
Good day.
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴✴
Pagi itu, negara tropis di bagian Asia Tenggara di hebohkan dengan breaking news yang sedang menjadi perbincangan hangat di seluruh kalangan.
Kabar terkini tentang pertunangan CEO dua perusahaan besar menjadi sihir tersendiri untuk menjadi topik terhangat.
Saham kedua perusahaan besar itu pun sama-sama melejit tinggi. Bahkan tak sedikit perusahaan luar negeri tertarik untuk bekerjasama dengan keduanya.
“Jadi ini alasanmu pulang?” teriak Sean dari arah ruang keluarga.
“Apa?” tanya Sarah, gadis itu berada di dapur, ia hanya mendengar samar apa yang kembarannya itu katakan.
“Ck, dasar tuli,” cibir Sean.
“Kau bilang apa?! Tuli?! Siapa yang tuli?!” tanya Sarah, entah bagaimana, ia sekarang sudah berada di samping Sean. Duduk disana dengan memeluk satu kantong camilan.
Sean mendesis kesal melihat kelakuan adik kembarnya itu. Dengan kejahilannya, ia mengusap kasar rambut Sarah yang sudah ditata rapi. Sontak gadis itu mengeluh dengan protesan panjangnya.
“Stop, berhenti bicara. Lihat itu,” ucap Sean saat saluran yang ia pilih kembali mengabarkan berita terbaru yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini.
“Tidak mungkin...,” ucap Sarah, ia tampak terkejut dengan apa yang di lihatnya. Gadis itu tanpa sadar menjatuhkan camilan yang di pegangnya, berserakan kemana-mana.
“Kau kenapa?” tanya Sean.
“Aku harus pergi,” kata Sarah.
“Pergi kemana?”
“Aku harus memastikan sesuatu. Aku pinjam mobilmu ya My twins, terimakasih,” kata Sarah sembari meraih kunci mobil Sean dengan terburu-buru.
“Apa yang ingin kau pastikan? Apa kau ingin menemui bosmu itu?” tanya Sean, tapi tidak di hiraukan.
__ADS_1
“Sarah.” panggil sang kembaran.
Sarah mengabaikan panggilan itu. Ia berlari keluar dari rumahnya, menuju mobil dan membawanya dengan kecepatan tinggi, membelah jalan raya ibu kota.
“Kenapa bisa seperti ini? Kenapa Presdir Yuan bertunangan dengan CEO Rue? Apa yang sebenarnya terjadi?” sederet pertanyaan tanpa jawaban pun Sarah lontarkan sembari terus fokus pada jalanan.
“Aku harap Rose tidak mengetahui kabar ini. Tapi mustahil tidak tahu. Di sana juga ada saluran televisi dan internet. Rose bisa melihat dan mengakses apa saja. Kalau sampai dia melihat berita hangat yang sedang di perbincangkan di negara ini, bisa gawat,” ujar Sarah, tak henti-hentinya berbicara seorang diri.
“Pertama, aku harus bisa bertemu dengan Presdir Yuan. Kedua, aku akan kembali ke pulau itu. Rose, aku harap kau tidak melakukan sesuatu yang buruk sebelum aku datang kesana,” katanya.
•••
“Beritanya sudah tersebar, bahkan di Inggris pun sudah menjadi perbincangan untuk beberapa kalangan. Kau tidak bisa mundur lagi, Yuan,” kata Ray sembari menyesap kopi hitamnya.
Yuan terdiam, ini keputusannya. Hal buruk apapun yang akan ia hadapi, mentalnya sudah siap. Tapi, satu hal yang menggangu pikirannya. Rose, ya, Yuan harap Sarah ada di sisi Rose untuk menenangkan gadis itu sementara waktu.
Hanya sementara. Setelah rencananya dan sang ayah berhasil. Yuan akan kembali ke pulau pribadinya itu, membawa Rose pulang ke negara asal, menikahi Rose dan hidup bahagia selamanya.
Itu yang Yuan harapkan, tapi apakah harapannya itu akan menguap begitu saja atau akan terealisasikan, semua masih misteri.
“Setidaknya, langkah pertama kita berhasil, kita sudah mendapatkan kepercayaan mereka. Selanjutnya, aku hanya perlu mendekati Rue, mencaritahu bukti tentang orang yang ada di belakangnya,” ucap Yuan.
“Setelah kita membuktikan orang di belakang mereka itu berhubungan dengan Jhoneq, kita hanya perlu ungkap kasus korupsi, diksriminasi, dan penggelapan dana yang di lakukan perusahaan Jhoneq. Dengan begitu, semua tuntas sampai ke akarnya. Itulah alasan Dad tidak menjatuhkan Jhoneq dari dulu,” ujar Ray.
Yuan mengangguk paham, “Kalau Dad menghancurkan Jhoneq dari dulu. Sama saja Dad hanya memangkas batangnya saja. Kalau seperti itu, kemungkinan di masa yang akan datang, akan ada Ussa atau Jhoneq yang lain. Tujuan kita adalah mencabut akar pohon berbahaya itu,” kata Yuan.
“Ya, kau benar. Dad tidak menyangka kalau dirimu bisa memikirkan apa yang Dad pikirkan,” sanjung Ray.
Yuan hanya tersenyum kilas, “Karena aku anakmu, Dad,” bangganya.
“Em, kau memang anakku,” ucap Ray sembari menepuk bahu Yuan.
“Aku ingin menemui Mom,” kata Yuan, ia berdiri dari duduknya.
Ray mengangguk, “Mommy-mu pasti sedang marah besar pada Dad. Daddy tidak bisa ikut menemuinya,” ucapnya.
“Akan aku sampaikan salam Dad untuknya. Dad jangan khawatir, setelah semua selesai, kita akan menjelaskan semua kebenaran ini kepada dua orang wanita yang kita cintai,” puitis Yuan.
Ray tersenyum, mengibaskan tangannya, menyuruh putranya itu untuk segera pergi.
__ADS_1
•••
Sunyi, kesunyian yang biasanya melingkupi rumah besar itu terpecah.
Suara benda terjatuh menggema ke penjuru ruangan. Deruan ombak pun seolah menyahuti suara bising itu dengan hembusan angin yang menerpa kencang.
Piring putih bening itu kini telah hancur menjadi kepingan tak beraturan. Seperti hati seseorang.
Buliran kristal pun tak dapat lagi di bendung, ia meluncur deras bagai air terjun tujuh warna. Kelopak matanya pun basah dalan hitungan detik.
Pipinya yang mulus, kini dibanjiri oleh air bening yang terasa asin di lidah.
Rose menangis, tangisannya perlahan semakin keras. Bahkan kalau bisa ia ingin meraung-raung untuk melonggarkan hatinya yang terasa sesak.
Lagipula, walaupun ia menangis kencang. Tak akan ada yang terganggu olehnya. Tak akan ada yang datang menghampirinya dan menenangkan dirinya. Tidak akan pernah ada yang merengkuh tubuhnya untuk memberi rasa teduh dalam hatinya. Karena dia sendirian disini, di tempat yang tidak banyak di ketahui oleh dunia luar.
Matanya yang sudah terasa buram karena terhalang oleh air mata itu menatap layat televisi kembali. Memastikan kalau dirinya salah lihat, tapi itu benar-benar nyata.
Tulisan pada pojok bawah pembawa berita tercetak jelas pada televisi itu.
Tuan muda keluarga Gavin 'resmi' bertunangan dengan Nona muda keluarga Adelard
Rose kembali terisak, hatinya yang rapuh benar-benar hancur berserakan, seperti piring kaca yang ia pecahkan tadi.
Gadis itu ingin berpikir secara terbuka dan positif, tapi semua itu kembali runtuh ketika foto Yuan yang tersenyum bahagia tampak terekspose bersama Rue di sisinya.
Mereka terlihat seperti pasangan yang sempurna, tuan muda dan nona muda dari dua keluarga besar bersatu, siapa yang tidak senang?
Hati Rose mencelos memikirkan semua itu. Dirinya ini hanyalah sebutir pasir yang tercampur rata dengan tanah. Tidak terlihat sama sekali.
Tapi apa Yuan setega itu padanya?
Haruskah Rose percaya dan terus berharap padanya?
Rose kembali mendesau frustasi. Deruan ombak air laut yang jauh terasa semakin menggetarkan hatinya.
Sekarang aku harus bagaimana? — pertanyaan itu muncul dalam pikiran Rose.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍