
Good Morning.
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴✴
Mobil Porsche berwarna merah menyala itu berhenti tepat di depan pintu gerbang keluarga Gavin.
Melihat ada mobil yang belum familiar dan masih asing. Salah satu petugas keamanan pun menghampiri mobil tersebut, ia mengetuk kaca mobil yang gelap itu, menyuruh si pengemudi menunjukkan dirinya.
Sarah, si pengendara mobil tersebut. Ia mendengus kesal sembari membuka kaca mobilnya.
“Bapak lupa dengan saya?” tanya Sarah pada si petugas keamanan yang seharusnya sangat hapal dengan dirinya.
“Ah sekertaris Sarah, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau orang yang mengendarai mobil mewah ini adalah anda. Maafkan saya. Silahkan masuk, saya akan buka gerbangnya,” kata petugas keamanan itu. Kemudian ia berlari kecil, membuka gerbang itu untuk Sarah.
Tanpa menunggu gerbangnya di buka sepenuhnya, Sarah langsung menghidupkan mobilnya, ia menancapkan gasnya cepat, lalu masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Gavin.
Sarah memarkirkan mobilnya, lalu turun dari sana dan berjalan menuju pintu masuk utama rumah itu.
Tapi sayangnya, langkahnya tak semulus dulu. Mungkin dulu Sarah bisa keluar masuk rumah itu sesuka hatinya, apalagi melalui pintu utama, sangat dipersilahkan. Namun, tidak lagi untuk sekarang.
Tiga orang pria berdiri di depan sarah, menghalangi langkah gadis itu yang ingin masuk ke dalam rumah bosnya.
“Kalian siapa?” tanya Sarah, ia memang tidak mengenal mereka. Tapi kemudian, Sarah teringat sesuatu.
Ah iya, bagaimana aku bisa lupa?! Mereka ini pasti para bawahannya Ketua Ray. — batin Sarah.
“Aku sekertarisnya Presdir Yuan. Aku datang kesini karena ingin membicarakan hal penting dengannya,” ujar Sarah.
“Tuan muda Yuan sedang tidak bisa di temui oleh siapapun, kecuali dengan ijin Tuan besar Ray,” kata salah satu dari mereka.
Sulit, Sarah sudah menduganya. Karena itu dia menyiapkan sesuatu. Sarah pun terlihat mengeluarkan satu gepok uang berwarna merah dari dalam jaket denimnya.
“Apa ini sudah cukup?” tanya Sarah sembari menyodorkan tumpukan uang ratusan ribu ke arah tiga pria itu.
Namun sayangnya, Sarah gagal merayu mereka. Ketiga pria itu tampak tidak acuh dengan satu tumpuk uang merah muda itu.
“Kenapa? Kurang ya?” tanya Sarah, ia kemudian kembali mengeluarkan dua gepok uang, lalu menyodorkannya ke arah tiga pria itu lagi.
Tapi mereka masih bergeming, tidak bergerak ataupun merespon.
Sarah menghembuskan napas beratnya. Satu hal yang Sarah tidak ketahui. Ternyata bawahan Ray sangat setia. Atau mungkin bayaran mereka lebih banyak dari pada uang yang Sarah berikan? Mengasumsikan hal itu, Sarah hanya mampu mendengus kesal. Ia tidak membawa uang lagi, selain tiga gepok uang yang sudah di keluarkannya.
“Ada apa ini?” tanya sebuah suara, berat dan penuh intonasi kewibawaan. Itu Ray.
Ketua Ray, batin Sarah.
Melihat bos teratasnya keluar, Sarah pun membungkuk hormat, begitupun dengan ketiga pria di hadapannya. Mereka langsung membuka jalan, memberikan jalan untuk tuan besar itu.
“Kau... bukankah kau sekertarisnya Yuan? Sekertaris Sarah?” tanya Ray, mengernyitkan keningnya.
Sarah menundukkan kepalanya, hormat. Lalu menjawab pertanyaan yang di lontarkan sang Ketua perusahaan.
“Benar, Ketua Ray. Saya Sarah, sekertarisnya Presdir Yuan. Saya datang kemari ingin bertemu dengan Presdir Yuan untuk membahas suatu hal penting,” katanya.
Ray mengangguk paham, tapi kemudian kembali bertanya, “Hal penting apa? Apa tentang perusahaan?”
Sarah mendongakkan kepalanya sedikit, setelah itu baru menjawabnya, “Bukan tentang perusahaan, Ketua Ray. Tapi ini tentang urusan pribadi Presdir Yuan,” jawabnya.
“Urusan pribadi? Sangat penting 'kah?” tanya Ray lagi.
“Menjawab Ketua Ray. Ini memang bukan urusan perusahaan. Tapi ini juga sangat penting bagi seseorang,” kata Sarah, masih menundukkan kepalanya.
“Apa yang membuatmu datang kemari, Sarah?” tanya seorang pria lainnya. Dari langkah kakinya, ia berjalan keluar dari dalam rumah tersebut.
“Presdir Yuan,” ucap Sarah sembari mengangkat kepalanya.
“Sudah lama tidak bertemu, Sarah. Bagaimana kabarmu?” kata Yuan. Terdengar basa-basi bagi Sarah.
“Presdir Yuan, anda... dari pada anda menanyakan bagaimana kabar saya, bukankah seharusnya anda bertanya tentang kabar seseorang yang mungkin saat ini sedang terpukul berat karena berita pagi ini?” ujar Sarah, tak lagi ragu untuk mengutarakan inti perkataannya.
“Siapa yang kau maksud itu?” tanya Yuan.
Sarah mengernyit bingung, ada apa sebenarnya dengan Presdir Yuan? Dia tampak berbeda dari terakhir kali kami bertemu. Batin Sarah.
“Sekertaris Sarah? Kau melamun?” tanya Yuan yang hanya melihat Sarah diam saja.
Sarah menatap bosnya itu dalam diam, ia merasa ada yang aneh. Tapi apa itu? Yuan sama sekali tidak tampak tertekan. Pria itu terlihat baik-baik saja dan seolah semua yang terjadi saat ini adalah kehendaknya sendiri.
__ADS_1
“Presdir Yuan, apa anda sedang melakoni sebuah peran yang di tuliskan oleh Ketua Ray?” tanya Sarah. Ia tidak lagi takut apalagi sopan. Prioritasnya saat ini adalah mencari tahu sebuah kebenaran dari hal aneh yang mengusik hatinya.
Toh, kalau Sarah di pecat pun, ia tidak akan jatuh miskin.
“Apa yang kau katakan, Sarah? Aku sama sekali tidak mengerti,” ujar Yuan.
“Jangan bercanda,” ucap Sarah, tak ada lagi kata-kata sopan ataupun hormat darinya.
Yuan tersenyum tipis, ia menatap Sarah dengan tatapan anehnya.
“Sebenarnya ada apa denganmu, Sarah? Kau datang tanpa di undang. Dan sekarang, kau terlihat seperti seseorang yang kesal dan ingin marah. Salah apa aku padamu?” tanya Yuan.
Sarah mencebik, ia membalas senyum mantan bosnya itu dengan senyum sinisnya.
Ya, mantan bos. Sarah sudah memutuskannya. Ia tidak akan lagi bekerja untuk pria brengsek seperti Yuan.
“Apa kau lupa dengan seorang perempuan yang sampai saat ini masih menunggumu?!” tanya Sarah, mengingatkan.
Hati Yuan tertohok. Siapa yang lupa? Ia hanya sedang berpura-pura. Tapi sayangnya, ia tidak bisa memberitahu siapapun termasuk Rose dan bahkan ibunya sendiri.
Yuan harus bisa menahan diri dan menerima predikat brengseknya untuk beberapa waktu lamanya.
“Siapa yang kau maksud itu? Aku tidak ingat,” kata Yuan, ia sungguh pembohong yang handal, wajahnya itu benar-benar membuat orang yakin kalau dirinya sedang berkata jujur.
“Ah iya, kenapa cara bicaramu padaku tiba-tiba berubah?” tanya Yuan.
Sarah mendecih kembali, ia menatap Yuan kesal, “Saya berhenti dari pekerjaan saya,” ucap Sarah.
“Karena anda sudah berkata seperti itu. Jadi jangan harap bisa bertemu lagi dengan dia. Aku akan membawanya pergi, mengobati rasa sakit hatinya karena ulah pria brengsek seperti anda,” ujar Sarah, kemudian pergi dari hadapan Yuan dan Ray yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Setelah Sarah pergi, raut wajah Yuan langsung berubah seketika. Sedih.
“Rose akan dibawa kemana olehnya?” batin Yuan. Ia tidak suka dengan tindakan Sarah. Tapi dirinya juga tidak bisa mencegahnya.
“Kau sungguh akan kehilangan wanitamu,” ungkap Ray yang secara tidak langsung menambah kegundahan di hati Yuan.
“Dad,” panggil Yuan.
“Hm?”
“Dad pernah bilang... dulu Dad dan Mommy terpisah belasan tahun 'kan?” tanya Yuan kembali mengingatkan kenangan masa lalu Ray dan Ana.
Ray mengangguk, “Ya, benar. Kenapa?” tanyanya kemudian.
“Tapi walaupun belasan tahun terpisah, kalian tetap disatukan kembali oleh takdir 'kan?” tanya Yuan lagi.
“Kalau Dad dan Mommy yang terpisah belasan tahun bisa bersatu kembali. Kenapa aku tidak? Aku dan Rose hanya butuh beberapa tahun berpisah. Tunggu sampai aku menemukan dan membuktikan keterlibatan orang di belakang Jhoneq, aku akan bawa Rose kembali,” ujar Yuan, memantapkan hatinya.
“Dad harap, rencanamu itu berhasil,” ucap Ray.
•••
Sarah melajukan kecepatan mobilnya lebih kencang dari sebelumnya. Gadis itu entah kenapa merasa kesal dengan sikap bosnya yang seolah lepas tanggung jawab dan ingkar pada janjinya sendiri.
Sarah ingat bagaimana bosnya itu mengikat janjinya untuk Rose bahwa dirinya akan kembali setelah semuanya selesai.
Tapi sekarang, apa yang terjadi? Yuan lupa pada Rose. Bahkan wajah pria itu tampak menyebalkan di ingatan Sarah.
Sarah meraih ponselnya. Ia menekan dial panggilan cepat nomor satu.
Panggilan cepat itu langsung terhubung ke saudara kembarnya, Sean.
“Kenapa? Apa lagi yang kau— ”
“Aku butuh helikoptermu,” ucap Sarah cepat.
“Apa?! Kau ingin meminjamnya lagi? Kali ini kau akan pergi kemana lagi? Kau baru saja pulang setelah beberapa hari tidak terlihat, sekarang sudah ingin pergi. Aku tidak mengijinkannya,” kata Sean dari seberang sana.
Sarah mendesah pelan, ia tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Hatinya sudah rancu dengan pikirannya yang tercampur aduk.
Ia sangat peduli dengan Rose. Gadis polos dan penuh dengan sifat naif itu membuat Sarah frustasi memikirkan kemalangannya. Sarah tidak tahu kenapa. Tapi ia merasa, semua karena sarah benar-benar menganggap Rose sebagai adiknya.
“My twins, please... kali ini saja, biarkan aku meminjamnya tanpa perlu berdebat dulu denganmu. Ayolah, ini menyangkut hidup dan mati seseorang,” pinta Sarah, ia memohon.
“Apa kau punya pacar?” tanya Sean, curiga dengan orang yang Sarah maksud.
“Apa sekarang penting bertanya seperti itu?” Sarah mulai tidak sabar lagi.
“Jangan bilang kau menjalin hubungan dengan Presdir Tnp group itu?! Jadi karena itu kau terlihat sangat terkejut saat mengetahui kabar pertunangannya?” tanya Sean.
“Apa kau sudah tidak waras?! Aku bagaimana mungkin menjalin hubungan dengannya. Satu lagi yang harus kau tahu, dia bukan bosku lagi. Sekarang aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Dan sekarang, dari pada kau mengatakan hal yang tidak penting, lebih baik segera siapkan helikopternya. Aku akan sampai di tempat lepas landas dua puluh menit lagi,” kata Sarah, kemudian mematikan panggilan tersebut.
Melihat panggilannya sudah putus. Sean menatap ponselnya heran. Sarah sungguh aneh akhir-akhir ini.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi pada anak itu? — batin Sean sebagai seorang kakak yang lebih tua lima belas menit dari Sarah.
•••
Hari berlalu, pagi hari pun kembali menyapa.
Rose mengernyitkan keningnya, merasakan sengatan matahari yang menyapa wajah halus gadis itu.
Ia terbangun, kemudian tersadar kalau dirinya tertidur di atas lantai, kepalanya bersandar pada dinding dekat jendela.
Ingatannya melayang, semenjak kabar itu menyapa dirinya, Rose tak henti-hentinya menangis. Air matanya pun rasanya sudah habis. Ingin menangis tapi sudah tidak bisa lagi.
Hatinya masih terasa sesak, semakin mengingatnya, semakin menyesakkan. Seolah ada yang mengganjal tenggorakannya.
Beginikah patah hati? Sebelumnya Rose tidak pernah sesedih ini. Dulu, ia mungkin hanya akan menangis lalu melupakan semuanya.
Tapi tidak untuk kali ini, seolah hatinya hendak menyiksa jiwanya yang terlalu menggantungkan harapan pada pria itu.
Ya, pria itu. Pria yang telah merajut kasih bersamanya selama lebih dari empat tahun.
Namun, jika di pikir ulang kembali. Seberapa lama empat tahun itu? Tidak terlalu lama. Tapi, empat tahun adalah waktu yang cukup untuk saling mengaitkan hati satu sama lain.
Empat tahun, seorang sarjana pun butuh waktu selama itu untuk menempuh pendidikan demi sebuah tambahan nama dibelakangnya, sebuah gelar yang mampu menyokong masa depan.
Empat tahun, rasanya lama, tapi sebenarnya tidak.
Semua yang Rose lalui, seolah adalah ilusi. Kenangan manis itu seakan semuanya hanya sebuah mimpi. Bunga tidur yang membuat Rose akhirnya terbangun setelah empat tahun lamanya.
Kenapa Rose tidak tersadar sejak dulu? Dirinya ini siapa? Sungguh tidak pantas bersanding di sisi Yuan. Kenapa dia terlalu besar kepala? Berpikir kalau Yuan sungguh akan bersama dengannya selamanya.
Air mata itu kembali menetes. Tubuhnya terkulai lemas. Wajahnya pucat pasi, seolah tidak ada darah yang mengaliri tubuhnya. Bibirnya pun kering, entah kapan terakhir kali dia meminum sebuah cairan bening yang di sebut air.
Rose tidak peduli lagi dengan semua itu. Makan, minum, bahkan tidur, tidak ada yang membuat hatinya tertarik untuk melakukannya.
Jiwanya terlanjur hancur berkeping-keping, pikirannya pun kosong.
Hidupnya hambar. Rasanya menyedihkan. Sebuah kata pepatah pun pantas tersemat dalam dirinya. Hidup segan, mati pun sungkan. Begitulah Rose saat ini.
“Rose!” teriak seseorang.
Sarah, dia telah kembali. Hati Rose tersenyum, tapi hanya sebuah senyuman penyemangat sementara. Ia senang masih ada orang yang mengingat dirinya.
“Apa kau tidur di sini semalam?” tanya Sarah, wajahnya begitu khawatir.
Rose hanya tersenyum tipis, membohongi dirinya sendiri seolah ia baik-baik saja.
“Ayo berdiri,” pinta Sarah.
Rose menurut, ia berdiri dengan bantuan Sarah. Saat itulah Rose sadar, tubuhnya terasa lemah dan begitu lemas. Kakinya pun tidak sanggup menopang badannya yang kurus.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sarah, ia kemudian mendesah, “Bodoh, kenapa aku bertanya seperti itu padamu. Seharusnya aku tahu kalau kau tidak akan pernah baik-baik saja setelah mengetahui kabar itu,” katanya.
Rose terdiam, ia tidak dapat berkata apapun.
“Aku akan mengemas barangmu. Kita pergi dari sini,” jelas Sarah.
Rose mengernyit bingung, pergi? Apa setelah Yuan bertunangan dengan gadis lain, sekarang dirinya di usir dari tempat ini?
“Aku di usir ya?” tanya Rose lemas.
Sarah menatapnya. Sungguh naif, batin Sarah.
“Anggap saja begitu. Tapi sebenarnya tidak,” jawab Sarah.
“Maksudnya?” Rose tak paham dengan jawaban Sarah.
“Kau mau sampai kapan berada di sini? Sedangkan pria itu sudah tidak lagi peduli padamu. Walaupun pulau ini terbeli atas namamu. Tapi semuanya hanya akan menyiksa dirimu sendiri kalau kau terus berada di sini. Aku sangat tahu kalau setiap jengkal pulau ini pasti menyisakan kenangan antara dirimu dan pria itu. Karena itu, kalau kau terus berada di sini. Kau sama saja bunuh diri secara perlahan-lahan,” ungkap Sarah.
“Yuan sungguh tidak peduli lagi padaku?” tanya Rose, nadanya gemetar, ia tidak sanggup mendengar jawaban terburuknya. Tapi dirinya juga penasaran dengan jawaban itu.
Sarah diam untuk beberapa saat, kemudian ia menghela napasnya, sebelum akhirnya menjawab, “Dengar Rose, awalnya aku tidak percaya dengan berita menyebalkan itu. Jadi setelah mendengar berita itu, aku tanpa ragu langsung menemuinya, tidak peduli kesulitan apa yang aku temui, yang terpenting aku bertemu dengannya. Tapi apa kau tahu betapa kecewanya aku setelah bertemu dengannya dan mendengarkan perkataannya. Dia pria brengsek. Tidak pantas untukmu,” jelas Sarah.
“Sekarang kau ikut denganku. Ikut aku pergi dari sini. Kau sudah seperti adik bagiku, Rose. Aku akan menjagamu dengan baik. Anggap saja aku seperti seorang kakak yang melindungi adiknya. Percayalah padaku, kau tidak bisa bertahan lama di sini. Itu akan membuatku khawatir padamu. Jadi kumohon, ikutlah bersamaku,” pinta Sarah.
Sesaat Rose terdiam, namun air matanya tak henti mengalir. Sarah pun sampai di buatnya ikut menangis. Sarah tahu bagaimana perjalanan cinta kedua orang itu. Ia mungkin baru mengenal Rose selama tiga tahun.
Tapi tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk menyatukan rasa persahabatan, persaudaraan dan kekeluargaan antara dua orang wanita.
“Ya, aku akan ikut bersamamu. Bawa aku pergi dari sini. Bantu aku, Sarah,” ucap Rose.
Sarah mengusap air matanya, ia mengangguk sembari tersenyum senang.
“Keputusan yang bagus, Rose,” ucap Sarah.
__ADS_1
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍