau lakukan pada tempat tinggalku?!" Tanya Rose dengan nada berteriaknya, gadis itu menjatuhkan kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang dipegangnya ke lantai.
Setelahnya, Rose berjalan dengan langkah tegas menuju ke arah Yuan yang berada beberapa meter di depannya.
"Rose— Rose aku bisa menjelaskan ini." Ucap Yuan ketika gadis yang sudah siap menarik telinganya itu telah berdiri dihadapannya.
Rose menyedekapkan tangannya sembari menunggu penjelasan dari Yuan, sedangkan pria itu terlihat kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Yuan sedang mencari alibi agar dirinya terhindar dari amukan sang pemilik apartemen yang telah ia tinggali untuk sementara waktu ini.
"Cepat jelaskan padaku." Kata Rose, kali ini ia berkacak pinggang di hadapan pria itu.
Helaan nafas mengawali penjelasan tidak masuk akal dari Yuan, pria itu mulai berkata dengan kalimat yang terputus-putus.
"Jadi, ini semua bukan salahku — maksudku, ini semua bukan keinginanku, aku ingin merapikannya tapi tidak tahu cara melipatnya dan lagi itu— eng— itu aku tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah, aku juga harus bekerja jadi tidak sempat membersihkannya, dan lagi—"
"Sudah cukup." Ujar Rose, mengakhiri alibi Yuan yang tidak tertata dengan rapi.
Bagaimana mungkin Yuan berpikir ingin membuat alibi yang buruk seperti itu pada Rose yang notabenenya adalah mahasiswi hukum, tentu saja gadis itu tidak akan percaya atau — mungkin karena dia mencintai pria itu, Rose akan pura-pura percaya padanya.
"Maaf." Lirih Yuan sembari menundukkan kepalanya, kali ini raut wajahnya benar-benar menampilkan rasa penyesalan.
Rose menatapnya sejenak, lalu kemudian berlalu, gadis itu terlihat mulai memungut satu persatu pakaian yang tergantung dan tergeletak di sembarang tempat, ia mengumpulkannya dan meletakkannya di dalam keranjang baju.
__ADS_1
Setelah itu, ia mulai memunguti satu-persatu sampah plastik makanan atau kaleng minuman yang berserakan. Tapi kemudian, gadis itu menghembuskan nafas beratnya, ia menegakkan tubuhnya dari posisinya yang sebelumnya membungkuk karena memungut kaleng minuman.
Rose menatap Yuan yang masih berdiri ditempatnya, membuat gadis itu merasa gemas pada pria itu, lantas, Rose meleparkan sampah kaleng minuman yang dipegangnya ke arah Yuan, kaleng itu berhasil mengenai Yuan tepat di kepalanya, membuat Yuan mengaduh, walau sebenarnya tidak terasa sakit.
"Maaf, tapi bisakah kau bergerak dan mulai membantuku membersihkan tempat ini?" Tanya Rose yang kemudian langsung ditanggapi oleh Yuan.
"Iya, aku akan membantumu." Jawab Yuan.
"Hah, seharusnya aku yang berkata seperti itu, dan seharusnya kau sendiri yang membersihkan kekacauan yang kau buat ini." Keluh Rose di iringi helaan nafasnya.
Yuan kembali diam mendengarkan keluhan dari gadis itu.
"Lupakan apa yang aku katakan, cepat bantu bersihkan ini semua." Ucap Rose yang merasa jika perkataannya sedikit berlebihan.
"Iya." Jawab Yuan singkat, pria itu kemudian mulai membantu Rose membersihkan apartemen yang terlihat sangat berantakan itu.
•••
Rangkaian acara kelulusan telah selesai beberapa menit yang lalu, semua wisudawan dan wisudawati serta para tamu undangan yang menghadiri acara kelulusan itu dengan tertib keluar dari gedung yang menjadi saksi bisu di hari bahagia ini.
Tapi kemudian, senyuman itu luntur ketika mengingat bahwa seseorang yang di harapkannya tidak hadir di acara kelulusannya itu.
"Ayo kita foto bersama." Ajak Rachel ketika melihat tempat khusus untuk berfoto tersapu oleh pandangan-nya.
Yohan dan Daisy mengangguk, mereka kemudian berjalan menuju tempat untuk berfoto itu, meninggalkan Nana yang masih diam di tempat, gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang ia harapkan hadir di acara ini.
"Nana, apa yang kau lakukan? Ayo cepat." Panggil ibunya dari kejauhan, membuat Nana tersadar dari pikirannya, gadis itu lantas berjalan menghampiri keluarga kecilnya yang sudah bersiap untuk foto bersama, hanya tinggal menunggu dirinya.
Usai melakukan pemotretan, mereka berniat untuk makan siang bersama, Nana berjalan di belakang keluarganya itu dengan membawa bucket bunga pemberian orangtuanya. Gadis itu masih mengedarkan pandangannya, menyapu ratusan orang untuk mencari sosok yang terus ia nantikan kehadirannya.
Sampai akhirnya, pandangannya menangkap seorang pria paruh baya dengan rangkaian bunga dan senyum yang mengembang sedang berjalan ke arahnya, pria itu tidak sendirian, dibelakangnya ada Ray, Ana dan nenek Calista.
Nana tersenyum senang, gerakan spontan dari tubuhnya, membuat Nana tanpa sadar telah berlari ke arah ayah kandungnya itu.
"Papa!" Teriak Nana dengan aura bahagia yang begitu kentara.
Suara teriakan dari Nana, membuat Rachel, Yohan dan Daisy menoleh ke arah Nana yang sudah menghambur ke dalam pelukan Alex.
__ADS_1
"Aku pikir papa tidak akan datang." Ujar Nana dengan nada terharunya.
Alex hanya bisa tersenyum, kemudian, pria itu memberikan rangkaian bunga yang dibawanya kepada Nana.
"Happy graduation, my little girl." Ucap Alex.
Nana menerima rangkaian bunga carnation yang berwarna-warni itu dari ayah kandungnya.
"Jangan katakan itu sekarang papa, karena aku masih harus menempuh pendidikan di universitas ini untuk menyelesaikan satu jurusan lagi. Jadi, katakan itu tahun depan, saat aku telah menyelesaikan studyku yang satunya." Kata Nana.
"Nana, apa kau tidak ingin menyapa kami?" Tanya Ana yang sejak tadi berdiri di dekat Alex dan Nana.
"Ah maaf bibi Ana, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk datang di acara kelulusanku." Ujar Nana.
"Em, tentu saja kami akan hadir, kami ini juga keluargamu, ini untukmu." Kata nenek Calista, wanita yang sudah memasuki usia tua itu memberikan sebuah boneka beruang yang memakai toga kepada Nana.
"Waaa ini— Nana suka. Terimakasih nenek." Ucap Nana sembari menerima hadiah kelulusannya itu.
"Kalian tidak memberitahu kami jika ingin datang ke acara wisuda Nana." Ujar Rachel yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Maaf, tadi kami tidak yakin bisa datang atau tidak, tapi untungnya tidak ada jadwal lain yang menggangu kami, jadi kami bisa datang walaupun sedikit terlambat." Kata Ana.
"Terimakasih sudah datang, maaf merepotkan." Ucap Yohan.
"Tidak masalah, santai saja Yohan." Kata Ray dengan senyumannya.
"Ah iya, kami berencana untuk makan siang bersama, apa kalian ingin ikut juga?" Tanya Rachel.
"Apa tidak masalah? Kami takut jika nanti malah menjadi pengganggu kehangatan keluarga kalian." Kata nenek Calista.
Rachel tersenyum hangat menanggapi perkataan dari wanita tua itu.
"Tidak, tentu saja tidak menggangu. Ayo, sebelum waktu makan siang lewat." Ajak Rachel, wanita paruh baya itu kemudian menarik lengan kakak tirinya, Ana.
Ana tersenyum menerima ajakan dari Rachel, ibu dari Yuan itu kemudian memberikan aba-aba pada keluarganya yang lain untuk mengikutinya dan Rachel.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1