
Kehidupan itu seperti sebuah permen cokelat, yang butuh proses panjang agar terasa manis. — EXTRAORDINARY LOVE.
Tiga hari kemudian~
Yuan masuk ke dalam mobilnya, siap untuk berangkat ke kampus.
"Yuan." Panggil sang ayah, Ray.
"Apa?"
"Jangan lupa, jemput Rue, seperti biasa." Kata Ray.
"Ya." Jawab Yuan singkat.
Dua hari yang lalu, ketua Barack tiba-tiba datang kerumahnya, tapi ia hanya datang bersama Rue saja.
Teman bisnis ayah Yuan itu datang bukan tanpa tujuan.
Tujuannya sudah pasti, ketua Barack meminta Yuan untuk datang kerumahnya setiap pagi menjemput Rue. Dengan alasan yang sangat klasik, ketua Barack bilang, ia harus pergi ke luar negeri, jadi tidak bisa mengantar ataupun menjemput putrinya yang baru saja pindah kuliah. Sedangkan kakak Rue, yaitu Feng, mereka berdua memiliki jadwal kuliah yang berbeda, jadi Rue juga tidak bisa berangkat bersama Feng.
Pada awalnya, Yuan tentu saja menolaknya, siapa yang mau berangkat kuliah bersama dengan perempuan bernama Rue itu. Sekalipun dia anak konglomerat yang terhormat, aku tidak mau. Itu yang Yuan pikirkan.
Tapi, sekali lagi, dibawah tekanan sang ayah, Yuan tidak bisa berbuat apa-apa. Kini, ia hanya bisa menjadi anak penurut, yang menuruti permintaan ayahnya, yang entah sampai kapan akan berakhir.
•••
"Nona muda Nana, teman anda sudah datang menjemput." Ujar seorang pelayan di rumah Nana.
"Apa itu Kai?" Tanya Rachel.
Nana mengangguk,
"Iya, sudah pasti."
"Kau terlihat semakin dekat dengannya." Kata Rachel.
"Apa yang ibu harapkan? Kami hanya berteman."
"Ya, siapa yang tahu dengan pertemanan antara laki-laki dan perempuan." Kata Rachel dengan senyum lebarnya.
"Ibu, jangan berkata seperti itu." Keluh Nana.
"Suruh dia masuk, ajak makan bersama." Ujar Yohan.
"Ah aku rasa dia akan menolaknya." Ucap Nana sembari memakan habis makanan yang ada di piringnya.
"Nana berangkat lebih dulu ya. Sampai jumpa." Kata Nana setelah ia menyelesaikan sarapannya itu.
"Hati-hati di jalan, katakan pada Kai, jangan mengebut saat berkendara." Nasihat Rachel.
"Iya."
Nana pergi dari ruang makan itu, ia berlari kecil keluar dari rumahnya.
Di depan rumahnya, sebuah mobil berwarna hitam tampak terparkir disana.
Di dalam mobil itu terlihat seorang pria yang sejak tadi telah menunggu Nana untuk keluar dari rumah dan berangkat ke kampus bersama.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Nana pada pria itu, Kai.
"Yah lumayan." Jawab Kai sembari keluar dari dalam mobil, kemudian ia berjalan pada sisi kiri mobil dan membukakan pintunya untuk Nana.
"Silahkan tuan putri Lotusa." Ujar Kai.
Nana tertawa geli dengan sikap Kai, walaupun sudah sering melihatnya bertingkah seperti itu, tapi Nana masih tidak bisa menganggapnya biasa. Bagi Nana itu terasa sangat menggelitik hatinya.
"Terimakasih pangeran Kairi." Balas Nana seraya melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil.
Dengan senyum manisnya, Kai menutup pintu mobil sisi kiri itu, kemudian ia kembali ke bagian kemudi mobil, lalu masuk kedalamnya.
"Pakai sabuk pengamannya." Ujar Kai.
"Sudah bos, kali ini aku tidak akan lupa lagi." Jawab Nana.
"Pintar, daya ingatmu sepertinya sudah mengalami perubahan sedikit lebih baik." Kata Kai dengan pandangan yang fokus pada jalan raya.
__ADS_1
"Aku memang pintar. Kau harus ingat, aku ini sudah menjadi seorang sarjana manajemen bisnis." Ucap Nana, ia tampak menampilkan ekspresi bangganya.
"Ya ya, aku tidak akan lupa itu, senior." Ujar Kai di sela-sela tawanya.
•••
Dengan tampilan raut wajah kesal yang terlihat begitu kentara. Yuan memarkirkan mobilnya di area parkir kampus.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Yuan langsung keluar begitu saja dari dalam mobil, meninggalkan Rue yang masih duduk diam di dalam.
"Kak Yuan, tunggu aku." Ucap Rue sembari turun keluar dari dalam mobil, ia berlari menyusul Yuan yang telah berjalan lebih dulu di depannya.
"Kenapa meninggalkanku?! Seharusnya— "
"Kau ini sudah dapat jantung, masih ingin meminta hatiku juga ya?!" Bentak Yuan.
Rue terlonjak kaget, ia menatap Yuan dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Suara lantang dari Yuan itu membuat banyak orang yang penasaran langsung berkerumun mendekati mereka.
"Kak Yuan, kau, kau menakutiku." Ujar Rue, menampilkan wajah sedihnya, membuat semua orang yang melihatnya tampak iba.
"Kau menjijikan." Ucap Yuan, pelan, hanya Rue yang mendengarnya.
Yuan berbalik, membelakangi Rue, gadis itu masih berdiri dengan isakan tangis yang mulai terdengar.
Walau Rue menangis pun, Yuan tetap mengacuhkan gadis itu, ia terus berjalan, melangkahkan kakinya, menjauhi Rue.
"Kak Yuan, tunggu." Rue berteriak, ia berlari mengejar Yuan, gadis itu dengan berani memeluk Yuan dari belakang, membenamkan wajahnya ke dalam punggung lebar Yuan.
Semua orang yang melihat aksi Rue itu tampak terperangah, bagi mereka yang tidak tahu siapa Rue, bertanya-tanya, gadis dari keluarga mana itu, beraninya dia bertindak seperti itu pada seorang pewaris tunggal perusahaan besar.
"Lepaskan pelukanmu, Rue." Ucap Yuan.
"Tidak."
"Rue, aku peringatkan padamu, lepaskan pelukanmu sekarang juga." Ujar Yuan masih dengan diri yang mampu menahan emosi.
"Tidak, aku tidak mau." Tolak Rue.
"Aku tidak peduli."
"Aku bilang lepas ya lepas! Apa kau tuli?!" Bentak Yuan sembari menyentak tangan Rue hingga terlepas dari dirinya.
Suara bentakan dari Yuan itu bukan hanya membuat seorang Rue saja yang gemetar ketakutan, tetapi juga semua orang yang menyaksikan mereka.
"Kenapa?! Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?! Kau bukan hanya sekali saja membentakku, tapi sudah dua kali ini. Bagaimana kau akan menjelaskan semua ini pada ayahku dan juga paman Ray?!" Ujar Rue yang semakin membuat semua orang terkejut.
Bagaimana mungkin gadis itu menyebut nama ketua Ray dengan begitu akrabnya, apa dia berasal dari keluarga yang luar biasa? Bahkan, tuan muda seperti Yuan saja terlihat enggan menyakitinya lebih dalam lagi. — Pikir orang-orang yang mendengar perkataan Rue tadi.
"Oh, jadi kau ingin mengadukanku pada ayahmu dan juga dad-ku? Silahkan saja, kau pikir aku takut?! Aku sudah muak dengan sikapmu, kau sungguh menjijikan." Ujar Yuan.
"Bagimu aku ini perempuan menjijikan ya? Tapi kau harus ingat, aku ini tunanganmu. Sebenci apapun kau denganku, pada akhirnya, suatu hari nanti, aku ini akan menjadi istrimu." Kata Rue, ia sengaja menaikkan oktaf suaranya lebih tinggi, gadis itu bermaksud menyebar gosip yang sesungguhnya tidak benar.
Perkataan Rue itu sepertinya memang mampu didengar oleh siapapun, termasuk seorang gadis yang baru saja ingin datang ke gedung fakultas ekonomi dan bisnis untuk menemui seseorang yang sudah tiga hari ini tidak ia beri kabar.
Rose mengepalkan tangannya, ia merasa jantungnya berpacu sangat cepat, napasnya pun terasa sesak, seakan-akan udara sedang terjebak di dalam paru-parunya. Ia seperti seorang manusia yang lupa bagaimana caranya bernapas.
"Tunangan? Istri masa depannya? Jadi— aku ini hanya mainan untuknya?" Gumam Rose dengan mata yang telah berkaca-kaca.
Rose berbalik, ia mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Yuan, padahal pria itu kini telah ada di hadapannya, pria yang sangat ia rindukan selama tiga hari kemarin.
"Rose, akhirnya aku melihatmu setelah tiga hari kau menghilang tanpa kabar, kau kemana sa— " Ucap Nana yang baru saja datang karena melihat kerumunan itu, namun ketika baru sampai disana ia secara tidak sengaja langsung menyadari keberadaan Rose.
Nana berniat untuk menyapa teman baiknya itu. Tapi, tanpa Nana ketahui alasannya, Rose tiba-tiba pergi, membuat Nana harus menggantungkan kalimatnya karena bingung dengan sikap Rose.
"Dia menangis." Ucap Kai yang berdiri disamping Nana.
"Menangis? Tapi kenapa dia menangis?"
"Kau tidak lihat? Coba berbaliklah, dan lihat siapa orang yang ada di dalam kerumunan ini." Kata Kai sembari membalikkan badan Nana sehingga mata gadis itu menangkap sosok Yuan yang sedang bertengkar dengan Rue.
"Astaga." Pekik Nana. Ia kemudian melihat ke arah Rose yang tampak berlari semakin menjauh.
"Rose! Tunggu!" Teriak Nana, cukup keras, bahkan sampai membuat semua orang yang tadinya fokus dengan Yuan dan Rue, kini mereka menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Rose?" Gumam Yuan, ketika ia mendengar nama itu di sebut oleh sepupunya.
Tanpa peduli dengan teriakan ataupun ancaman dari Rue, Yuan segera berlari cepat mengikuti Nana yang juga berlari lebih dulu mengejar Rose.
"Rose! Berhenti." Panggil Nana, tapi gadis yang disebut namanya itu masih terus berlari tanpa arah.
"Rose." Panggil Yuan ketika ia telah menyalip Nana dan kini cukup dekat dengan Rose.
"Rose, kumohon berhenti."
Yuan meraih tangan Rose, ia berhasil menghentikan gadis itu walaupun Rose masih tampak meronta, meminta untuk di lepaskan tangannya.
"Lepas Yuan. Biarkan aku pergi saja." Pinta Rose dengan suara yang bergetar karena menangis.
Yuan menatapnya iba, hatinya merasa perih melihat kekasihnya itu menangis di hadapannya.
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu." Ucap Yuan lembut sembari merengkuh tubuh Rose ke dalam pelukannya.
Rose menangis semakin kencang di dalam pelukan Yuan, ia merasa hatinya semakin tidak karuan dengan sikap lembut pria itu, apalagi pelukan Yuan terasa hangat baginya.
"Kau pria yang sudah bertunangan, tidak pantas bagimu untuk memelukku." Ujar Rose dengan tubuh yang kembali meronta, membuat Yuan harus mempererat pelukannya.
"Kau salah paham, aku dan dia tidak bertunangan, percayalah padaku. Aku hanya milikmu, millikmu seorang." Kata Yuan.
"Apa aku bisa mempercayai perkataanmu itu?"
"Tentu saja, percayalah padaku." Ucap Yuan.
"Baiklah, aku percaya." Ujar Rose yang kini membalas pelukan hangat dari Yuan.
"Kenapa kau pergi tanpa kabar?" Tanya Yuan yang kini balik meminta penjelasan dari kekasihnya itu.
Rose diam sejenak, kemudian ia melepaskan pelukannya dari pria yang di cintainya itu.
"Kau pergi selama tiga hari tanpa kabar, apa kau tidak tahu bagaimana susahnya hatiku menahan rinduku padamu? Kenapa tidak membalas pesanku atau menjawab panggilanku? Aku khawatir padamu, bagaimana kondisi ibumu?" Tanya Yuan.
Rose menatap Yuan dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Dari semalam, Rose selalu merasa gelisah, ia takut kalau Yuan akan marah padanya karena ia tidak memberi kabar apapun pada pria itu selama tiga hari ini.
Tapi semua apa yang Rose pikirkan itu, tidaklah benar terjadi.
Rose sungguh terharu, alih-alih marah padanya, Yuan malah lebih terlihat khawatir, bahkan pria itu masih sempat bertanya tentang ibunya.
"Maaf, maaf karena tidak membalas pesanmu, maaf karena tidak mengangkat panggilanmu. Itu karena, karena aku harus mengurus pemakaman ibuku. Aku, ibuku— "
"Sssttt— sudahlah, tidak perlu kau lanjutkan lagi. Aku paham, aku mengerti, yang terpenting sekarang, kau telah kembali, bisa melihatmu lagi, itu sudah cukup untukku." Ujar Yuan yang kembali memeluk tubuh gadis itu.
"Mereka— apa mereka berdua benar-benar sepasang kekasih?!" Tanya Nana, ia sungguh terkejut dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya itu.
"Aku sama sekali tidak terkejut." Ucap Kai.
"Apa kau sejak awal sudah tahu tentang hubungan mereka?"
"Tidak, aku hanya menebaknya saja. Selama ini Yuan tidak pernah peduli dan juga tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain kau sebagai sepupunya. Tapi semenjak Rose masuk ke dalam hidupnya, dia itu seperti seorang laki-laki yang sesungguhnya." Ujar Kai.
"Maksudmu itu apa? Aku tidak mengerti."
"Apa kau tidak pernah berpikir negatif, Yuan dikelilingi banyak wanita cantik, kaya dan juga seksi, tapi dia sama sekali tidak tertarik dengan mereka, orang yang dengan pikiran negatif akan mengira kalau dia itu adalah gay. Siapa yang tahu, ternyata— "
"Ternyata kau itu orang yang berpikiran negatif ya?"
"Hei, bukan seperti itu maksudku." Sanggah Kai.
"Ck, iya iya terserahlah. Intinya sekarang, melihat mereka seperti itu, aku sangat senang."
"Jangan merasa senang dulu, mereka itu masih punya banyak rintangan yang harus dihadapi." Ujar Kai.
"Ah kau benar, salah satunya si penyihir bernama Rue itu. Dia benar-benar mengerikan, aku juga tidak bisa menendangnya jauh dari Yuan. Bagaimanapun juga keluarganya itu sangat berpengaruh, bahkan paman Ray pun cukup peduli dan terlihat mendukung Yuan untuk berhubungan dengan Rue." Kata Nana.
"Apa yang kau khawatirkan? Selama mereka berdua saling mencintai, pasti akan ada jalan bagi mereka untuk bersatu." Ucap Kai, ia kembali melihat ke arah Yuan dan Rose yang masih saling berpelukan.
"Begitu ya? Asalkan saling mencintai pasti bisa bersatu." Gumam Nana sembari menatap Kai dalam senyumannya.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1