
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
“Kalian tertawa tidak ingin mengajak Mama?” tanya Rose yang baru saja kembali dari toko kue itu.
Yusen dan Yuna saling beradu pandang, lalu keduanya sama-sama menempelkan jari telunjuk mereka di atas bibir.
“Sstt...,” desut mereka bersamaan.
Rose terkekeh melihatnya, “Ah, jadi kalian punya rahasia ya. Tidak ingin membaginya dengan Mama?” tanya Rose yang tengah memasang sabuk pengamannya.
“Kalau kami memberitahu Mama, itu artinya bukan rahasia lagi namanya. Kan rahasia ada selama tidak ada orang yang mengetahuinya,” tutur Yuna.
Rose tersenyum, ia merasa kalau Yuna sudah melupakan masalah boneka tadi. Wanita itu yakin kalau Yusen lah yang membuat Yuna kembali ceria dan melupakan boneka Grizzly bear limited edition itu. Dan kenyataannya memang begitu.
“Baiklah, ayo kita pulang,” ucap Rose sembari menyalakan mesin mobilnya, kemudian ia mengemudikan mobilnya menuju rumah sederhana mereka.
***
Mobil SUV dengan varian warna hitam itu terparkir sembarangan di depan sebuah gedung apartemen tua.
Warna cat yang pudar dan bau karat dari setiap besi penyangga membuat orang akan mundur perlahan dan pergi dari tempat itu.
Bangunannya memang masih kokoh. Tapi suasananya yang kurang sedap dipandang dan tidak terawat, menjadikan tempat itu pantas mendapat predikat kumuh.
Bahkan Yuan sangat yakin kalau tempat itu sudah lama tidak di renovasi sejak delepan tahun berlalu.
“Kau, bukankah kau pemuda yang dulu sering datang kemari? Ah iya, kau sekarang seorang CEO perusahaan besar,” kata seorang wanita. Dari wajahnya ia tampak berusia seumuran Ana.
Yuan terdiam sejenak, ia mengernyitkan keningnya, seperti pernah bertemu dengan wanita berusia enam puluhan tahun itu.
“Anda— ”
“Kau dulu sering memanggilku Bibi Meng, apa kau lupa? Yah, wajar saja, semenjak Rose pindah dan tidak kembali lagi, kau juga tidak pernah datang kesini. Tapi aku masih sering melihatmu di televisi, jadi bagaimana mungkin aku melupakan mu walaupun usiaku sudah tua seperti ini,” celotehnya panjang lebar.
“Aish, ternyata kau sungguh pria yang hebat. Tapi sayangnya tidak hebat dalam hal cinta, kau meninggalkan Rose demi gadis kaya itu,” imbuhnya lagi, terasa menohok bagi Yuan.
“Aku tidak meninggalkan Rose demi gadis kaya manapun. Bibi jangan membuat gosip yang tidak-tidak,” sergah Yuan.
Wanita paruh baya itu tersenyum miris mendengarnya.
“Ck, kau sungguh tidak tahu malu ya? Tidak mau mengaku kalau kau pernah bertunangan dengan mantan CEO perusahaan Jhoneq? Ya, pertunangan mu memang gagal, tapi bukan berarti jejak media maya yang mengatakan kau pernah bertunangan dengannya akan hilang,” ujarnya.
“Itu seperti hati Rose. Mungkin semua hanya masa lalu. Tapi asal kau tahu, hati itu seperti rekam digital, tidak mudah kau menghapusnya begitu saja,” timpalnya lagi.
Yuan terdiam, dirinya seperti dihantam batu besar.
Benar, apa yang wanita tua itu katakan memang benar.
Walaupun sekarang Rue tak lagi menjadi seorang CEO dan keluarga mereka tidak lagi terpandang seperti dulu. Apalagi perusahaan Jhoneq yang sudah di akuisisi oleh perusahaannya. Tapi terkadang, ia masih seringkali mendengar perkataan orang tentang dirinya yang pernah bertunangan dengan Rue.
Rue memang bukan lagi seorang putri dari anak konglomerat. Namun predikatnya sebagai mantan tunangan Yuan masih membekas di pikiran semua orang.
Yuan menghela napasnya, “Bibi, kalau Bibi mau mengajakku berdebat, aku tidak punya banyak waktu untuk itu,” celetuk Yuan.
Bibi Meng hanya diam dengan tatapan melasnya pada pria itu.
“Kau ingin kemana? Melihat bekas apartemen Rose?” tanya Bibi Meng ketika Yuan ingin mengetuk pintu apartemen milik Rose dulu.
“Bibi bisa tidak jangan menggangguku?!” kesal Yuan.
Bibi Meng menghela napasnya, kemudian menatap Yuan melas.
“Dia tidak tinggal lagi disini. Terakhir kali dia datang sekitar satu tahun yang lalu,” ungkapnya, memberikan informasi penting itu pada Yuan.
“Satu tahun yang lalu?” tanya Yuan.
“Maksud, Bibi. Satu tahun yang lalu Rose datang kemari?” tanya Yuan lagi.
Bibi Meng menganggukkan kepalanya, “Dia datang untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal di sini. Dia bahkan juga menyapaku dengan hangat. Perempuan itu benar-benar berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Dia terlihat semakin cantik dan dewasa. Aku saja sampai terbengong melihatnya,” jujur Bibi Meng.
Yuan merasa tertarik mendengarnya. Ia pun kembali menghadap ke arah wanita tua itu.
“Katakan padaku, Bi. Apa lagi yang dia katakan pada Bibi? Apa dia memberitahu Bibi dimana dia tinggal sekarang? Atau tempat kerjanya sekarang? Atau apalah itu yang bisa membuat aku tahu dimana dia berada sekarang,” tanya Yuan beruntun.
Bibi Meng menghela napasnya lagi dan lagi, “Dia tidak bercerita banyak, hanya saja ada satu hal yang perlu kau tahu,” ucap Bibi Meng.
“Apa itu?” tanya Yuan.
“Dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Jangan mengganggunya lagi. Biarkan dia bahagia menikmati kehidupannya yang sekarang,” pesan Bibi Meng, ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Rose satu tahun yang lalu.
__ADS_1
Bibi Meng berkata seperti itu pada Yuan karena waktu itu ia melihat Yusen dan Yuna. Wanita tua itu berpikir kalau dua kakak-beradik kembar itu adalah anak Rose dari pria lain yang mungkin adalah suami Rose saat ini.
Sayangnya, waktu itu Bibi Meng enggan bertanya perihal kepastian dugaannya itu. Rose pun juga tidak menceritakannya pada wanita tua itu.
“Maksud Bibi apa?” tanya Yuan, ia masih tidak paham.
“Sudahlah, hanya itu yang ingin aku katakan padamu. Kau pergilah, tidak ada gunanya datang kemari. Karena Rose tidak akan pernah datang kesini lagi. Dan kau, ingatlah pesanku tadi, jangan usik kehidupan Rose lagi. Biarkan dia bahagia,” nasihat Bibi Meng. Lalu kemudian ia masuk ke dalam apartemennya.
Yuan terbengong, ia bingung, kepalanya seolah dipenuhi dengan balok tanda tanya.
“Apa Rose sungguh hidup bahagia? Apa dia sudah melupakanku? Bukan salahnya jika dia sudah melupakanku, karena semua yang terjadi ini adalah kesalahanku. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terpenuhi oleh rasa cinta dan rindu padanya?” gumam Yuan.
•••
Ana duduk di meja makan bersama Ray, suaminya.
Mereka terlihat diam dengan rasa tidak sabar menunggu seseorang.
“Sudah pukul setengah delapan. Ayo makan dulu, nanti kalau Yuan datang tinggal suruh saja dia untuk bergabung,” saran Ray, ia sudah kelaparan. Tapi istrinya itu selalu saja berkata nanti. Bahkan tak tanggung-tanggung, Ana akan memukul tangan Ray kalau pria tua itu memaksa ingin mengambil salah satu makanan yang tersaji.
“Tunggu sebentar lagi,” suruh Ana.
Ray mendengus kesal untuk yang kesekian kalinya.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan rumah tangga mereka berlari kecil hendak melaporkan sesuatu.
“Tuan besar, Nyonya besar. Sekertarisnya Tuan muda Yuan ada di sini,” ucapnya sembari menunjuk sekertaris Iko dengan ibu jarinya.
“Selamat malam, Ketua Ray dan Nyonya Gavin,” sapa Iko dengan ramah.
Ana dan Ray yang di sapa pun membalas sapaan itu dengan senyum ramah mereka.
“Dimana Yuan?” tanya Ana yang langsung membuat sekretaris Iko menyiutkan nyalinya. Ia bahkan sampai terdiam untuk beberapa saat karena bingung harus bagaimana menjelaskannya.
“Eng, itu, tadi itu Presdir Yuan sedang berbelanja,” ucapnya perlahan-lahan.
“Em, lalu?” tanya Ana.
“Presdir membeli banyak bahan masakan,” katanya lagi, berjeda.
“Terus?”
“Tapi...,” gantungnya.
“Tapi apa?” tanya Ana yang mulai gemas dengan sekertaris anaknya itu.
“Lalu kau akan di hukum karena menggunjingku dari belakang,” sahut seorang pria yang tampak berjalan santai memasuki ruang makan itu.
Melihat sosoknya, senyum Ana langsung mengembang sempurna.
Ray pun menatap sekertaris Iko dengan gelanggang kepalanya.
Melihat bosnya yang tiba-tiba muncul. Iko mendesah pasrah dalam hatinya.
Habis sudah nasib baiknya. Bukan hanya malu yang dia dapat, tapi juga hukuman dari bosnya yang akan memberinya pekerjaan bertumpuk-tumpuk tiada habisnya.
“Sekertaris Iko, apa kau ingin ikut bergabung bersama kami?” tanya Ana yang melihat Iko hanya diam di tempatnya.
Mendengar tuturan ajakan itu. Iko pun tersadar, ia tersenyum malu menatap nyonya besar keluarga Gavin itu.
“Itu, maaf, saya, anu, tidak terimakasih,” ucapnya belepotan.
Yuan tersenyum mendengarnya, ia bahkan tampak menahan tawanya.
“Kalau mau bergabung, silahkan,” ucap Yuan.
“Tidak, Presdir. Terimakasih atas tawarannya. Kalau begitu, saya permisi undur diri,” pamitnya, setelah itu, sekertaris Iko pergi dengan langkah kakinya yang terlihat gesit dan cepat.
“Sekertarismu itu lucu sekali ya,” ujar Ana pada sang anak, Yuan.
Yuan mengangguk dengan senyum tipisnya.
“Mommy hampir percaya dengan laporan tidak akuratnya. Mommy pikir kau tidak jadi pulang untuk makan malam,” kata Ana.
Yuan kembali tersenyum samar, “Aku sudah berjanji untuk pulang dan makan malam bersama. Bagaimana mungkin aku mengingkari janjiku,” tutur Yuan, bohong.
Karena sebenarnya, ia hampir saja mengingkari janjinya untuk pulang ke rumah dan makan malam bersama keluarganya.
Pikiran Yuan pun sampai saat ini masih kacau. Ia terus bertanya-tanya, dimana Rose? Apa dia benar-benar sudah bahagia? Bahagia yang seperti apa?
“Yuan,” panggil Ana.
Yuan tersentak dari lamunannya, ia langsung menatap ibunya itu penuh tanya.
“Ya?” tanyanya.
__ADS_1
Ana tersenyum ke arahnya. Ia kemudian tampak menepukkan tangannya dua kali. Lalu seorang pelayan rumah tangga datang dengan membawa kue dengan lilin-lilin kecil berjumlah tiga puluh tiga di atas kue itu.
“Ini— ” lirih Yuan tak percaya. Ia bahkan lupa kalau hari ini adalah hari kelahirannya. Hari dimana Ana mempertaruhkan nyawanya untuk seorang bayi kecil yang kini sudah tumbuh dewasa.
Perasaan haru pun menyelimuti mereka.
“Selamat hari lahir, anakku,” ucap Ana sembari memberikan kue yang sudah ada di tangannya itu kepada Yuan.
“Walaupun ini terdengar kekanakan. Tapi setidaknya, buatlah make a wish dulu sebelum meniup lilinnya,” saran Ray.
Yuan mengangguk setuju, karena dirinya memang memiliki berjuta harapan yang intinya tertuju pada satu orang.
Tuhan, pertemukan aku dengan Rose kembali. Satukan aku dengan Rose kembali. Aku berjanji, setelah semua ujian ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Aku akan selalu ada di sisinya. Harapanku sederhana, aku ingin membangun rumah tangga dan hidup bahagia bersamanya. — harap Yuan dalam hatinya.
Setelah mengucapkan semua harapannya itu. Yuan meniup semua lilin itu.
Tepukan tangan kecil pun terdengar ketika semua lilin itu padam.
“Semoga kau cepat bertemu dengannya,” ujar sang ibu yang seolah tahu tentang apa yang Yuan harapkan.
Yuan mengangguk sembari tersenyum hangat kepada ibunya.
“Terimakasih, Mom,” ucapnya.
“Bagaimana dengan Daddymu ini? Apa sungguh tidak ada ucapan terimakasih untukku?” tanya Ray dengan senyum gurauannya.
Yuan pun tersenyum lebar menanggapinya, ia kemudian berkata, “Terimakasih, Dad,” ucap Yuan.
•••
Rumah dengan tipe empat puluh lima itu terlihat nyaman dan penuh warna keteduhan.
Di dalamnya pun banyak menyimpan kebahagiaan kecil yang tidak akan pernah tergantikan.
Rose tersenyum melihat anak-anaknya yang tampak bermain riang bersama. Sedangkan dirinya, saat ini ia tengah sibuk mempersiapkan makan malam untuk dirinya dan kerua anaknya.
“Ma, besok Yusen dan Yuna ada ujian. Bagaimana kalau kita buat lomba seperti biasa?” seru Yuna dari arah sofa, tak jauh dari dapur yang berada dalam satu ruangan dengan ruang tamu.
“Oh, benarkah? Boleh juga. Siapa diantara kalian yang mendapat nilai paling tinggi, nanti akan jadi pemenangnya. Dan si pemenang akan mendapatkan apapun yang dia minta. Tapi, selama Mama sanggup menurutinya,” ucap Rose.
Yuna terlihat antusias dengan lomba dadakan itu. Sedangkan Yusen, pria kecil itu hanya bisa mendengus kesal dengan lomba yang menurutnya sangat kekanakan.
“Ayo kemari. Makan malam sudah siap,” ucap Rose.
Kedua kakak-beradik kembar itu pun bergegas menuju meja makan. Sesampainya di sana mereka segera mengambil tempat duduknya masing-masing.
“Yusen heran, sebenarnya hari ini itu ulang tahun siapa? Rasanya setiap tahun Mama meniup lilin dan membuat harapan di tanggal dan bulan ini,” tanya Yusen yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Rose tersenyum hangat, ia mengusap rambut putranya itu penuh sayang.
“Hari ini, hari ulang tahun— ” Rose menggantungkan kalimatnya, ia pikir sudah saatnya bagi dirinya untuk membuka diri dan membahas tentang ayah kedua anaknya itu.
Walaupun Rose tidak akan memberitahu siapa ayah mereka. Tapi setidaknya, Rose ingin memberitahu anaknya tentang ayah mereka.
Rose pun menghela napasnya sejenak, sebelum kemudian, ia kembali melanjutkan perkataannya, “Hari ini, hari ulang tahun ayah kalian,”
Yusen dan Yuna terhenyak. Mereka menatap ibunya dalam diam. Membisu dan tercenung.
“Aku bahkan tidak pernah berpikir kalau diriku dan Yuna punya seorang ayah,” celetuk Yusen.
Rose menatapnya sendu. Perempuan itu mengalihkan pandangannya ketika buliran bening berhasil terjun bebas dari matanya.
“Seperti apa ayah kami?” berbeda dengan Yusen yang menanggapi dengan dingin. Yuna mencoba mencairkan suasana dengan pikiran terbukanya.
“Apa yang kau harapkan, Yuna?” tanya Yusen, menceramahi saudari kembarnya itu.
“Aku hanya ingin tahu seperti apa ayahku, memangnya aku salah? Kita juga tidak bisa hanya diam dan memendam semua pertanyaan yang ada disini 'kan?” ungkap Yuna sembari menunjuk ke arah dada Yusen.
“Jangan munafik, Yusen. Aku tahu, kau pasti juga pernah bertanya-tanya. Apa aku punya ayah? Dimana dia? Seperti apa dia? Kenapa dia meninggalkan kami? Tapi kau tidak pernah berani mengutarakan pertanyaan mu itu karena tidak mau membuat Mama menangis kan? Aku pun sama,” kata Yuna lagi. Ia jujur dan begitu polos.
Aliran bening di mata Rose pun semakin berlinang membasahi pipinya. Ia tidak dapat lagi membendung air matanya. Apalagi ketika hatinya terenyuh dengan pekataan Yuna barusan.
“Kau membuat Mama menangis, bodoh,” oceh Yusen yang tidak suka melihat ibunya berderaian air mata.
“Kau pikir aku tidak menangis juga?!” sungut Yuna, tanpa ia inginkan, air matanya pun ikut terjatuh. Ia menangis dengan tenang, tidak seperti anak pada umumnya yang akan meraung dalam tangisnya.
“Maafkan, Mama,” ucap Rose, dengan cepat, ia berdiri dari kursinya, lalu mendekati dua buah hatinya. Direngkuhnya tubuh dua anak kembarnya itu dalam sendu.
“Mama jangan menangis,” ujar Yuna dalam isakan kecilnya.
“Ck, kau sendiri pun menangis,” ucap Yusen sembari mengusap lembut puncak kepala Yuna dan membalas pelukan ibunya.
Ketiganya pun saling berpelukan, berbagi kesedihan dalam kehangatan.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍