
Tok. Tok. Tok
Rose mengetuk pintu kamar Yuan, meminta ijin untuk masuk.
“Siapa?” tanya Yuan.
“Itu, ini aku. Aku datang membawakan bubur untukmu. Boleh aku masuk?” kata Rose.
“Rose? Kau kah itu?”
“Iya, ini aku.” jawab Rose, yang terpaksa mengulangi perkataannya lagi.
“Masuklah.” ucap Yuan.
Setelah mendapatkan ijin masuk, Rose pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa semangkuk bubur dan satu botol air mineral.
“Kenapa harus ijin dulu. Kalau itu kau, tinggal masuk saja. Kamarku ini terbuka lebar untukmu. Kau ingin tinggal dan tidur disini pun sangat diperbolehkan.” ujar Yuan, ketika kekasihnya itu tampak masuk ke dalam kamarnya.
Rose tersenyum, senyum sinisnya. Setelah menutup kembali pintu kamar Yuan. Rose melangkahkan kakinya mendekati Yuan yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan selang infus melekat di tangan kirinya.
“Jangan sembarangan bicara. Aku mana mungkin tidur di dalam kamarmu.” ucap Rose.
“Sayang, kalau kau mau, kau boleh tidur disini.” kata Yuan dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, merayu.
“Ck, ya, boleh juga. Tapi dalam mimpimu.” ucap Rose, pelan.
Gadis itu kemudian meletakkan semangkuk bubur dan air mineral yang ia bawa tadi ke atas nakas.
Setelah Rose meletakkan semangkuk bubur dan satu botol air mineral yang dibawanya. Yuan kemudian terlihat menepuk-nepuk pinggir tempat tidurnya. “Ayo, duduk sini.” kata Yuan.
“Kemarilah Rose.” ucap Yuan.
Rose pun akhirnya menurut, ia duduk di pinggir ranjang, di sisi kiri Yuan. Rose duduk disana dengan tenang.
“Kau sudah makan?” tanya Yuan sembari meraih tangan Rose.
“Sudah, belum lama tadi, aku sudah makan bersama ibumu.” jawab Rose.
“Dimana ibuku? Apa dia tidak berniat ikut masuk bersamamu?” tanya Yuan, lagi.
“Bibi Ana ya. Tadi dia bilang ingin menemani nenekmu di halaman belakang. Dia menyuruhku untuk datang ke kamarmu sendirian, dan juga menyuruhku untuk membawakan bubur itu padamu. Bibi Ana bilang, aku harus memastikan kau memakan bubur itu. Setelah itu, minum obatmu.” ujar Rose.
Lupakan tentang bubur dan obat, aku tidak peduli itu, sekarang yang terpenting, apa mommy benar-benar memberikan kami ruang dan waktu untuk bersama?
Jika itu benar, aku akan sangat berterimakasih banyak pada mommy. Terimakasih mom!
“Jadi, ibuku tidak ikut denganmu? Maksudku, dia tidak akan datang kemari?” tanya Yuan.
“Eh, iya, benar.” jawab Rose.
“Baguslah.” ucap Yuan.
“Bagus apanya?” tanya Rose, tidak paham dengan maksud Yuan.
“Bagus, karena mommy-ku mau memberi kita waktu untuk berdua saja.” ujar Yuan.
“Oh.” ucap Rose.
“Hanya ‘oh’ saja tanggapanmu? Apa kau tidak senang berduaan denganku?” tanya Yuan.
Rose tersenyum, kemudian mengusap lembut tangan Yuan yang terpasang oleh jarum infus.
“Tentu saja aku senang. Sangat senang.” ujar Rose, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya. “Apa ini sakit?” tanya Rose sembari menatap tangan kiri Yuan yang terpasang selang infus.
Yuan tampak mengangguk, pria itu menganggukkan kepalanya dengan raut wajah seperti seorang bayi yang sedang bersedih.
“Sakit, sakit sekali. Tapi sewaktu kau mengusapnya lembut, tidak terasa sakit lagi. Jadi, kau harus mengusapnya terus sampai infus itu habis dan di lepas dari tanganku.” kata Yuan.
Rose tertawa kecil mendengar perkataan kekasihnya itu, ia merasa Yuan mulai masuk ke dalam mode manja dan super anehnya.
“Benarkah? Kau ingin aku mengusap tanganmu sampai infusnya habis?”
Yuan mengangguk,
“Iya.” katanya.
“Tidak mau.” ucap Rose sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Kau mau pergi kemana?” tanya Yuan dengan tangan yang tampak menahan Rose untuk pergi dari sisinya.
Mau tak mau, Rose pun kembali terduduk di pinggir ranjang Yuan.
“Aku hanya ingin mengambil bubur itu. Kau harus segera memakannya. Kalau nanti sudah dingin, rasanya akan tidak enak lagi. Jadi selagi masih hangat, kau harus memakannya.” ucap Rose.
Setelah mendengarkan perkataan dari Rose, Yuan pun melepaskan pegangan tangannya yang tadi sempat menahan Rose untuk berdiri.
“Ah, ya, baiklah.” ucap Yuan.
Rose pun kemudian melangkah sedikit ke arah nakas, lalu mengambil semangkuk bubur yang masih terasa hangat ketika disentuh.
“Ayo makanlah, ini sudah hangat, tidak terlalu panas lagi.” ujar Rose sembari menyodorkan mangkuk berisi bubur itu ke arah Yuan.
Sama seperti waktu itu, ketika Rose menyodorkan segelas air mineral. Yuan saat ini juga hanya diam. Tidak berniat menerima mangkuk berisi bubur yang Rose sodorkan ke arahnya.
“Yuan? Kenapa hanya diam saja? Ayo ambil buburnya dan makanlah. Tadi kau menceramahiku panjang lebar saat aku tidak mau makan. Tapi sekarang, kau sendiri yang tidak mau makan. Mau aku menceramahimu juga, baru kau mau makan?” tanya Rose dengan nada kesalnya.
Yuan menghela nafasnya, kemudian mendengus kesal.
“Apa kau lupa? Sudah pikun ya?! Kau tidak lihat tanganku sedang di pasang infus? Bagaimana bisa kau tega menyuruhku untuk makan sendiri. Suapi aku.” kata Yuan.
“Ck, kau manja sekali. Aku saja kalau sakit masih bisa makan sendiri, bahkan masak sendiri juga. Sedangkan dirimu ini, sudah di buatkan makanan oleh orang lain, masih juga meminta untuk di suap.” oceh Rose, tapi walaupun ia berkata seperti itu, tangan Rose tampak bergerak mengaduk bubur berwarna putih itu, lalu mulai menyendok nya dan menyuapkannya ke Yuan.
“Ayo buka mulutmu.” ucap Rose yang langsung dituruti oleh Yuan.
Pria itu terlihat membuka mulutnya dan mulai memakan bubur yang Rose suapkan padanya.
“Hambar.” ucap Yuan, ia ingin sekali memuntahkan bubur itu, tapi melihat Rose yang tampak menatapnya tajam, Yuan pun terpaksa menelan bubur itu perlahan.
“Apa kau yang membuatnya?” tanya Yuan, setelah susah payah berhasil menelan bubur yang terasa hambar di lidahnya.
“Kau ingin jawaban yang jujur atau manis?” tanya Rose sembari tersenyum ke arah Yuan, sebuah senyum yang seperti kotak pandora, penuh misteri.
“Manis.” ucap Yuan.
“Bukan aku yang membuatnya.” kata Rose, memberi jawaban dari pertanyaan Yuan sebelumnya.
“Ayo buka mulutmu, kau harus menghabiskannya.” sambungnya lagi.
“Apa kau tidak ingin mendengar jawaban jujur dariku?”
“Tentu saja, jadi kau yang membuatnya atau bukan?” tanya Yuan.
“Bukan aku. Itu pelayan dirumahmu yang membuatnya.” jawab Rose dengan tangan yang kembali menyodorkan satu sendok bubur ke arah Yuan.
“Jadi, jawabannya sama saja ya. Ck, kalau seperti itu kau tidak perlu memberiku pilihan untuk menjawabnya.” protes Yuan.
Rose hanya tersenyum menanggapinya.
“Bagaimanapun rasanya, kau harus memakannya. Bibi Ana bilang, bubur ini sudah di campur dengan resep tradisional. Jadi sangat bagus untuk peningkatan kekebalan tubuhmu. Kau bisa sembuh dengan cepat.” kata Rose.
“Resep tradisional? Pantas saja rasanya tidak enak.” ucap Yuan.
“Jangan menghina makanan yang sudah dibuat dengan susah payah oleh orang lain. Kau harus menghargai pelayanmu yang sudah membuatkan bubur ini untukmu. Jadi kau harus memakannya habis.” ujar Rose.
“Ck, kalau kau tahu bagaimana rasanya bubur ini, aku pastikan kau juga akan mengatakan hal yang sama sepertiku.” kata Yuan.
“Sudah jangan mengeluh lagi. Habiskan saja buburnya, setelah itu minum obatmu, lalu istirahat.” ucap Rose sembari menyuapi Yuan lagi.
•••
Aroma kopi yang begitu kental dan autentik tercium di kedai kopi yang sangat terkenal di ibu kota.
Suara dentingan dari cangkir kopi yang di letakkan kembali ke atas meja, memecahkan keheningan yang sejenak tercipta diantara kedua pria paruh baya itu.
“Aku tidak menyangka, ternyata kau masih memiliki selera yang pahit.” ucap ketua Barack kepada teman baiknya dalam bidang bisnis, dia Ray.
Ray tampak tersenyum samar, lalu mengusap pelan cangkir kopinya.
“Bukankah selera kita sama?” kata Ray yang dibalas tawa ringan oleh ketua Barack.
“Ya, tapi aku pikir, pahit bukan selera yang patut di banggakan.” ujar ketua Barack.
Ray kembali tersenyum, “Kau benar, kalau begitu, kenapa kita tidak mencoba menambahkan sedikit gula?” katanya.
“Sedikit gula? Kau tahu, walaupun hanya sedikit, itu bisa mengubah rasanya. Sama sepertimu, aku juga lebih menyukai rasa aslinya, walaupun pahit di lidah.” balas ketua Barack.
__ADS_1
“Ya, kopi yang memiliki rasa aslinya, walaupun pahit, tetap saja terasa melelehkan lidah. Tapi, tidak banyak orang menyadarinya.” ujar Ray.
“Kebanyakan orang berpikir, menambahkan gula, akan terasa lebih baik. Padahal itu malah membuat si kopi kehilangan rasa aslinya.”
Ray tersenyum lagi, “Kopi yang masih menonjolkan rasa aslinya, seperti memberitahu kita, kalau kopi selalu jujur dengan rasa pahitnya, dan membuat kita sadar bahwa yang manis tidak sepenuhnya berakhir indah.” ujar Ray.
“Ah iya, minum kopi seperti ini, mengingatkan aku pada anakmu, Rue. Waktu itu dia cukup sering menemani kita disini. Tapi sekarang aku sudah lama tidak melihatnya lagi. Bagaimana kabarnya?” sambungnya.
“Ah, anak itu sekarang sedang disibukkan dengan tugas praktek kerja lapangannya. Oh ya, aku dengar, Yuan sudah memasuki tahapan magang. Apa dia akan magang di perusahaan ayahnya sendiri?” tanya ketua Barack.
Sebelum menjawab, Ray tampak meraih cangkir kopinya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
“Ah, jadi memang sedang sibuk. Pantas saja aku jarang melihatnya lagi.” ucap Ray sembari menghela nafasnya. “Tentang Yuan, ya, dia memang magang di Tnp group. Mau bagaimana lagi, itu juga termasuk proses belajarnya sebelum ia masuk ke tahap sebagai pewaris tunggal perusahaan.” ujar Ray.
Ketua Barack tampak mengangguk sekilas,
“Kau beruntung.” ucapnya.
“Beruntung? Apanya yang beruntung?” tanya Ray, tak paham dengan ucapan lawan bicaranya itu.
“Kau beruntung, walaupun hanya punya satu anak, tapi sangat bisa di andalkan. Apalagi dia seorang laki-laki, sangat ideal menjadi pewaris perusahaanmu. Berbeda denganku. Walaupun aku punya dua anak, tapi mereka sama-sama masih kurang bisa aku andalkan.” kata ketua Barack.
Ray mengernyit, merasa heran, karena setahu dia, anak-anak ketua Barack itu bisa di andalkan. Mereka juga terlihat pintar-pintar semua.
“Apa yang salah dengan anak-anakmu. Aku melihat mereka juga berprestasi, dan cukup ideal menjadi pewaris perusahaan Jhoneq.” ujar Ray.
“Ray, terkadang apa yang orangtua harapkan tidak selalu sesuai dengan apa yang anaknya harapkan. Kau yang memiliki anak laki-laki penurut seperti Yuan, mana mungkin tahu apa yang aku hadapi dengan anak laki-lakiku, si Feng itu, dia sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis.” kata ketua Barack sembari menghela nafasnya pelan.
“Ah iya, Feng, dia lebih memilih terjun ke dunia hukum ya? Tapi apa masalahnya, soalan bisnis, sekalipun dia tidak mempelajarinya secara mendetail, asalkan dia dihadapkan dengan praktek langsung, suatu hari nanti dia bisa menjadi pebisnis sukses dan kuat dengan pengetahuan hukumnya. Bukankah itu luar biasa?” ujar Ray.
“Lalu, kau kan juga masih punya Rue yang tertarik dengan dunia bisnis.” sambungnya lagi.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Semua terlihat mudah dalam rencana, namun tidak dalam implementasinya. Feng, dia sangat kerasa kepala, bukan orang yang mudah di pengaruhi pola pikirnya. Kalau dia sudah membuat pilihan dan keputusan, sekalipun itu ibunya sendiri, tidak akan bisa mengubahnya. Sedangkan Rue, dia itu seorang perempuan, walaupun nantinya dia akan sangat sukses dalam dunia bisnis. Tapi seorang perempuan ketika sudah menikah akan ikut dengan suaminya. Kau tahu betapa khawatir-nya aku ketika memikirkan hal itu? Aku selalu merasa sangat khawatir pada anak perempuanku itu.” ujar ketua Barack.
Astaga apa memiliki anak perempuan sangat sulit? Waktu itu, Alex juga terlihat sangat khawatir karena Nana, anak perempuannya. Sekarang Barack pun juga sama. Hah, sepertinya, aku benar-benar harus bersyukur karena tidak memiliki anak perempuan. — batin Ray.
“Ray.” panggil ketua Barack.
“Ya?” ucap Ray sembari menyesap kopinya kembali.
“Tentang perjodohan anak-anak kita. Apa kau masih ingin membahasnya?” tanya ketua Barack.
Ray yang tadinya tampak rileks, setelah mendengar pertanyaan dari teman bisnisnya itu, ia kini berubah menjadi serius.
“Perjodohan? Maksudmu— Yuan dan Rue?” tanya Ray.
Ketua Barack tampak menganggukkan kepalanya, “Ya, tentu saja. Memangnya kita akan menjodohkan Feng dan Yuan? Itu tidak mungkin. Mereka sama-sama seorang pria.” kata ketua Barack dengan candaannya.
Ray pun menanggapinya dengan senyum lebarnya.
“Waktu itu kita pernah membahasnya. Tapi bahasan kita yang waktu itu masih terlihat seperti gurauan saja. Berbeda dengan sekarang. Aku ingin serius membahasnya denganmu. Bagaimana? Apa kau tidak masalah?” tanya ketua Barack.
Sejenak, Ray diam, namun kemudian menganggukkan kepalanya, “Ya, tidak masalah. Aku punya banyak waktu luang sampai pukul tujuh malah nanti untuk membahasnya.” kata Ray sembari melihat jam tangannya.
“Ck, pukul tujuh malam? Sekarang saja baru pukul dua siang, bagaimana mungkin kita akan membahas masalah ini selama itu. Kau pandai sekali membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu.” ujar ketua Barack, kembali melemparkan candaannya.
Dengan tawa ringannya, Ray menatap teman bisnisnya itu sesaat.
“Ya, baik, kita akan bahas sampai kita berdua merasa sudah cukup untuk membahasnya.” ujar Ray.
“Itu terdengar lebih baik. Jadi, apa kau bersedia menjodohkan anakmu dengan anakku. Kau tahu kan, Rue adalah satu-satunya anakku yang akan mewarisi perusahaan Jhoneq, karena Feng sama sekali tidak tertarik dengan perusahaanku. Jadi karena hal itu, tugasku sekarang adalah mencarikan Rue pasangan yang layak untuk mendampinginya mengelola perusahaan Jhoneq. Aku memilih Yuan, karena aku pikir dialah satu-satunya yang pantas. Dengan latar belakang mereka yang setara, bukankah kedua cocok?” kata ketua Barack.
“Dan lagi, kalau mereka benar-benar menikah, akan sangat bagus untuk kedua perusahaan. Jhoneq group ataupun Tnp group, keduanya akan semakin menguat. Seperti persatuan dua sekutu. Sangat sulit untuk di taklukan. Itu juga bagus untuk masa depan Yuan dan Rue, kelak anak-anak mereka berdua bisa menjadi pewaris yang luar biasa.” sambungnya lagi.
Ray tampak manggut-manggut, seolah setuju dengan apa yang di katakan oleh pria paruh baya di depannya itu.
“Ya, aku sepenuhnya setuju denganmu. Tapi masalah perjodohan ini, aku perlu mendiskusikannya dengan istriku. Karena Ana, istriku itu bukan tipe ibu yang suka mengekang kehendak anaknya.” ucap Ray.
“Aku harap nyonya besar Gavin setuju dengan rencana perjodohan ini.” kata ketua Barack.
“Em, benar. Aku juga berharap seperti itu. Ya, kau tenang saja, aku akan berusaha membujuknya dengan baik.” ujar Ray.
Tapi bagaimana caraku membujuk Ana? Waktu itu saja dia sangat tidak suka ketika aku memaksa Yuan untuk dekat dengan Rue. Aku harus mencari cara untuk membuatnya setuju.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1