The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Amusing


__ADS_3

Sore hari, pukul lima lewat dua puluh menit. Mobil yang dikendarai keluarga Gavin berhenti di depan lobby utama sebuah hotel bintang lima yang sangat terlihat berkelas itu.


Sekali lihat saja, sudah dapat di pastikan, semua tamu undangan yang hadir adalah para kaum kelas atas.


Ray keluar dari dalam mobil lebih dulu. Lalu setelahnya, Ana juga keluar dari dalam mobil dan kemudian menggandeng lengan suaminya itu.


Mereka berdua tampak berdiri berdampingan, menunggu putra mereka yang juga ikut turun dari mobil.


Setelah ketiga anggota keluarga itu turun, sopir pribadi mereka langsung membawa mobil itu ke area parkir khusus yang telah disediakan oleh pihak hotel.


"Ayo." Ucap Ray yang kemudian mulai melangkah memasuki hotel tersebut.


Yuan berjalan dibelakang orangtuanya. Mengikuti langkah kaki Ray dan Ana pergi.


Bersama-sama mereka masuk ke dalam lift khusus tamu undangan yang sengaja di siapkan pihak hotel karena permintaan klien mereka.


"Yuan, saat sampai disana nanti, jangan bertindak bodoh ataupun melakukan hal lain yang membuat dad malu. Karena disana nanti akan ada banyak relasi bisnis penting daddy. Dan juga, banyak musuh bisnis yang ingin mencari kelemahan perusahaan tnp group. Jadi, kau harus pandai dalam bersikap." Ujar Ray.


"Apa kau mengerti dengan maksud perkataan dad, Yuan?" Tanya Ray sembari menoleh sekilas pada Yuan yang saat ini berdiri di samping ibunya.


"Hm, aku mengerti." Jawab Yuan seadanya.


"Jangan terlalu keras padanya." Bisik Ana kepada suaminya itu.


"Aku tidak sedang bersikap keras padanya. Aku hanya mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi saja." Balas Ray.


Ana terlihat menatap suaminya itu dengan gelengan kepalanya.


Setelah beberapa menit mereka berdiri di dalam lift itu. Akhirnya, pintu lift terbuka. Di sana terlihat beberapa orang yang dipekerjakan untuk acara pesta itu membungkuk hormat kepada mereka.


Ray, Ana dan Yuan. Mereka di arahkan menuju sebuah pintu yang menghubungkan ketiganya pada sebuah ruangan yang terlihat cukup besar dan luas. Ruangan itu tampak mewah dengan dekorasi yang elegan namun sangat artistik.


"Aku pikir, pestanya lebih mewah dari tahun-tahun sebelumnya." Ucap Ana.


"Aku juga berpikir seperti itu. Mungkin, ini karena putri semata wayangnya juga hadir dalam acara perayaan ulang tahunnya kali ini." Kata Ray.


"Ck, kau suka sekali membahas anak perempuan dari ketua Barack." Cibir Ana.


Ray ingin membalas perkataan istrinya itu. Tapi ia urungkan ketika seorang pria paruh baya terlihat memanggilnya dengan sambutan hangat.


"Ketua Ray." Panggil ketua Barack sembari berjalan mendekat ke arah Ray dan keluarganya.


Ketua Barack sampai di hadapan Ray di ikuti oleh istri dan dua anaknya.


Ray dan Ana tampak tersenyum hangat membalas sambutan dari pemilik acara ini.


Tapi, berbeda dengan Yuan. Disaat orangtuanya tersenyum, pria itu tampak terkejut dengan sosok yang sedang berdiri di belakang ketua Barack.


Feng? Apa jangan-jangan dia— ini mustahil. Dia anak dari ketua Barack?! Selama ini, dirinya tidak terlihat menonjol sama sekali. Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa. Ternyata dia adalah anak dari seorang ketua perusahaan yang setara dengan tnp group. Kedepannya, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Apalagi, saat dia berdekatan dengan Rose. Aku harus membuat Rose menjaga jarak aman darinya. — Batin Yuan.


"Selamat datang ketua Ray. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk hadir ke pesta ini bersama keluargamu yang lain. Aku secara pribadi merasa terhormat atas kehadiranmu di pesta perayaan ulang tahunku ini." Ujar ketua Barack.


"Ah ya ampun. Kau terdengar berlebihan, santailah sedikit. Lagipula, sudah seharusnya aku menghadiri acara penting teman baikku ini." Kata Ray.


"Benar. Ah iya, bagaimana kabar anda nyonya Gavin?" Tanya ketua Barack yang kali ini beralih sapa ke arah Ana.


"Seperti yang kau lihat ketua Barack, kabarku selalu baik. Ah, bisakah kau berbicara informal saja padaku. Bukankah kita ini juga teman?" Canda Ana sembari tersenyum ramah ke arah pria paruh baya itu.

__ADS_1


Ketua Barack terlihat membalas senyum ramah itu dengan tawa ringannya.


"Tentu saja, Ana." Ucap ketua Barack.


"Itu terdengar lebih baik." Sahut istri ketua Barack, Rin.


"Oh halo, Rin. Apa kabarmu? Sudah lama tidak berjumpa, kau terlihat semakin cantik saja." Sapa Ana.


"Apa yang kau katakan, Ana. Kau itu lebih cantik dariku." Balas Rin dengan senyum ramahnya.


"Ah iya, ini anak-anakku. Feng, Rue— ayo perkenalkan diri kalian pada paman Ray dan bibi Ana, juga— anaknya."


"Halo, saya Rue Adelard, panggil saja, Rue."


"Feng Adelard, panggil saja Feng."


"Kalian mirip dengan orangtua kalian ya. Cantik dan juga tampan." Puji Ana.


"Anakmu itu juga terlihat sangat tampan. Kalau saja aku masih muda, mungkin— aku sudah terpesona padanya. Apa kau tidak berniat mengenalkannya pada kami?" Kata Rin yang disambut tawa oleh yang lainnya, kecuali Feng.


"Ah iya, Yuan— ayo perkenalkan dirimu pada mereka." Ucap Ana kepada anak tunggalnya itu.


"Baik mom."


Pria itu kemudian menatap ramah ke arah dua orang paruh baya didepannya itu. Tapi kemudian, tatapannya berubah menjadi tajam ketika dirinya beradu mata dengan Feng.


"Panggil saja saya Yuan." Ucap Yuan.


"Waaa— bahkan caranya memperkenalkan diri terlihat sangat keren ya sayang." Ujar Rin sembari meminta pendapat pada suaminya.


"Iya benar. Dia terlihat mirip denganmu, Ray."


"Cih, apa bagusnya laki-laki playboy sepertinya." Gumam Feng yang terdengar oleh ayahnya.


"Apa yang kau katakan Feng, jangan membuat ayah malu." Bisik ayahnya.


Feng kembali bungkam, ingin mencibir pun sekarang ia tidak bisa. Hanya tatapan kesal yang dapat ia lemparkan pada Yuan.


"Ah kalau begitu silahkan nikmati pestanya. Semoga kalian menyukainya. Aku harus pergi untuk menyapa para tamu undangan lainnya." Ujar ketua Barack.


"Oh tentu, silahkan." Ucap Ray yang kemudian dibalas anggukan dari ketua Barack.


Feng terlihat melemparkan tatapan permusuhan yang begitu kental ke-arah Yuan sebelum kemudian ia pergi mengikuti ayah dan ibunya yang sudah berlalu pergi lebih dulu.


"Kau terlihat sangat membenci anak dari ketua Ray. Apa kau ada masalah dengannya?" Tanya ketua Barack ketika Feng baru saja sampai di dekatnya.


"Tidak ada. Lagipula, itu bukan urusan ayah." Jawab Feng yang kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Anak itu! Semakin hari, semakin kurang ajar saja. Sesekali, aku harus memberinya pelajaran. Kalau tidak, dia bisa menjadi seorang pemberontak di masa depan." Ujar ketua Barack sembari menatap kepergian Feng.


"Ayah, ayah jangan terbawa emosi ya. Mungkin, kakak Feng sedang dalam suasana hati yang tidak baik." Kata Rue, gadis itu mencoba menenangkan hati sang ayah.


"Benar apa yang Rin katakan. Sejak tadi, anak itu terlihat kurang bersemangat. Lagipula, ini adalah pertama kalinya dia menghadiri pesta seperti ini. Mungkin dia sedang butuh waktu untuk beradaptasi." Ujar Rin, ibu dari Feng dan Rin.


"Hah— kalian ini terlalu memanjakannya. Dan kau Rin, dia itu kakakmu, tapi kau terlihat lebih dewasa dan bijaksana darinya." Ucap ketua Barack.


"Ayah jangan berlebihan. Aku ini hanya berbeda satu tahun dengan kakak Feng." Jawab Rue.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, Rue— bagaimana pendapatmu tentang anak ketua Ray?" Tanya Rin.


"Eh? Maksud ibu— pria bernama Yuan tadi?" Tanya Rue yang dibalas anggukan oleh ibunya.


"Dia— lumayan menarik. Ah tidak, lebih tepatnya, dia itu sangat-sangat menarik." Jawab Rue yang diiringi dengan senyum lebarnya.


"Kau tertarik padanya?" Tanya ketua Barack.


"Em— aku belum bisa menjawabnya sekarang ayah. Lagipula, aku baru saja bertemu dengannya."


"Yaa— masalahnya, aku dan ketua Ray pernah membahas tentang perjodohan kalian." Ujar ketua Barack.


"Perjodohan? Apa ayah serius tentang itu?"


"Tentu saja. Kalau kau setuju, ayah akan membahasnya lagi dengan ketua Ray." Kata sang ayah.


Rue terlihat menampilkan senyum lebarnya kembali. Lalu kemudian, sebuah anggukan kecil mengiringi senyuman itu.


"Boleh juga." Ucap Rue.


•••


Feng melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Pria itu benar-benar merasa gerah jika harus berada di dalam ruangan yang terasa sesak.


Aroma ruangan itu sangat mengusik indera penciuman Feng. Bagaimana tidak, berbagai macam parfum dengan aroma yang menyengat saling menyapa dan bertebaran memenuhi ruangan pesta perayaan ulang tahun ayahnya.


Karena itu, Feng merasa, ia lebih baik keluar dari ruangan dan memilih untuk pergi ke bagian atap gedung hotel berbintang lima itu.


"Apa kau juga merasa bosan dengan pesta itu?" Tanya seorang gadis yang sepertinya sudah lebih dulu berada di atap gedung hotel itu.


"Siapa kau?!" Tanya Feng dengan raut wajah yang tampak berhati-hati.


Suasana sore yang telah kehilangan matahari itu— membuat atap gedung hotel mengalami keminiman pencahayaan. Sulit bagi Feng untuk melihat dengan jelas siapa orang itu.


Walaupun suaranya terdengar seperti suara seorang wanita. Tapi, Feng juga harus tetap waspada. Itu yang Feng pikirkan.


"Siapa aku? Kurasa itu tidak penting. Aku hanya seorang gadis biasa." Jawab perempuan itu.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Bisakah kau diam saja dan tidak perlu banyak bertanya? Aku datang disini lebih dulu daripada kau. Kenapa kau yang terlihat terusik denganku? Menjengkelkan." Ucap perempuan itu.


"Aku Feng, ayahku pemilik gedung hotel ini. Kau siapa?" Tanya Feng.


"Feng? Feng Adelard?"


"Ya, aku Feng Adelard." Jawab Feng.


Perempuan itu terlihat berbalik ke arah Feng. Kemudian, ia berjalan perlahan mendekati pria itu. Lalu, sesampainya di hadapan Feng, perempuan itu tampak mengulurkan tangannya.


"Aku Daisy. Daisy Nasution, ayahku seorang wakil CEO tnp group." Sapa Daisy.


Feng tampak diam sejenak. Tapi kemudian, ia menyambut uluran tangan Daisy dengan ramah.


"Senang bisa mengenalmu, Daisy."


"Aku juga."

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2