The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Adu Keromantisan


__ADS_3

“Lihatlah dua orang ini. Kemanapun aku melihat kalian pasti selalu bersama, seperti orang yang sedang menjalin kasih saja.” ujar Julian, sampai berhenti melangkah ketika ia tidak sengaja melihat Kai dan Nana yang baru saja tiba di kampus.


Dua orang yang di maksud oleh Julian pun saling bertatapan satu sama lain, kemudian tersenyum dan tertawa kecil.


“Apa yang kalian tertawakan? Memangnya perkataanku ada yang lucu?” tanya Julian.


“Ck, kau itu terdengar seperti orang yang sedang iri hati. Kalau iri melihat mereka bermesraan di depanmu, lebih baik cepat cari pasangan sana.” sahut Kin yang sejak tadi memang sudah berdiri di sisi Julian.


“Cih, aku bukan orang sepertimu yang tidak bisa hidup tanpa wanita.” balas Julian.


“Selamat pagi semuanya.” sapa seorang pria, dia Yuan, ia tampak berjalan bergandengan tangan bersama Rose mendekati mereka.


“Yaa— sekarang satu pasangan yang sudah resmi pacaran akhirnya datang, mengalahkan kemesraan pasangan yang belum resmi pacaran.” ujar Julian.


“Kenapa setiap kami datang, aku pasti melihat kalian berempat berdiri disini. Kalian ini sedang bermaksud menungguku ya? Atau bermaksud melihat kemesraan kami?” tanya Yuan.


“Apa yang kau katakan. Terlalu percaya diri.” jawab Kin, pria itu biasanya hanya diam jika yang dibahas bukan perihal wanita. Tapi kali ini tiba-tiba angkat bicara.


Yuan tertawa kecil menanggapinya, lalu kemudian ketika ia sedang tertawa, tanpa sengaja pandangan matanya menangkap tangan Kai dan Nana yang saling bergandengan, sama seperti dirinya dan Rose.


Yuan pun mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan kedua orang beda jenis itu.


“Kalian berdua ini— apa kalian sedang berpacaran?” tanya Yuan sembari menunjuk ke arah tangan Kai dan Nana yang tampak masih saling mengait satu sama lain.


“Siapa yang kau maksud sedang berpacaran?” tanya Rose pada kekasihnya itu, Yuan.


“Lihat, coba kau lihat tangan Nana dan Kai itu.” jawab Yuan, sembari menolehkan kepala Rose ke arah dua orang yang dimaksud.


Rose membulatkan matanya, tidak terkejut, tapi cukup terperangah melihatnya.


“Itu, kalian, apa benar yang Yuan tanyakan tadi?” tanya Rose.


“Saudari ipar Rose, mereka itu memang selalu seperti itu. Terlihat bersama, tapi tanpa status. Sungguh menyedihkan.” sahut Kin.


Lalu, helaan nafas berat terdengar dari arah Kai, membuat semua orang langsung menoleh dan fokus padanya.


“Teman-temanku yang terhormat. Jadi, seperti ini, aku— aku dan Nana itu, kami sebenarnya— ”


“Memang sepasang kekasih.” kata Nana, membantu Kai untuk memberikan penjelasan kepada teman-teman mereka.


“Apa?! Kai, kau serius berpacaran dengan kucing liar seperti dia?! Ck, aku ingatkan padamu, kau tidak lama lagi bisa gila karenanya.” ujar Yuan, merasa sulit untuk mempercayainya.


“Sekarang pun aku sudah gila, aku tergila-gila padanya, setiap hari semakin mencintainya.” balas Kai, yang mampu membuat Julian, Kin, Rose dan bahkan Yuan pun  menganga, semakin tidak percaya dengan kenyataan ini.


“Kai~ kau ini, membuatku merona saja.” ujar Nana sembari memegang pipinya yang memang terasa memanas.


“Ck, menggelikan. Sejak kapan kau pandai berkata romantis seperti itu?” kata Yuan.


“Cih, katakan saja kalau kau itu iri karena tidak mampu bersikap romantis. Rose, pacarmu itu pasti sangat dingin dan kaku seperti sebatang pohon tua kan?” ujar Nana, membela Kai.


Rose menanggapinya dengan senyum canggung, ia bingung, harus berkata yang sebenarnya atau tidak.

__ADS_1


“Eng, sebenarnya, aku rasa— Yuan bukan pria dingin ataupun seseorang yang seperti sebatang pohon. Dia sangat romantis. Bahkan, tadi, pagi-pagi sekali dia datang ke apartemenku hanya karena ingin memasakkan sarapan untukku.” kata Rose.


“Dengar? Kalian dengarkan apa yang istriku ini katakan? Aku ini sangat romantis, tidak ada yang bisa mengalahkan keromantisanku.” ucap Yuan, yang mulai panjang hidung setelah Rose membelanya dan mampu membuat semua orang skakmat, tidak dapat berkata apa-apa lagi.


“Hei bro, memangnya kau itu bisa masak ya? Kita berempat bersama-sama selama bertahun-tahun, tapi tidak ada satupun dari kami melihatmu pernah memasak.” tanya Julian.


“Ck, memangnya kalau aku selama ini bisa masak harus bilang pada kalian? Lucu sekali.” jawab Yuan.


“Menyebalkan.” ucap Kin, tiba-tiba saja berkata seperti itu dengan raut wajah kesalnya.


“Ada apa denganmu?” tanya Julian yang berdiri disampingnya.


Kin menoleh ke arah Julian, kemudian menghela nafasnya kasar.


“Kau buta? Lihat empat orang di depan kita, mereka saling berpasangan dan bergandengan tangan, lalu, lihatlah kita berdua?”


“Kin, bukankah pacarmu banyak? Kau berkata seperti itu seolah kau ini sudah kehilangan para wanitamu.” sahut Kai.


“Pacarku memang banyak, sangat banyak. Tapi tidak ada yang membuatku seperti kalian berdua ini. Mereka hanya mainan, bukan kekasih sungguhan yang bisa menggangu hatiku.” kata Kin dengan raut wajah sedihnya.


“Astaga, abaikan saja kedua pasangan di depan kita itu. Jangan membuatmu iri.” ujar Julian.


“Siapa yang iri?! Sudahlah, aku pergi duluan.” ucap Kin yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.


Tapi, baru beberapa langkah ia berjalan, Kin tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap ke arah dua pasangan yang masih saling berpegangan tangan.


Kin menatap kedua pasangan itu secara bergantian, kemudian tersenyum, sebuah senyum tulus.


“Bagaimanapun juga, aku senang melihat kalian bahagia. Yuan, Kai, berjuanglah dengan hubungan kalian masing-masing, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalau butuh saran tentang masalah wanita, temui saja aku. Ingat, aku ini ahlinya.” ujar Kin sembari tersenyum lebar kepada dua sahabat karibnya itu.


“Hah— iya, kau benar, sekarang pun hatiku sudah menangis iri. Baiklah, Yuan, Kai, bersenang-senanglah kalian, aku dan Kin akan pergi, sampai jumpa.” ucap Julian yang kemudian melangkah mendekat ke arah Kin, mereka berdua pun pergi, pergi meninggalkan dua pasangan yang tampak tertawa kecil melihat mereka.


•••


“Ray, ayo bangun. Kau tidak biasanya bangun siang. Kau juga tidak demam, apa kau masih lelah? Tapi bukankah semalam aku sudah memijatmu dan kau bilang sudah merasa lebih baik.” ujar Ana sembari mengguncang pelan tubuh suaminya yang masih terbalut selimut tebal.


“Satu jam lagi, satu jam lagi aku akan bangun.” ucap Ray.


Mendengar ucapan suaminya itu, Ana refleks memukul pelan punggung Ray yang membelakanginya.


“Orang lain itu kalau membuat penawaran bangun tidur pasti ya satu menti lagi atau lima menit lagi, paling lama juga minta sepuluh menit. Sedangkan dirimu ini malah minta satu jam, dasar serakah. Ayo cepat bangun, tidak ada alasan bagimu untuk tidak bangun.” oceh Ana.


Ray mengeluh, ia menggeliatkan tubuhnya sesaat, namun kemudian kembali tertidur dengan tenang. Pria paruh baya itu sepertinya sungguh tidak rela beranjak dari tempat tidurnya.


“Ray!”


“Sayang~ jangan teriak-teriak, aku tidak tuli. Satu jam lagi okey, beri aku satu jam lagi. Setelah satu jam nanti, mataku ini pasti akan terbuka, juga tubuhku ini akan bergerak turun dari tempat tidur. Aku berjanji.” kata Ray.


Ana menghela nafasnya, ia sudah tidak sabar lagi dengan suaminya yang tiba-tiba menjadi super pemalas.


“Ayo cepat bangun, kau bilang ingin mengantarku pergi ke restoran, tapi kalau kau terus tidur seperti ini, aku bisa datang kesiangan.” ujar Ana.

__ADS_1


“Kau datang sore nanti juga tidak masalah, itu restoran kan juga milikmu, kenapa harus khawatir. Sayang, lebih baik kau ikut aku tidur lagi. Ayo kemari, aku akan memelukmu.” ucap Ray sembari membuka kedua tangannya lebar-lebar, memberi lampu hijau pada istrinya untuk datang ke dalam pelukannya.


Ana yang melihat tingkah suaminya itu, ia merasa sangat geram, Ana pun menepis tangan Ray yang tadinya terbuka lebar seperti hendak memeluknya.


“Ck, siapakah orang yang selama ini selalu memarahi anaknya karena bangun siang? Sekarang lihatlah orang itu, seperti menjilati ludahnya sendiri. Apa kau mau di bilang seperti itu? Kalau Yuan tahu, pasti dia sudah menyindirmu habis-habisan. Ayo cepat bangun, lalu mandi dan bersiap. Aku akan menunggumu di bawah.” ujar Ana yang kemudian langsung berdiri dari sisi tempat tidur.


Ana saat itu hendak pergi keluar kamar, tapi belum sempat ia menjauh dari sisi ranjang, tangan Ray bergerak meraih lengan Ana. Pria paruh baya itu tampak menahan istirnya untuk pergi.


“Iya iya, aku akan bangun. Tapi, bisakah kau bantu aku mandi?” pinta Ray dengan wajah polos tanpa dosa.


Ana menghembuskan nafasnya, seperti seseorang yang sedang mengembuskan asap rokok. Ana, dia sedang menghembuskan amarahnya dan juga rasa jengkel sekaligus gemasnya pada suaminya itu.


“Kau lupa diri ya?! Tidak tahu malu, sudah tua seperti ini masih saja bersikap seperti itu. Kau bisa mandi sendiri kan? Maka mandilah sendiri. Cepat, aku tidak punya banyak waktu, hari ini sebenarnya ada breafing pagi, tapi kau benar-benar mengacaukan jadwalku. Ah sudahlah, aku akan menunggumu di bawah, dalam hitungan dua puluh menit kau belum selesai bersiap, aku akan pergi ke restoran sendiri.” kata Ana yang kemudian pergi dari hadapan suaminya.


Melihat Ana yang sudah menjauh darinya, Ray langsung beranjak dari posisi tidurnya, kini ia duduk di atas ranjang, menatap istrinya yang telah melangkah mendekati pintu.


“Sayang~ ” panggil Ray, namun Ana tampak mengabaikan panggilannya. Wanita paruh baya itu terlihat telah memegang handle pintu, lalu membukanya dan kemudian keluar dari kamar.


Ray menghela napas pasrahnya ketika Ana telah menutup pintu kamar itu kembali, menyisakan Ray yang sudah bangun dan mulai bergegas mandi, lalu bersiap untuk pergi mengantarkan Ana ke restoran, setelah itu, ia juga harus pergi ke perusahaan untuk melihat perkembangan masalah yang baru-baru kemarin terjadi.


•••


Rose melepaskan genggaman tangan Yuan ketika mereka telah sampai di depan kelas mata kuliah pertama Rose untuk hari ini.


“Sekarang aku sudah sampai di depan kelas mata kuliah pertamaku, kau boleh pergi.” ucap Rose.


Gadis itu, jujur saja, ia merasa risih, bukan karena tidak nyaman berada di dekat Yuan, melainkan karena pandangan para mahasiswa dan mahasiswi yang menatap mereka seperti orang-orang yang penuh dengan tanda tanya di kepala.


Apalagi, Yuan sekarang memaksa untuk mengantarkan Rose sampai di depan kelas, tidak seperti dulu lagi, yang masih lebih baik, yaitu hanya sampai di depan gedung fakultas hukum.


“Apa kau sudah tidak suka padaku lagi? Wajahmu itu terlihat jelas sekali kalau kau tidak nyaman saat aku menggenggam tanganmu. Ada apa? Memangnya salah ya, kalau aku menggenggam tangan pacar sendiri?” tanya Yuan.


“Sssstt... pelankan suaramu, jangan berkata seperti itu dengan suara keras. Bagaimana kalau nanti ada yang mendengarnya? Bisa habis aku.” ujar Rose.


“Kau itu, apa yang kau takutkan? Kau punya aku. Selama ada aku disisimu, siapa yang berani menyakiti dirimu ini? Lagipula, kau itukan mahasiswa hukum, selama kau tidak pernah melakukan kesalahan, kau harus berani membela diri dengan hukum-hukum yang sudah melekat di dalam kepalamu ini.” kata Yuan sembari mengusap gemas kepala Rose.


“Astaga, pagi-pagi seperti ini, mataku sudah melihat sesuatu yang romantis, benar-benar membuat iri orang lain.” ujar Yana, ia datang dari dalam kelas yang hendak Rose masuki juga.


“Yana.”


“Ah maaf, karena sudah mengganggu keromantisan kalian. Tapi Rose, ayo segera ke ruang dosen penanggungjawab magang tahun ini. Kita harus melaporkan tempat magang yang kita pilih dan mengurus berkas-berkasnya.” kata Yana.


“Oh, kau benar, aku hampir lupa kalau hari ini kita harus mulai mengurus masalah magang.” ujar Rose.


“Ayo cepat, Feng juga sudah menunggu di sana.” kata Yana.


Yuan yang mendengar nama rivalnya disebut, ia langsung mengubah raut wajahnya, menatap Rose dengan ekspresi meminta penjelasan. Apalagi, perkataan Yana itu secara tidak langsung memberitahu Yuan kalau Rose dan Feng akan magang di tempat yang sama.


Walau Yuan masih mencoba berpikir positif, tapi ia tetap ingin Rose mengatakan sesuatu tentang hal yang menggangu hatinya itu.


“Aku tahu kalian akan magang di tempat yang sama. Tapi tadi kau— Yana, kau menyebut nama Feng. Apakah dia juga magang di tempat yang sama seperti kalian?” tanya Yuan.

__ADS_1


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2