The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kejadian di Sore Hari


__ADS_3

Sore itu, setelah menyelesaikan mata kuliah terakhirnya untuk hari ini. Yuan pun bergegas pergi menuju parkiran mobilnya. Ia ingin segera pergi ke restoran ibunya untuk menemui Rose.


Tapi sayangnya, baru beberapa langkah ia keluar dari dalam gedung fakultas ekonomi dan bisnis itu, tampak seorang gadis yang berusia lebih muda darinya sepertinya telah menunggunya sejak beberapa jam yang lalu.


Gadis itu berdiri di salah satu tiang penyangga gedung fakultas tersebut dengan sabar hanya untuk menunggu Yuan. Sengaja ia menunggu disana agar dirinya bisa langsung menghadang Yuan, jika pria itu mencoba lari darinya.


“Sudah selesai?” tanya gadis itu, dia Rue. “Tidak ada mata kuliah lagi kan?” tanyanya lagi.


Yuan tampak menghela nafasnya, ia mengumpat kesal pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia lupa kalau Rue tadi pagi sudah memperingatkan dirinya untuk pulang bersama. Andai saja, andaikan Yuan ingat, pria itu pasti akan memilih jalan lain, sekalipun jalan yang ia tempuh lebih jauh untuk sampai ke parkiran.


“Minggir.” ucap Yuan.


“Tidak mau.” kata Rue. “Lagipula, kenapa aku harus minggir? Kita kan akan pulang bersama, seharusnya kakak Yuan menggandeng tanganku dan mengajakku ke mobil kak Yuan.” sambungnya.


Yuan tertawa miris, merasa kasihan dengan sikap menjijikkan gadis di hadapannya itu.


“Ya, teruslah bermimpi sana. Kau harus ingat, aku tidak akan pernah mengijinkan wanita manapun masuk ke dalam mobilku. Sekalipun itu kau.” ujar Yuan.


“Benarkah? Lalu, bagaimana dengan wanita yang seringkali aku lihat keluar masuk dari mobil kak Yuan? Bukankah dia juga wanita?” tanya Rue.


“Kecuali dia.” jawab Yuan.


Rue tertawa kecil, tawa mengejek dan meremehkan, tapi tawa itu tidak mungkin ia tujukan pada Yuan. Bagaimanapun, Rue sangat menghormati Yuan, Yuan itu layaknya seorang Fir'aun baginya.


“Kecuali dia? Spesial itukah dia di mata kak Yuan?”


“Bukan urusanmu.” ucap Yuan. “Minggir.” sambungnya, Yuan pun kemudian tampak menggeser kasar tubuh Rue, membuat gadis itu hampir jatuh kalau saja Rue tidak menyeimbangkan tubuhnya dengan cepat.


“Rosella.” ucap Rue yang tiba-tiba saja menyebut nama Rose, tindakannya itu langsung membuat Yuan menghentikan langkah kakinya. “Itu— namanya kan?” tanya Rue ketika Yuan telah kembali membalikkan badan ke arahnya.


“Kau! Kau jangan coba-coba untuk menyentuhnya sedikitpun. Aku tidak akan membiarkanmu mengusiknya.” kata Yuan dengan nada penuh ancamannya.


Rue kembali menampilkan sebuah senyum yang mampu membuat orang merasa tidak nyaman ketika melihatnya.


“Dia itu mahasiswa jurusan hukum, mana mungkin aku berani mengusiknya? Iya kan, kak Yuan?” kata Rue.


“Rue!” bentak Yuan, ia sungguh merasa geram dengan sikap Rue yang sedang mencoba ingin mengendalikan dirinya dengan menyeret Rose sebagai ancaman.


“Kak Yuan, kau tidak perlu berteriak seperti itu. Pendengaranku ini masih berfungsi dengan baik loh. Kak Yuan cukup panggil namaku dengan pelan dan lembut, aku pasti mendengarnya.” kata Rue dengan sikapnya yang semakin membuat Yuan merasa geram padanya.


“Aku peringatkan padamu Rue. Kau jangan pernah coba-coba bermain api denganku. Aku bisa saja membakar dirimu habis lalu menjatuhkan dirimu ke dalam jurang kegelapan. Kau pikir, karena latar belakangmu yang hebat, aku akan takut? Sekalipun harus berhadapan langsung dengan paman Barack, aku tidak takut sama sekali. Jadi berhati-hatilah dengan sikap dan tindakanmu itu.” ujar Yuan.


“Satu lagi, jangan sampai aku mendengar kabar kalau kau mengganggu wanitaku. Aku tidak akan melepaskanmu kalau sampai itu terjadi.” sambungnya lagi.


Setelah itu, Yuan langsung pergi meninggalkan Rue yang sepertinya kali ini akan membiarkan Yuan pergi tanpa dirinya.


“Tidak akan melepaskanku? Ck, kak Yuan, kau telah salah memilih kalimat. Kalau kau berkata seperti itu, aku malah semakin ingin mengganggunya, agar kak Yuan benar-benar tidak melepaskanku, begitupun juga aku, aku tidak akan melepaskan kak Yuan begitu saja. Kak Yuan itu hanya pantas menjadi milikku.” gumam Rue sembari menatap kepergian Yuan.


•••


Kai menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Nana.


Pria itu kemudian keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan ke sisi kiri untuk membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.


Setelah memastikan Nana keluar dari dalam mobilnya, Kai pun menutup pintu mobil itu kembali.


Lalu, tanpa berbicara apapun, Kai langsung berlalu begitu saja dari hadapan Nana. Pria itu tampak berjalan menuju ke sisi kanan mobilnya, lalu masuk ke dalamnya.


“Kai, sampai kapan kau akan terus diam seperti ini?” tanya Nana, gadis itu memaksa masuk kembali ke dalam mobil kekasihnya, bersamaan dengan Kai yang juga masuk ke dalam mobil tersebut.

__ADS_1


“Keluar Nana. Aku harus pulang.” ujar Kai, tanpa menoleh sedikitpun.


“Tidak, aku tidak mau keluar sebelum kau menjelaskan apa maksud dari sikap diammu padaku saat ini.” kata Nana.


Kai menghela nafasnya kasar, merasa frustasi dengan situasi ini.


“Tolong keluar Nana, aku mohon, beri waku aku untuk sendiri dulu.” pinta Kai.


“Kai, bisakah kita saling terbuka saja? Katakan padaku apa yang menggangu pikiranmu?” tanya Nana, masih kekeuh tidak mau keluar.


“Tidak ada.” jawabnya.


Nana pun mendengus kesal mendengarnya, ia sungguh merasa heran dengan sikap pria itu, tanpa alasan yang ia ketahui, Kai tiba-tiba menjadi manusia yang diam seribu bahasa ketika berada di dekatnya.


“Berhenti berbohong padaku dan katakan apa yang sebenarnya kau pikirkan. Bukankah kau bilang hati kita ini satu? Kalau begitu, ijinkan aku memintamu untuk membagi keluh kesah yang kau simpan di dalam hatimu saat ini. Ijinkan aku juga untuk mengetahui apa yang sebenarnya mengganggu kepalamu. Bisakah kau membagi beban pikiran dan hatimu itu padaku?” ujar Nana.


“Walaupun aku mungkin saja tidak bisa membantumu, tapi setidaknya itu bisa meringankan sedikit beban yang sedang kau alami.” sambungnya lagi.


Mendengar penuturan Nana yang sangat menyentuh hatinya. Kai semakin dibuat gundah.


Dia sungguh terlalu baik untukku.


Kai rasanya ingin menangis saat ini, apa salahnya perbedaan? Kenapa harus menjadi penghalang? Dan kenapa pula Nana bersikap sangat baik padanya?


“Nana.” panggil Kai.


“Ya?”


“Untuk saat ini, aku hanya bisa mengatakan kata-kata ini padamu, Nana kau terlalu baik untukku.” ucap Kai, lalu kemudian, ia menghela nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya. “Hanya itu yang bisa aku katakan padamu. Aku harap kau mengerti dan mau memberiku waktu untuk berdiam diri dan merenungkan semua kegelisahan di hatiku. Satu hal yang harus kau tahu, di dalam hatiku, hanya dipenuhi rasa cintaku kepadamu. Percayalah padaku dan tunggu aku.”


“Sekarang, bisakah kau keluar dari dalam mobilku? Aku harus pulang. Besok aku akan menjemputmu seperti biasa.” sambungnya lagi.


Untuk beberapa saat, Nana tampak diam, gadis itu sepertinya enggan untuk keluar dari dalam mobil tersebut.


Sebelum menutup pintu mobil itu, Nana terlihat menatap Kai untuk beberapa detik lamanya. “Aku mencintaimu.” ucap Nana lirih. Setelah itu, ia menutup pintu mobil tersebut.


Tidak lama setelah Nana menutup pintu mobilnya, Kai pun langsung menghidupkan mesin mobilnya dan melaju pergi dari pekarangan rumah Nana.


Melihat kepergian sang kekasih, Nana lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya. Merasa situasi saat ini benar-benar membuat hatinya terasa kacau.


“Ada apa dengan helaan nafasmu itu? Kau sedang bertengkar dengannya?” tanya seorang pria paruh baya, dia bukan Yohan, melainkan Alex, ayah kandung Nana.


“Papa? Papa kenapa ada disini?” tanya Nana, ia heran kenapa Alex bisa ada dirumahnya.


“Memangnya papa-mu ini tidak boleh datang berkunjung ke rumah putrinya? Papa merindukanmu. Rasanya ingin menjemputmu pulang dari kampus, tapi kau kan sudah punya seseorang yang selalu memberimu tumpangan pulang dan pergi.” ujar Alex.


Nana pun tersenyum mendengarnya, kemudian ia berjalan mendekati ayahnya itu, lalu memeluk lengan kokoh milik sang ayah.


“Nana juga rindu papa.” ucap Nana dengan nada berayun dan bergelayut manja.


“Ck, kalau sikapmu tiba-tiba jadi seperti ini, kau pasti sedang ada masalah kan? Katakan pada papa, apa dia melukaimu? Apa di telah berbuat jahat padamu? Papa bisa memberinya pelajaran untukmu.” kata Alex sembari mengusap lembut puncak kepala sang anak.


Nana mendongakkan kepalanya, membalas tatapan sang ayah yang juga sedang menatap dirinya. Lalu kemudian, Nana tampak menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, dia tidak mungkin sanggup berbuat jahat apalagi menyakitiku. Selama ini, Kai sangat baik padaku.” ucap Nana.


“Benarkah? Apa kau sungguh berkata yang sebenarnya? Kau tidak mencoba membelanya atau melindunginya kan? Kau tidak sedang berbohong pada papa kan? Papa sangat tahu pasti bagaimana cara mengetahui suasana hatimu, kalau kau tiba-tiba berubah menjadi manja seperti ini, apalagi sampai memeluk lengan papa, pasti kau sedang ingin dihibur agar kau bisa melupakan masalahmu.” ujar Alex sembari menghela nafasnya sejenak.


“Katakan pada papa, bagaimana cara papa bisa menenangkan pikiran dan hatimu? Kau ingin pergi ke taman bermain? Atau pasar malam?” kata Alex.


“Aku bukan anak kecil lagi Pa. Aku tidak ingin pergi kemanapun. Tapi kalau papa mengajakku pergi ke tempat makan, mungkin aku mau. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa nafsu makanku sepertinya sedang bertambah.” ujar Nana.

__ADS_1


“Kau pasti benar-benar sedang bertengkar dengannya, sikapmu ini sudah jelas sekali menunjukkannya.” ucap Alex.


“Tidak papa, aku tidak bertengkar dengan Kai. Hubunganku dengannya semua baik-baik saja. Papa jangan terlalu banyak berpikir negatif seperti itu.” protes Nana.


“Hah, ya ya, baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi makan. Kau ingin makan apa dan ingin makan dimana? Papa akan menuruti semua yang kau mau.” ujar Alex yang langsung di sambut rasa senang oleh Nana.


“Aku ingin makan seafood, ah tidak tidak, aku juga ingin makan dimsum, lalu steak, tapi aku juga ingin makan burger dan pizza.” kata Nana.


Alex pun tersenyum mendengarnya, ia sungguh merasa gemas dengan sikap Nana yang akan menjadi seperti sekarang ini jika anak gadisnya itu sedang marah, sedih, kecewa, galau ataupun perasaan suram lainnya.


“Baiklah, selama perutmu masih sanggup memasukkan semua makanan itu, kita pergi dan makan semuanya, ayo cepat.” ujar Alex sembari menarik lembut lengan Nana, lalu membawa anak gadisnya itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


•••


Yuan masuk ke dalam restoran ibunya, namun kalau biasanya ia akan melangkah menuju ruangan sang ibu, tapi kali ini, ia malah melangkah menuju ke bagian karyawan.


Beberapa karyawan yang melihatnya pun mengernyit heran, kenapa anak dari bos mereka itu tiba-tiba masuk begitu saja ke bagian crew area?


Lalu kemudian, bisik-bisik tetangga terdengar dari semua karyawan yang melihat Yuan semakin masuk ke dalam dan melangkah menuju bagian dapur.


“Apa gosip itu benar?”


“Gosip yang mana?”


“Kau belum tahu ya? Katanya, Rose itu seorang penggoda, dia sudah berhasil menggoda tuan muda Yuan.”


“Benar, lihat saja itu, tuan muda Yuan tidak biasanya masuk ke bagian crew area, bahkan sampai datang ke bagian dapur.”


“Dia pasti sedang mencari Rose. Rose kan hari ini mendapat bagian di dapur.”


“Rose benar-benar licik, terlihat polos tapi ternyata menghanyutkan.”


Suara bisik-bisik itu terdengar oleh Yuan, tapi ia mencoba untuk mengabaikannya. Lagipula, prioritasnya saat ini adalah menemukan Rose.


“Tuan muda Yuan? Apa yang membawa anda datang ke bagian dapur restoran? Apa anda ingin saya bawakan sesuatu untuk dimakan? Katakan saja, nanti saya akan mengantarkannya ke ruangan bos Ana. Tuan muda Yuan tunggu saja disana.” ujar manajer Dita.


“Dimana Rose?” tanya Yuan, tanpa berbasa-basi lagi.


“Eh? Rose? Oh dia ada di— itu dia.” ucap manajer Dita sembari menunjuk ke arah Rose yang baru saja masuk ke bagian dapur setelah membuang sampah dari belakang restoran.


“Terimakasih.” ucap Yuan yang kemudian langsung berlalu pergi dari hadapan manajer Dita.


“Eh iya sama-sama.” kata manajer Dita sembari menatap Yuan yang tampak berjalan menghampiri Rose.


Gadis bermana Rose itu sepertinya belum menyadari kehadiran Yuan. Terlihat dari dirinya yang masih tampak fokus dengan pekerjaannya sampai tidak sempat mempedulikan keadaan sekitarnya.


Tanpa berbicara, Yuan tiba-tiba menyentuh lengan Rose, membuat gadis itu tersentak kaget. Lalu, Rose semakin dibuat kaget ketika Yuan tiba-tiba menariknya keluar dari bagian dapur tersebut.


“Yuan, kapan kau datang? Kenapa kau ada disini? Dan ini, apa yang sedang kau lakukan? Lepas, kenapa sembarangan menarikku? Aku masih dalam waktu bekerja.” ujar Rose, tapi Yuan tidak meresponnya, pria itu masih terus menarik paksa lengan Rose.


“Kau tidak mendengarkan aku ya? Aku bisa dipecat nanti. Yuan, aku mohon lepaskan aku.” pinta Rose lagi.


“Diam dan ikuti saja aku.” ujar Yuan yang akhirnya bersuara.


Yuan pun terus menarik Rose untuk pergi bersamanya menuju ke ruangan Ana.


Tindakan Yuan itu secara tidak langsung membuat Rose merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang melihat ke arah mereka.


Tidak hanya karyawan, para customer yang ada disana pun terlihat memperhatikan Yuan dan Rose yang kini tengah menaiki tangga untuk sampai ke ruangan Ana.

__ADS_1


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2