
Manajer Dita terlihat meletakkan beberapa piring berbeda ukuran di atas nampan. Total ada tiga nampan berukuran besar yang tertata di meja dapur.
Setelah menyusun makanan dan juga minuman itu, manajer Dita tampak diam, seperti memikirkan sesuatu.
"Sepertinya kalau hanya dua orang saja tidak akan bisa membawanya, kecuali satu orang bolak balik." Ucap manajer Dita.
"Nampannya ada tiga, bagaimana kalau aku juga bantu bawa?" Kata seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahunan, dia adalah seorang assisten koki kepala, bernama William.
"Ah benar, kalau begitu tolong ya Will, kau bawa nampan yang ada minumannya, masalahnya itu yang paling berat, juga butuh keseimbangan, kalau aku atau Rose yang bawa juga agak susah. Jadi kau saja ya." Ujar manajer Dita.
"Okey, tidak masalah." Ucap William.
"Rose, kau bawa yang itu saja, cukup ringan untukmu." Kata manajer Dita.
"Siap manajer." Ucap Rose yang langsung meraih nampan tersebut.
"Nanti jalannya pelan-pelan saja, perhatikan langkah kalian. Yang kita layani ini bukan hanya sekedar customer VIP, tapi pemilik restoran, tuan muda Yuan, keluarga bos Ana dan bahkan ketua Ray juga ada disana. Jadi jangan buat kesalahan, paham kan?" Ujar manajer Dita dengan tangan yang telah memegang nampan berisi tiga piring makanan.
"Ketua Ray juga ada?! Itu artinya— di dalam ada keluarga Yu— maksudku tuan muda Yuan?" Tanya Rose yang spontan langsung melontarkan pertanyaan itu.
"Memangnya ada yang salah? Mereka kan anak dan suaminya bos Ana, wajar saja mereka ada disini." Kata William.
"Iya, aku, aku hanya sedikit terkejut saja, tidak menyangka akan melihat dua orang pria populer di dalam satu ruangan." Ujar Rose memberikan alibi untuk menutupi kekhawatirannya.
Yuan! Apa yang kau rencanakan? Kau tahu ayah dan ibumu bahkan juga keluarga ibumu ada di dalam sana. Tapi kau secara langsung malah menunjuk diriku untuk mengantarkan makanan ini ke ruangan itu. Apa kau sedang berniat membuat jantungku berdetak tidak normal, aku sangat gugup sekarang, aku benar-benar merasa khawatir, bagaimana jika kesan pertamaku pada ketua Ray sangat buruk?! Ah Yuan, kau ini, bagaimana cara berpikirmu?! — Keluh Rose dalam hatinya.
"Karena kalian berdua sama-sama tahu kalau yang akan kita layani ini orang-orang hebat, maka aku benar-benar ingatkan pada kalian sekali lagi, jangan buat kesalahan." Ujar manajer Dita.
"Baik manajer." Jawab Willian dan Rose.
"Ayo cepat, ikuti aku." Kata manajer Dita yang kemudian melangkah keluar dari bagian dapur, mereka bertiga berjalan berbaris menuju ke arah tangga.
Manajer Dita lebih dulu menaiki tangga itu, diikuti oleh Rose yang berada di barisan kedua, lalu terakhir William yang berada di belakang kedua wanita berbeda usia itu.
Sesampainya di depan pintu ruangan berwarna coklat elegan, manajer Dita tampak berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang, menatap dua orang bawahannya.
"Jangan lupa untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi, ingat saja pengalaman saat pelatihan prosedur menghadapi customer VIP." Kata manajer Dita.
"Iya manajer, kami mengerti." Jawab kedua orang itu.
Manajer Dita tersenyum, ia kemudian berbalik, salah satu tangannya ia gerakkan untuk mengetuk pintu tersebut.
"Bos, ini— "
"Iya, langsung bawa masuk saja." Kata Ana dari dalam sana.
"Baik." Sahut manajer Dita, setelah itu ia membuka handle pintu itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang nampan berisi makanan. Melihat gerakan dari manajer Dita itu, sudah dapat dipastikan kalau ia memiliki banyak pengalaman dalam tugas ini.
Pintu pun terbuka. Manajer Dita masuk diikuti oleh Rose dan William yang ada di belakangnya.
Dengan kepala menunduk dan sesekali mengintip ke depan, Rose terus berjalan perlahan mengikuti langkah kaki manajernya itu. Sampai akhirnya manajer Dita berhenti melangkahkan kakinya.
"Letakkan saja di atas meja ini." Ujar Ana.
"Mom, boleh aku membantu mereka meletakkan makanannya?" Tanya Yuan yang kembali membuat semua orang merasa bingung dengan keinisiatifan pria itu.
Hanya Kenan satu-satunya orang yang tidak peduli dengan hal tersebut, karena ia sendiri terlihat fokus memperhatikan seorang gadis yang terasa tidak asing di ingatannya.
Seperti pernah melihatnya, seperti pernah bertemu dengannya. — Ucap Kenan dalam hatinya.
"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba— "
"Aku hanya tidak ingin seperti dad, yang hanya duduk bersantai sedangkan pegawainya susah payah bekerja. Aku seperti ini mewakili mom, membantu meringankan beban karyawannya." Ujar Yuan, sengaja menyela perkataan ayahnya, juga untuk membanggakan dirinya sendiri.
Sombong, dasar tukang cari perhatian. — batin Rose yang tersenyum melihat tingkah Yuan.
"Bantu saja kalau ingin membantu mereka, lain kali tidak perlu meminta ijin pada mom." Kata Ana, ibunya.
__ADS_1
"Thank you, mom." Ucap Yuan yang kemudian beranjak dan mulai mendekati ketiga orang yang masih berdiri membawa nampan itu.
Semua orang yang ada diruangan itu berpikir kalau Yuan pertama-tama akan membantu manajer Dita yang pada saat itu berada di bagian paling dekat dengan posisi Yuan.
Tapi, alih-alih mengambil piring berisi makanan yang ada di nampan manajer Dita, Yuan malah terus melangkah melewati manajer Dita begitu saja.
Pria itu melangkah melewati sang manajer dan kemudian berdiri di hadapan Rose yang saat ini sedang merutuki dan mengumpati sikap Yuan pada dirinya.
Bodoh, bodoh, bodoh, kenapa tidak membantu manajer Dita lebih dulu? Kenapa malah melewatinya begitu saja?! Dan sekarang apa?! Dia ini malah berhenti di depanku. Kalau seperti ini, sudah pasti semuanya akan berpikir kalau dia itu sedang berperilaku spesial padaku. — Batin Rose.
Yuan yang melihat ekspresi Rose itu hanya bisa menahan senyumnya. Sejujurnya, saat ini, ia sangat ingin menertawakan ekspresi dari kekasihnya itu. Bagaimana tidak, Rose itu, dia tampak ingin menatap tajam Yuan, tapi juga ingin menyembunyikannya dari pandangan semua orang. Bagi Yuan, itu ekspresi yang mampu membuat Yuan merasa puas mengerjai kekasihnya.
Setelah sekitar tujuh puluh detik berdiri di hadapan Rose. Yuan menggeser tubuhnya dan kini berdiri di depan William, seorang pria tampan dengan wajah khas bangsa eropa.
"Boy first." Ucap Yuan, ia tersenyum ke arah William sembari mengambil dua gelas minuman yang ada di atas nampan tersebut.
William yang di perlakukan seperti itu oleh Yuan pun merasa risih, bahkan sampai-sampai sebuah pikiran negatif tersangkut di kepalanya.
Is he gay?! — Batin William bergidik ngeri.
Rose semakin mengulum senyumnya ketika ia melihat ekspresi shock di wajah William. Gadis itu sungguh tidak menyangka kalau kekasihnya, Yuan akan bersikap seperti itu, mengerjai William, siapa yang menyangka.
"Kakak sepupu, kau seperti itu, terlihat kalau kau ini pecinta sesama jenis." Ujar Ken, ya, pria muda itu memang tidak suka menyembunyikan keburukan hatinya, ia lebih suka mengungkapkannya secara langsung.
"Oh benarkah? Kalau begitu, bagaimana menurutmu dad?" Tanya Yuan sembari meletakkan gelas berisi minuman kesukaan Ray dihadapan sang ayah.
"Kau ingin dad membunuhmu?!" Ujar Ray yang dibalas tawa renyah oleh Ana dan juga Yuan.
"Jangan berlebihan, Yuan hanya bercanda, seperti tidak tahu anakmu sendiri. Benarkan Yuan?" Kata Ana.
"Tentu, bagaimana mungkin aku menyukai sesama jenis, sedangkan masih ada seorang perempuan yang bisa menarik hatiku." Ucap Yuan dengan sudut mata yang melirik Rose.
Sekilas, Yuan mengedipkan matanya, maksud kedipan itu ia tujukan pada Rose, tapi sayangnya, posisi Yuan saat ini sedang berdiri tepat di hadapan William, yang semakin membuat pria berwajah eropa itu ingin berteriak histeris.
Apa dia sedang memberi kode padaku?! — Batin William menangis.
Setelah selesai menurunkan minuman dari atas nampan William, Yuan pun beralih pada Rose dan mulai menurunkan piring-piring berisi makanan yang ada di atas nampan Rose. Tak ada adegan khusus yang terjadi diantara mereka, hanya sebuah senyuman tertahan yang saling di lemparkan oleh mereka satu sama lain.
"Terimakasih tuan muda Yuan atas bantuannya. Kalau begitu, semuanya silahkan dinikmati, jika butuh sesuatu panggil saja saya. Kami permisi." Ucap manajer Dita, lalu memberikan kode pada dua bawahannya untuk ikut dengannya pergi keluar dari ruangan itu.
"Tunggu dulu, nona muda yang ada di tengah." Kata Kenan, ia akhirnya meyakini ingatannya setelah bergelut cukup lama.
"Maksud tuan Kenan, nona yang ditengah itu— apa Rose?" Tanya manajer Dita yang kembali berbalik menghadap ke arah para orang-orang kelas atas itu.
"Ah jadi namamu Rose ya. Kemari, ayo cepat kemari." Ucap Kenan dengan nada ramahnya.
Rose tersenyum canggung, ia dengan ragu melangkah mendekat kembali ke sofa itu.
"Ada apa paman? Kau tidak sedang mencoba mencari istri kedua kan?!" Tanya Yuan yang tampak tidak suka dengan sikap dan juga ekspresi pamannya itu.
"Ayah, yang kakak sepupu katakan itu, apa benar?! Ayah ingin mengkhianati ibu ya?!" Tanya Ken yang juga ikut memprotes sikap ayahnya.
"Ck, apa yang sedang kalian berdua pikirkan? Pikiran kalian itu seharusnya masih sangat pendek, jangan pernah mencoba berpikir terlalu jauh, jadinya seperti ini kan, kalian berdua hanya berpikir tentang hal-hal negatif saja." Ucap Kenan.
"Maaf tuan Kenan, jadi, ada apa anda memanggil saya? Apa saya ada menyinggung anda sebelumnya? Kalau benar begitu, saya— "
"Tidak, tidak, kau tidak ada salah apapun padaku. Tapi apa kau sama sekali tidak mengingatku?" Tanya Kenan.
Yuan semakin dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara pamannya dan juga kekasihnya itu.
"Kau mengenalnya?" Tanya Yuan pada Rose.
Gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kecil.
"Ah baiklah, itu juga sudah cukup lama. Wajar saja kalau kau lupa padaku, tapi aku sungguh tidak akan pernah melupakan wajah manis mu itu." Ucap Kenan.
Perkataan Kenan yang sangat ambigu di telinga orang-orang yang mendengarnya pun mampu membuat mereka yang ada di ruangan itu membulatkan mata.
__ADS_1
Bahkan Ray yang sedang minum pun sampai tersedak karena harus menahan minuman yang hampir ia semburkan setelah melihat Ana melotot ke arahnya, 'kau berani menyemburkan air itu padaku, malam ini tidur diluar.'
"Ayah, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" Tanya Ken.
"Apa maksudmu?" Tanya Kenan balik.
"Siapa yang paman coba ingat wajahnya? Wajah manis apanya? Dia sama sekali tidak manis ataupun cantik, ayo cepat, paman hapus ingatan ataupun khayalan gila yang sedang terputar di dalam kepala paman itu." Ujar Yuan sembari menunjuk-nunjukan tangannya ke wajah Rose, seolah sedang menilai gadis itu.
Siapa yang kau bilang tidak manis bahkan tidak cantik sama sekali huh?! Tidak tahu malu, kau berkata seperti itu tapi kau juga pernah berkata kalau kau mencintaiku. — Batin Rose dengan tatapan yang terarah pada Yuan.
Rose menatap Yuan dengan senyum manis yang berselimut ancaman. Sedangkan pria yang di tatap langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah takut.
"Kenan, apakah yang mereka katakan itu benar? Kau dan gadis ini— kalian— "
"Eh, tidak ketua Ray, jangan salah paham. Aku bahkan tidak mengenalnya, atau mungkin kami pernah tidak sengaja bertemu tapi aku sama sekali tidak ingat." Ujar Rose yang mencoba untuk tidak meninggalkan kesan buruk di mata ayah Yuan.
"Paman Kenan, coba lihat, dad sampai salah paham padamu dan juga dia. Ayolah paman, paman jangan asal bicara tanpa penjelasan. Coba katakan sesuatu yang masuk akal, jangan berkata sesuatu yang membuat orang lain berpikir negatif padamu dan juga— Rose." Kata Yuan pada pamannya, membantu Rose membela diri.
"Astaga, kalian ini benar-benar salah paham dengan maksud perkataanku ya? Baiklah, aku akan menjelaskannya. Jadi seperti ini, kalian ingat saat aku hilang? Saat itu dompet dan ponselku juga hilang, jadi aku benar-benar menjadi orang miskin yang tidak punya apa-apa. Tapi untungnya ada dia, Rose memberiku beberapa lembar uang, jadi aku bisa makan dan juga bertahan hidup selama beberapa hari sampai orang-orangnya kakak ipar Ray menemukan aku." Ujar Kenan yang mulai menjelaskan.
"Eh itu— kapan saya pernah membantu tuan Kenan?" Tanya Rose dengan sopan.
"Panggil aku paman seperti waktu pertama kali kita bertemu, kau ingat ponsel lalu halte bus antar kota?" Ujar Kenan, membuat Rose mulai memutar memorinya kembali.
"Ah, paman yang itu ya. Penampilan anda saat ini sungguh berbeda dengan yang waktu itu. Jadi maafkan saya karena tidak mengingat anda tuan Kenan." Ucap Rose.
"Iya, tidak masalah, lagipula sekarang kau sudah ingat, itu cukup bagus." Kata Kenan.
"Oh jadi begitu ceritanya. Tapi Kenan, kau harus tahu, Rose ini memang gadis yang baik, jadi aku tidak merasa heran lagi mendengar dia membantumu." Sahut Ana.
"Benarkan, dia memang baik dan juga manis. Ah iya, aku harus mengembalikan uangmu waktu itu." Kata Kenan sembari mengeluarkan dompetnya.
"Paman, jika ingin memujinya juga tidak perlu mengatakan kalau dia itu manis." Ucap Yuan dengan raut wajah tidak senangnya.
"Dia hanya memuji, apa salahnya, lagipula tadi sudah di jelaskan, tidak ada kesalahpahaman lagi. Pamanmu itu hanya ingin berterimakasih pada gadis ini." Ujar Ray.
"Tapi berterimakasih apa perlu berkata 'gadis manis, gadis manis' terus? Paman, kau sungguh terdengar seperti seorang pedofil." Kata Yuan.
"Astaga Yuan, kau sepertinya punya dendam pada pamanmu ini, paman hanya memujinya, dia memang terlihat manis dan juga cantik, sangat sempurna untuk Ken." Ujar Kenan yang kembali membuat seseorang tersedak. Tapi kali ini yang tersedak adalah Ken, pria muda yang sedang menikmati makanannya.
"Ayah. Aku ini masih tujuh belas tahun, kenapa kau tega ingin menjodohkan ku dengan gadis itu." Keluh Ken.
"Hei, siapa yang kau panggil gadis itu? Dia punya nama." Protes Yuan.
"Iya iya, maksudku, aku tidak ingin di jodoh-jodohkan dengan Rosa— "
"Rose, yang benar Rose bukan Rosa." Protes Yuan, lagi.
"Ah itu kenapa kakak sepupu memprotesku terus? Aku hanya salah menyebutkan namanya saja. Biarkan aku berbicara pada ayahku dulu, setelah itu proteslah aku sepuasnya." Ujar Ken.
"Oh, silahkan, tapi jangan salah sebut lagi." Ucap Yuan yang kemudian bersandar pada badan sofa.
Ken menghela nafasnya, kemudian kembali beralih pada ayahnya, Kenan.
"Maaf menyela. Tuan Kenan, saya berterimakasih atas niat baik tuan Kenan, hanya saja, mendengar Ken menyebutkan umurnya, dia itu sepertinya lebih pantas menjadi adik saya. Maksud saya usianya itu sungguh jauh dibawah saya yang telah memasuki usia dua puluhan tahun lebih." Ujar Rose.
"Jadi maksudmu, kalau Ken lebih tua darimu, kau setuju menikah dengannya?" Sahut Yuan yang kembali menegakkan tubuhnya.
Apa kau ini sungguh tidak memahami kata-kata yang berisi makna? Dasar Yuan. Aku ini sedang menolaknya dengan cara halus, seharusnya kau diam saja, kalau seperti ini, bagaimana caraku membuat alasan lagi? — Batin Rose.
"Bukan seperti itu tuan.muda.Yuan, saya hanya— "
"Sudah sudah. Rose, kau tidak perlu menjawabnya lagi. Aku paham maksudmu, lagipula kau sudah susah payah menolaknya dengan bersikap sopan dan tidak ingin menyinggung hatiku, sungguh perempuan yang sangat paham tata krama dan sopan santun. Maaf paman sudah menyusahkanmu, tapi paman juga tidak mengira kalau ternyata kau ini lebih tua dari Ken, karena dari wajahmu itu, kau terlihat masih sangat muda. Jadi paman pikir kau ini baru berusia belasan tahun." Kata Kenan.
"Sejak kapan dia suka memuji orang terus-menerus? Benar-benar menjengkelkan." Gumam Yuan yang dapat di dengar oleh Ana.
"Ada apa denganmu? Kau tahu tidak? Kau itu terlihat seperti seorang pria yang sedang cemburu pada kekasihnya." Bisik Ana.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍