The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Tinggal Bersama (bagian dua)


__ADS_3

Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


 


 


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


 


 


SELAMAT MEMBACA


 


 


✴✴✴


 


Rose tersenyum menanggapinya, “Aku senang kau bisa mengerti mereka. Kalau begitu sekarang makanlah. Tapi makan dengan hati-hati, jangan sampai tersedak lagi,” pesan Rose.


Yuan menganggukkan kepalanya, “Iya. Tapi Rose, aku sungguh senang mendapat perhatianmu kembali. Sebuah perhatian dari seseorang yang aku rindukan selama ini,” gombal Yuan.


“Ck, berhenti berkata manis, itu tidak akan membuatku meleleh. Aku pergi dulu,” sahut Rose, kemudian langsung melenggang pergi dari hadapan Yuan.


Yuan tersenyum melihat kepergian Rose.


Sekalipun wanita itu menjadi sangat ketus dan masa bodoh padanya. Tapi, Yuan masih bisa merasakan kalau perasaan mereka masih terikat satu sama lain.


Aku tahu kalau kau masih mencintaiku.


Aku berjanji padamu, Rose. Mulai hari ini, beban yang dulu kau tanggung seorang diri, akan aku ambil alih.


Aku akan berusaha keras untuk mendapatkan hati anak-anak.


Dan kita, kita berempat akan hidup bahagia bersama.


•••


Rose berjalan masuk ke dalam kamar Yusen. Wanita itu mengetuk pintu kamar Yusen setelah membukanya.


Yuna menoleh. Sedangkan Yusen, pria kecil itu duduk di tepi ranjang memunggungi ibunya.


“Mama,” lirih Yuna, ia beranjak dari sisi Yusen, lalu berjalan menuju sang ibu.


“Yuna, kau masuklah ke kamarmu, lalu pergi tidur. Jangan lupa, sebelum tidur, cuci kaki, tangan, muka dan sikat gigimu,” tutur Rose lembut.


Putrinya itu pun mengangguk paham. Kemudian, Yuna berjalan melewati ibunya. Ia keluar dari dalam kamar Yusen, lalu berpindah masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Sebelum menutup pintu kamarnya, Yuna menatap ibunya yang masih mengamatinya dalam senyuman hangat.


“Selamat malam, Ma,” ucap Yuna.


Rose mengangguk dengan senyum yang masih terulas manis di wajahnya, lalu ia pun menjawab ucapan selamat malam dari anaknya itu.


“Selama malam, Yuna-ku,” balas Rose.


Yuna tersenyum, kemudian ia menutup rapat pintu kamarnya.


Setelah melihat Yuna masuk ke dalam kamarnya. Rose beralih memandang putranya yang masih diam di tempatnya. Yusen duduk di tepi ranjang tanpa bergerak sedikitpun.


Helaan napas mengiringi langkah awal Rose untuk mendekati anaknya itu.


Ia berjalan menuju ke arah Yusen. Lalu, Rose mengambil posisi duduk di sisi putranya itu.


“Yusen,” panggilnya.


Yusen diam, mengabaikan panggilan lembut itu.


“Yusen, dengarkan Mama,” ucap Rose. Perempuan itu lantas memegang kedua tangan anaknya, membuat Yusen mau tak mau menghadap ke arah ibunya.


Senyum hangat menjadi tangkapan pertama mata Yusen ketika melihat ibunya.


Ingin sekali Yusen membalas senyum yang begitu menggiurkan untuk dibalas itu. Tapi, mengingat kalau dirinya sedang marah. Yusen pun harus menahannya. Menahan senyuman-nya dengan mengeluarkan tatapan datarnya.


“Maafkan, Mama,” lirih Rose.


“Untuk apa Mama meminta maaf?” tanyanya.


“Tadi itu, Mama tidak bermaksud membentak-mu. Tapi, Mama hanya tidak mau kau menjadi seseorang yang tidak sopan pada orang yang lebih tua,” jujur Rose.


“Benarkah? Benarkah Mama membentak-ku karena itu? Bukankah Mama membentakku karena dia?” tukas Yusen.


Rose menghela napasnya, ia mengelus puncak kepala putranya itu sayang.


“Kenapa kau terlihat begitu membencinya, hum?” tanya Rose, lembut.


Rose menatap mata anaknya, ada binaran sedih tertuang di manik mata pria kecil itu.


“Karena dia memang pantas di benci,” jawab Yusen seadanya.


Rose menganggukkan kepalanya, seolah ia paham.

__ADS_1


“Kalau begitu, karena alasan apa kau membencinya?” tanya Rose. Perempuan itu berniat mengetahui lebih dalam tentang isi hati putranya. Ia ingin memahami Yusen. Lalu kemudian mencari celah untuk memberi nasihat pada putranya.


Sebuah cara yang biasa Rose lakukan untuk memahami isi hati kliennya.


Karena isi hati itu merujuk pada sebuah perasaan, dan perasaan adalah sesuatu misterius yang tumbuh di dalam hati.


Perasaan yang bersemayam di dalam hati itu pun pecah menjadi berbagai macam rasa, yang terkadang membuat orang bisa tertawa, menangis, kesal ataupun ber-euforia sekaligus.


“Yusen?” lirih Rose, masih menunggu jawaban dari putranya itu.


Yusen mengalihkan pandangannya dari sang ibu, kini ia menatap lurus ke depan.


“Karena aku merasa senang saat tahu kalau aku punya seorang ayah. Tapi, di sisi lain, aku kesal dengan fakta bahwa ayahku adalah orang yang telah meninggalkan kita selama delapan tahun ini,” urai Yusen.


Rose menghela napas pendeknya lagi dan lagi. Kemudian ia merengkuh tubuh Yusen, mengusap puncak kepala Yusen tanpa bosan.


“Kau sedang kebingungan dengan perasaan mu?” tanya Rose.


Yusen mengangguk dalam pelukan ibunya.


“Kau bingung harus bersikap apa dan bagaimana, iya kan?” tanya Rose lagi.


Yusen kembali menganggukkan kepalanya, namun kali ini dengan jawaban singkatnya, “Iya,”


“Kau bingung dengan semua kenyataan yang sejujurnya sulit kau terima. Ini semua, rasanya seperti kau seolah dipaksa keluar dari zona ternyaman mu. Begitukah?” tanya Rose sekali lagi. Wanita itu kemudian melepaskan pelukannya, ia menatap wajah putranya dengan senyum hangat yang tidak pernah luntur dari wajah cantik itu.


“Bagaimana Mama tahu?” tanya Yusen.


“Karena Mama juga merasakan hal yang sama. Mama kesal, sedih, senang, dan juga bahagia,” jawab Rose.


“Lalu, kenapa Mama dengan mudah memaafkannya? Mama bahkan tidak terlihat marah dengannya,” tutur Yusen.


Rose mengusap aliran bening yang hampir jatuh ke pipinya. Wanita itu mendongakkan kepalanya sejenak. Lalu kemudian kembali menatap Yusen lagi.


“Karena Mama tidak ingin sisi negatif hati Mama menguasai diri Mama. Kau harus tahu, sesuatu yang negatif itu akan lebih baik untuk kita hindari. Karena pilihan yang kita ambil dari sisi negatif hati kita ini bisa berujung pada penyesalan,” jelas Rose, berusaha selembut mungkin.


“Jadi, maksud Mama... Yusen harus memaafkan dia dan menerima dia?” tanya Yusen, ada sedikit nada tidak sukanya.


“Bukan seperti itu, Yusen,” jawab Rose perlahan. “Mama tidak akan memaksamu untuk memaafkannya atau menerimanya. Tapi, bagaimanapun juga, dia itu ayah kandungmu,” kata Rose yang perlahan-lahan mulai menasihati putranya.


“Mama tahu ini sulit. Tapi, bisakah kau membuka hatimu untuknya? Delapan tahun ini, dia juga sama menderitanya seperti kita,” sambungnya.


“Jika kau ingin marah. Seharusnya kau marah pada Mama. Karena Mama yang membuat kalian terpisah selama delapan tahun ini. Salahkan Mama yang tidak pernah memiliki keberanian untuk menampakkan diri Mama di hadapan Papa-mu,” jelas Rose.


“Ma,” lirih Yuan saat matanya menangkap ada buliran air bening yang meluncur bebas ke pipi ibunya.


“Kau dan dia bisa saja bertemu lebih awal. Tapi selama delapan tahun ini, Mama selalu menjauh darinya, menghindarinya, menghilang dari hidupnya. Jadi Yusen, seharusnya yang kau benci itu Mama, bukan Papa-mu,” kata Rose, lagi.


Yusen tak tega melihat ibunya itu semakin deras meneteskan air matanya. Walaupun Rose menangis tanpa suara. Tapi air mata itu mampu membuat Yusen merasakan kepedihan yang di rasakan ibunya.


Rose mengusap puncak kepala Yusen. Air matanya ia seka, lalu kembali tersenyum hangat ke arah Yusen yang sudah melepaskan pelukannya.


“Terkadang, Mama berpikir kalau Mama ini sedang membesarkan anak berusia dua puluhan tahun. Kau sangat dewasa di usiamu yang masih angka satuan. Mama bersyukur memiliki anak yang cerdas dan pintar sepertimu dan Yuna. Kalian adalah harta berharga Mama, lebih berharga dari semua aset yang Mama miliki saat ini,” jujur Rose dengan rasa haru yang menyentuh hatinya.


Yusen tersenyum. Kemudian, tangan pria itu bergerak mengusap pipi ibunya yang basah.


“Berjanjilah pada Yusen. Kalau Yusen menerima pria itu, Mama harus berhenti melamun dan menangis diam-diam,” katanya.


Rose terperanjat. Bagiamana putranya itu tahu kalau dirinya selama delapan tahun ini sering melamun dan menangis diam-diam? Yusen sungguh diluar dugaan.


Mungkin, kelak pria kecil ini akan tumbuh menjadi sosok pria yang penuh kasih sayang dan pengertian. Rose merasa tenang membayangkannya.


“Apa Mama sedang berpikir, bagaimana Yusen bisa tahu kalau Mama sering menangis diam-diam?” tanya Yusen.


Rose pun tanpa berpikir panjang lagi, ia mengangguk.


“Itu karna ini,” ucap Yusen sembari menunjuk matanya, “Mata tidak bisa membodohi seseorang. Bukankah Mama sering mendapatinya, ketika seorang klien Mama berbohong secara tidak sadar dia menghindari kontak mata dengan Mama, itu karena matanya lebih jujur dari mulutnya,” ujar Yusen, sungguh seperti pria dewasa.


Rose tersenyum bangga pada anaknya itu, “Kemari, biarkan Mama memelukmu,” suruh Rose.


“Tidak mau, kita sudah dua atau tiga kali berpelukan. Aku ini seorang laki-laki, sangat memalukan kalau terus-menerus masuk ke dalam pelukan ibunya. Nanti teman-temanku bisa berpikir kalau aku ini anak manja,” tukas Yusen dengan gurauan dinginnya.


Rose tertawa kecil, ia mengacak gemas rambut Yusen.


“Kalau begitu tidurlah. Tapi jangan lupa untuk— ”


“Sikat gigi, cuci muka, cuci tangan dan cuci kaki,” sela Yusen yang membuat Rose kembali terkekeh.


“Pintar,” puji Rose.


•••


Di sisi lain rumah itu, Yuan sebenarnya diam-diam mengikuti Rose. Tadi, setelah Yunara, putri kecilnya itu masuk ke dalam kamarnya, Yuan perlahan berjalan dan berdiri di dekat pintu kamar Yusen yang tidak tertutup.


Yuan berdiri di sana untuk mendengarkan apa yang anak dan ibu dari anak-anaknya itu sedang perbincangkan.


Setiap detik dan menit yang berlalu, ekspresi Yuan tampak berubah-ubah.


Pertama kali mendengar perbincangan keduanya. Yuan merasa sedih, menyesal dan bersalah secara bersamaan.


Tapi, di akhir perbincangan kedua orang itu. Yuan merasa terharu. Ia senang karena secara tidak langsung, Yusen akan membuka hati untuknya.


Di saat hati Yuan tengah ber-euforia. Pria itu lupa kalau dirinya saat ini sedang dalam mode menjadi mata-mata dadakan. Karena itu, ia ketahuan oleh Rose yang baru saja keluar dari kamar Yusen.


Rose tampak terkejut melihat Yuan yang berdiri di dekat pintu kamar anaknya. Ia menatap penuh selidik ke arah pria itu.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rose pelan. Ia kemudian menutup pintu kamar Yusen. Setelah itu, Rose menarik tangan Yuan, membawa pria itu menjauh dari area kamar Yusen dan Yuna.


“Kau menguping ya?” tebak Rose setelah menarik Yuan menuju ruang tamu.


“Maaf,” ucap Yuan.


“Aku tidak bermaksud menguping, aku tadinya ingin masuk dan mau mengatakan sesuatu. Tapi saat aku baru saja ingin masuk, kalian sudah memulai pembicaraan. Karena tidak mau mengganggu, jadi aku berdiam diri di sana,” jelas Yuan.


Rose menghela napasnya, “Kau harus ingat ini. Sangat tidak sopan menguping pembicaraan orang lain. Apalagi putramu itu sangat menyukai privasi. Ia sangat tidak suka melihat orang lain mengganggu privasinya,” kata Rose dengan tangan yang bersilangan di depan dada.


“Aku mengerti, maafkan aku. Aku berjanji, aku tidak akan mengulanginya lagi,” tutur Yuan.


“Pegang janjimu,” tukas Rose. Setelah itu ia berbalik dari hadapan Yuan.


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Yuan.


Rose kembali menghela napasnya, “Aku harus pergi tidur. Ini sudah malam, besok aku harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan keperluan anak-anak,” jawab Rose.


“Ah iya, satu lagi. Kau mungkin juga sudah mengetahuinya dari hasil menguping mu tadi. Yusen bisa menerima mu kalau kau mau tinggal di sini,” imbuh Rose, wanita itu menoleh sedikit ke arah Yuan.


“Tapi, karena di rumah ini hanya ada tiga kamar yang tersedia dan karena kamar tamunya aku gunakan untuk gudang. Untuk malam ini, kau tidur di sofa itu,” ujar Rose sembari menunjuk sebuah sofa dengan warna old blue yang ada di ruang tamu.


Yuan pun mengikuti arah telunjuk Rose. Ia menatap sofa yang terlihat keras itu. Dan kemungkinan besar, tubuhnya tidak akan muat kalau dirinya berbaring di sana.


“Tapi, sofa itu sangat kecil. Tubuhku tidak akan muat berbaring di sana. Kenapa kita tid— ” ucap Yuan. Namun ketika ia menolehkan kepalanya ke arah Rose. Ternyata wanita itu sudah melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya.


Yuan hanya bisa menghela napasnya, pasrah.


•••


Pagi itu, udara terasa menusuk. Mentari pun sepertinya enggan menampakkan diri. Awan berwarna abu-abu itu menyelimuti langit biru yang menawan.


Hari yang di harapkan cerah pun menjadi hari mendung dengan gerimis yang mulai menyapa.


Rose menggeliatkan tubuhnya. Bunyi alarm dari ponselnya membuat Rose harus segera bangun dan memulai aktivitasnya.


Tangan wanita itu bergerak ke arah nakas yang berada di bagian kiri dekat tempat tidurnya.


Setelah mendapatkan ponselnya. Rose menekan tombol untuk mematikan alarm tersebut.


“Selamat pagi,”


Rose membeku. Ia terperanjat. Jantungnya pun berlari marathon. Matanya seketika itu juga lanngsung terbuka lebar. Ia menoleh, ke sumber suara itu berasal.


Sisi kanan ranjangnya, seorang pria tanpa mengenakan baju atasnya kini tengah tersenyum ke arahnya. Di saat itu pula lah, Rose baru menyadari kalau bantal yang ia gunakan bukanlah bantal yang sesungguhnya, melainkan tangan kokoh pria itu.


Dengan sigap, Rose langsung membuka selimutnya, mengecek apakah semua baik-baik saja.


Helaan napas lega pun menjadi pertanda kalau Yuan tidak mungkin melakukan sesuatu yang di luar batasan.


Melihat tingkah Rose itu, Yuan terkekeh.


“Apanya yang lucu?!” sungut Rose, kesal.


Yuan pun berdehem, menghentikan tawa kecilnya.


“Selamat pagi. Kau belum menjawabnya,” ujar Yuan.


“Pagi,” jawab Rose cepat.


Wanita itu kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Tapi tangan Yuan dengan cepat menarik lengan kecil itu, membuat Rose tersungkur ke arah dada bidang milik Yuan.


“Kau gila?!” umpat Rose.


“Aku gila karena semalaman harus menahan diri untuk tidak menerkammu,” goda Yuan.


“Kau— ”


“Kau seharusnya mengenakan pakaian tidur yang lebih tertutup jika tidak ada suamimu di rumah,” nasihat Yuan.


“Apa maksudmu, aku— ”


“Aku tidak suka jika ada pria lain melihatmu memakai pakaian tidur ini,” sela Yuan lagi. Pria itu kemudian merengkuh tubuh Rose ke dalam pelukannya.


“Yuan, kau— ”


“Ma, ada ap— ” Yuna masuk ke kamar ibunya karena ia mendengar suara ribut dari kamar Rose. Dan sialnya, semalam, setelah Yuan membobol pintu kamar Rose. Pria itu lupa menguncinya. Alhasil, Yuna harus melihat kedua orang tuanya yang belum sah menikah itu sedang berpelukan di atas tempat tidur.


“Ma...maaf,” ucap Yuna yang kemudian langsung menutup pintu kamar itu.


 


 


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


 


 


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


 


 

__ADS_1


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2