
“Kau sudah makan?” tanya Rose, mengubah topik pembicaraan. “Kalau belum, aku akan memasak untukmu.” ujar Rose.
Yuan pun kemudian tampak mengeluarkan raut wajah semangatnya. Walaupun sebenarnya ia sudah makan, tapi demi mendapatkan makanan dari masakan Rose sendiri, Yuan rela berbohong.
“Belum, aku belum makan.” ujar Yuan.
Rose tersenyum mendengar keantusiasan pria itu. “Baiklah, kalau begitu aku akan masak untukmu.” kata Rose sembari meraih kantong belanjaannya tadi. Lalu kemudian ia tampak mengeluarkan beberapa sayuran dan juga bahan makanan lengkap lainnya.
“Kau ingin aku masakan apa?” tanya Rose yang mulai memakai appron nya.
“Terserah, apa saja. Asalkan itu masakannya Rose, sekalipun itu mengandung racun tikus atau sianida, pasti akan tetap aku makan.” kata Yuan.
“Sembarangan saja kalau bicara.” ucap Rose sembari tertawa kecil. “Kalau aku beri racun tikus atau sianida sungguhan, apa kau serius untuk memakannya? Jangan bercanda yang tidak-tidak.” sambungnya.
“Aku serius, aku sedang tidak bercanda. Apa kau tidak mengerti maksudku?” tanya Yuan.
“Apa? Memangnya apa maksdumu?” Rose balik bertanya.
“Ck, kau ini. Maksduku itu, aku rela mati demi dirimu. Sekarang sudah paham kan seberapa besarnya rasa cintaku padamu?” ujar Yuan yang langsung membuat pipi Rose merona.
“Ehem.” terdengar suara deheman seseorang dari dalam kamar Rose. “Rose, lain kali kalau Yuan ingin datang ke apartemenmu setidaknya beritahu aku, jadi aku tidak akan datang kemari dan menjadi obat nyamuk seperti sekarang ini.” kata Yana dari dalam kamar Rose.
“Oi, Yana. Kalau kau tidak ingin menjadi obat nyamuk ya tinggal pergi pulang saja sana. Tidak ada yang melarangmu untuk pergi dari sini.” ujar Yuan sedikit menaikkan nada bicaranya.
“Yuan, apa yang kau katakan?! Kau itu sadar tidak? Kata-katamu barusan menegaskan kalau kau sedang mengusirnya. Kenapa kau sembarangan mengusir Yana? Lagipula ini tempat tinggalku. Siapa yang tinggal dan pergi dari sini, aku yang menentukannya, bukan dirimu. Bahkan sekarang kalau aku mau, aku bisa menendangmu keluar dari dalam apartemenku ini.” kata Rose yang membuat Yuan langsung mengerucutkan bibirnya.
Yuan merasa tidak adil karena Rose selalu lebih memilih membela teman baiknya daripada dirinya yang merupakan kekasih gadis itu.
“Iya, maaf. Lain kali aku akan memperhatikan kata-kataku, tidak akan asal bicara lagi, dan tidak akan menyinggung te-man ba-ikmu lagi.” ujar Yuan dengan menekan kata 'teman baik' agar Rose paham dengan dirinya yang merasa diperlakukan tidak adil.
Tapi Rose tetaplah Rose yang lebih membela Yana daripada Yuan. Ia tidak mempedulikan penekanan kata yang Yuan tujukan sebagai portes itu, Rose mengabaikannya.
“Bagus, jadi lain kali tolong jangan diulangi lagi.” ucap Rose.
“Yana, kau juga, tolong maafkan perkataan Yuan tadi ya. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati.” kata Rose pada Yana yang ada di dalam kamarnya.
“Ya tentu saja, tidak masalah.” jawab Yana.
“Baguslah.” ucap Rose.
“Daripada sibuk membela teman baikmu itu, bukankah lebih baik kau cepat masakan makanan untukku? Aku sudah sangat kelaparan.” keluh Yuan.
“Iya, baiklah. Aku akan mulai masak untukmu.” ujar Rose.
Gadis itu kemudian melangkah menuju tempat masak dengan membawa bahan-bahan yang telah ia keluarkan dari dalam kantong plastik tadi.
Yuan dengan tenang menunggu dan memperhatikan Rose yang tampak fokus dengan peralatan dapurnya.
Dalam keadaan seperti itu, Yuan merasa kalau Rose terlihat lebih menawan dan mempesona hatinya beribu-ribu kali lipat dari sebelumnya.
Di saat Rose sedang memasak seperti ini, aura keibuannya dan kehangatannya sangat terpancar jelas, sampai seolah-olah mampu melelehkan jiwa Yuan yang sudah seperti berada di kebun bunga fantasi.
“Dia sangat cantik.” gumam Yuan.
Rose yang tengah fokus memasak, ia tanpa sengaja mendengar gumaman dari Yuan samar-samar, hampir seperti bisikan angin malam.
“Kau bilang apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.” ujar Rose tanpa menoleh, gadis itu saat ini terlihat tengah menggulung rolled egg-nya.
“Kau cantik.” ucap Yuan tanpa menutupinya lagi.
“Jangan menggodaku Yuan. Aku sedang masak, itu sangat menggangguku.” ujar Rose sembari tersenyum merona.
“Aku tidak sedang menggodamu apalagi berniat mengganggumu. Aku hanya berkata yang sejujurnya.” kata Yuan.
“Ya terserah kau saja ingin memberi asalan apa.” ucap Rose, ia pun kemudian tampak meletakkan rolled egg-nya ke atas piring.
__ADS_1
“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Yuan.
Rose pun menoleh mendengar tawaran bantuan dari Yuan itu.
“Sungguh? Apa kau ingin membantuku?” tanya Rose yang dibalas dengan anggukan oleh Yuan.
“Kalau begitu, bisakah kau potong-potong rolled egg ini? Aku ingin menyelesaikan capcay ku.” ujar Rose.
“Siap menerima perintah, tuan putri Rose.” kata Yuan sembari bergerak mendekati Rose dan kemudian meraih sebilah pisau kecil untuk memotong rolled egg yang sebelumnya telah Rose gulung.
“Jangan bercanda, cepat selesaikan saja tugasmu.” ujar Rose.
“Iya, iya.” ucap Yuan, pria itu terlihat mulai memotong rolled egg tersebut.
Sedangkan Rose, gadis itu tampak mengaduk capcay-nya yang hampir matang sempurna.
Beberapa menit mereka beradu pada tugasnya masing-masing. Yuan terlihat lebih dulu selesai. Pria itu kemudian meletakkan hasil karyanya ke atas meja makan.
“Apa kau sudah memotong semuanya?” tanya Rose.
“Hm, sudah.” jawab Yuan.
Rose pun menolehkan kepalanya, melihat rolled egg yang tadi ia buat kini telah di potong sempura oleh Yuan.
“Bagus juga kerjamu.” puji Rose sembari mematikan kompornya, lalu ia tampak meraih piring yang berbentuk agak cekung untuk menjadi wadah dari capcay yang ia masak.
Selesai memindahkan capcay-nya ke dalam piring cekung itu, Rose pun segera meletakkan masakannya itu ke atas meja, berdekatan dengan rolled egg-nya.
“Kau lupa ya? Aku ini juga pandai memasak.” ujar Yuan dengan nada sombongnya.
“Ya, kau memang tuan serba bisa.” ucap Rose.
“Ah iya, aku akan panggil Yana sebentar, aku akan mengajaknya makan malam bersama kita.” ujar Rose, setelah itu ia langsung pergi dari hadapan Yuan.
“Ck, temannya itu memang sangat menggangu, kalau saja tidak ada dia, aku dan Rose sudah pasti akan makan malam romantis berdua.” gumam Yuan.
Ray terlihat menatap Ana yang sedang membaca majalah populer minggu ini. Pria paruh baya itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia tampak ragu-ragu untuk mengatakannya pada sang istri.
Ana yang menyadari gelagat suaminya itu, untuk beberapa saat lamanya ia hanya diam saja, berpura-pura tidak mengetahui tindak-tanduk sang suami. Tapi lama-kelamaan, Ana juga merasa jengah dengan Ray yang terus menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, katakan saja. Tidak perlu terlihat ragu seperti itu. Ekspresi keraguanmu itu sangat membuatku tidak nyaman.” kata Ana tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang ia baca.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau ada sesuatu yang sedang ingin aku bicarakan padamu?” tanya Ray, merasa bingung sekaligus heran dengan tebakan Ana yang benar dan akurat.
Padahal Ana menebak juga karena telah menyadari sikap Ray dari ekor mata wanita paruh baya itu. Ray sejak tadi terlihat membuka mulutnya, seperti ingin berbicara, tapi kemudian selalu di urungkan nya.
“Aku hanya menebaknya saja. Jika itu benar, baguslah. Jadi kau tidak perlu menahannya lagi, karena aku sudah memintamu untuk mengatakan apa yang ingin kau katakan padaku.” jawab Ana.
Ray pun kemudian tampak menghela nafasnya beberapa saat, sebelum akhirnya ia terlihat mulai ingin membahas topik yang ingin ia bicarakan pada istrinya itu.
“Ini, ini tentang Yuan.” ujar Ray, memulai pembahasannya.
Mendengar nama anaknya disebut oleh sang suami, Ana pun merasa kalau ini akan mengarah ke hal yang serius, jadi Ana langsung menutup majalahnya dan kini terlihat fokus menatap Ray.
“Yuan? Ada apa dengannya?” tanya Ana.
“Eng, itu, apakah kau pernah mendengar kabar kalau Yuan punya kekasih?” tanya Ray.
“Ke—kekasih?” Ana merasa ada yang tidak beres dengan arah pembicaraan ini, asumsi yang pertama kali melintasi kepalanya adalah— apakah Ray sudah mengetahui kalau Yuan punya pacar?
“Apa Yuan punya kekasih?” Ana balik melemparkan pertanyaan itu kepada Ray, ia tidak bisa gegabah menjawab pertanyaan dari Ray tadi. Setidaknya, Ana harus lebih dulu memastikan, Ray bertanya seperti itu karena memang sudah tahu atau memang sekedar bertanya untuk mencari tahu?
Dengan melemparkan pertanyaan balik seperti itu, Ana dapat menilainya.
“Kenapa malah balik bertanya? Aku kan sedang bertanya padamu. Tapi dari sikapmu itu, Yuan pasti memang belum memiliki kekasih kan?” ujar Ray yang langsung mengambil kesimpulannya sendiri.
__ADS_1
“Ii—ya, ya mungkin saja seperti itu.” ucap Ana.
Syukurlah, aku pikir Ray sudah tahu tentang hubungan Yuan dan Rose. Ternyata dia hanya sekedar bertanya saja. Tapi— kenapa Ray tiba-tiba ingin membahas masalah yang terlihat tidak terlalu penting seperti ini? Apa dia— tidak, tidak mungkin Ray membahas ini karena ingin menjodohkan Yuan. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
“Ana.” panggil Ray.
“Hm? Ada apa?” tanya Ana.
“Aku dan ketua Barack, kami sepakat untuk menjodohkan Yuan dengan Rue.” ujar Ray tanpa keraguan lagi.
Pernyataan langsung dari Ray itu sontak membuat Ana membelalakkan matanya tidak percaya, wanita paruh baya itu seketika merasa seperti ada kilatan petir yang ingin menyambar putranya.
“Kau gila?!” itulah kalimat yang pertamakali keluar dari mulut Ana. Sebuah pertanyaan berisi umpatan yang ia lemparkan untuk sang suami.
“Aku bisa menjelaskannya.” ujar Ray, mulai mencoba meyakinkan istrinya.
“Tidak, tidak. Aku tidak setuju dan juga tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun darimu.” kata Ana.
“Sayang, setidaknya dengarkan penjelasan dariku dulu. Kenapa kau langsung menjawab seperti itu? Padahal kan aku belum mengatakan apapun. Lagipula kenapa kau tiba-tiba tanpa pikir panjang langsung berkata tidak setuju? Apa kau tidak menyukai Rue?” tanya Ray.
Ana menghela nafasnya, ia tampak memijat keningnya yang terasa berdenyut sesaat.
“Bukan masalah suka pada orangnya atau tidak. Aku hanya tidak suka mengekang masa depan Yuan. Kenapa harus ada perjodohan? Kenapa harus kita yang memilihkannya pasangan hidupnya kalau anak kita bisa mencari dan memilihnya sendiri?” kata Ana.
Ray terlihat mengusap lembut bahu Ana, memberikan ketenangan pada sang istri.
“Sayang, bukankah Yuan saat ini tidak memiliki pasangan? Maka dari itu, mulai sekarang kita dekatkan dia dengan Rue, biarkan mereka saling mengenal satu sama lain. Nanti juga lama-kelamaan mereka semakin dekat dan siapa yang tahu nantinya mereka bisa saling jatuh cinta.” ujar Ray, menurut pola pikirnya.
“Jangan konyol. Kau pikir hanya karena mereka selalu bersama, jadi mereka akan saling mencintai satu sama lain? Pola pikirmu itu terlalu kuno.” kata Ana.
“Cinta tidak harus selalu datang dari kebiasaan. Bagaimana kalau seandainya salah satu dari mereka sudah memiliki seseorang dihatinya? Kalau seperti itu, mereka mana mungkin bisa saling mencintai, yang ada hanya salah satu dari mereka yang mempunyai perasaan itu. Kau ingin membuat salah satu dari mereka sakit hati karena cintanya hanya menjadi cinta sepihak?” sambung Ana.
Ray tampak diam sejenak, merasa kalau apa yang istrinya itu katakan ada benarnya juga.
“Tapi kan diantara mereka tidak ada yang memiliki seseorang di hati mereka. Rue juga dari apa yang telah Barack ceritakan padaku, gadis itu sudah jatuh hati pada Yuan. Hanya tinggal Yuan saja yang perlu kita dorong untuk membuka hatinya.” ujar Ray.
Ana merasa suaminya itu terlalu egois dalam memaksakan kehendaknya. Ia sendiri sudah geram dengan semua perkataan Ray malam ini.
Ray sungguh tidak mengerti bagaimana caranya memahami perasaan orang lain, apalagi anaknya sendiri. Walaupun Ray tidak tahu kalau Yuan sudah punya seseorang yang dicintai, tapi setidaknya Ray harus memikirkan hal itu.
Ana pun kalau seandainya ia belum tahu tentang hubungan Yuan dan Rose, ia juga tetap tidak akan setuju dengan perjodohan apapun itu. Karena Ana tahu, menikah dengan paksaan tidak selamanya indah.
Tidak semua kisah perjodohan berakhir bahagia seperti dirinya dan Ray. Karena setiap orang memiliki takdirnya masing-masing.
“Kau lebih baik keluar dari sini. Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu. Sebelum aku benar-benar kesal dan bisa saja menamparmu, keluarlah.” ucap Ana sembari mengalihkan pandangannya dari Ray.
“Sayang. Kenapa kau harus sampai marah seperti ini?” tanya Ray.
“Kenapa aku harus marah? Tentu saja aku akan marah. Ibu mana yang suka melihat anaknya akan menderita karena perjodohan gila ini.” ucap Ana.
“Lagipula, apa kau tidak pernah berpikir, walaupun Yuan tidak memiliki kekasih sekalipun, bagaimana kalau dia punya seseorang yang dicintainya? Kenapa kau tidak berpikir panjang sebelum memutuskan?! Kenapa?!” sambungnya.
“Apa kau suka melihat anakmu satu-satunya menderita karena ulahmu yang ingin menjodohkannya demi perusahaan? Kau pikir aku tidak tahu alasanmu menjodohkan Yuan? Kau sungguh keterlaluan Ray, aku tidak tahu harus berkata apalagi padamu. Keluarlah. Keluar! Malam ini kita tidur terpisah.” kata Ana sembari mendorong Ray yang mencoba mendekatinya.
“Sayang, bukan seperti itu. Jangan salah paham dulu. Kenapa kau jadi sensitif sekali sih? Aku menjodohkan Yuan bukan hanya karena demi perusahaan, tapi juga demi kebaikan masa depan anak kita.” ujar Ray.
Ana menatap Ray dengan raut mirisnya. “Aku sungguh tidak mengerti dengan cara berpikirmu. Kau masih saja mengelak, tapi secara tidak langsung mengatakan kalau itu memang demi perusahaan.” katanya.
“Ana, sayang. Pahami baik-baik perkataanku. Ini juga demi kebaikan masa depan Yuan.” ucap Ray.
“Kebaikan masa depan Yuan? Ya, tentu saja. Tapi masa depannya yang suram dan menyedihkan.” balas Ana.
“Bukan seperti itu— ”
“Sudah cukup, aku tidak ingin membahasnya lagi. Intinya aku tidak akan pernah setuju. Kau sekarang lebih baik keluar dan tidur di kamar lain. Aku sungguh tidak ingin bersama denganmu malam ini. Aku benar-benar muak melihatmu.” ujar Ana.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍