
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Satu hari berlalu, satu minggu berlalu, satu bulan berlalu, setelah semuanya berlalu. Delapan tahun kemudian... menyapa.
Tubuh itu semakin tua, kekokohannya pun kian memudar.
Ia berdiri, bersandar pada balkon kamar.
Langit malam telah pergi. Ufuk timur telah di lingkupi semburat cahaya kemerahan.
Matahari sebentar lagi akan muncul, berganti tugas dengan si bulan.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya sebuah suara paruh baya. Nadanya lembut, menyejukkan hati suaminya.
Ray berbalik, ia tersenyum menatap istrinya.
Ya, mereka kembali menjalin masa romantis setelah masalah itu selesai. Walaupun butuh waktu sekitar dua tahun bagi Ray untuk membuat Ana menghilangkan rasa kecewanya karena rencana itu. Tapi pada akhirnya, kini mereka kembali memadu kasih satu sama lain.
Namun, bagaimanapun juga, Ana tetap menyalahkan tindakan Ray. Tidak seharusnya pria itu dan juga anaknya menyembunyikan perihal itu dari dirinya. Apalagi sampai mengorbankan perasaan seorang gadis yang kini entah hilang kemana.
“Aku rasa, semalam Yuan tidak pulang lagi,” ujar Ray sembari menerima bantuan Ana yang sedang memakaikan dasi untuknya.
Ana menghela napasnya, tangannya yang mulai keriput itu bergerak perlahan mengait dan menyimpul dasi itu.
“Itu kesalahannya sendiri, biarkan alam menghukumnya,” jawab Ana singkat.
“Tapi ini sudah delapan tahun berlalu. Kita bahkan tidak tahu dimana perempuan itu berada. Siapa tahu dia sudah menikah dengan pria lain, kenapa kita tidak berpikir secara terbuka saja?” ujar Ray, membuat Ana menghentikan gerakan tangannya.
“Apa yang kau katakan? Kau berniat menjodohkan Yuan dengan siapa lagi? Ingin membuat anak kita lebih kacau lagi?!” sungut Ana, ia kesal.
“Bukan, bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya tidak tega dengan keadaan Yuan saat ini. Dia itu lebih mirip seperti manusia tanpa jiwa, kau tahu itu kan?” kata Ray.
Ana kembali menghela napasnya. Ia lekas menyelesaikan aktivitasnya mengikat dasi itu.
Setelah selesai, Ana kemudian berlalu dari hadapan suaminya untuk mengambil jas kerja Ray yang ada di dalam lemari.
“Apa yang Yuan alami saat ini, semua karena keputusannya sendiri. Apakah ada yang memaksanya untuk meninggalkan gadis itu? Tidak ada kan? Jadi, biarkan anak itu menemukan hidupnya kembali dengan caranya sendiri,” tegas Ana.
“Sudah selesai. Turunlah ke bawah untuk sarapan. Aku akan menyusul nanti,” ucap Ana.
Ray menganggukkan kepalanya, kemudian mendekatkan dirinya pada sang istri, mengecup lama kening wanita yang sangat di cintainya itu.
“Terimakasih dan selamat pagi untuk istriku tercinta,” sanjung Ray.
Ana tersenyum tipis menerimanya.
•••
Pintu kamar hotel itu terbuka. Seorang pria dengan pakaian formalnya masuk ke dalam sembari membawa satu set pakaian kerja milik bosnya.
Pria itu kemudian meletakkan pakaian tersebut di atas kursi sofa yang ada di bagian kiri kamar hotel.
Setelah itu, ia berjalan mendekati ranjang. Di sana bosnya terdengar masih mendengkur kecil.
Ia melihat jam tangannya, menghitung jarum jam yang terus bergerak maju. Tidak lama lagi ia harus membangunkan bosnya itu.
Pada hitungan ke sepuluh. Pria itu menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh bosnya.
Lalu, ia mengguncang tubuh pria berusia tiga puluh tiga tahun itu.
“Presdir Yuan, sudah saatnya bagi anda untuk bangun. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh empat detik. Pagi ini anda ada pertemuan dengan Direktur utama dari perusahaan animasi Jepang,” kata pria itu, sekretaris Iko.
Pria yang di panggil Yuan itu menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan letih.
Dengan malas ia membuka paksa matanya yang masih mengantuk.
Yuan kemudian duduk dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya sejenak, lalu menatap sekertarisnya itu untuk beberapa detik lamanya.
“Mana handuk mandiku,” pintanya.
Sang sekretaris pun dengan sigap langsung melaksanakan apa yang bosnya minta. Ia mengambil baju kimono dari dalam lemari hotel itu, kemudian memberikannya pada Yuan.
Setelah menerima baju kimono itu. Yuan bergegas menuju kamar mandi. Ia mandi selama beberapa menit. Lalu keluar dengan rambut yang tampak basah setelah di keramas.
“Keluarlah. Aku ingin berganti pakaian,” suruh Yuan.
Sekertaris Iko mengangguk, lalu keluar dari dalam kamar hotel tersebut.
•••
“Yusen!” teriak seorang gadis kecil berusia delapan tahun.
“Mama, lihat Yusen, dia mengambil pensilku,” lapornya pada sang ibu.
Wanita yang di panggil 'Mama' oleh gadis kecil itu pun menghampiri kedua anaknya yang sedang belajar bersama.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Yusen, dia mengambil pensilku,” rengek gadis kecil itu.
Wanita itu pun menatap si pria kecil yang bernama Yusen, Yusena Putra.
“Kau mengambil pensilnya?” tanya wanita itu, Rose.
“Tidak, ini punyaku. Kemarin aku meminjamkannya. Tapi sekarang aku ingin mengambilnya kembali, Yuna melarangnya. Dia bilang itu miliknya, padahal itu milikku,” jelas Yusen.
__ADS_1
Rose menghela napasnya, ia kemudian beralih menatap anaknya yang perempuan, Yuna, Yunara Putri.
“Katakan yang sebenarnya, itu pensil milik siapa?” tanya Rose.
Yuna menundukkan kepalanya, raut mukanya mulai menunjukkan tanda-tanda ingin menangis.
“Yusen...,” lirih Rose, menatap anak laki-lakinya itu, menyuruhnya untuk mengalah pada saudari kembarnya.
“Padahal aku adiknya disini,” keluh Yusen. Tapi walaupun begitu, ia tetap mengikuti apa yang ibunya perintahkan padanya.
Pria kecil itu mendekati kakak perempuan kembarnya. Perempuan yang lebih tua lima menit darinya.
Yusen menyodorkan pensil itu pada Yuna. Memberikannya pada Yuna dengan hati yang berat.
“Ini, untukmu,” ucap Yusen.
Perlahan Yuna mengangkat wajahnya, menatap pensil itu, lalu mengambilnya dari Yusen.
Melihat kelapangan hati sang putra, Rose pun tersenyum. Ia mendekati Yusen, kemudian berjongkok di hadapan putranya itu. Roee mengusap kepala Yusen dengan penuh kasih sayang.
“Yusen, adik yang terbaik,” sanjungnya, membuat si empunya kepala tersenyum lebar.
“Yuna, bilang apa pada Yusen?” tanya Rose pada sang putri.
“Terimakasih, Yusen,” ucap Yuna.
“Hanya itu saja?” tanya Rose lagi.
“Dan maaf,” lirih Yuna.
Rose kembali tersenyum, “Pintar,” pujinya, kini ia juga mengusap puncak kepala Yuna.
“Sekarang, ayo cepat kalian bereskan alat-alat tulisnya. Setelah itu ikut Mama pergi ke supermarket,” ujar Rose sembari berdiri dari posisi jongkoknya.
“Mama hari ini tidak pergi kerja?” tanya Yusen.
Rose menggelengkan kepala sembari tersenyum.
“Yusen terlalu banyak membaca buku, jadinya lupa kalau hari ini adalah hari minggu,” sindir Yuna.
Rose terkekeh mendengarnya.
Ya, dua anaknya itu memang kembar. Tapi masing-masing memiliki sifat yang berbeda. Yusen lebih mendominasi sifat seseorang, seseorang yang telah lama Rose rindukan.
Sedangkan Yunara, gadis kecil itu mengklaim sifat dari kedua orangtua kandungnya. Yuna kadang bisa menjadi lebih pandai dari Yusen, tapi gadis itu juga seseorang yang ceroboh dan terlalu lugu seperti Rose.
Yunara memiliki sifat sangat manja, apalagi pada Yusen.
“Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi. Ayo Yusen, Yuna, bereskan alat tulis kalian,” perintah Rose yang langsung di tanggapi oleh anak-anaknya.
Kedua kakak-beradik kembar itu mulai memungut satu-persatu alat tulis milik mereka, lalu memasukkannya ke dalam tas masing-masing.
Tidak terasa, umur mereka sudah memasuki usia delapan tahun.
Tapi Yuan, apa mereka bisa bertemu denganmu?
“Ma?” panggil Yuna, melihat Rose hanya diam melamun, gadis kecil itu pun mengguncang tubuh ibunya.
“Mama, kenapa? Melamun lagi?” tanya Yusen yang selalu mendapati ibunya melamun setiap waktu.
Rose menatap kedua anaknya itu dengan senyum hangatnya.
Ia mengusap kepala mereka dengan lembut.
Lima tahun yang lalu, ketika Yusen dan Yuna berumur tiga tahun. Rose memutuskan untuk pergi dari mansion Sean.
Bukan karena ada masalah. Tapi karena Rose tidak ingin merepotkan pria itu lebih banyak lagi.
Sean, selama Rose tinggal di sana. Pria itu sungguh seperti sosok ayah bagi Yusen dan Yuna. Bahkan jika saja akar cinta Rose untuk Yuan tidak kuat, dia mungkin sudah jatuh hati pada Sean.
Dan kini, untuk menyambung hidupnya dan juga masa depan anak-anaknya. Rose bekerja di salah satu kantor konsultasi hukum keluarga. Dia adalah asisten dari seorang pengacara kondang untuk kasus perceraian.
“Kalian sudah siap?” tanya Rose.
Kedua anaknya itu mengangguk.
“Bagus. Ayo cepat, kita masuk ke mobil,” ucap Rose sembari menggandeng tangan kedua anaknya itu menuju mobilnya.
“Mama, nanti Yuna beli boneka baru, bolehkan?” tanya Yuna sembari berjalan bergandengan tangan dengan sang ibu.
Rose menatap anaknya itu, ia ingin menjawabnya dengan anggukan kepala. Tapi belum sempat Rose mengangguk, Yusen lebih dulu menjawab pertanyaan Yuna.
“Tidak boleh, minggu lalu kau baru saja membelinya,” jawab Yusen.
Seketika itu, Yuna menekuk wajahnya, ekspresi tidak senang menyelimuti dirinya.
“Mama...,” rengeknya, berniat mengadukan Yusen pada sang ibu.
“Yuna, Sayang. Apa yang Yusen katakan ada benarnya juga. Bukankah minggu kemarin sudah beli boneka baru?” tanya Rose.
“Iya. Tapi kan Yuna mau punya koleksi lengkapnya. Sekarang Yuna baru punya Panda sama Ice bear. Yuna belum punya Grizzly bear,” ucapnya.
“Dasar betina,” cibir Yusen.
Yuna semakin menekuk wajahnya, cemberut.
“Yusen. Tidak baik bicara seperti itu. Apalagi Yuna adalah kakakmu, ingat itu,” nasihat Rose.
“Dan Yuna. Baik, Mama belikan kamu Grizzly bear. Tapi ini untuk yang terakhir kalinya di bulan ini. Setelah itu, Yuna tidak boleh minta lagi, mengerti?” tanya Rose pada putrinya.
Yuna langsung menganggukkan kepalanya, senang. Kemudian, diam-diam ia menatap Yusen, menjulurkan lidahnya pada sang adik kembar.
__ADS_1
Yusen mencebik kesal, ia mengalihkan pandangannya dari Yuna. Yusen memilih masuk ke dalam mobil dan mencoba mengabaikan kakak kembarnya yang menyebalkan itu.
“Ayo Yuna, ikut Yusen masuk ke dalam mobil,” suruh Rose.
Yuna menurut, ia masuk ke dalam mobil mengikuti adik kembarnya yang tampak menatapnya kesal. Melihat ekspresi Yusen. Yuna tersenyum menyeringai, bahkan ia sampai tertawa cekikikan dibuatnya.
•••
“Sudah lima tahun ini, Perusahaan kami Tnp group menjadi produsen produk mainan anak-anak. Beberapa produksi kami mengambil klaim brand mutlak dari serial kartun yang paling di gemari oleh anak-anak pada masanya. Jadi bisa dikatakan, setiap bulannya kami selalu melakukan evaluasi rating. Karena itu, produk kami selalu menjadi yang paling populer sepanjang lima tahun di resmikan,” jelas sekertaris Iko, mewakili bosnya.
Direktur yang merupakan produsen serial kartun Jepang itu terlihat mengangguk paham setelah penerjemah mengatakan apa yang dikatakan oleh sekertaris Iko.
“Saya sudah mendengar banyak tentang perusahaan Tnp group. Saya tidak ragu lagi untuk bekerjasama dengan perusahaan ini. Kita bisa langsung saling menandatangani kontrak kerjasama ini,” katanya dalam bahasa Jepang yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh si penerjemah.
“Dia bilang, dia bisa melakukan tanda tangan kerjasama sekarang juga,” ujar sekertaris Iko pada bosnya, Yuan.
“Aku tahu, aku mendengarnya,” ucap Yuan yang sebenarnya paham dengan bahasa Jepang.
Setelah itu, mereka saling menandatangani kontrak kerjasama.
Selesai menandatanganinya, keduanya saling bersalaman.
“Kalau begitu, kami pamit undur diri. Sampai jumpa lagi, Presdir Yuan,” ucap direktur itu dalam bahasa Jepang.
“Ya, Terimakasih banyak atas kunjungan anda. Sampai jumpa kembali, Direktur Yakiniku,” balas Yuan menggunakan bahasa Jepang.
Lalu kemudian, para tamu kehormatannya pun pergi dari ruangan dengan dinding kaca kedap suara itu.
“Apa jadwalku selanjutnya?” tanya Yuan sembari melonggarkan dasinya.
“Untuk beberapa jam kedepan tidak ada, Presdir Yuan,” jawab sekertaris Iko.
“Ah iya. Ketua Ray, beliau tadi menghubungi saya. Sepertinya, anda harus pulang ke rumah malam ini. Nyonya Gavin merindukan anda,” ucap Iko.
Yuan mengangguk paham.
“Aku mau berkeliling mall ini dulu, sekaligus belanja bahan makanan untuk Mommyku,” kata Yuan.
“Baik, Predir,”
Yuan pun keluar dari ruangan berkaca itu.
Ia kini berada di dekat etalase berisi mainan anak-anak.
Ya, pria itu sedang berada di toy store perusahaan Tnp group.
“Presdir Yuan. Maaf, saya permisi ke toilet sebentar,” ijin sekertaris Iko.
Yuan mengangguk, ia kemudian mengibaskan tangannya, menyuruh Iko untuk segera pergi ke toilet.
Kepergian Iko membuat Yuan harus diam di tempatnya dan menunggu.
Pria itu berdiri dengan santai. Namun, siapa sangka kalau rasa bosan tiba-tiba menyapa hatinya.
Yuan pun kemudian berjalan perlahan, melihat-lihat barang produksi perusahaannya, sekaligus melakukan pengecekan secara manual dan pribadi.
Di saat dirinya sedang fokus melihat bagian rak atas baris kedua. Kakinya tidak sengaja menabrak seseorang.
Seseorang yang lebih kecil darinya.
Suara ringisan membuat Yuan sadar kalau ternyata dirinya menabrak seorang anak kecil. Itu bukan sekedar anak kecil, tapi seorang gadis kecil yang sangat menggemaskan di mata Yuan.
“Ah, maaf, apa kau baik-baik saja?” tanya Yuan sembari berjongkok di hadapannya.
Gadis kecil itu masih meringis kesakitan, ia mengusap-usap lengannya yang terasa berdenyut karena beradu sapa dengan lantai putih dingin itu.
“Sakit...,” keluhnya.
Yuan tersenyum gemas, ia bahkan tanpa sadar mencubit pelan pipi gadis kecil itu.
“Paman, kenapa mencubit pipiku?! Sakit tahu!” protesnya lucu.
Yuan sampai tertawa cekikikan mendengarnya.
“Presdir Yuan, maaf sudah— itu anak siapa?” tanya Iko yang langsung menatap lekat gadis kecil di hadapan bosnya.
“Tadi aku tidak sengaja menabraknya. Dia sepertinya terluka. Kau cepat ambilkan kotak P3K. Aku akan mengobatinya,” ucap Yuan.
“Ah iya, baik,” sahut Iko, ia langsung bergegas melaksanakan perintah bosnya itu. Tapi sebelum pergi, sekertaris Iko menatap gadis kecil itu dan Yuan bergantian.
Ada yang aneh. Tapi apa? — batin Iko, kemudian kembali berjalan pergi.
“Namamu siapa, Sayang?” tanya Yuan lembut.
“Paman kenapa memanggilku sayang? Paman ini hidung belang ya?!” selidiknya.
Yuan kembali tertawa, ia mengacak gemas rambut gadis kecil itu.
“Siapa yang mengajarimu tentang hal itu, hum? Kau pandai sekali,” puji Yuan.
“Adikku yang mengajarinya. Dia bilang, kalau ada orang dewasa memberi permen atau mainan atau merayu kita dengan panggilan seperti itu, aku harus berhati-hati. Karena bisa jadi mereka itu penculik dan para hidung belang,” jawabnya lugu.
“Oh, benarkah? Adikmu ternyata lebih pintar darimu ya,” canda Yuan.
“Eh, tidak kok, dia hanya beda lima menit denganku. IQ nya denganku juga hanya beda lima angka saja,” celotehnya.
“Ah, kau kembar ya?” tanya Yuan.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, “Iya, beda lima menit,” jawabnya lucu.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
NP : Ini eps di up tgl 21/05/2020, jam 22:23 WIB. Tapi karena ada picture nya, reviewnya lama. Jadi thor hapus pict nya dan up ulang lagi. untuk kalian yang mau lihat anak kembar Rose, bisa lihat dari foto profil thor ya.