The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Bagaimana Cara Bersikap Romantis (bagian satu)


__ADS_3

Rue berjalan bersama sang ayah, mereka berdua tampak berjalan bersama keluar dari rumah.


"Aneh, kenapa sudah hampir pukul delapan, Yuan belum datang menjemputmu?" Tanya ketua Barack.


Rue diam, ia sendiri sudah menebaknya, Yuan pasti tidak akan datang setelah kejadian kemarin.


"Rue, apa kau yakin tidak ada masalah? Ketua Ray juga tidak berkata apapun padaku kalau Yuan tidak akan datang menjemputmu hari ini, atau apa dia sedang terjebak macet?" Tanya ketua Barack, lagi.


"Ah ayah, kau terlalu banyak berpikir. Aku akan menunggunya sebentar lagi. Ayah pergilah ke perusahaan, bukankah tadi ayah bilang ada rapat pagi dengan para direksi?" Ujar Rue.


"Ayah akan pergi setelah Yuan datang menjemputmu. Apa ayah perlu menghubungi ketua Ray untuk menanyakan-nya?" Kata ketua Barack.


"Tidak perlu ayah. Bukankah tadi aku sudah bilang, biarkan aku menunggunya disini. Ayah berangkatlah ke perusahaan. Jangan khawatirkan aku." Bujuk Rue, berharap sang ayah mau menuruti perkataannya.


Ketua Barack terlihat menghela nafasnya, sejenak ia menatap wajah putrinya, mengusap lembut kepala sang putri dengan senyum mengembang hangat di wajahnya.


"Iya baiklah, ayah akan pergi lebih dulu. Tapi, kau kalau ada apa-apa jangan lupa untuk menghubungi ayah." Kata ketua Barack, menatap putrinya ragu, ragu untuk meninggalkannya.


Sesungguhnya ada sedikit hal yang membuat hatinya merasa tidak nyaman, dirinya itu seperti tahu kalau Yuan tidak akan datang menjemput putrinya. Tapi kalau Rue sudah berkata seperti tadi, ia bisa apa, hanya bisa menurutinya saja.


"Iya ayah." Jawab Rue.


"Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa nanti." Kata ketua Barack. Setelah itu, ia berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di depan rumah mereka.


Di dalam mobil tersebut sudah ada seorang sopir pribadi yang sejak tadi duduk diam menunggu majikannya masuk dan memberinya perintah untuk mengemudikannya.


"Kau harus ingat, jangan lupa hubungi ayah jika terjadi sesuatu." Ucap ketua Barack ketika mobil yang di tumpanginya mulai melaju perlahan keluar dari pekarangan rumahnya.


Rue tersenyum,


"Iya ayah!" Balas Rue dengan nada yang sedikit tinggi agar sang ayah mampu mendengarnya.


Tidak lama setelah mobil ketua Barack pergi menjauh. Tampak mobil lain berhenti di depan Rue. Lalu kemudian, kaca mobil itu terbuka, menampilkan sosok pria dengan wajah tanpa ekspresinya. Itu bukan Yuan, melainkan Feng.


"Masuk." Perintah pria itu, kakak kandung Rue, Feng.


"Tidak, kakak tidak perlu memberiku tumpangan. Pergilah, aku akan menunggu Yuan disini." Kata Rue, sepertinya gadis itu memang terlalu keras kepala, bahkan terhadap dirinya sendiri.


Rue tahu kalau Yuan tidak akan datang menjemputnya, tapi entah kenapa hatinya terlalu keras untuk menerima kenyataan itu.


Tubuhnya pun seperti telah ter-setting kalau ia tidak akan bergerak dari posisinya sampai Yuan datang.


"Jangan bodoh, kau sendiri tahu kalau dia tidak akan datang. Kau mau sampai kapan berdiri di sana? Ayo cepat masuk, jangan menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang." Ujar Feng.


"Terserah apa yang kakak katakan, aku tetap akan menunggu Yuan." Ucap Rue, semakin keras kepala.


Feng menghela nafasnya, merasa geram dengan sikap adiknya itu, adiknya itu benar-benar berubah menjadi bodoh hanya karena pria seperti Yuan,


"Aku ini sudah berbaik hati ingin memberimu tumpangan, jadi terimalah dengan baik. Jangan keras kepala." Kata Feng.


"Aku bilang tidak ya tidak. Kakak kalau ingin pergi lebih dulu ya pergi saja. Aku tidak meminta kakak Feng untuk memberiku tumpangan." Ujar Rue sembari melipat tangannya didepan dada.


"Rue, kau mau sampai kapan bersikap bodoh seperti itu? Hanya karena pria seperti dia, kemana Rue yang dulu aku kenal? Kenapa kau berubah menjadi gadis yang tidak tahu malu dan juga bodoh? Cepat hentikan tindakanmu itu, ayo masuk ke dalam mobil. Kakak sudah hampir terlambat, tidak punya banyak waktu hanya untuk mengurusimu saja." Kata Feng.


Rue mendengus, mengalihkan perhatiannya pada sebuah arloji berwarna peach yang melekat indah di tangan kanannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh enam menit. Hanya tinggal beberapa menit lagi mata kuliah pertamanya akan segera dimulai.


"Ayo, masuklah. Kakak hitung sampai lima, kalau kau tidak masuk juga, maafkan kakak yang terpaksa harus meninggalkanmu." Ancam Feng.


"Satu."


Tidak ada respon apapun dari Rue, gadis itu setelah melihat jam tangannya pun masih tampak tak peduli dan tidak bergerak sama sekali.


"Dua."


Pada hitungan kedua, sama seperti sebelumnya, Rue masih diam di tempatnya, hanya saja kali ini raut wajahnya tampak sedikit ragu.


"Tiga."


Di hitungan ketiga ini, Rue terlihat telah menentukan pilihannya, tapi masih enggan untuk bergerak masuk ke dalam mobil kakaknya.


"Empat. Satu detik lagi kau tidak cepat masuk ke dalam mobil, aku benar-benar akan meninggalkanmu." Ucap Feng yang mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Lima."


Hitungan terakhir, tapi Rue masih diam, tidak bergerak.


"Okey, kau sendiri yang memilihnya. Aku pergi." Ujar Feng.


"Eh tunggu, tunggu dulu. Iya, aku ikut kakak." Kata Rue yang langsung bergerak cepat menghadang mobil kakaknya itu.


Feng menghembuskan nafasnya, dengan sabar menunggu adiknya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


•••


Yuan mematikan mesin mobilnya setelah ia memarkirkannya di halaman parkir kampus.


Pria itu kemudian melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh pada Rose yang duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat sudah melepaskan seatbelt-nya sendiri.


Yuan mendengus kesal melihatnya, padahal dirinya itu berharap akan ada adegan romantis dimana pasangan pria membantu pasangan wanitanya melepas seatbelt. Tapi Rose sama sekali tidak peka.


"Kenapa diam saja? Apa kau ingin tetap berada di dalam mobil terus? Tidak ingin keluar?" Tanya Rose sembari menggerakkan tangannya, ingin membuka pintu mobil.


"Kau ini payah sekali, bisa tidak bersikap romantis sedikit saja?" Ujar Yuan.


Rose menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu mobil, ia menoleh pada Yuan yang menatapnya kesal.


"Kau ini kenapa? Wajahmu itu terlihat jelek sekali kalau marah." Kata Rose yang semakin membuat wajah Yuan tertekuk kesal.


"Cih, pergi sana. Aku marah." Ujar Yuan dengan wajah yang langsung beralih pandang dari Rose.


"Hei, jangan seperti anak kecil. Katakan apa yang membuatmu marah?" Tanya Rose.


"Kalaupun aku mengatakannya, apa kau akan mengerti? Dan lagi, apa kau juga akan mengabulkannya?" Yuan balik bertanya, tapi kepalanya itu sama sekali tidak ingin menoleh pada Rose.


"Aku tidak yakin, tergantung apa yang kau minta, selama aku bisa mengabulkannya, akan aku kabulkan." Jawab Rose.


"Ck. Sudah, lupakan saja. Anggap saja aku sedang bercanda." Kata Yuan.


"Yuan, kau ini kenapa? Marah kenapa? Apa tentang yang kemarin? Aku dan paman-mu sungguh tidak ada hubungan apa-apa. Lagipula, kemarin pamanmu sendiri sudah menjelaskannya." Ujar Rose, gadis itu menahan lengan Yuan ketika kekasihnya itu hendak keluar dari dalam mobil.


"Oh, kau membahasnya lagi, malah semakin membuat kekesalanku bertambah." Ucap Yuan.


"Eh? Jadi kau marah bukan karena hal itu? Lalu apa? Bisa tidak katakan saja langsung padaku?" Ujar Rose.


"Kau itu yang bisa tidak bersikap romantis sedikit padaku?"


"Ha?" Jawab Rose dengan ekspresi polosnya.


"Ha? Hanya itu jawabanmu? Lihat, kau itu memang sangat menyebalkan." Ucap Yuan, kemudian ia membuka pintu mobil itu.


"Eh tunggu dulu. Selesaikan dulu masalah kita." Kata Rose sembari menarik lengan Yuan dan menutup kembali pintu mobil yang sempat Yuan buka.


"Rose— "


"Katakan padaku, aku harus bagaimana agar kau tidak marah lagi?" Tanya Rose, menatap Yuan dengan mata polosnya, membuat sang pria merasa terhipnotis melihatnya, Yuan pun sampai terlihat menutup matanya sejenak, berharap pikiran negatifnya lenyap.


"Rose— "


"Aku tidak menjamin kalau kau akan baik-baik saja jika kau tidak membiarkan ku keluar dari dalam mobil ini." Ujar Yuan sengaja menyela perkataan gadisnya itu


"Eh? Apa maksudmu?" Tanya Rose, tak paham.


Yuan mengusap wajahnya kasar, menghembuskan nafas beratnya sesaat, lalu kembali menatap Rose yang masih saja memberinya tatapan polos.


Masalahnya dalam penglihatan Yuan, Rose itu sedang menatapnya dengan tatapan puppy eyes, yang mampu membuat Yuan merasa ada gejolak aneh di hatinya.


"Bahkan dalam situasi seperti ini, kau juga tidak mengerti. Lepaskan tanganmu, aku sedang tidak marah, tapi memohon padamu." Kata Yuan.


Rose merasa aneh dengan tingkah Yuan yang seperti ingin menghindarinya, tapi walaupun begitu, ia tetap menuruti perkataan Yuan, melepaskan pegangan tangannya dari lengan Yuan.


Kemudian, helaan nafas lega terdengar dari diri pria itu.


"Aku akan keluar lebih dulu, kau jangan pernah berniat untuk keluar sebelum aku membukakan pintu mobilnya untukmu. Biar aku mengajarimu apa itu romantis." Ujar Yuan sembari keluar dari dalam mobilnya.


Setelah ia keluar, Yuan langsung melangkah ke sisi pintu dimana Rose akan keluar dari sana. Dengan satu tarikan, Yuan membuka pintu mobil itu.


Lalu, tangannya terulur ke arah Rose, membuat gadis itu mengernyit bingung.


"Kenapa diam saja, kau masih belum mengerti juga, ayo balas uluran tanganku." Ucap Yuan yang kembali kesal.


"Oh, iya iya."


Gadis itu segera meraih uluran tangan dari Yuan, kemudian perlahan keluar dari dalam mobil.


Setelah memastikan kekasihnya keluar, Yuan langsung menutup pintu mobil itu kembali.


"Ayo." Ujar Yuan, kali ini ia mengulurkan telapak tangannya ke arah Rose.


Awalnya, Rose mengernyit bingung, tapi kemudian ia paham, Yuan sedang memintanya untuk bergandengan tangan.


Dengan ragu-ragu, Rose membalas telapak tangan Yuan dengan telapak tangannya.


Sebuah senyum senang tampak merekah di wajah rupawan pria itu.


"Pintar." Ucap Yuan.

__ADS_1


•••


Sebuah pintu yang menjadi penghubung antara bagian luar dengan bagian ruangan khusus yang ditempati oleh seseorang terdengar diketuk dengan keras.


"Ketua Ray, saya mohon dengarkan saya sekali saja. Saya bisa menjelaskannya dengan bukti. Saya sungguh tidak berniat untuk menggelapkan dana proyek baru. Saya mohon beri saya kesempatan untuk menjelaskannya. Tolong agar anda bijaksana." Kata seorang pria dari luar sana.


Ray menutup matanya sejenak, ia menghembuskan nafasnya kasar. Masalah seperti ini seharusnya Alex yang mengurusnya, tapi kenapa sekarang malah dia yang dibuat pusing.


"Ketua, apa saya perlu panggilkan bagian keamanan untuk membawanya pergi?" Tanya seorang pria paruh baya yang tampak berdiri di sisi Ray.


"Tidak perlu, kau katakan saja padanya untuk menjelaskan masalah ini kepada Alex." Ujar Ray.


"Saya pikir, CEO Alex menolaknya untuk memberikan penjelasan. Karena itu ia nekad datang kemari untuk bertemu langsung dengan anda." Kata pria disamping Ray.


"Kalau begitu kau hubungi Alex, minta dia mendengarkan penjelasannya dulu sebelum membuat keputusan." Perintah Ray.


"Baik ketua."


"Dan katakan juga padanya. Kelak, masalah seperti ini jangan sampai aku harus mendengarnya." Ujar Ray dengan raut wajah yang berubah menjadi tegas.


"Saya mengerti ketua, saya akan menyampaikannya kepada CEO Alex. Kalau begitu, saya undur diri." Kata pria paruh baya yang merupakan tangan kanan Ray.


Setelah pria itu keluar, Ray menghembuskan nafas beratnya, sejenak ia memijat pelipisnya. Masalah seperti ini, dulu ia sering mengalaminya, proyek yang gagal karena perbuatan beberapa oknum yang telah menyalahgunakan kekuasaan.


Tapi sekarang, ia adalah seorang ketua perusahaan, dalam hal ini, seharusnya ia hanya bertugas sebagai pengawas, bukan pengurus masalah. Tapi walaupun seperti itu, bagaimanapun juga, ini menyangkut perusahaannya, Ray tidak bisa hanya duduk diam saja.


Apalagi proyek ini sudah di tandatangani kontrak kerjasama dengan beberapa investor penting. Karena itu, kalau sampai proyek ini gagal, bukan hanya perusahaan yang rugi besar, tapi juga pastinya para investor itu akan menuntut pengembalian dana investasi yang lumayan besar jumlahnya.


•••


Nana terlihat tertawa sembari berjalan bersama dengan tiga teman prianya. Kai, Kin dan Julian.


Gadis itu tampak acuh ketika para gadis-gadis kampus lain menatapnya iri. Yah, walaupun sang primadona Yuan tidak ada di antara ketiga pria itu, tapi tetap saja ketiga pria itu adalah para pria populer di kampus.


"Sepertinya kalian sudah terbiasa tanpa aku." Kata sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah samping kanan mereka.


Yuan melangkah sembari menggandeng tangan Rose mendekati mereka.


"Apa penglihatanku sedang bermasalah? Aku melihat Yuan menggandeng tangan wanita itu, bahkan dia tampak tidak risih sama sekali, malah tersenyum lebar seperti itu." Ujar Kin.


"Kau tidak salah lihat, apa yang kau lihat memang benar." Kata Kai.


"Mereka itu, sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua?" Tanya Julian.


"Memangnya apalagi? Kau sudah bisa menebaknya." Sahut Nana yang kemudian melambaikan tangannya pada Rose.


"Rose." Sapa Nana, gadis itu langsung menghambur mendekati temannya itu.


"Nana, pergilah menjauh, jangan merusak suasana romantis kami." Protes Yuan ketika Nana menjadi orang tengah diantara dirinya dan Rose.


"Apa maksudmu? Kau tidak senang kalau pacarmu ini bertemu sapa dengan temannya?! Pacar macam apa yang jahat seperti kau ini." Cibir Nana.


"Nana, sudah ya, tidak perlu seperti itu, mereka kan sedang bermesraan, tidak baik mengganggu." Kata Kai sembari menarik Nana pelan, menjauh dari sisi Rose dan Yuan.


Kai tahu, kalau dua adik beradik sepupu itu dibiarkan adu mulut, maka mereka akan terus bertengkar tanpa tahu caranya berhenti. Karena itu, ia mengambil tindakan pencegahan sebelum itu semua terjadi.


"Yuan, kita lepaskan dulu saja ya pegangan tangannya, aku malu." Bisik Rose pada kekasihnya itu.


Yuan menoleh tanpa bicara, pria itu sepertinya tidak suka dengan permintaan dari Rose, terbukti dari tindakan Yuan yang malah semakin mengeratkan genggaman tangannya, seakan-akan takut kalau Rose akan kabur darinya.


"Tidak, tidak mau lepas." Ucap Yuan sembari melihat tangan mereka yang seolah di rekatkan oleh lem permanen.


Sikap kedua orang itu sungguh membuat iri hati orang lain yang melihatnya. Bahkan Nana sampai terlihat mendesis kesal dengan sikap kekanakan dari sepupunya itu.


"Yuan, kau ini, ah mataku iritasi melihat kemesraan kalian. Aku pergi dulu, aku juga harus mencari gadis-gadisku untuk menghilangkan ke-irian hati ini. Seorang Kin tidak boleh iri dalam hal asmara." Ujar Kin yang kemudian pergi berlalu dari hadapan mereka.


"Eh Kin, kau ingin pergi kemana?" Tanya Julian.


"Biarkan dia pergi." Ucap Kai.


"Enak saja, lalu aku akan diam disini dan menjadi penonton mereka? Tidak mau, aku akan pergi menyusul Kin." Ujar Julian.


"Yuan, kau sialan, beraninya bermesraan di depan kami." Umpat Julian dengan candaan, lalu setelah itu ia pergi menyusul Kin.


"Aku sungguh merasa tidak enak pada mereka. Apa mereka marah padamu?" Tanya Rose.


Yuan tersenyum,


"Tentu tidak, mereka hanya iri, termasuk juga dua orang di depan kita ini." Jawab Yuan, tatapan matanya itu terarah pada Nana.


"Siapa yang kau bilang iri?! Tidak tahu malu." Ujar Nana.


"Oh ya? Kalau begitu ya sudah, tidak perlu marah. Lagipula kalau kau mau, kau bisa meminta Kai menggandeng tanganmu. Iya kan Kai?" Kata Yuan sembari tersenyum menyeringai ke arah dua orang yang sejujurnya saling mencintai, namun tidak ada satupun yang berani mengungkapkannya.

__ADS_1


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2