
Disela-sela obrolan keempat orang tersebut, tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar Yuan yang terbuka.
Keempat pria dan wanita muda itu pun menoleh, melihat siapa yang telah membuka pintu kamar tersebut.
“Apa aku mengganggu obrolan kalian?” tanya seorang wanita paruh baya, Ana.
“Mom, kenapa masuk lagi? Dad mana?” tanya Yuan.
Ana tampak tersenyum, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar putranya itu dengan membawa nampan berisi minuman dan juga camilan.
“Daddy-mu sudah pergi bekerja lagi. Seperti yang mom bilang, dia itu selalu saja mementingkan urusan perusahaan daripada anaknya sendiri.” kata Ana sembari meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas dekat tempat tidur Yuan.
“Ah, ayo diminum, bibi tidak tahu kesukaan kalian apa, jadi cuma kasih kalian cola dan juga camilan ini. Oh iya, kalian sudah makan apa belum?” tanya Ana.
“Aku dan Kai sudah makan siang bi, tapi tidak tahu dengan Rose, dia itu sejak pagi tadi kelihatannya hanya menyibukkan dirinya mencari Yuan kesana-kemari.” ucap Nana sembari tersenyum menyeringai ke arah Rose yang tampak tertunduk malu.
“Oh? Rose, benarkah? Kau mencari Yuan sampai belum makan siang? Ya ampun, kasihan sekali. Kalau tahu seperti itu, bibi tadi akan memberitahumu dari awal kalau Yuan tidak masuk kuliah karena sakit.” ujar Ana, dengan raut wajah menyesalnya.
“Eh, tidak apa-apa bibi Ana. Lagipula, setidaknya, saya sudah sarapan pagi tadi. Jadi perutku ini tidak benar-benar kosong. Bibi Ana tidak perlu khawatir.” ucap Rose.
“Sarapan dan makan siang itu beda. Kecuali kalau dirimu itu memang tidak terbiasa makan di waktu siang. Tapi selama ini, aku tahu kalau kau makan di waktu siang. Jadi itu artinya bukan tidak apa-apa, tapi memang perlu di khawatirkan. Kau baru saja melewatkan makan siangmu, bagaimana bisa kau berkata seolah itu akan baik-baik saja. Tidak, tidak bisa. Kau harus makan sekarang, walaupun sudah terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” kata Yuan.
Ana tersenyum, tawa kecil pun juga tampak menghiasi wajahnya. Ia sungguh tidak percaya jika Yuan, anaknya itu pandai sekali menjiplak ayahnya. Sangat mirip dengan Ray yang selalu bersikap posesif padanya.
“Rose, dengar apa yang suami itu katakan. Lihat, dia sudah mengeluarkan argumennya. Kalau dia sudah berkata seperti itu, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk memprotesnya. Kau harus tahu itu, dan juga, kelak kau harus mengingatnya, agar dia tidak marah dan akan bersikap sangat kekanak-kanakan.” kata Ana.
“Eng, jadi saya hanya bisa menjawab iya? Dan tidak boleh berkata tidak?” Tanya Rose.
“Ya, kurang lebih seperti itu.” ucap Ana dengan tawa tertahannya.
“Mom, apa yang sedang coba mommy katakan padanya? Jangan meracuninya dengan perkataan mommy itu.” protes Yuan.
“Astaga, siapa yang mencoba untuk meracuni menantu sendiri. Mommy-mu ini hanya sedang membantumu agar dia bisa memahami bahasamu itu. Kau itu kalau berbicara sama seperti daddymu. Sangat sulit untuk kami para wanita memahaminya.” ujar Ana.
“Terserah mommy saja. Pokoknya— ”
“Yuan, jangan membantah perkataan orangtua. Dia itu ibumu, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu padanya?” ucap Rose yang tampak tidak suka dengan sikap Yuan pada ibu pria itu.
Ana pun tersenyum lebar, senyum yang membuat Yuan merasa agak kesal melihatnya. Tapi kemudian, Yuan menghela nafasnya, tidak dapat berkata-kata lagi.
“Dengar apa yang pacarmu itu katakan. Rose, kau sepertinya harus banyak-banyak memberinya asupan nasihat, agar anak ini bisa mengerti bagaimana caranya bersikap dengan baik pada ibunya.” ujar Ana.
“Benar itu apa yang bibi Ana katakan. Yuan, kedepannya kau harus banyak mendengarkan nasihat dari Rose. Sikapmu itu sangat-sangat butuh untuk disiplinkan.” sahut Nana.
“Kalian berdua, benar-benar.” gumam Yuan yang terlihat kesal dengan persekutuan ibu dan sepupunya itu.
“Ah sudah sudah, sekarang, ayo Rose kita pergi ke dapur. Kau bisa makan siang disana. Nana dengan Kai juga ikut ya.” ucap Ana.
“Bibi, sebenarnya— aku dan Kai sudah harus pergi pulang. Kami masih ada urusan lain soal magang. Jadi maaf ya bi, kami tidak bisa tinggal lebih lama lagi disini, apalagi ikut makan bersama, kami sungguh tidak bisa. Maaf bibi Ana.” kata Nana.
“Begitu ya. Sayang sekali. Tapi Nana, kau itu sekarang jarang sekali datang berkunjung kemari. Nanti malam berjanjilah pada bibi kalau kau akan datang untuk makan malam bersama. Apa kau tidak ingin makan bersama papa-mu dan juga nenekmu?” ujar Ana.
Nana pun tersenyum tipis,
“Aku tidak bisa berjanji bi, tapi aku akan mengusahakannya, akan aku usahakan untuk datang.” jawab Nana.
“Baiklah kalau memang seperti itu. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Semoga saja lain kali kau bisa berjanji pada bibimu ini.” ucap Ana.
“Em, tentu. Kalau begitu, Nana dan juga Kai pamit undur diri. Sampai jumpa bibi Ana, Rose dan kau bocah, semoga cepat sembuh untukmu.” ujar Nana yang berpamitan untuk pergi lebih dulu.
“Kami pamit bibi Ana, Rose, dan Yuan, semoga kau lekas sembuh dan kita berempat bisa berkumpul kembali.” ucap Kai.
“Ya, tentu saja. Aku pasti akan cepat sembuh. Percayalah.” kata Yuan yang ditanggapi dengan senyuman oleh semua orang.
“Eh itu. Nana, Kai. Aku, aku— kalau begitu, aku ikut pulang bersama kalian saja.” ujar Rose.
“Tidak.” satu kata itu bukan hanya di ucapkan oleh satu orang saja, melainkan keempat orang yang ada di kamar tersebut.
Yuan, Ana, Nana, dan bahkan Kai pun juga ikut mengucap satu kata penolakan itu.
“Apa yang sedang kau coba pikirkan?! Kenapa terburu-buru ingin pulang hah?! Tidak suka ya melihatku lama-lama?!” tanya Yuan dengan nada memprotesnya.
“Bukan seperti itu. Hanya saja— tadi aku datang kemari bersama mereka. Jadi, kalau mereka pulang, sudah seharusnya aku ikut pulang kan?”
“Ck, kau pikir dirimu ini anak bebek ya?! Yang selalu mengekori dan mengikuti kemanapun induknya pergi?! Kau memang datang bersama mereka, tapi bukan berarti kau bisa pulang cepat bersama mereka. Pokoknya tidak boleh pulang cepat.” ujar Yuan.
__ADS_1
“Eh, itu, tapi— ”
“Tidak boleh ada alasan, protes atau bahkan keluhan.” sela Yuan membuat Rose langsung diam seketika.
“Rose, apa yang Yuan katakan barusan ada benarnya. Kau lebih baik pulang nanti saja, urus dulu bayi besarmu ini. Setidaknya sampai matahari hampir terbenam, baru kau boleh pulang.” ujar Ana, yang tidak biasanya membela Yuan dihadapan Rose seperti saat ini.
“Rose, kau jangan takut, juga jangan canggung seperti itu. Lagipula, bukankah suatu saat nanti kau juga akan tinggal disini. Jadi, biasakan dari sekarang. Kau itu harus belajar percaya diri, jangan merasa rendah diri dan malu seperti itu.” sahut Nana.
“I—iya, baik.” ucap Rose yang hanya bisa pasrah dengan situasi saat ini.
“Bagus. Kau tenang saja, nanti kalau kau ingin pulang, langsung katakan padaku. Kalau kau merasa sungkan, katakan saja pada Yuan, biar nanti Yuan suruh sopir pribadi untuk mengantarmu pulang.” kata Ana.
“Iya bibi Ana.” jawab Rose, sopan.
Ana pun tersenyum hangat, merasa senang mendengarnya.
“Ah, kalau begitu kami permisi. Bye bibi, bye Rose.” ucap Nana yang kemudian melenggang pergi bersama Kai.
Setelah Nana dan Kai pergi, lalu pintu kamar tampak tertutup kembali. Yuan pun menoleh ke arah Rose yang tampak diam.
“Kau makanlah dulu bersama ibuku, setelah itu baru datang ke kamarku lagi.” ujar Yuan.
“Oh iya, hampir lupa, ayo ikut bibi ke ruang makan. Kau harus makan dulu, karena kalau kau tidak makan dan jatuh sakit. Siapa yang akan membantu bibi mengurus bayi besar ini?” kata Ana.
“Mommy, siapa yang mommy maksud bayi besar itu?” tanya Yuan dengan nada kesalnya.
“Memangnya siapa lagi? Tentu saja dirimu. Sudah, ayo Rose, mari ikut bibi. Abaikan saja dia untuk sementara ini, setelah kau makan, baru bantu bibi mengurusnya.” ucap Ana sembari menarik lengan Rose lembut.
“Mommy, aku ini bukan bayi besar. Apa mommy tidak bisa melihatku dengan baik? Mom, mommy jangan membuatku malu di depan pacarku sendiri. Mom.” teriak Yuan yang hanya di abaikan oleh sang ibu. Karena Ana dan Rose, dua wanita berbeda usia itu tampak telah keluar dari dalam kamarnya.
•••
Ditengah kesibukan Alex, pintu ruangan nya terdengar dibuka oleh seseorang.
Aldo, sekertaris Alex, ia tampak masuk ke dalam ruangan itu bersama seseorang yang tak lain adalah Yohan.
“Presdir Alex. Wakil presdir Yohan datang ingin bertemu.” ujar Aldo dengan nada penuh hormatnya.
Mendengar nama itu disebut oleh Aldo, Alex pun mengalihkan fokusnya dari berkas-berkas yang sedang ia baca. Lalu ia menatap ke arah Aldo dan juga Yohan yang tampak berdiri di belakang sekertarisnya itu.
“Aldo, kau boleh pergi.” ucap Alex sembari meletakkan bolpoin-nya ke atas meja.
Setelah melihat Aldo keluar dari ruangan, dan pintu ruangan itu tertutup kembali. Alex pun mulai beranjak dari kursi singgasana-nya menuju ke arah Yohan yang masih diam berdiri di dekat sofa ruangan tersebut.
“Duduklah.” ucap Alex.
“Ya, terimakasih.” balas Yohan yang kemudian duduk disalah satu sofa tersebut.
Setelah Yohan duduk, Alex juga ikut duduk didekat pria paruh baya itu.
“Ada perlu apa kau sampai datang ke ruanganku? Apa yang ingin kau katakan dan kau bahas denganku? Apa ini soal Nana?” tanya Alex.
“Yang ingin aku bahas bukan masalah tentang Nana.” jawab Yohan.
Alex pun mengernyit, ia penasaran.
“Lalu?” tanyanya.
“Aku datang kemari untuk menanyakan sesuatu hal padamu secara langsung.”
“Oh ya? Apa itu?”
Sebelum menjawab pertanyaan dari Alex itu, Yohan terlihat menahan nafasnya sejenak, lalu mengehembuskannya perlahan.
“Ini tentang masalah perusahaan. Masalah penggelapan dana proyek baru yaitu proyek rencana pembangunan wahana eksklusif di dekat taman kota.” kata Yohan.
“Aaa— masalah itu, aku sudah tahu soal itu. Lagipula, kasus itu sudah lama terjadi, kenapa kau baru datang menemuiku sekarang? Kenapa baru ingin membahasnya denganku? Apa ada sesuatu yang lain, yang ingin kau bahas dari masalah itu?” ujar Alex.
“Sebenarnya, bukan masalah penggelapan dananya yang ingin aku bahas. Tapi masalah orang yang menggelapkan dana tersebut.” kata Yohan.
“Oh, Hans maksudmu? Sekarang dia sudah di kantor polisi, juga masih dalam proses untuk sidang terakhirnya.” ucap Alex.
Yohan menghela nafasnya, merasa bingung, bagaimana ia akan mengatakan hal yang sesungguhnya ingin ia katakan pada Alex. Karena sejujurnya, sejak tadi mereka itu hanya bertele-tele dengan membahas hal-hal yang tidak penting.
“Alex, bisakah kau dengarkan aku dahulu? Biarkan aku berbicara dengan jelas. Lalu setelah itu baru kau yang berbicara.” kata Yohan.
__ADS_1
“Ck, jadi maksdumu, aku ini dari tadi selalu memotong perkataanmu begitu? Cih.”
“Bukan seperti itu, tapi bisakah kita serius sebentar saja? Aku ingin membahas hal yang menjadikan kredibelitas nama baikku tercoreng, tidak bisakah kita serius sedikit membahasnya. Ini sangat penting untukku” ujar Yohan yang seketika membuat Alex membelalakkan matanya.
Jadi dia sudah tahu tentang Hans yang menyeret namanya dalam masalah penggelapan dana proyek baru? — batin Alex.
“Itu, kalau begitu katakan saja langsung.” ucap Alex.
“Apa benar pria bernama Hans itu mengatakan kalau aku yang menyuruhnya melakukan pembelaan dengan memberinya dokumen-dokumen berisi bukti palsu?” tanya Yohan.
Alex mengangguk,
“Ya, itu benar. Tapi kau tenang saja, itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Jangan terlalu dipedulikan.” ucap Alex.
“Jangan dipedulikan? Bagaimana aku tidak peduli? Itu menyangkut sebuah kepercayaan. Alex, apa kau percaya padaku?” tanya Yohan.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Yohan, Alex pun tertawa ringan.
“Tentu saja aku percaya padamu, bagaimana mungkin aku tidak percaya padamu, sedangkan kau telah lama mengabdi pada kak Ray dan juga perusahaan Tnp group ini. Hanya karena perkataan bohong seperti itu, bagaimana bisa rasa percayaku padamu yang telah lama singgah di hatiku ini goyah begitu saja? Kau itu, sudah aku bilang, jangan terlalu memikirkannya.” kata Alex sembari menepuk bahu Yohan yang cukup dekat dengan jangkauan tangannya.
“Bagaimana kalau memang aku yang menyuruhnya melakukan hal tersebut?”
Alex yang tadinya sedang tersenyum lebar, kini senyuman-nya pun luntur seperti make up non-waterproof yang terkena air hujan. Seketika wajah Alex berubah datar.
“Kau jangan sembarang bicara wakil presdir Yohan.” ucap Alex, tanpa ekspresi.
“Lalu, bagaimana jika aku mengatakan kalau aku bukan orang yang menyuruhnya untuk melakukan hal tersebut?” sambung Yohan, ia tadi memang sengaja menggantungkan kalimatnya untuk mengetahui apa jawaban yang akan Alex lontarkan.
Alex menghela nafasnya kasar, kemudian tampak melonggarkan dasinya yang terasa mencekat lehernya.
“Aku percaya padamu. Apapun yang terjadi, sekalipun kau berkata ‘aku yang melakukannya’, aku akan tetap percaya padamu. Karena aku tahu kau tidak akan melakukan hal tersebut, kau tidak mungkin ingin menghancurkan perusahaan ini. Lagipula, kak Ray juga seratus persen percaya padamu, seperti dia yang telah mempercayakan ginjalnya padamu.” kata Alex.
“Ck, kenapa kau menyinggung tentang ginjal ketua Ray yang singgah di tubuhku?”
“Aku hanya ingin saja. Sudahlah, masalah ini, kau tidak perlu memikirkannya.” kata Alex.
“Tidak perlu? Lalu kau akan memikirkannya seorang diri? Aku ini sebagai wakil presdir sudah menjadi tugas utamaku untuk membantu presdir. Apa kau ingin aku mengabaikan tugasku?” ujar Yohan.
“Ya ya terserah kau saja. Sekarang, kau pergilah, aku sibuk, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” kata Alex sembari berdiri dari sofa yang didudukinya, kemudian melangkah menuju kursi kerjanya.
“Alex, biarkan aku ikut masuk ke dalam investigasi rahasiamu. Aku tahu kau sedang melakukan investigasi secara diam-diam tentang masalah penggelapan dana itu. Jika kau memang percaya padaku, biarkan aku ikut masuk dan bergabung denganmu.” ujar Yohan yang seketika membuat Alex menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yohan.
Apa yang sebenarnya dia pikirkan? — batin Alex.
“Ya, kau boleh bergabung.” ucap Alex, pada akhirnya dia setuju.
•••
Rose terlihat memakan suapan terakhir dari piringnya. Gadis itu kemudian menatap seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari sang kekasih.
“Sudah habis?” tanya Ana sembari melihat ke arah piring makan Rose yang sudah bersih tidak menyisakan makanan. “Bagus.” ucap Ana.
Kemudian, Rose tampak turun dari kursi makan, ia hendak membawa piring kotor itu dan mencucinya.
“Rose, kau tidak perlu mencucinya, tinggalkan saja di atas meja ini, nanti juga ada pelayan yang akan merapikannya.” ucap Ana.
“Tapi, aku— ”
“Sudah, tidak perlu sungkan. Ah iya, tadi bibi sudah menyuruh pelayan membuatkan bubur untuk Yuan. Kau tolong bawakan ke kamar Yuan ya. Nanti kalau Yuan tanya itu bubur buatan siapa, kau cukup katakan kalau bubur itu buatanmu, okey?”
Rose tampak tersenyum canggung,
“Bibi Ana, bukannya aku ingin menolak perintah dari bibi barusan. Tapi, Yuan pasti tidak akan percaya jika aku mengatakan kalau itu bubur buatanku.” kata Rose.
“Eh, kenapa bisa begitu?” tanya Ana.
“Masalahnya, aku sangat sering memasak untuk Yuan. Jadi aku rasa dia sangat hapal masakanku. Dia itu pandai sekali dalam menilai rasa makanan. Karena itu, kalau aku berkata itu bubur buatanku, dia pasti akan tahu kalau aku membohonginya.” ujar Rose.
“Ah begitu ya. Mau bagaimana lagi, kalau begitu katakan saja yang sejujurnya. Tapi bibi yakin dia akan sedikit merasa kecewa karena bukan kau yang membuatnya. Karena itu tadi bibi menyuruhmu untuk berbohong.” kata Ana.
“Maaf.”
“Sudah, tidak perlu meminta maaf. Ayo sekarang, bawa bubur itu ke kamar Yuan, dan kau tolong rawat Yuan ya. Bibi serahkan bayi besar yang sedang sakit itu padamu.” ucap Ana.
“I—iya, baik bibi.” jawab Rose.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍