The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
The Tip of The Iceberg


__ADS_3

"Kau seharusnya tidak memperlakukan Rose sesuka hatimu. Bagaimanapun juga, dia itu tetaplah seorang manusia, terlebih lagi, dia itu seorang perempuan. Hati perempuan itu lebih lembut dari hati laki-laki, akan sangat mudah sekali untuk terluka. Jadi, aku minta padamu, bukan, ini bukan permintaan, tapi peringatan, aku ingatkan padamu, jangan bermain-main dengannya, jangan membuatnya sedih, jangan melukai hatinya. Karena aku sebagai teman baik Rose, tidak akan membiarkan laki-laki manapun melukai hatinya atau membuatnya sedih, sekalipun itu kau, sepupuku sendiri." Ujar Nana yang masih terus saja melontarkan ocehannya untuk Yuan.


Sedangkan, pria yang sejak tadi tak dapat menghentikan pendengarannya untuk berhenti mendengar ocehan Nana itu. Yuan hanya bisa diam dengan helaan nafas yang seakan-akan terus mengiringi setiap menit yang berlalu.


Dalam hati kecil Yuan, ia berharap agar lift yang di gunakannya itu cepat sampai ke lantai tujuan.


"Yuan! Apa kau mendengarkan perkataanku?!" Tanya Nana.


"Hm." Jawab Yuan dengan malasnya.


"Ssss— kau ini, benar-benar membuatku geram! Kau mendengarkannya atau tidak?! Jangan sampai kau mengabaikan perkataanku. Karena semua perkataanku tadi berisi peringatan untukmu. Dan kau harus mengingatnya! Jangan mencoba untuk mengabaikannya ataupun melupakannya." Ucap Nana.


"Walaupun aku sendiri tidak ingin mendengarnya. Tapi, aku masih memiliki telinga yang berfungsi dengan baik. Bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya?! Benar-benar membuat telingaku terasa panas." Kata Yuan.


Tak lama setelah itu, hal yang Yuan tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ya, akhirnya, pintu lift terbuka. Sekilas, Yuan terdengar menghembuskan nafas leganya. Lalu setelah itu, ia langsung berjalan keluar dari dalam lift itu, pria itu bahkan mengabaikan Nana yang masih ada di dalam dan tampak kesusahan berjalan karena gaun pesta yang perempuan itu kenakan.


"Yuan! tunggu aku." Panggil Nana yang tampak kewalahan menyusul Yuan.


Mendengar teriakan dari Nana, Yuan semakin melangkah cepat menuju ruang pesta dan meninggalkan Nana yang tak henti-hentinya memberikan banyak sumpah serapah pada sepupunya itu.


"Yuan sialan." Ucap Nana yang kemudian langsung mengangkat sedikit gaun pestanya itu. Lalu, dengan susah payah, gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk menyusul Yuan yang sudah masuk ke dalam ruangan pesta lebih dulu.


•••


Ray, Ana, Rachel dan Yohan terlihat masih  mengobrol. Banyak hal yang sudah mereka bahas bersama, dari masalah perusahaan sampai masalah anak-anak mereka.


"Permisi, maaf mengganggu." Kata seorang gadis bernama Rue yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Eh, Rue? Ada apa?" Tanya Ray dengan diiringi senyum ramahnya.


"Eng— itu, ayah menyuruhku untuk menemani kalian. Ayah bilang, ayah benar-benar minta maaf karena tidak bisa mengobrol lama dengan ketua Ray, soalnya — ayah masih harus menyapa tamu undangan yang lain." Ujar Rue.


"Oh— tidak apa-apa. Bukan masalah. Kami juga paham dengan keadaan ayahmu. Dia pasti sangat sibuk saat ini. Kau tenang saja, kami bisa mengerti kok." Kata Ray.


"Terimakasih ketua Ray." Balas Rue dengan senyum sopannya.


"Jangan terlalu formal seperti itu. Panggil saja paman. Paman Ray." Ujar Ray.


"Baik ketua Ray, eh, maksudku— paman Ray."


"Begitu terdengar lebih baik." Ucap Ray.


"Rue, apa kau Rue Adelard yang pernah ikut kompetisi memasak di Australia tahun lalu?" Tanya Rachel.


"Eh, ternyata ada yang tahu tentang hal itu ya. Aku pikir tidak akan ada yang tahu. Iya, tahun lalu, aku ikut kompetisi memasak tingkat internasional di Australia. Tapi sayangnya, aku tidak bisa mendapat juara pertama." Kata Rue.


"Tapi, keterampilanmu itu sudah sangat bagus sekali. Walaupun kau tidak mendapatkan juara pertama. Setidaknya, kau dapat juara kedua Rue. Itu sangat luar biasa. Kau tahu, aku ini penggemarmu. Sejak awal kita saling menyapa tadi, aku seperti pernah melihatmu. Tapi, aku benar-benar lupa, baru sekarang aku ingat kalau kau ini adalah seorang chef hebat." Puji Rachel.


"Ah, itu— aku ini hanyalah chef amatir yang masih perlu banya belajar." Kata Rue.


"Orang hebat biasanya memang suka merendahkan diri sepertimu ini." Ujar Yohan yang tiba-tiba masuk ke dalam obrolan itu.

__ADS_1


"Eh, kalau seperti ini, aku benar-benar merasa malu. Lagipula, disini ada seorang koki handal yang sudah memiliki sebuah restoran populer. Bahkan, sudah ada cabang di luar negeri. Rue sungguh sangat mengagumi bisnis kuliner bibi Ana." Ujar Rue.


"Apa yang kau katakan, itu hanya bisnis kuliner biasa. Siapa yang seorang koki handal? Aku ini hanya seorang pebisnis di dunia kuliner saja." Kata Ana.


"Tapi, bagaimanapun juga. Rue tetap kagum pada bibi Ana." Ucap Rue.


"Rue ini sangat pandai membuat orang tersanjung ya. Sampai membuatku tidak dapat berkata-kata lagi, hanya bisa mengatakan terimakasih padamu." Ujar Ana dengan senyum hangatnya.


"Yuan bodoh, tunggu aku!" Suara teriakan dari seorang gadis membuat hampir seluruh tamu undangan yang ada di acara pesta perayaan ulang tahun itu menoleh ke arahnya.


"Eh, sepertinya— aku berbicara terlalu keras." Gumam Nana yang tampak canggung dengan situasinya saat ini.


Raut wajah gadis itu tampak malu. Ia hanya bisa memandang semua orang dengan tatapan meminta maafnya.


"Bocah sialan itu!" Umpat Nana yang ditujukan untuk Yuan, sepupunya.


Sedangkan, pria yang dimaksud, ia sudah sampai di hadapan orangtuanya. Yuan tampak berdiri disana, lalu sekilas menoleh ke arah Nana yang menatapnya kesal. Sebuah senyum miring terukir sekilas di wajah pria tampan itu.


"Beraninya dia mengejekku!" Ucap Nana yang kemudian kembali melangkahkan kakinya mendekati keluarganya.


"Nana, kenapa tadi kau berteriak? Ini bukan hutan. Kau membuat malu saja." Ujar Rachel.


Mendengar ocehan dari ibunya itu, Nana langsung menoleh ke arah Yuan yang pura-pura tidak melihat tatapan tajamnya.


"Maaf." Ucap Nana, gadis itu memilih mengatakan 'maaf' pada ibunya. Lagipula, ia memang salah karena sudah menggunakan nada tinggi di tempat ramai seperti ini.


Sejenak, Rachel menghela nafasnya. Ia hanya bisa memaklumi anak perempuan pertamanya itu.


"Eh? Bukankah dia sudah kembali? Aku tadi bertemu dengannya di atap hotel. Tapi, aku sudah menyuruhnya untuk kembali lebih dulu." Jawab Nana.


"Ah ya ampun, anak itu membuat khawatir orangtua saja." Ucap Rachel.


"Dia kan sudah besar bibi. Pasti juga tahu jalan pulang." Sahut Yuan.


"Tapi, dia itu juga seorang perempuan. Malam-malam berkeliaran di hotel, itu sangat mengkhawatirkan. Hah— aku harus mencarinya." Kata Yohan.


"Tidak, aku saja yang akan mencarinya." Ucap Rachel.


"Apa tidak masalah?"


"Tidak apa-apa, kau juga harus menemani kak Ray." Jawab Rachel.


"Baiklah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya." Kata Yohan.


"Hm, aku tahu." Ucap Rachel yang kemudian berpamitan untuk mencari Daisy yang menghilang entah kemana.


"Oh iya. Yuan, ayo sapa Rue." Ujar Ray pada putra tunggalnya itu.


"Kenapa harus menyapa lagi? Kami sudah saling sapa tadi." Jawab Yuan dengan malasnya.


"Yuan, jangan berkata seperti itu pada daddymu. Turuti saja. Kau hanya perlu menyapanya saja." Ucap Ana. Wanita paruh baya itu sedang mencoba menasehati anaknya yang terlihat sedikit kurang sopan pada ayahnya.

__ADS_1


"Bibi Ana. Yuan tidak salah kok. Apa yang Yuan katakan ada benarnya juga. Kami sudah saling menyapa tadi. Sungguh tidak perlu menyapa lagi. Iya kan, Yuan?" Kata Rue dengan kalimat akhir yang sengaja ia arahkan pada Yuan.


"Ya." Jawab Yuan seadanya.


"Eh, bukankah itu papa? Kenapa dia terlihat panik seperti itu?" Ucap Nana yang tidak sengaja melihat Alex melangkah cepat menuju pintu keluar ruang pesta itu.


Semua orang yang mendengar ucapan Nana, mereka menoleh dan melihat Alex yang memang tampak panik. Pria paruh baya itu terlihat sesekali menempelkan ponselnya ke telinga seperti sedang mencoba menghubungi seseorang.


"Aku akan menyusulnya. Pasti ada masalah besar. Dia tidak pernah terlihat seperti itu, kecuali ada masalah yang benar-benar membuatnya khawatir." Ujar Ray yang kemudian bergegas pergi menyusul Alex.


"Sayang, tunggu— " Ana tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia menghela nafasnya, melihat suaminya itu dengan cepat sudah keluar dari ruang pesta.


"Ayah, katakan pada ibu. Aku tidak bisa ikut pulang bersama. Aku harus menyusul papa juga. Maaf ayah." Ucap Nana yang kemudian juga ikut menyusul Alex keluar ruangan.


"Ada apa dengan semua orang? Kenapa saling menyusul seperti itu?" Gumam Yuan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa heran.


Tak lama Yuan berhenti bergumam pada dirinya sendiri, ponsel miliknya yang ia simpan di balik jasnya terasa bergetar.


Kemudian, Yuan langsung mengambil ponsel itu dan melihat ada sebuah pesan masuk yang tertera di layar ponselnya.


"Ada apa Yuan?" Tanya ibunya, Ana.


"Aneh sekali, kenapa bibi Jeni mengirimiku pesan?" Kata Yuan yang kemudian langsung membuka pesan itu.


Tuan muda. Maaf mengganggu acara kalian. Saya tadi sudah menghubungi tuan besar. Tapi, ponsel tuan besar tidak dapat di hubungi. Jadi, saya menghubungi tuan Alex. Tuan muda, kalau tuan besar sedang bersama anda. Tolong sampaikan padanya, nyonya Calista tiba-tiba kejang dan sekarang tidak sadarkan diri.


Pesan singkat itu, awalnya membuat Yuan mengernyit bingung. Tapi, pada akhir pesan, kini Yuan paham kenapa pamannya— Alex berlarian seperti tadi.


"Mom, kita harus pulang." Kata Yuan pada ibunya yang masih belum mengetahui kabar itu.


"Eh? Tiba-tiba ingin pulang, ada apa?" Tanya Ana.


"Grandma, dia— ah pokoknya kita harus segera pulang. Grandma sedang tidak baik-baik saja. Ayo mom." Ucap Yuan. Pria muda itu kemudian pergi lebih dulu menuju pintu keluar ruang pesta.


"Yuan, hei. Tunggu mom. Ah, anak itu." Ucap Ana.


"Kakak ipar. Kalau Yuan saja sampai terlihat panik seperti itu— pasti kondisi nyonya Calista benar-benar tidak baik. Lebih baik, kakak ipar segera menyusulnya." Saran Yohan.


Ana terlihat menghela nafasnya. Wanita paruh baya itu juga merasakan perasaan tidak enak dihatinya.


"Rue, bibi pamit pulang lebih awal ya. Tolong sampaikan permintaan maaf kami pada ayah dan ibumu. Kami, sungguh-sungguh minta maaf." Ucap Ana pada Rue.


"Tidak apa-apa bibi. Ayah dan ibu pasti memakluminya." Jawab Rue.


"Terimakasih. Kalau begitu, bibi dan yang lainnya pamit ya." Ujar Ana.


"Iya, hati-hati bibi Ana. Semoga nenek Yuan baik-baik saja." Kata Rue.


Ana tersenyum, membalasnya dengan anggukan. Lalu kemudian, ia pergi dari ruangan diadakannya pesta itu.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2