The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Yuan vs Feng (bagian satu)


__ADS_3

"Nana, apa kau melihat Daisy?" Tanya ibunya, Rachel.


"Eh? Daisy? Bukankah tadi dia bersama kita? Tapi, kalau diingat-ingat lagi— aku tidak melihatnya sejak beberapa menit yang lalu." Jawab Nana sembari menoleh ke arah ibunya.


"Ah ya ampun, kemana perginya anak itu? Tadi, dia bilang ingin pergi ke toilet sebentar. Tapi, sampai sekarang belum juga kembali. Dia itu benar-benar membuat orangtua merasa khawatir saja." Ujar Rachel. Wanita paruh baya itu terlihat mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan pesta itu, ia menelaah setiap inci ruangan, berharap bisa menemukan sosok yang saat ini sedang dicemaskannya.


"Rachel." Panggil seseorang, itu Ana.


"Bibi Ana dan paman Ray juga ada disini?" Tanya Nana sembari menoleh ke arah ayahnya.


"Tentu saja. Kalau ayah saja di undang, bagaimana mungkin mereka tidak. Apalagi, paman Ray- mu itu adalah teman baik ketua Barack. Jika dibandingkan dengan kita, mereka itu merupakan tamu kehormatannya ketua Barack." Jawab Yohan yang kemudian melangkah mendekati Ray dan keluarganya.


"Nana, kau ikut juga?" Tanya Yuan dengan senyum cerianya.


Wajah Yuan saat ini— seperti sedang menampilkan aura semangat hidup kembali. Tentu saja, pria itu merasa sangat senang sekali. Ia senang, karena bisa bertemu dengan orang yang bisa ia ajak bicara normal di pesta yang sangat membosankan seperti ini.


"Em, memangnya kenapa? Tidak boleh?"  Kata Nana.


"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa sangat senang kau ada disini. Ayo ikut aku." Ujar Yuan sembari menarik tangan Nana.


Yuan menarik tangan Nana, ia berniat untuk mengajak Nana keluar dari ruangan pesta itu.


"Yuan, kau ingin pergi kemana?" Tanya Ray.


"Aku ingin keluar sebentar saja dad. Hanya sebentar. Nanti juga kembali lagi." Jawab Yuan yang kemudian kembali menarik Nana menjauhi kedua orangtua mereka.


"Dasar, anak itu." Gumam Ray.


"Sudahlah, biarkan saja. Lagipula, dia sudah berjanji untuk kembali lagi." Bisik Ana pada suaminya itu.


"Oh iya, dimana Daisy? Kalian tidak mengajaknya?" Tanya Ana pada Rachel dan Yohan yang masih berdiam diri dihadapannya dan Ray.


"Kami mengajaknya. Hanya saja— anak itu bukan tipe orang yang betah dengan pesta seperti ini. Kurasa dia kabur entah kemana." Kata Rachel.


"Anak muda jaman sekarang, sepertinya memang tidak paham dengan makna pesta seperti ini." Ujar Ray sembari menatap ke arah Yuan pergi.


•••


"Kau ingin pergi kemana, bodoh?!" Tanya Nana. Walaupun berkata demikian. Tapi, gadis itu sama sekali tidak te memberontak ketika Yuan terus menarik tangannya dan menjauhi ruangan pesta itu.


"Kemanapun, asalkan jangan di tempat itu." Ujar Yuan.


Mereka berjalan menuju ke arah lift. Yuan berpikir untuk pergi ke bagian atap hotel. Mungkin, disana adalah tempat terbaik untuk mendapatkan udara segar dan terhindar dari acara yang membosankan itu, pikir Yuan.


Ketika pintu lift terbuka, Nana dan Yuan tidak langsung masuk ke dalam lift itu. Mereka berdua tetap diam tak bergerak untuk beberapa detik lamanya.


Mereka terlihat tidak berniat untuk bergerak maju dan masuk ke dalam lift. Itu karena, mereka melihat Alex berada di dalam sana.


Dan sebenarnya, yang diam ditempat adalah Nana seorang. Yuan, pria itu hanya mengikuti gerak Nana yang masih diam mematung.


"Papa!" Ucap Nana, gadis itu kemudian menghambur kedalam pelukan ayah kandungnya saat Alex sudah keluar dari dalam lift itu.


"Apa yang kau lakukan disini? Oh! Apa mereka mengajakmu untuk ikut ke acara ini?" Tanya Alex yang di balas dengan sebuah anggukan oleh Nana. Dan juga, kata 'mereka' yang Alex maksud adalah ibu dan ayah tiri Nana. Rachel, Yohan.


"Yuan, dimana mom dan daddy mu?" Tanya Alex yang kini mengalihkan pandangannya pada Yuan.

__ADS_1


"Ada di dalam, mereka sedang berbincang dengan paman Yohan dan bibi Rachel." Jawab Yuan.


"Ah begitu. Lalu, kenapa kalian berdua ada disini? Kalian ingin pergi kemana?"


"Kami bosan ada di dalam. Jadi, kami berniat untuk pergi keluar sebentar."


"Oh begitu. Jiwa kalian memang masih sangat muda ya. Mengingatkanku pada masa mudaku dulu." Ujar Alex sembari mengelus puncak kepala Nana yang masih bergelayut manja pada ayah kandungnya itu.


"Apa paman juga ingin ikut kami keluar?" Tanya Yuan.


"Eh, tentu tidak. Sebenarnya ingin. Hanya saja itu tidak mungkin. Paman harus menyapa pemilik acara ini dulu. Lalu menyapa rekan bisnis yang lainnya." Kata Alex.


"Sayang sekali." Ucap Nana sembari melepaskan dirinya dari pelukan sang ayah.


Alex tampak tersenyum hangat. Lalu kemudian, tangannya mulai bergerak untuk mengacak lembut rambut Nana yang tertata rapi.


"Papa~" Rengek Nana yang tidak suka dengan tindakan ayah kandungnya barusan.


"Ah iya, maaf maaf. Em— kalau begitu, papa masuk ke dalam dulu ya." Ujar Alex dengan senyum lebar yang terus tercetak jelas di wajahnya.


"Yuan, tolong jaga Nana ya. Kalian berdua, jangan pergi terlalu jauh. Jangan membuat orangtua khawatir." Kata Alex yang kemudian pergi dari hadapan mereka.


"Cih, dasar orangtua. Mereka itu selalu saja menganggap kita sebagai anak kecil. Kita kan sudah dewasa." Oceh Yuan.


"Sudahlah, ayo cepat. Kau ingin pergi kemana?" Tanya Nana sembari menarik Yuan untuk masuk ke dalam lift.


"Atap." Jawab Yuan.


•••


"Apa?"


"Ck, lihat itu yang disana. Semuanya terlihat indah dari atas sini." Kata Daisy sembari menunjuk ke arah matanya memandang.


"Oh, biasa saja." Ucap Feng.


Tanggapan dari pria itu, rasanya membuat Daisy merasa geram. Terlihat, gadis itu berdecih kesal dengan pandangan yang beralih ke sembarang tempat.


"Aku sudah biasa berada disini. Aku juga sudah biasa melihatnya, jadi menurutku itu semua biasa saja." Kata Feng.


Daisy masih diam, gadis itu sepertinya tidak berniat untuk membalas perkataan Feng. Ia lebih memilih kembali menatap pancaran gemerlap lampu ibu kota.


"Ngomong-ngomong, bukankah— pesta itu adalah pesta ulang tahun ayahmu? Kenapa kau ada disini? Seharusnya kau ada di dalam dan mendampingi ayahmu." Ujar Daisy yang memecahkan keheningan diantara mereka.


"Itu bukan urusanmu." Jawab Feng.


"Cih, kalau dibandingkan dengan kak Yuan, kau itu sepertinya tidak lebih baik darinya." Ucap Daisy.


"Apa katamu? Nama siapa yang baru saja kau sebut tadi? Yuan?! Apa Yuan yang kau maksud itu— Yuan Mauli Gavin?" Tanya Feng.


Daisy menganggukkan kepalanya dan menoleh sekilas. Lalu kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah gemerlapan lampu ibu kota.


"Kau mengenalnya?" Tanya Feng.


Daisy yang mendapat pertanyaan itu langsung menoleh ke arah Feng lagi. Tapi sebelum menjawab pertanyaan dari pria itu, Daisy terlihat diam untuk beberapa saat. Dan setelahnya, ia terlihat menghela nafasnya berat.

__ADS_1


"Tentu saja aku mengenalnya. Bahkan, aku mengenalnya dengan sangat baik. Itu karena, dia itu sepupuku." Jawab Daisy.


"Apa?! Jadi— kau itu sepupunya?! Cih, pantas saja kau memujinya." Ucap Feng sembari menampilkan senyum sinisnya.


"Memangnya apa yang salah? Lagipula, itu bukan pujian. Tapi, memang sebuah fakta." Ujar Daisy.


"Fakta dari sudut mananya?! Dia itu tidak lebih hanya seorang pria yang memiliki wajah sedikit tampan saja." Kata Feng.


"Apa katamu?!"


"Tidak ada."


"Ck, kau itu terdengar dan terlihat seperti seorang pria yang sedang iri dengan pria lain." Sindir Daisy.


"Siapa yang iri padanya?! Aku bahkan lebih baik darinya. Kau harus tahu itu." Sanggah Feng.


"Yaa— dari segi percaya diri. Kau memang lebih baik darinya. Rasa percaya dirimu itu lebih tinggi daripada kak Yuan." Kata Daisy.


"Apa kau bilang?!"


"Siapa yang sedang memperdebatkan diriku ini?" Tanya seorang pria yang sejak tadi berdiri di depan pintu yang terhubung dengan atap hotel itu.


"Daisy? Ternyata kau ada disini. Ibu mencarimu kemana-mana, ibu dan ayah khawatir padamu. Lebih baik kau kembali atau hubungi mereka. Atau setidaknya, beritahu keberadaanmu pada mereka." Ujar Nana yang berdiri di samping Yuan.


"Pria ini, kau membututiku ya?!" Tanya Feng dengan nada sinisnya.


"Ck, siapa yang kau maksud? Aku? Tidak mungkin. Untuk apa aku membututimu. Lagipula, aku baru saja mendengar seseorang sedang membicarakan aku dari belakang. Bahkan, orang itu sepertinya sedang iri padaku." Jawab Yuan yang diakhiri dengan nada menyindirnya.


"Kau!"


"Untung saja aku cepat datang kesini, kalau tidak— mungkin aku akan terus-menerus bersin di dalam sana, karena ada seseorang yang sedang membicarakan aku." Kata Yuan yang semakin membuat Feng tampak memanas.


"Kau— apa maksud dari perkataanmu itu?!"


Feng terlihat mendekat ke arah Yuan. Pria itu dengan cepat langsung mencengkeram kuat kerah kemeja Yuan, pose mereka saat ini menggambarkan seperti dua orang pria yang siap untuk baku hantam.


"Apa?" Tanya Yuan dengan raut wajah tanpa dosanya.


"Kau tidak dengar apa yang Daisy katakan? Kalau kau terus seperti ini, kau benar-benar terlihat seperti seorang pria yang sedang iri hati dengan pria lain. Lagipula, apa yang kau iri-kan dariku? Kita sama-sama dari keluarga kaya, kau juga bisa populer kalau kau membongkar identitas aslimu kepada semua mahasiswa dan mahasiswi. Kau terlihat seperti pria pintar dan cerdas juga. Ah iya! Tapi— ada satu hal yang membuat kita berbeda, yaitu tentang gadis itu, yaa— sayangnya gadis itu lebih memilihku daripada kau. Apa jangan-jangan— kau iri hati karena satu hal itu?" Ujar Yuan diiringi senyum merendahkannya.


"Gadis itu? Yuan, tidak. Maksudku— kalian sedang tidak memperebutkan Rose kan?" Tanya Nana yang langsung paham dengan arah pembicaraan Yuan.


Tapi, walaupun Nana bertanya pun, kedua pria itu seakan-akan tidak mendengar apa yang barusan Nana katakan. Mereka berdua terlalu serius bersitegang satu sama lain.


"Kau itu bukan pria baik untuknya. Jadi, aku ingin kau menjauhinya." Ujar Feng.


"Siapa yang kau suruh menjauhi siapa? Kau pikir, aku akan mendengarkan harapanmu itu? Aku bukan sebuah patung harapan yang bisa mengabulkan harapanmu itu. Aku juga bukan seorang pesuruhmu yang akan menyanggupi keinginanmu itu. Aku ini rivalmu. Kita seharusnya bersaing dengan adil kan? Tapi— seberapa banyak kau mencoba mendekatinya pun, tetap akulah yang akan menang. Karena dia itu— menyukaiku." Kata Yuan.


Mendengar penuturan Yuan barusan, Feng terlihat semakin merasa geram dengan pria dihadapannya itu. Terlihat, tangan Feng semakin mencengkram kuat kerah kemeja yang Yuan kenakan. Tapi, pria yang berada dalam cengkeramannya itu tampaknya merasa tidak takut sama sekali. Yuan masih dengan santainya menampilkan raut wajah tidak berdosa.


Lalu, pada detik berikutnya. Feng melancarkan aksinya dengan memukul wajah Yuan menggunakan tinjunya. Kepalan kuat dari tangan Feng yang menghantam wajah pria tampan itu sepertinya lumayan keras. Tampak bercak darah dengan warna merah keluar dari sudut bibir Yuan, hal itu juga menimbulkan sebuah lebam berwarna kebiruan di sudut bibirnya.


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa menamparnya?!" Pekik Daisy. Gadis itu merasa shock dengan tindakan yang baru saja Feng lakukan pada kakak sepupunya itu.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2