The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Perjalanan ke Sekolah


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


 


 


 


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


 


 


 


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


 


 


 


SELAMAT MEMBACA


 


 


 


 


 


 


✴✴✴


Mansion itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Mungkin hanya warna cat pada beberapa ruangan yang berganti.


 


Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan empat tahun tampak duduk pada kursi meja makan itu. Seorang diri, tidak ada yang menemani, kecuali para pelayannya.


 


Pria itu terdiam, ia menatap meja makan panjang itu dengan hati kosong yang sangat kesepian.


 


Helaan napas kembali terdengar darinya.


 


Enam tahun yang lalu, mansion ini sangat ramai. Celotehan dari anak-anak kecil berusia di bawah tiga tahun pun menemani harinya.


 


Tapi, keceriaan itu hilang ketika si ibu dari anak-anak tersebut, Rose membawa mereka pergi.


 


Lima tahun yang lalu, Rose memutuskan untuk bekerja dan pindah dari mansion tersebut.


 


Dan pria itu, Sean. Dia hanya bisa mengerti, lalu mencoba memahami keputusan wanita yang sebenarnya telah mengusik dan memenuhi isi hatinya.


 


Lalu sekarang, Sarah pun juga pergi setelah wanita itu menikah dengan pria pilihannya.


 


Kini, Sean benar-benar sendirian, berteman dalam kesepian.


 


Pria itu meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap makanan yang tersaji rapi itu tanpa selera.


 


“Tuan besar ingin pergi kemana? Anda bahkan belum menyentuh makanan anda sedikitpun,” kata seorang pelayan, dia adalah kepala pelayan di mansion ini.


 

__ADS_1


“Buang saja semuanya atau kalian makan saja makanannya. Aku sedang tidak berselera makan,” ujar Sean.


 


“Tapi, Tuan besar. Sejak semalam anda tidak makan apapun. Saya khawatir kalau anda tidak makan dengan benar, anda bisa sakit,” nasihat kepala pelayan wanita itu.


 


Sean menghela napasnya, “Tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja,” balas Sean yang kemudian beranjak dari kursi makanya.


 


“Tapi Tuan besar Sean. Anda harus tetap mengisi perut anda walau hanya beberapa sendok makanan,” pinta kepala pelayan itu.


 


“Kalau memang anda tidak suka dengan makanan yang tersaji saat ini. Saya bisa menyuruh pelayan dapur untuk membuat makanan yang lain, makanan yang mungkin Tuan besar Sean inginkan,” lanjutnya.


 


Sean menatap kepala pelayan itu sejenak, lalu ia berlalu begitu saja dari hadapan kepala pelayan yang sudah berusia paruh baya itu.


 


“Tuan besar Sean. Nona besar Sarah dan suaminya datang berkunjung. Sekarang mereka ada di ruang tamu,” lapor seorang pelayan yang tampak datang dari arah ruang tamu mansion tersebut.


“Sarah?” tanya Sean.


Pelayan yang melaporkan pun mengangguk dengan cepat.


“Aku akan menemuinya,” ujar Sean.


Pria itu kemudian bergegas menuju ruang tamu. Di sana terlihat Sarah, adik kembarnya tengah duduk bersama suami wanita itu.


“Sarah,” panggil Sean lirih.


Sarah pun langsung menoleh ketika mendengar namanya di panggil oleh saudara kembarnya.


“My twins,” pekik Sarah. Wanita itu langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukan Sean.


“Aku merindukanmu, My twins,” ujar Sarah.


“Em, aku juga. Bagaimana kabarmu, dia menjagamu dengan baik kan?” kata Sean diiringi dengan pertanyaannya. Sean menatap pria yang duduk di sofa itu lekat.


Sarah menganggukkan kepalanya, “Dia sangat baik padaku, iya kan, Feng? My Husband,” ujar Sarah sembari meminta dukungan dari pria yang bernama 'Feng' itu.


Jalanan ibu kota itu terlihat lenggang, mobil yang berlalu-lalang pun tak banyak terlihat. Wajar saja, karena waktu masih menunjukkan pulul setengah tujuh pagi.


Mobil berwarna silver milik Rose itu terlihat melaju di jalanan ibu kota.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Hal itu membuat Yuan merasa canggung dengan suasana yang terjadi.


“Nanti setelah kalian pulang sekolah, kalian mau pergi keluar tidak?” tanya Yuan, mencoba mencairkan suasana.


Rose menoleh, menatap Yuan yang fokus menyetir. Merasa di tatap, Yuan menoleh sekilas kearah Rose, lalu kemudian mengintip anak-anaknya melalui kaca spion dalam.


Kedua kakak-beradik itu tampak diam, mereka saling bertatapan satu sama lain. Seolah mata mereka itu saling melempar tanya, Apa kita harus menerima ajakannya?


Yusen menghela napasnya, ia mengangkat bahunya sekilas, sebuah kode kalau keputusan ada di tangan Yuna.


Gadis kecil itu mengangguk paham. Lalu senyum sumringah tersimpul manis pada wajahnya.


“Tapi kami yang menentukan kemana kita akan pergi,” tukas Yuna sembari menoleh sekilas ke arah saudara kembarnya. Yusen diam, tapi pria kecil itu terlihat tidak masalah dengan keputusan yang Yuna pilih.


Yuan mengulas senyumnya, “Tentu, tidak masalah. Kemanapun kalian ingin pergi, Papa pasti akan mengabulkannya,” ujar Yuan.


Samar-samar, Yuna tersenyum senang mendengar perkataan ayahnya itu.


“Yusen, apa kau mau ikut juga?” tanya Rose, ia merasa heran dengan putranya yang hanya diam tanpa protes.


“Aku harus menjaga Yuna, itu artinya, kalau dia ikut, aku juga ikut,” jawabnya.


Rose terkekeh mendengarnya, ia tahu kalau sebenarnya Yusen ingin ikut. Tapi pria kecil itu terlalu mengagungkan rasa gengsinya.


“Yuna sangat beruntung ya, punya bodyguard seperti Yusen,” sahut Yuan.


Pria yang di singgung itu hanya diam, mengalihkan pandangannya, tersipu.


Yuan tersenyum melihat pantulan Yusen dari kaca spion, rasa sejuk mengalir lembut di hatinya, menciptakan rasa tenang dan teduh yang tiada tara.


Hal yang sangat menyenangkan, sederhana dan tak ternilai adalah menghabiskan waktu dengan keluarga. Itulah yang Yuan rasakan saat ini.


“Tapi, apa tidak ada yang berniat mengajakku?” tanya Rose.


“Tidak ada,” jawab Yuan, mengeluarkan gurauannya.


Rose memukul lengan Yuan pelan, ia kesal mendengar jawaban pria itu.

__ADS_1


“Ah, begitu ya. Kalau begitu tidak ada ruang bagimu untuk menginap di rumahku,” balas Rose disertai ancamannya.


“Kau baru saja mengancamku?” tanya Yuan, ia menoleh sekilas ke arah Rose yang duduk di sampingnya.


“Mengancammu? Tidak. Aku mana berani mengancam seorang presiden direktur perusahaan besar,” singgung Rose.


“Bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya— ”


“Ehem,” Yusen berdehem keras. Sekeras mungkin sampai Yuan pun menghentikan perkataannya.


“Ada anak-anak di sini, bisakah kalian menjaga kesucian mata dan telinga kami?” tegur Yusen.


“Ah itu, maaf,” ucap Yuan. Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Bagaimana mungkin dirinya bisa lupa diri, berniat bermesraan dengan Rose, tanpa ingat lagi kalau ada dua anak di bawah umur di belakang nya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di sekolah dasar Lizard.


Yuan memarkirkan mobil yang di kendarainya itu di sayap kiri gerbang sekolah dasar tersebut.


Kemudian, Yuan bergegas turun dari mobil, berniat membukakan pintu untuk anak-anak. Tapi sayang sekali, Yusen menyuruh kakak kembarnya itu untuk keluar melalui pintu mobil bagian lain.


Rose ingin tertawa melihat ekspresi Yuan, pria itu seperti orang yang baru saja mendapatkan prank.


“Ma,” panggil Yusen, menyadarkan ibunya yang tengah menertawakan Yuan di dalam benaknya.


“Ah, iya, kau ingin masuk ya. Hati-hati ya. Ingat, jaga Yuna,” ujar Rose sembari menepuk pelan bahu pria kecil itu.


“Yuna, kau juga hati-hati ya. Kalian, berjuanglah untuk ujian hari ini,” lanjut Rose, memberikan asupan semangat pada dua anaknya itu.


“Paman, ingat, jangan terlambat menjemput kami,” ucap Yusen pada sang ayah, sebelum akhirnya ia melangkah pergi bersama Yuna.


“Papa akan jemput tepat waktu. Semangat ujiannya, jadilah anak yang baik, Papa sayang kalian,” seru Yuan, menjawab ucapan Yusen tadi.


“Mama juga sayang kalian,” sahut Rose dengan senyum tipisnya.


Diam-diam, kedua kakak-beradik kembar itu tersenyum senang. Mereka senang karena bisa merasakan apa itu keluarga yang sesungguhnya.


Setelah memastikan Yusen dan Yuna benar-benar memasuki lingkungan sekolah, kedua insan itu kembali masuk kedalam mobil dan meninggalkan area sekolah.


Kini tinggal mereka berdua. Inilah momen yang di tunggu oleh Yuan. Tangan pria tampak bergerak, mendekati tangan Rose yang berada di atas paha wanita itu. Perlahan, Yuan mengenggamnya. Awalnya, Rose sedikit tersentak, lalu kemudian, ia mencoba mengendalikan dirinya agar kembali bersikap biasa.


“Aku merindukanmu,” ucap Yuan tulus, ia menatap Rose sekilas, lalu kembali fokus ke jalan raya.


Rose tersentuh mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Yuan secara tiba-tiba. Walaupun begitu ia tetap harus bersikap tegas pada Yuan.


“Singkirkan tanganmu,” suruh Rose.


“Tidak mau,” Yuan menolak mentah.


“Lepaskan, Yuan. Kau sedang menyetir, kau harus fokus pada jalanan,” nasihat Rose.


Dengan terpaksa, Yuan melepaskan genggamannya. Raut wajah pria itu pun kemudian berubah muram.


Melihat Yuan yang seperti itu, Rose menghela napasnya, “Aku juga merindukanmu,” lirih Rose, sangat pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri. Tapi, Yuan masih mampu mendengarnya.


Hati lelaki itu menghangat mendengar kalimat yang keluar dengan pelan dari bibir ranum Rose.


Mobil berhenti karena lampu merah. Ini kesempatan Yuan untuk memandangi wajah wanita yang sangat ia rindukan selama delapan tahun terakhir.


Seberapa lama pun Yuan memandang nya. Ia benar-benar tidak pernah puas. Dari dulu hingga sekarang pun Rose masih menjadi candu untuknya.


“Coba kau katakan sekali lagi,” suruh Yuan, menatap wanitanya itu lekat.


“Apa?” tanya Rose, berpura-pura tidak mengerti.


“Katakan padaku kalau kau juga merindukanku,” ujar Yuan.


Rose mengalihkan pandangannya, ia memilih menatap keluar jendela mobil itu.


“Aku tidak merindukanmu sama sekali,” bohongnya.


Yuan tersenyum, ia tahu kalau wanita di sampingnya itu sedang membohongi dirinya. Rose terlalu malu untuk berkata jujur padanya.


“Aku juga merindukanmu dan selalu mencintaimu, Honey,” balas Yuan dengan kata manisnya bagai madu.


 


 


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


 


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


 


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme

__ADS_1


__ADS_2