
Sebelumnya, terimakasih banyak💕 untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
“Kau benar-benar sudah tidak waras” cibir Rose. Ia tidak bersungguh-sungguh dengan cibirannya itu.
“Kau tahu itu. Aku tidak waras, benar-benar tidak waras saat berdekatan denganmu,” ujar Yuan. Kemudian, entah apa yang merasuki Yuan, pria itu tiba-tiba mendekati Rose, berniat menghapus jarak di antara mereka.
“Yuan, apa, apa yang ingin kau lakukan?” gugup Rose. Ia berusaha mendorong tubuh Yuan. Namun sia-sia saja, karena tubuhnya itu tidak sebanding dengan tubuh kekar Yuan.
“Yuan lampunya!” pekik Rose, membuat pria itu spontan menjauh darinya.
“Sial,” umpat Yuan sembari menancapkan gasnya, kembali melajukan mobil tersebut.
Melihat ekspresi kesal Yuan, Rose tertawa cekikikan.
“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanya Yuan dengan nada kesalnya.
“Kau menertawaiku karena gagal menciummu kan?” imbuh Yuan, masih dengan nada kesalnya.
Rose menggelengkan kepala, “Tidak,” bohongnya sembari mengulum bibirnya, menahan tawa yang ingin pecah.
“Ck, menyebalkan,” keluh Yuan.
Pria itu pun kemudian terdiam, ia memandangi wajah Rose yang masih berusaha menahan tawanya. Ekspresinya terlihat menggemaskan bagi Yuan.
“Jangan lakukan hal itu lagi,” ucap Rose ketika hasrat ingin tertawanya lenyap.
“Hal apa?” tanya Yuan, tak mengerti.
“Seperti tadi pagi dan barusan,” jawab Rose.
“Apa? Aku tidak mengerti,” kata Yuan.
__ADS_1
“Seperti tadi pagi, kau tidur di kamar ku, memelukku di depan Yuna, memanggilku sayang di depan anak-anak, dan barusan kau hampir menciumiku. Apa aku harus mengatakannya dengan begitu jelas?!” oceh Rose, geram.
Yuan terkekeh mendengarnya, tangannya pun kemudian bergerak, mengacak gemas rambut wanita itu.
“Kau menggemaskan,” ucapnya.
Setelah itu, keduanya hanya berselimutkan keheningan.
Hingga akhirnya, mereka sampai di depan gedung firma hukum tempat Rose bekerja.
Rose menggenggam tasnya dan beranjak ingin keluar dari mobil itu. Tapi, Yuan tiba-tiba menarik lengannya, “Tunggu dulu,” ucap Yuan.
“Ada ap—“
Kalimat Rose terpotong, terganti dengan matanya yang melebar, ia terkejut. Yuan menciumnya secara tiba-tiba. Tidak, bukan di bibir wanita itu, melainkan di sudut bibir Rose. Kecupan kecil itu menimbulkan rasa gemas yang tertahan.
“Aku akan merindukanmu,” bisik Yuan.
“Aku mengerti, sudah cukup, menjauhlah dariku, aku harus turun,” kata Rose. Tapi sepertinya Yuan tidak mendengarkan.
Melihat tidak ada reaksi dari pria itu. Rose mencoba mendorong tubuh Yuan. Namun, hasilnya nihil, Yuan tak bergerak sama sekali.
Sebuah ide darurat pun melintasi kepala Rose. Wanita itu akhirnya dengan tepaksa menarik Rambut belakang Yuan, “Aku bilang menjauh dariku, kau tuli ya?!” seru Rose, sudah di batas rasa sabarnya.
Yuan mengaduh kesakitan. Pria itu terlihat mengusap kepala belakangnya yang terasa sedikit berdenyut, “Kau ingin membunuhku ya? Kenapa suka sekali bermain kasar, huh?!” sungut Yuan kesal.
“Salah siapa yang berani mengabaikan perkataan ku. Aku sudah menyuruhmu untuk mejauh dariku. Tapi kau tidak mengindahkan perkataan ku sama sekali. Sekarang terima akibatnya. Kau pikir aku ini masih Rose seekor domba polos? Tidak, kau salah jika masih menganggap ku seperti itu. Aku saat ini lebih mengerikan dari seekor macan betina,” balas Rose tak kalah kesal.
“Sudah lah, aku harus pergi bekerja,” ujar Rose.
Wanita itu pun kemudian keluar dari dalam mobil tersebut, sebelum pintu mobil itu tertutup rapat. Yuan terdengar mengeluarkan suaranya keras, “Sampai jumpa, Sayang!”
Mendengar itu, Rose hanya bisa menghela napas sembari menahan malunya. Bagaimana tidak, lihat saja, kini semua orang memandang ke arahnya. Rose pun kemudian bergegas menutup pintu mobil itu. Lalu pergi menjauh dari mobil dan segera masuk ke firma hukum tersebut.
Sedangkan Yuan, ia terus memperhatikan Rose dengan senyum mengembang sampai wanita itu benar-benar masuk ke dalam firma hukum itu dan hilang dari pandangannya.
“Dia itu sekarang seperti induk singa,” ucap Yuan saat kembali teringat dengan sikap Rose yang sekarang.
Setelah mengatar Rose, Yuan pun langsung pergi ke perusahaannya.
•••
“Baiklah anak-anak, waktu ujian telah selesai. Silahkan letakkan alat tulis kalian dan tutup lembar soal juga lembar jawaban kalian. Jangan ada lagi yang menulis apalagi masih mengerjakan,” suruh seorang guru pengawas berusia sekita tiga puluhan yang berdiri di depan ruang kelas itu.
“Ketua kelasnya di sini siapa?” tanya guru itu kemudian.
Semua murid menoleh ke arah Yuna. Gadis kecil itu pun lantas mengangkat tangannya, “Saya,” jawabnya.
“Oh, Yuna ya,” ucap guru tersebut, ia mengenal Yuna karena prestasi gadis kecil itu.
__ADS_1
“Kalau begitu, Yuna kau ambil lembar jawaban teman-temanmu. Lalu letakkan di meja ini,” ujar guru itu sembari menunjuk meja yang tersedia di depan ruang kelas itu.
Yuna mengangguk. Gadis berusia delapan tahun itu kemudian beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendatangi satu persatu meja teman sekelasnya, termasuk meja saudara kembarnya yang baru saja ia datangi.
Tapi, ketika Yuna sampai di kursi bagian paling belakang. Seorang pria kecil yang terkenal kenakalannya menatap Yuna dengan sorot tajamnya.
Pria itu berusia sekitar sebelas tahun, beberapa tahun lebih tua dari Yuna yang memang meloncat dua kelas lebih cepat dari anak seusianya.
“Kak Eric, berikan lembar jawabanmu, kau seharusnya tidak boleh menulis lagi,” ujar Yuna yang melihat pria itu masih sibuk menyalin jawaban dari teman sekelasnya.
“Lewatkan aku. Kau pergilah ke meja lain dulu, sebentar lagi selesai,” jawab Eric.
Yuna menghela napasnya, ia tidak suka diskriminasi. Gadis kecil itu pun menarik paksa lembar jawaban milik Eric, yang otomatis membuat pria berusia sebelas tahun itu tampak melotot ke arahnya.
“Kau!”
“Maaf, tapi guru bilang waktunya sudah habis,” tutur Yuna yang kemudian hendak pergi dari hadapan Eric.
“Berikan lembar jawabanku kembali, aku harus mengisi semuanya. Kalau tidak ayahku bisa marah nanti,” kata Eric sembari menarik lengan Yuna kuat. Gadis kecil itu sampai meringis kesakitan.
“Ada apa di sana?” tanya guru di depan kelas.
Yuna menatap ke arah guru itu. Ia ingin mengadu, tapi belum sempat mulutnya berkata. Eric lebih dulu menarik paksa lembar jawaban miliknya dari Yuna.
“Kau berani mengadu, aku akan pastikan kalau kau keluar dari sekolah ini. Kau lupa? Ayahku investor sekolah ini, guru pun tidak ada yang berani padaku,” ucap Eric pelan, memberikan ancamannya.
“Yuna? Ada apa?” tanya guru itu lagi.
Yuna menatap ke depan, ke arah guru pengawas itu.
“Ini, Bu. Eric— ”
“Aish,” Eric mendesis kesal. Pria itu sampai berdiri dari kursinya. Ia bahkan terlihat menggebrak mejanya. Ya, pria berusia sebelas tahun itu memang terkenal tidak pandai mengendalikan emosinya. Ketika marah, Eric bisa menjadi penjahat kecil yang kejam.
Lihat saja apa yang di lakukan Eric saat ini. Pria itu menampar seorang gadis kecil di depan guru dan teman-teman sekelasnya.
Guru pengawas itu tampak terkejut. Tapi, mengetahui kalau yang berbuat demikian adalah anak dari salah satu investor besar. Dia hanya bisa diam, bingung harus berbuat apa.
“Aku sudah sabar denganmu, bukankah sudah aku bilang tunggu sebentar! Apa kau tidak bisa menunggu sebentar saja ha?! Kau tuli ya?!” kata Eric sembari menunjuk-nunjuk kepala Yuna yang tertunduk.
“Kau pikir, kau itu siapa berani melawanku? Walaupun kau si jenius sekolah kita. Tapi apa kau tidak tahu, bagaimana teman-teman membicarakan dirimu dan kembaranmu itu dari belakang? Ck, dasar anak haram,” cibirnya, benar-benar menusuk hati gadis kecil itu.
Air mata Yuna turun, bersamaan dengan itu, Yusen berjalan cepat mendekat ke arah mereka, tangannya terkepal kuat. Detik berikutnya, tinjunya itu mendarat sempurna di wajah Eric, pria yang telah berani menampar wajah saudari kembarnya.
“Kau!”
Eric ingin membalas Yusen, pria berusia delapan tahun yang tingginya pun tidak sebanding dengan Eric. Tapi belum sempat Eric membalasnya. Sebuah tangan kecil menarik rambutnya kasar, lalu mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur.
“Kalian berdua! Apa yang kalian lakukan pada Eric?!” teriak seorang guru yang tidak sengaja melewati kelas tersebut.
•••
Waktu hampir menunjukan pukul dua belas siang. Yuan terlihat melirik arloji sesekali. Pria itu kini berdiri di depan gedung perusahaan Tnp group, menunggu sekertarisnya yang sedang mengambil mobil SUV nya.
“Presdir,” panggil sekertaris Iko, ia baru saja keluar dari dalam mobil SUV yang terparkir tak jauh dari Yuan.
“Kenapa lama sekali?” keluh Yuan, ia langsung merebut kunci mobil yang di pegang sekertarisnya itu.
“Maaf, Presdir tadi— ”
“Sudah, tidak perlu memberi alasan. Kau urus beberapa dokumen yang tersisa. Aku harus pergi sekarang,” sela Yuan. Pria itu kemudian bergegas pergi menuju mobilnya.
“Baik, Presdir,” jawab sekretaris Iko walaupun ia yakin kalau Yuan tidak akan mendengarnya.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1
Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme