The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Ketika Seorang Ayah Merasa~


__ADS_3

Yuan berjalan keluar dari restoran ibunya, ia melangkah menuju area parkir, disana terlihat Rose yang tampak berdiri di samping mobil miliknya.


Yuan menatap Rose dengan helaan nafasnya, seingatnya, ia menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil dan menunggunya di dalam. Tapi kenapa Rose malah berdiri di samping mobilnya?


Apa dia tidak lelah berdiri seperti itu terus? Ah dasar, gadis itu. — batin Yuan.


“Eh tunggu dulu, kalau dia sejak tadi berdiri di samping mobilku, itu artinya waktu daddy datang tadi, dad pasti melihatnya kan? Astaga! Bagaimana ini? Apa dad akan curiga?” gumam Yuan sembari menghentikan langkahnya, kemudian sejenak ia menoleh ke belakang, menatap restoran ibunya.


“Yuan, ada apa? Apa ada yang tertinggal didalam?” tanya Rose pada Yuan yang berjarak beberapa meter dari hadapannya.


Yuan kembali menoleh ke arah Rose, ia tersenyum dengan kepala menggeleng kecil.


“Tidak ada.” jawab Yuan. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya kembali, mendekat ke arah Rose.


“Kenapa kau tidak langsung masuk ke dalam mobil? Aku kan tadi menyuruhmu untuk masuk ke dalam mobil dan menungguku di dalam. Kau berdiri cukup lama di sini, apa tidak merasa lelah? Kenapa kau suka sekali menyusahkan dirimu sendiri?” ujar Yuan sembari merapikan helaian rambut Rose yang menutupi wajah gadis itu.


Rose tersenyum. Tetapi bukan senyum manis ataupun hangat yang ia tampilkan, melainkan sebuah senyuman yang mengungkapkan rasa geram dan gemasnya pada Yuan.


“Ada apa dengan senyumanmu itu?” tanya Yuan, merasa heran, karena biasanya ia tidak pernah mendapatkan senyuman seperti itu dari Rose.


“Aku tahu kau menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil, aku mengingatnya, aku tidak lupa, apalagi sengaja melupakannya. Tapi masalahnya, bagaimana caraku masuk ke dalam mobil kalau kuncinya saja tidak kau berikan padaku? Lihat, coba kau lihat, pintunya masih terkunci dengan sempurna.” kata Rose, membuat Yuan hanya bisa menanggapinya dengan senyum lebar yang menampilkan deretan gigi putihnya.


“Ah iya, maaf ya sayang, aku— lupa.” ucap Yuan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Rose menghela nafasnya,


“Tidak masalah.” katanya.


“Tapi, kalau kau tahu pintu mobilnya masih di kunci dan juga aku belum memberikan kunci mobil padamu, kenapa kau tidak kembali masuk ke dalam dan meminta kuncinya padaku?” tanya Yuan.


“Yuan, bukankah tadi kau bilang kalau kau ingin berbicara sesuatu pada ibumu. Aku bagaimana mungkin tiba-tiba masuk saat kalian sedang membicarakan sesuatu, itu sangat tidak sopan.” kata Rose.


“Kau anggap dirimu itu orang asing ya? Kenapa kau berkata seakan-akan pembicaraanku dengan mom itu kau tidak boleh mendengarnya?” tanya Yuan.


Rose menghela nafasnya kembali, gadis itu menatap Yuan sembari membenarkan tas selempangnya.


“Bukannya memang aku tidak boleh mendengarnya? Makanya kau suruh aku untuk keluar dari ruangan lebih dulu dan menunggumu di dalam mobil. Kau seperti itu, kalau bukan agar aku tidak mendengar pembicaraanmu dan ibumu, lalu apa lagi?” kata Rose.


“Rose, apa kau itu sedang curiga padaku? Apa kau pikir aku sedang membicarakan sesuatu yang buruk tentangmu dengan mommyku?” tanya Yuan


“Ya, aku memang curiga padamu, tapi bukan curiga kalau kau akan berbicara buruk tentangku. Lagipula, walaupun aku curiga padamu, hatiku ini juga tetap percaya padamu. Menyebalkan bukan?” ujar Rose.


Yuan menatap Rose, sejenak ia terdiam dalam tatapan itu. Kemudian sebuah getaran pada saku celananya, membuat Yuan tersentak dari apa yang sedang ia pikirkan.


Yuan segera mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku celananya.


Ketika layar ponsel itu menyala, terlihat sebuah pesan masuk dari ibunya. Ana mengiriminya sebuah pesan singkat.


‘Anakku sayang, kau dan Rose sudah pergi dari restoran belum? Dad dan mommy-mu ini sebentar lagi akan keluar dari restoran. Jangan sampai kau belum pergi dari restoran dan membuat daddy-mu melihat kalian berdua.’ — ujar Ana dalam pesan singkatnya.


Setelah membaca pesan itu, Yuan langsung menoleh ke belakang, menatap ke arah kaca jendela tembus pandang yang dapat menampilkan suasana di dalam restoran tersebut.


Dari luar sana, Yuan dapat melihat ibunya dan juga ayahnya tampak baru keluar dari ruangan.


Melihat kedua orangtuanya itu, Yuan langsung bergerak cepat, tiba-tiba ia membuka pintu mobilnya dan mendorong Rose pelan, menyuruh gadis itu untuk masuk dengan cepat ke dalam mobilnya.


“Yuan, ada apa? Kenapa kau kelihatan seperti orang yang sedang panik saja?” tanya Rose, merasa aneh dengan sikap kekasihnya itu.


“Sssttt... diam saja ya. Nanti di jalan aku akan menceritakannya padamu. Aku berjanji. Tapi sekarang, diam dan menurutlah.” ujar Yuan yang kemudian langsung menutup pintu sisi kiri mobil.

__ADS_1


Setelah menutup pintu mobil itu, Yuan melangkahkan kakinya menuju sisi kanan mobilnya. Ia masuk ke dalam mobil itu, memasang seatbelt-nya, lalu menyalakan mesin mobilnya, secepat mungkin keluar dari area restoran ibunya.


Tepat ketika mobil Yuan meninggalkan area parkir restoran Ana. Saat itu juga, Ray dan Ana keluar dari dalam restoran.


“Bukankah itu mobil Yuan?” tanya Ray.


Ana yang sebelumnya tampak menghembuskan nafas lega, sekarang menoleh ke arah Ray yang berdiri disampingnya.


“Iya, apa rasa lelah-mu membuatmu lupa mobil anakmu sendiri? Bukankah mobil itu, kau yang membelikannya langsung untuk Yuan? Ck, bagaimana mungkin kau bisa lupa.” ujar Ana sembari mengaitkan tangannya ke lengan suaminya itu.


“Ayo cepat, kita pulang.” kata Ana, kemudian ia menarik lengan Ray. Tapi, pria itu terasa seperti batu besar yang tak bergerak.


Ana menoleh kembali kepada suaminya itu, ia mengernyit heran menatap Ray.


“Ada apa?” tanya Ana.


“Tadi aku juga berpikir kalau itu mobil Yuan. Tapi saat aku baru saja datang dan memarkirkan mobilku. Aku melihat gadis yang pernah membantu Kenan, dia— kalau aku tidak salah mengingat namanya, dia bernama Rose, ah iya Rose, aku melihatnya sedang berusaha membuka pintu mobil itu. Tapi sepertinya, mobil itu terkunci, jadi dia hanya berdiri di depan pintu mobil.” kata Ray.


Mendengar perkataan suaminya itu, Ana rasanya ingin menepuk kening Yuan. Bagaimana bisa anaknya itu bertindak ceroboh, kalau sudah seperti ini, Ana harus bagaimana memberikan alasan pada Ray?


“Ah itu, kau mungkin salah lihat sayang. Kau itu mungkin terlalu kelelahan jadi penglihatanmu sedikit terganggu juga.” ujar Ana.


“Eh? Apa lelah bisa sampai membuat orang seperti itu? Tapi aku sungguh tidak salah lihat, aku benar-benar mengingatnya dengan jelas. Apa dia salah masuk mobil ya?” kata Ray.


“Oh iya! Benar, mungkin Rose salah masuk mobil. Dia itu kadang pulang kerja di jemput sepupunya, aku seringkali melihatnya, mobil sepupunya itu memang terlihat sama dengan mobil Yuan.” ujar Ana, terpaksa berbohong pada Ray.


Ray menganggukkan kepalanya, seperti seseorang yang telah paham dengan maksud perkataan Ana barusan.


“Berarti— sepupu Rose itu dari keluarga yang lumayan kaya juga ya? Padahal mobil Yuan itu aku pesan khusus, kalau sampai terlihat sama persis seperti itu— berarti keluarga sepupu Rose— ”


“Sayang, sudahlah, kau terlalu banyak memikirkan keluarga orang lain. Lagipula, apa sekarang itu penting? Yang lebih penting saat ini adalah ayo kita cepat pulang. Masalahnya, bukan hanya kau saja yang lelah, aku ini juga lelah.” kata Ana, sengaja memotong pembicaraan Ray agar suaminya itu berhenti membahas tentang seluk-beluk Rose atau apapun yang berhubungan dengan kekasih anaknya itu.


“Ah iya, baiklah.” ucap Ray, menuruti perkataan istirnya. Setelah itu, ia berjalan mengikuti Ana yang sudah lebih dulu melangkah ke arah mobil mereka.


Alex memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung fakultas seni dan budaya.


Tidak lama setelah ia memarkirkan mobilnya, Alex pun keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintu mobilnya kembali, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung bertingkat itu.


“Alex? Apa itu kau?” ucap seorang wanita yang tidak sengaja melihat keberadaan Alex.


Mendengar namanya di sebut, Alex pun menoleh, ia menatap ke arah sumber suara yang telah memanggil namanya.


“Oh Rachel, kau ternyata, bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu, terakhir kali kita bertemu saat acara pesta ulang tahun ketua Barack. Lalu, beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar kalau kau sakit. Apa sekarang kau sudah lebih baik?” tanya Alex, menyapa ibu dari anaknya itu.


Rachel, si wanita yang memanggil nama Alex tadi, ia pun tersenyum karena mendapatkan sapaan ramah dari Alex.


“Eh, kau juga mendengar kabar kalau aku sakit ya? Sekarang aku sudah baik-baik saja, seperti yang kau lihat saat ini, aku tidak apa-apa. Oh iya, bagaimana kabar nyonya Calista? Aku mendengarnya dari Nana, kata Nana, nyonya Calista sudah membaik. Tapi walaupun begitu, katanya— dia tetap butuh perawatan khusus. Aku turut prihatin dengan kondisinya.” ujar Rachel.


Alex tersenyum,


“Yah, dia baik-baik saja. Tapi juga tidak sepenuhnya baik. Bagaimanapun, umur ibuku itu sudah tidak lagi paruh baya apalagi muda. Dia itu sudah masuk ke periode lanjut usia. Dokter Liam bilang, sangat wajar bagi orang yang sudah tua untuk mudah sakit. Tapi sebelumnya terimakasih, kau sudah mau menanyakan kabarnya dan khawatir padanya.” kata Alex yang kembali dibalas Rachel dengan sebuah senyum tipis.


“Apa kau datang kemari untuk menjemput Nana?” tanya Rachel, mengubah topik pembicaraan.


Alex menanggapinya dengan anggukan.


“Iya, beberapa hari yang lalu, aku sudah berjanji padanya kalau hari ini aku akan datang ke kampus dan menjemputnya. Kau— mengijinkannya kan?”


Rachel menghela nafasnya, dalam hati berkata kalau dia sebenarnya sangat tidak ingin mengekang Nana dalam urusan ayah kandung gadis itu.

__ADS_1


Tapi terkadang, ketika ia melihat Yohan yang perlahan memiliki jarak dengan Nana karena Alex yang terlalu dekat dengan putrinya itu. Rachel takut, ia takut jika sesuatu yang tidak ia harapkan akan terjadi.


Tapi, kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa ia menolak permintaan dari Alex yang meminta ijin padanya untuk menjemput Nana.


Saat ini, Rachel hanya bisa mengangguk dan menyetujuinya saja.


“Iya, silahkan. Bagaimanapun juga, kau itu tetap ayah kandungnya. Wajar bagimu untuk bertemu dengannya. Ah, kalau begitu, aku pergi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sampai jumpa Alex, sampaikan salamku untuk keluargamu dan juga kakakku Ana.” kata Rachel.


“Ya, tentu. Terimakasih.” ucap Alex.


Setelah itu, Rachel pergi dari hadapan Alex. Wanita yang telah memasuki usia paruh baya itu berjalan masuk ke dalam gedung fakultas seni itu, ia berjalan menuju ke arah ruang dosen.


Tidak lama kemudian, Alex pun juga masuk ke dalam. Tapi, lagi dan lagi, saat dirinya sedang melangkahkan kakinya untuk menemui Nana. Seseorang kembali memanggil namanya. Tapi, kali ini yang memanggilnya adalah seorang pria muda, dan lagi, pria itu memanggil Alex dengan panggilan yang sangat sopan.


“Presdir Alex?”


Alex menoleh ke arah samping kanannya, menatap seorang pria dengan usia yang tampak seumuran dengan putrinya.


“Oh? Kau siapa?” tanya Alex.


“Ah, maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Julian, saya teman Nana sekaligus anak dari manajer Jim, karena itu saya mengenal anda.” ujar Julian, pria yang memanggil Alex.


“Oh.” ucap Alex, seadanya.


Ah, ternyata hanya seorang bocah yang sedang basa-basi padaku. Abaikan saja. — batin Alex.


“Eh itu, presdir Alex, apa anda sedang ingin bertemu dengan Nana?” tanya Julian yang di balas dengan anggukan oleh Alex.


“Iya.” jawab Alex, singkat.


“Tapi tadi, baru saja— Nana, dia sudah pergi bersama Kai.” ujar Julian.


“Apa? Siapa yang kau bilang baru saja pergi?” tanya Alex, meminta Julian mengulangi perkataannya kembali.


“Nana, dia baru saja pergi naik mobilnya Kai” jawab Julian.


“Kai?” kata Alex, mengulang kembali nama yang disebut oleh Julian.


“Iya.” jawab Julian.


Kai? Seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi dimana? Ah! Iya. Dia pria yang waktu itu menemani Nana menjemputku di bandara, dia juga pria yang waktu itu aku temui di pasar malam bersama Nana. Bagaimana mungkin aku lupa. Tapi kenapa Nana pergi bersamanya? Dan kenapa putriku itu tidak memberitahuku kalau ingin pulang bersama teman pria-nya. Bahkan peri kecilku itu melupakan janjinya denganku. — batin Alex, antara sedih dan cemburu.


“Hei bocah, siapa tadi nama-mu?” tanya Alex pada Julian.


“Eh, nama saya Julian, presdir.” jawab Julian, sopan.


“Ah iya, Julian, apa kau tahu kemana mereka pergi?”


Julian tampak menggaruk kepalanya, ia sendiri juga tidak tahu kemana keduanya pergi, karena ia pikir itu tidak penting bagi dirinya. Kalau saja ia tahu jika dirinya akan bertemu dengan Alex yang akan bertanya seperti ini padanya. Julian pasti tadi akan bertanya pada Kai ataupun Nana tentang kemana mereka akan pergi.


“Maaf presdir, saya tidak tahu. Tapi kemungkinan— mereka biasanya pergi ke bukit yang ada di bagian paling ujung taman kota. Itu juga masih kemungkinan, saya benar-benar tidak tahu pastinya. Maaf presdir Alex.” kata Julian.


Alex tersenyum ramah,


“Tidak masalah, terimakasih atas informasinya, itu sudah cukup untuk saya. Oh iya, mulai sekarang kau jangan panggil saya dengan sebutan presdir lagi. Panggil saja paman Alex, lagipula kau ini kan temannya Nana, putriku.” ujar Alex.


“Ah iya, iya, saya mengerti paman Alex.” kata Julian dengam senyum senangnya.


“Ya, kalau begitu, saya pergi dulu.” ucap Alex yang kemudian pergi keluar dari dalam gedung fakultas seni dan budaya itu.

__ADS_1


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2