The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Dia (mom) Mengetahuinya


__ADS_3

Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan tahun lebih, tampak berlutut di hadapan Alex yang sedang fokus membaca lembaran kertas-kertas berisi bukti yang di berikan oleh pria tersebut.


Alex dengan teliti membacanya satu demi satu, tidak ada satu katapun yang luput dari pandangan matanya.


Pria itu terlihat seperti seseorang yang tengah fokus mencari jarum diantara tumpukan jerami kering.


“Darimana kau mendapatkan bukti-bukti ini?” tanya Alex.


Di dalam kalimat pertanyaan-nya itu, sebenarnya terdapat jebakan yang sengaja Alex lemparkan pada pria yang sedang berlutut dihadapan.


“Saya, saya sendiri presdir.” jawab pria itu, ia merupakan salah satu anggota dari tim manajemen yang memiliki banyak keterlibatan dalam proyek baru.


Alex tersenyum sinis, pria itu telah masuk ke dalam perangkapnya, pikir Alex.


“Siapa nama-mu?” tanya Alex.


“Na—nama saya? Anda menanyakan nama saya untuk apa presdir? Apakah anda benar-benar ingin memecat saya? Presdir, Saya tidak bersalah, saya hanya dijadikan kambing hitam oleh manajer tim manajemen. Anda bisa membacanya sendiri dari bukti yang saya berikan kepada anda.” kata pria itu dengan nada yang terdengar bergetar ketakutan.


“Jawab saja apa yang tadi aku tanyakan.” ujar Alex.


“I—iya presdir, saya, nama saya Hans.” katanya.


“Hans?”


“Iya presdir?”


“Kau pikir, aku akan percaya padamu?”


Pria bernama Hans itu mendongakkan kepalanya, menatap Alex dengan rasa takutnya, kemudian ia kembali menundukkan kepala ketika Alex balik menatapnya.


“Ampun presdir, tolong jangan pecat saya, saya butuh uang untuk istri saya yang baru saja melahirkan. Saya mohon ampuni saya presdir.” ucap Hans dengan kedua telapak tangan yang menyatu, memohon pada Alex.


“Kau ini kalau ingin berbohong, bisa pandai sedikit tidak? Bukti-bukti ini tadinya membuatku ingin percaya padamu, tapi mendengar perkataanmu barusan, aku tahu, kalau ini adalah bukti palsu yang orang lain berikan padamu.” kata Alex sembari melemparkan map coklat berisi bukti ke atas meja.


“Presdir, apa yang anda katakan itu tidak benar, saya tidak berbohong, bukan saya yang menggelapkan dana proyek baru itu. Apa bukti itu belum cukup juga? Saya mana berani berbuat seperti itu pada perusahaan Tnp group yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi.” ujar Hans.


Alex menghela nafasnya, sejenak ia menatap ke arah Chenli yang masih ada di ruangannya.


Chenli balas menatapnya, tapi pria paruh baya itu hanya diam, mengutarakan kalau masalah ini sepenuhnya ada di tangan Alex. Semua keputusan tergantung pada Alex.


“Hans.” panggil Alex, membuat pria yang bernama Hans itu menoleh.


“Iya presdir?” tanya Hans, masih dengan nada bergetar-nya.


“Kau tahu kenapa saat merekrut karyawan baru kita perlu melakukan tes wawancara? Padahal kita memiliki berkas data diri dari si pelamar. Coba kau jawab.” ujar Alex yang mampu membuat Hans merasa bingung, kenapa pemimpin perusahaan seperti Alex tiba-tiba menyinggung masalah yang seharusnya di bahas oleh tim personalia atau HRD.


“Karena, karena prosedurnya memang harus seperti itu presdir.” jawab Hans.


Alex tertawa kecil, kemudian berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya, kau itu bukan ahlinya berbohong, kau bahkan tidak tahu tentang hal sepele seperti itu. Kau tahu? Tim personalia mengadakan tes wawancara bukan hanya karena prosedur. Tapi agar mereka tahu, apakah data diri dari si pelamar itu konkret atau tidak, dan lagi, wawancara itu dilakukan untuk mengetahui siapa sebenarnya si pelamar itu, sifat, karakteristik dan lainnya. Hanya dengan memberikan pertanyaan kecil tapi penuh jebakan, tim personalia dengan mudah dapat menilai si pelamar itu. Sampai disini, apa kau sudah mengerti maksudku?” kata Alex.


Hans menatapnya bingung, pria itu sepertinya belum mengerti juga. Padahal Chenli dan Aldo yang juga ada disana sudah paham dengan maksud Alex yang telah menyinggung tentang masalah tes wawancara.


“Hans, andaikan tadi kau menjawab, kalau kau mencari dan mengumpulkan bukti ini dengan bantuan seorang teman daripada menjawab kalau kau yang mengumpulkan bukti ini sendiri, atau, andaikan saja kau tidak membahas tentang dirimu yang sedang membutuhkan uang untuk istrimu yang baru saja melahirkan. Mungkin— mungkin aku sudah masuk ke dalam permainanmu dan percaya padamu. Sekarang, katakan padaku, siapa orang yang telah memberimu bukti palsu ini?” ujar Alex sembari menunjuk tajam map yang berisi bukti palsu itu.


“Presdir, tolong percaya pada saya, bukti itu sungguh tidak palsu, itu asli, asli. Saya mohon percayalah presdir, bukan saya yang menggelapkan dana proyek baru itu.” kata Hans.


Alex memijat keningnya sekilas, kemudian melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya.

__ADS_1


“Aldo.” panggil Alex.


“Iya presdir?”


“Bawa dia ke bagian departemen keamanan. Lalu suruh direktur keamanan untuk datang menemuiku.” perintah Alex.


“Baik presdir.” ucap Aldo, menerima perintah tersebut.


“Tidak presdir, saya mohon, saya mohon percaya pada saya. Presdir.” pinta Hans yang kini telah ditarik paksa oleh Aldo untuk segera keluar dari ruangan itu.


“Presdir, saya akan mengatakan siapa yang telah memberikan dokumen ini pada saya, saya akan mengatakannya, saya mohon jangan bawa saya ke departemen keamanan.” ujar Hans yang tampak berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Aldo.


Alex tampak diam, sejenak berpikir, apakah ia akan mendengarkannya atau tidak.


“Aldo, berhenti.” perintah Alex yang langsung membuat Aldo berhenti menarik paksa Hans.


“Terimakasih presdir.” ucap Hans.


“Cepat katakan, siapa dalang di balik dokumen palsu itu?” tanya Alex, terlihat tidak sabar lagi dengan perkataan pria itu.


“Yohan, wakil CEO Yohan yang memberikannya padaku.” kata Hans.


Alex tampak terkejut, kemudian menoleh ke arah Chenli yang juga menatapnya dengan ekspresi terkejut.


“Kau! Apa kau tahu siapa yang sedang kau singgung itu?!” ujar Alex dengan nada suara tinggi.


“Saya tahu presdir tidak akan percaya, karena itu tadi saya tidak ingin mengungkapkannya. Tapi itu memang benar, wakil presdir Yohan yang telah memberikan saya bukti palsu itu.”


Alex mengusap wajahnya frustasi,


“Aldo, cepat bawa dia pergi ke departemen keamanan, aku tidak ingin melihatnya lagi.” ucap Alex yang langsung di balas dengan anggukan oleh Aldo. Sekertarisnya itu dengan satu kali gerakan, ia kembali menarik paksa Hans untuk segera keluar dari ruangan itu dan pergi menuju departemen keamanan Tnp group.


Alex mencoba menulikan telinganya yang terasa memanas, ia tampak memejamkan matanya sejenak, kemudian menghembuskan nafas beratnya sembari menoleh ke arah Chenli yang hendak pergi.


“Sekertaris Chenli, perkataan pria tadi, apa kau akan mengatakannya pada ketua Ray?” tanya Alex.


“Tentu saja, sudah seharusnya ketua Ray mengetahuinya, untuk apa kita menyembunyikannya, kalau pada akhirnya nanti ketua Ray juga akan tahu.” kata Chenli.


“Kau benar, lalu apa kau percaya dengan perkataan pria tadi?”


Chenli tampak diam untuk beberapa saat, ia terlihat tidak siap menerima pertanyaan dari Alex itu.


“Bagaimanapun juga, wakil presdir Yohan dulunya adalah assisten terdekat ketua Ray, dan juga, ketua Ray sangat mempercayainya. Jadi untuk masalah aku percaya atau tidak, pendapatku itu sungguh bukanlah hal penting.” jawab Chenli, begitu pandai mengelak untuk tidak menjawab pertanyaan dari Alex.


“Yah, setidaknya, aku butuh membahas dan mendiskusikan masalah ini pada kak Ray. Chenli, katakan pada kak Ray, aku akan menutup mulut pria bernama Hans itu agar tidak bicara sembarang soal wakil presdir Yohan. Selama dalam masa penyelidikan lebih lanjut, anggap saja pria tadi tidak pernah menyebut nama wakil presdir Yohan.” ujar Alex.


Chenli mengangguk,


“Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan pergi kembali kepada ketua Ray.” ucap Chenli yang kemudian pergi keluar dari ruangan Alex.


Alex menghembuskan nafas beratnya, mengusap wajahnya, lalu terduduk di kursi kerjanya.


Sungguh rumit.


•••


Rose terlihat masuk lebih dulu ke dalam restoran milik ibu kekasihnya.


Lalu, beberapa menit setelah gadis itu masuk, Yuan yang tadi menunggu Rose untuk masuk lebih dulu, akhirnya, ia pun juga masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


Mereka memang selalu seperti itu. Walaupun datang ke restoran bersama, tapi tidak pernah masuk ke dalam restoran itu bersama-sama.


Mereka seperti itu juga karena Rose belum siap kalau ibu dari Yuan tahu tentang kedekatan dan hubungan mereka.


Kini Yuan telah melangkah masuk ke dalam restoran dengan santai seperti biasa. Tanpa ia ketahui, ada seorang wanita paruh baya yang sejak tadi telah berdiri di dekat pintu masuk restoran, menunggu Yuan.


“Rose, kenapa kau masih ada disini? Kenapa tidak masuk ke dalam dan mulai bekerja? Atau— kau menungguku ya?” tanya Yuan yang merasa heran dengan Rose, gadis yang tadinya masuk lebih dulu darinya itu entah kenapa tiba-tiba saat Yuan masuk, ia masih ada di dekat pintu.


Rose tersenyum canggung, ia ingin membalas perkataan Yuan, tapi mengurungkannya ketika matanya beradu pandang dengan seseorang yang tampak berdiri di samping pintu masuk, atau lebih tepatnya di belakang Yuan. Seseorang itulah yang menahan Rose untuk pergi dan mulai bekerja.


Yuan yang melihat Rose hanya diam dan menundukkan kepalanya, ia merasa semakin aneh dengan sikap kekasihnya itu.


“Kau ini kenapa? Ingin meminta maaf lagi? Apa kau tidak bosan mengucapkan kata maaf padaku? Lagipula sepanjang perjalanan tadi, kau selalu saja berkata maaf, tapi tidak tahu apa kesalahanmu. Jadi simpan dulu maafmu itu. Lebih baik, kita bahas masalah ini lain kali saja. Sekarang, aku harus pergi menemui ibuku.” ujar Yuan sembari mengusap lembut kepala Rose.


“Ehem, anakku sayang, kau ingin menemuiku ya? Kalau begitu, tidak perlu pergi ke ruanganku, mom sudah ada disini, di belakangmu.” kata seorang wanita paruh baya yang tampak menyunggingkan senyum siap menggoda putranya itu.


Mendengar suara ibunya yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri, Yuan pun langsung menoleh, berbalik ke belakang.


Saat dirinya telah berbalik, Yuan sungguh terkejut, mendapati ibunya yang sedang berdiri dengan tangan bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu masuk restoran.


“Mom? Mom sejak kapan ada disitu?” tanya Yuan, mulai gugup.


Ana melirik ke arah Rose yang kini ada di belakang Yuan. Gadis itu sejak tadi tampak menundukkan kepalanya terus.


Rose seperti itu karena benar-benar merasa takut dan juga khawatir, hatinya itu saat ini sedang rancu, sangat gelisah.


“Kau ingin mom menjawab dengan panjang dan mendetail atau dengan singkat?” tanya Ana.


“Mom~”


“Ah iya iya, baiklah. Mom akan menjawabnya dengan singkat, padat dan juga jelas. Oke, jadi begini, mom ada disini sekitar beberapa menit yang lalu, saat mom baru saja keluar dari ruangan mom, lalu tidak sengaja melihat mobilmu dari kaca jendela restoran. Tadinya, saat mom melihat mobilmu yang baru saja terparkir, mom ingin langsung keluar untuk menemuimu. Tapi mom mengurungkannya waktu mom lihat ada seorang perempuan yang mom kenal keluar dari dalam mobilmu.” ujar Ana.


“Ah iya, mom juga dengan jelas melihatmu bersikap sangat romantis padanya. Kau itu dengan jantan sampai membukakan pintu mobilmu untuknya, lumayan juga ya sisi romantis-mu itu.” sambungnya lagi.


Yuan menganga tidak percaya dengan penjelasan ibunya itu. Sekarang bagaimana cara Yuan menjelaskannya?


“Mom, aku akan menjelaskannya pada mom. Jadi— itu, itu, aku— ”


“Itu itu apa? Coba kau jelaskan dengan benar pada mom. Kenapa kau harus terlihat gugup seperti itu? Oh iya, sebenarnya tadi mom sudah bertanya pada gadismu itu, tapi dia sepertinya sangat takut pada mom. Karena mom tidak ingin menekannya, jadi mom tunggu kau saja yang menjelaskannya. Sekarang, ayo jelaskan pada mom.” ujar Ana sembari menahan senyumnya, ia sungguh merasa gemas melihat putranya itu, bagaimana tidak? Yuan saat ini tampak salah tingkah dan juga bingung harus menjelaskannya dari mana dan bagaimana.


Yuan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal itu. Dulu dengan santainya, ia pernah berkata pada Rose kalau sampai ibunya itu tahu tentang hubungan mereka, Yuan bilang ‘ya sudah katakan saja yang sejujurnya’.


Tapi ketika dirinya yang sekarang benar-benar menghadapi situasi itu, Yuan sungguh tidak tahu harus bagaimana.


“Yuan? Kenapa diam saja sayang? Kau malu ya mengakuinya? Dulu siapa ya yang pernah bilang pada mom kalau dia tidak menyukai seorang gadis yang bekerja di restoran mom? Tapi sekarang, lihat siapa yang telah ia perlakuan dengan manis di belakang mommy-nya? Oh Yuan, kau sungguh licik, beraninya menyembunyikannya dari mom.” kata Ana.


“Mom, aku akan mengatakan semuanya pada mom, tapi bisa tidak kita membahasnya di ruangan mom saja? Jangan disini, lihat, ada banyak orang, aku— ”


“Malu ya? Kau malu orang lain melihatmu di interogasi oleh mommy-mu?” tanya Ana, masih dengan nada menggodanya.


“Mom~”


“Iya iya, ayo kita ke ruangan mom. Oh ya, Rose, hari ini kau libur saja ya, aku akan mengatakannya pada manajer Dita. Sekarang, ayo ikut mommy mertua dan Yuan-mu ini. Kita dengarkan bersama, bagaimana Yuan akan menjelaskan tentang hubungan kalian.” ujar Ana sembari menarik pelan lengan Rose.


Habislah aku, mom tidak akan melepaskanku begitu saja. — batin Yuan.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2