
Hari itu pagi datang kembali. Ruang makan keluarga Gavin terlihat sudah di penuhi para anggota keluarga. Bahkan nenek Calista terlihat sudah ikut gabung dalam rutinitas sarapan bersama.
"Grandma, apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Yuan sembari menguyah sarapannya.
"Yuan, berapakali mom harus mengingatkan-mu?! Jangan berbicara saat sedang mengunyah makanan, nanti kau bisa tersedak." Nasihat ibunya, Ana.
"Maaf mom." Ucap Yuan yang langsung menelan makanannya itu.
Nenek Calista tersenyum, ia merasa senang akhirnya bisa terbebas dari tempat tidur dan bisa ikut makan bersama yang lainnya.
"Grandma sudah sembuh, kau bisa melihatnya sendiri kan? Grandma benar-benar sudah sehat." Ujar nenek Calista.
"Grandma, berjanjilah, lain kali jangan sakit seperti kemarin lagi. Yuan khawatir, yang lain juga sangat khawatir pada grandma." Kata Yuan.
"Iya, grandma mengerti, tapi grandma tidak bisa berjanji, karena sakit tidak ada yang dapat memprediksi, ia bisa datang kapan saja." Jawabnya.
"Yuan, kau terlihat memperhatikan nenek, tapi kemana saja kau kemarin? Kau bahkan tidak membantuku mengurus nenek." Ujar Nana.
"Eh, Yuan kemarin kau pergi keluar rumah?" Tanya Ana.
"Kemana kau pergi?" Tanya Ray.
"Aduh, kalian ini, sebagai orangtua jangan terlalu mengekangnya begitu. Kan kemarin juga hari minggu, waktunya untuk para anak muda menghabiskan waktu bersama orang tercinta." Kata Alex.
"Paman~ "
"Yuan, kau punya pacar?" Tanya Ray yang menyela Yuan untuk berbicara dengan pamannya.
"Eh, itu— "
"Paman Ray, maksud papa Alex, orang tercinta itu adalah teman-teman Yuan. Soalnya papa pernah bertemu dengan salah satu teman Yuan, jadi karena papa mengenal mereka, makanya papa berkata seperti itu. Lagipula, mana mungkin Yuan punya kekasih, dia itu memang populer, tapi terlihat seperti seorang pria yang tidak menyukai wanita." Ujar Nana, walau perkataannya itu ada unsur sindiran untuk Yuan, tapi bagaimanapun juga, Yuan sangat berterimakasih pada Nana, karena gadis itu telah membantunya untuk membuat alibi pada ayahnya.
"Ti—tidak suka wanita?" Tanya Ray yang kini benar-benar menatap tajam ke arah Yuan.
Sedangkan Yuan yang di tatap penuh selidik itu hanya bisa tersenyum kikuk. Sekilas ia melirik Nana yang tampak tertawa kecil sembari menjulurkan lidah ke-arahnya.
Tadinya aku ingin berkata terimakasih banyak padanya karena telah membantuku terlepas dari interogasi dad. Tapi ucapannya itu— dia sengaja ya membuat dad curiga kalau aku ini gay?! Adik sepupu sialan.
"Yuan, bisa kau jelaskan apa maksud perkataan Nana tadi?" Tanya Ray.
"Kenapa aku yang harus menjelaskannya? Kan Nana yang mengatakannya." Ujar Yuan.
"Yuan—"
"Sudahlah sayang. Nana juga bercanda tadi, dia hanya mengungkapkan kata kiasan. Maksud Nana itu, Yuan bukan seorang pria yang sembarang mau menjalin hubungan dengan wanita. Begitu kan Nana?"
"Eh iya, apa yang baru saja bibi Ana katakan adalah benar. Yuan itu, karena sangat banyak wanita yang mendekatinya, jadi dia tidak bisa sembarang memilih seorang kekasih. Paman Ray, Nana harap, paman tidak salah paham dengan maksud perkataan Nana tadi." Ujar Nana.
"Nona muda Nana, ayah nona muda datang menjemput anda." Kata seorang pelayan perempuan yang datang berlari dari arah ruang tamu.
"Ayah?" Gumam Nana.
"Yohan?" Gumam Alex.
"Suruh dia masuk dulu, bilang kalau Nana masih sarapan." Ujar Ray memberi perintah.
"Baik tuan besar, saya permisi." Ucap pelayan itu, kemudian ia pergi untuk melaksanakan perintah dari majikannya itu.
"Apa kau tidak meminta ijin pada bibi Rachel untuk menginap disini lebih lama? Kenapa paman Yohan tiba-tiba datang menjemputmu?" Bisik Yuan yang saat itu kebetulan duduk di sisi kanan Nana.
Nana menoleh ke arah sepupunya itu, ia diam sejenak, kemudian menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku sudah ijin, paman Ray yang membantuku meminta ijin pada ibu, tapi aku tidak tahu kenapa ayah tiba-tiba datang menjemputku." Ujar Nana membalas bisikan Yuan.
Tak lama setelah pelayan tadi pergi, ia kembali lagi ke ruang makan, namun kali ini ia datang bersama seorang pria paruh baya dengan pakaian kerjanya.
"Selamat pagi, maaf sudah mengganggu waktu makan kalian." Ujar Yohan.
"Tidak, sama sekali tidak menggangu. Ayo duduklah dan ikut sarapan bersama." Kata nenek Calista.
"Terimakasih nyonya Calista. Tapi maaf, saya harus menolaknya, tadi saya sudah sarapan di rumah." Ucap Yohan yang kemudian beralih menatap Nana.
"Ayah, ayah datang untuk menjemputku? Kenapa harus pagi ini?" Tanya Nana ketika matanya beradu pandang dengan Yohan.
Yohan sekilas tersenyum, tapi senyumnya itu sungguh membuat orang merasa ragu untuk membalasnya.
"Semalam ibumu bilang kalau dia rindu padamu, karena itu ayah menjemputmu pagi ini." Jawab Yohan.
"Memangnya bibi Rachel tidak pergi ke kampus untuk mengajar? Kan mereka masih bisa bertemu di kampus." Sahut Yuan.
"Iya benar. Tapi masalahnya, Rachel sedang tidak enak badan, dia sedang demam, dari semalam terus memanggil nama Nana. Lagipula, bukankah pagi ini kau tidak ada kelas Nana? Jadi pagi ini, ayah meminta bantuanmu untuk menjaga ibumu sampai siang nanti." Kata Yohan.
"Rachel sakit?" Tanya Ana dan Alex, bersamaan.
"Iya." Jawab Yohan, tapi pria itu hanya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Ana.
"Yohan, bukan maksudku ingin menghalangi Nana untuk merawat ibunya, tapi Nana, dia itu baru saja selesai merawat dan menjagaku. bukankah lebih baik membawa Rachel ke rumah sakit saja? Disana Nana juga tidak akan terlalu repot merawat ibunya karena akan ada tenaga medis yang membantunya juga." Ujar nenek Calista.
"Ini hanya demam biasa nyonya Calista. Dan juga, saya sudah mengajak Rachel untuk pergi ke rumah sakit, tapi dia menolak. Karena itu— "
"Bagaimana dengan Daisy, kenapa tidak dia saja yang menjaga bibi Rachel? Apalagi Daisy itu kan seorang calon tenaga kesehatan." Sela Yuan.
"Yuan, sudahlah. Nana ayo segera selesaikan sarapanmu. Lalu pulanglah dan jaga ibumu, tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu sendiri. Jangan telat makan, kalau ada apa-apa hubungi papa." Ujar Alex.
"Aku mengerti papa." Ucap Nana, setelah itu ia berdiri dari posisi duduknya, kemudian berjalan mendekati ayah tirinya, Yohan.
Yohan tersenyum sembari mengusap lembut puncak kepala Nana.
"Semuanya, silahkan lanjutkan sarapan kalian. Sekali lagi aku sungguh minta maaf sudah mengganggu waktu makan kalian. Kalau begitu, kami permisi." Ujar Yohan dengan sopan.
"Iya, tidak masalah, kalau ada apa-apa dengan Rachel, hubungi saja kami, kau juga boleh ambil cuti kerja." Kata Ray.
"Eh itu, karena sudah ada Nana yang menjaga Rachel, kemungkinan saya tidak akan mengambil cuti kerja, lagipula masih ada proyek yang harus saya kerjakan bersama Alex. Tapi terimakasih atas perhatian ketua— maksud saya kakak ipar Ray." Ujar Yohan.
"Nana, sampaikan salam ku untuk ibumu ya, nanti bibi Ana akan pergi kesana untuk menjenguk ibumu." Ucap Ana, ia terlihat khawatir.
"Iya bibi."
"Kalau begitu, kami permisi." Pamit Yohan yang kemudian meraih tangan Nana dan menariknya lembut, mereka berjalan bersama menjauh dari ruang makan itu.
•••
Rose keluar dari dalam bus antar kota setelah bus itu berhenti di halte tujuannya.
Gadis itu segera menarik kopernya menyusuri trotoar, ia masih harus menaiki satu bus lagi untuk menuju ke rumah sakit dimana ibunya sedang di rawat saat ini.
"Nona, nona yang memakai baju merah. Hei!" Panggil seorang pria paruh baya dari arah belakang Rose.
Rose membalikkan badannya, ia menoleh ke arah pria paruh baya yang memanggilnya itu.
"Iya? Ada apa?" Tanya Rose.
"Ponselmu, ponselmu tertinggal di dalam bus tadi. Untung saya melihatnya, ini saya kembalikan padamu." Kata pria paruh baya itu sembari menyerahkan ponsel milik Rose.
__ADS_1
"Ah ya ampun, terimakasih paman, saya sungguh berterimakasih pada paman. Kalau tadi benar-benar hilang dan paman tidak menemukannya, saya pasti akan sangat kesulitan." Ujar Rose.
"Tidak perlu berterimakasih, tadi saya hanya tidak sengaja melihatnya, kebetulan juga, saya turun di halte bus yang sama dengan nona."
"Saya sungguh berterimakasih pada paman, ini, ini sedikit uang untuk paman." Ujar Rose sembari memberikan beberapa lembar uang yang ia miliki untuk pria paruh baya itu. Entah kenapa melihat penampilannya yang hanya memakai baju olahraga berwarna biru polos dan sandal jepit, Rose merasa kasihan.
"Eh ini— anda tidak perlu memberi saya uang nona, saya bukannya seorang pengemis, saya—"
"Tidak apa-apa paman, ambil saja, saya juga tidak menganggap paman sebagai pengemis, ini sebagai rasa terimakasih saya pada paman, saya harap paman tidak menolaknya. Lagipula, ini tidak seberapa." Ujar Rose.
"Ah kalau begitu, terimakasih banyak nona."
Rose tersenyum,
"Tentu, saya juga berterimakasih pada paman karena sudah menemukan ponsel saya. Sekarang saya harus segera pergi, sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada paman, saya permisi." Kata Rose, setelah itu ia berbalik dan pergi dari hadapan pria paruh baya itu.
"Lain kali kalau aku berjumpa dengannya lagi, aku pasti akan mengembalikan uangnya. Lagipula, sekarang ini aku juga butuh uang. Hah— andai saja aku lebih berhati-hati dan mendengarkan perkataan putraku, aku pasti tidak akan terlihat seperti pria pengemis. Memalukan, tapi gadis itu sungguh baik, ramah dan juga loyal. Benar-benar harus berjumpa dengannya lagi lain waktu. Dia terlihat cocok dengan sifat putraku." Ujar pria paruh baya itu.
•••
Yuan menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung apartemen yang Rose tinggali.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia lekas keluar dari dalam mobil itu, lalu berjalan menaiki tangga yang menghubungkannya ke lantai tiga, dimana kamar apartemen Rose berada.
Sesampainya di depan pintu kamar apartemen Rose, Yuan langsung mengetuk pintunya, ia terlihat tidak sabaran, Yuan bahkan lebih terlihat seperti orang yang sedang menggedor pintu apartemen daripada mengetuknya.
"Rose?!" Panggil Yuan, sejujurnya ia kesal, kesal karena Rose sejak tadi malam tidak dapat ia hubungi sama sekali. Bahkan gadis itu tidak menghubunginya balik. Ponsel Rose juga sepertinya masih mati sampai sekarang.
"Anak muda, apa kau sedang mencari gadis yang tinggal di kamar apartemen itu?" Tanya seorang wanita paruh baya, ia keluar dari dalam apartemen yang ada di sebelah apartemen Rose.
Yuan menoleh, ia menatap wanita paruh baya itu dari atas sampai ke bawah, terlihat seperti sedang menilai penampilannya.
"Aku bibi Meng, tetangganya Rose, apa kau sedang mencarinya? Ah tidak, apa namamu Yuan? Kalau benar itu kau, maka aku akan menyampaikan pesan yang Rose tinggalkan." Kata wanita paruh baya bernama Meng itu.
"Iya, aku Yuan. Katakan, apa pesan Rose? Apa dia berangkat kuliah lebih dulu?" Tanya Yuan.
"Ah jadi benar kau ya. Baiklah biar bibi jawab satu persatu pertanyaanmu itu. Pertama pesan Rose adalah, dia meminta maaf padamu, karena tidak bisa berangkat kuliah bersama. Kedua, dia tidak berangkat kuliah lebih dulu. Tapi dia— "
"Kalau dia tidak kuliah, kenapa tidak bisa menungguku? Apa dia pergi bekerja? Tapi tadi saat aku mengantar mom ke restoran, aku tidak melihat dia ada di sana?" Ujar Yuan, ia sebenarnya bertanya pada dirinya sendiri, tapi tatapannya itu masih terarah pada bibi Meng, jadi bibi Meng berpikir kalau itu adalah pertanyaan yang ditujukan padanya.
"Ah itu, pertanyaanmu banyak sekali, aku tidak tahu harus menjawabnya dari mana, aku juga tidak mengerti dengan kata-kata yang ada di dalam pertanyaanmu itu." Ujar bibi Meng.
Yuan diam tidak menanggapinya, ia masih sibuk bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa Rose tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar?
"Apa kau tidak ingin tahu kemana Rose pergi?" Tanya bibi Meng.
"Bibi tahu Rose ada dimana? Kenapa dari tadi tidak memberitahuku?"
"Eh, kenapa menyalahkanku? Kau sendiri yang tadi tiba-tiba menyela penjelasanku."
"Baiklah, aku minta maaf. Sekarang tolong bibi katakan dimana Rose?" Tanya Yuan, kali ini ia terdengar lebih sopan dari sebelumnya.
"Dia pergi ke kota C daerah C2, dia bilang Ibunya masuk rumah sakit, karena itu petang kemarin dia ingin langsung pergi ke kota itu. Tapi sepertinya dia tertinggal bus, jadi dia menundanya dan pagi tadi sekitar pukul tiga, dia baru pergi lagi."
"Apa bibi tahu ibunya sakit apa?" Tanya Yuan.
"Soal itu bibi tidak tahu, Rose tidak mau mengatakannya."
"Oh, kalau begitu, saya permisi. Terimakasih atas informasinya bibi Meng." Ucap Yuan yang kemudian melenggang pergi.
"By the way, gak ada yang nyariin Kenan ya? Apa gak ada yang rindu?" Tanya Author
__ADS_1
*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*