
"Jadi, bisa jelaskan pada kami, sebenarnya hubungan kalian ini apa?" Tanya Nana.
Saat ini keempat orang itu tengah duduk di bangku yang tersedia di pekarangan kampus.
"Itu— "
"Ssstt... abaikan saja dia, kau tidak perlu menjawabnya, ayo minum dan tenangkan dirimu dulu." Ujar Yuan sembari menyodorkan sebotol air mineral ke arah Rose.
Nana mendesis ke arah sepupunya itu, merasa kesal dengan sikap Yuan yang membuat hatinya jengkel.
"Nana, sebaiknya kita pergi, tidak baik menggangu sepasang kekasih." Kata Kai.
"Siapa yang menggangu? Aku hanya ingin bertanya." Sanggah Nana.
"Kau bisa melihatnya sendiri kan? Tanpa aku ataupun Rose menjawab, kau juga sudah tahu jawabannya." Ujar Yuan ketus.
Nana semakin dibuat kesal oleh Yuan, gadis itu kemudian melangkah mendekati Yuan, lalu memukul kepala pria itu dengan sengaja.
"Aduh, sakit bodoh!" Protes Yuan.
"Sakit ya? Makanya kalau sama orang yang lebih tua itu sopan sedikit." Ucap Nana.
"Tua apanya?! Hanya beda beberapa bulan saja sudah membuatmu bangga. Dasar gadis tua kasar." Sindir Yuan yang tidak mau kalah dengan sepupunya itu.
"Oh! Berani ya?! Apa?! tadi kau bilang apa? Nenek apa?! Tua?! Siapa yang kau bilang tua hah?!"
"Aduh kenapa kalian jadi bertengkar? Nana, sudahlah, ayo kembali ke kelas kita." Ujar Kai, mencoba melerai pertengkaran dua adik beradik sepupu itu.
"Diamlah, kau tidak perlu ikut campur. Kau pergilah saja dulu ke kelas, aku akan menyusul nanti. Sekarang, biarkan aku memberi pelajaran pada bocah sialan ini." Kata Nana.
"Kau lebih baik ikut Kai kembali ke kelas, aku tidak ada waktu bermain-main denganmu." Ucap Yuan sembari mengibaskan tangannya, menyuruh Nana untuk pergi.
"Kau— "
"Nana, sudah sudah, ayo kita pergi, sebentar lagi kelas akan dimulai. Ayo kita kembali ke kelas, kau tidak ingin terlambat kan?"
"Tapi, dia— "
"Sudahlah, Yuan juga bukannya sengaja mengataimu seperti itu. Dia itu hanya bercanda, iya kan Yuan?"
Yuan menolehkan kepalanya, ia mengalihkan pandangannya dari Nana ataupun Kai, enggan menyetujui perkataan Kai, karena dirinya bukan tidak sengaja mengatai Nana, tapi memang sengaja.
"Yuan, jangan seperti itu, ayo minta maaf, katakan kalau kau hanya bercanda." Ucap Rose.
"Tidak." Balas Yuan masih terlihat angkuh dan keras kepala.
"Lihat lihat, kalian lihat kan?! Betapa sombongnya dia, membuat orang ingin menarik rambutnya itu! Sialan!" Umpat Nana yang kembali dibuat kesal oleh Yuan.
"Yuan, ayolah, minta maaf apa susahnya?" Rayu Rose.
"Aku tidak salah, dia duluan yang memulainya. Apa kau tidak melihatnya? Tadi dia memukul kepalaku, bagaimana kalau kepalaku mengalami cedera? Bahkan sekarang masih terasa sakit, coba kau elus kepalaku, siapa tahu sakitnya akan hilang setelah kau mengelusnya." Keluh Yuan dengan nada manjanya pada Rose.
"Menggelikan." Komentar Nana yang dibalas senyuman mengejek dari Yuan.
"Nana, lebih baik kita pergi saja ya." Bujuk Kai.
Nana menghela nafasnya, sejenak ia menoleh pada Kai yang tampak menatapnya.
"Baiklah."
"Gadis pintar." Ucap Kai.
"Ya, pergi sana, jauh-jauh." Sahut Yuan.
"Yuan." Rose mencubit pinggang Yuan karena pria itu masih saja ingin memancing rasa kesal Nana.
"Aw, sakit." Protes Yuan.
"Makanya jangan buat masalah lagi." Ujar Rose, memperingatkan.
"Yuan, kami pergi dulu. Kalian— aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian, semoga happily ever after." Ujar Kai yang kemudian menarik Nana pelan, menjauh dari Yuan dan Rose.
"Tentu saja." Gumam Yuan.
"Apa?" Tanya Rose, ia tidak dapat mendengar apa yang barusan Yuan katakan.
"Eh? Apa?" Tanya balik Yuan.
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Tidak ada." Jawab Yuan singkat, diiringi dengan senyum manisnya, sebuah senyuman yang sangat Rose rindukan.
"Oh begitu."
__ADS_1
"Hm."
"Yuan." Panggil Rose.
"Ya? Ada apa?" Tanya Yuan, ia menatap lekat wajah perempuan yang mampu mengobrak-abrik hatinya itu.
"Perempuan yang tadi memelukmu— dia itu siapa? Kau, tidak, maksudku, cara dia berbicara padamu dan juga memanggil nama ketua Ray, dia sepertinya begitu akrab dengan keluargamu."
Yuan menghela nafasnya, ia tahu Rose pasti akan menanyakannya, walaupun kekasihnya itu sudah percaya padanya, tapi tetap saja ia harus memberi penjelasan agar tidak ada kesalahpahaman lagi untuk kedepannya.
"Namanya Rue, Rue Adelard."
"Adelard? Aku seperti tidak asing mendengar nama belakang itu." Ucap Rose.
"Tentu saja kau tidak asing, Rue itu adiknya Feng, pria yang tanpa malu selalu mengejarmu." Ujar Yuan dengan raut masamnya.
"Itu— apa yang kau katakan itu benar? Dia adiknya Feng? Tunggu, kenapa aku semakin tidak mengerti? Bisa kau jelaskan sedikit lebih detail lagi?"
"Rue dan Feng itu anak dari ketua Barack, kau tahu perusahaan Jhoneq?"
"Iya aku tahu, itu perusahaan besar dari Inggris yang beberapa tahun lalu membuka cabang di negara kita. Eh, jadi Feng— dia, dia anak dari pemilik perusahaan besar itu?" Kata Rose dengan raut wajah keterkejutannya.
"Hm, iya, dia anak dari ketua Barack, pemilik perusahaan Jhoneq. Perusahaan yang hampir setara dengan Tnp group. Kalau saja perusahaan daddy-ku tidak punya banyak cabang di luar negeri dan juga tidak punya banyak anak perusahaan yang berguna, perusahaan kami pasti tidak ada apa-apanya dengan perusahaan mereka. Untungnya kami punya banyak cabang di luar negeri dan juga punya banyak anak perusahaan yang sukses." Ujar Yuan.
"Sebegitu hebatnya kah perusahaan Jhoneq? Tapi selama ini— Feng, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang anak dari keluarga konglomerat. Dia terlihat seperti seorang laki-laki yang berasal dari keluarga kaya biasa. Sungguh tidak menyangka kalau ternyata dirinya itu berasal dari keluarga luar biasa." Ucap Rose.
"Karena itu, jangan asal menilai orang dari luarnya saja."
"Eh, siapa yang menilai orang dari luarnya saja? Aku hanya tidak tahu kalau ternyata dia berasal dari keluarga kaya raya, tapi aku sangat paham sifatnya." Kata Rose yang membuat Yuan merasakan emosi dihatinya.
Yuan menggeram kesal ke arah Rose, ia menatap Rose dengan kontur wajah yang seakan berkata kalau Yuan sangat tidak suka dengan perkataan Rose barusan.
"Ada apa dengan raut wajahmu itu? Aku tidak sedang membelanya ataupun memujinya kok." Ujar Rose.
"Bukankah aku sudah pernah berkata padamu, jangan berbicara tentang pria lain di hadapanku."
"Astaga. Hei, tuan muda Yuan, apa kau lupa? Siapa yang lebih dulu membahasnya? Itu kau, bukan aku, aku hanya mengikuti alur pembahasan." Sanggah Rose, membela dirinya.
"Bagaimanapun juga, aku tidak suka mendengarmu berkata seperti tadi. Apalagi kau berkata kalau kau sangat mengenal sifatnya. Kedepannya tidak boleh, kau tidak boleh lebih mengenal pria lain selain aku. Hanya aku. Kau paham?"
Rose tersenyum tipis sembari mengangguk paham, hatinya kembali terasa ada bunga yang bermekaran di dalam sana. Yuan, betapa menggemaskannya dia ketika cemburu.
•••
"Kak Ana." Panggil seorang pria yang terlihat berusia empat puluhan tahun itu.
Mata wanita paruh baya itu membulat ketika ia melihat siapa yang telah masuk ke ruangannya dan memanggil namanya dengan sangat akrab.
Ternyata itu adalah seorang pria yang sangat ia rindukan.
Dua hari yang lalu, ketika dirinya datang berkunjung ke rumah ayahnya, Ana tidak berjumpa dengan pria itu. Karena pria itu masih hilang dan belum di temukan.
Setelah berhari-hari kemudian, Ana juga belum mendapatkan kabar, Ray juga sudah turun tangan untuk membantunya mencari pria itu.
Pria itu adalah Kenan, adik kandung Ana, adik yang sangat Ana sayangi.
"Kenan!" Pekik Ana yang kemudian berlari, ia langsung menghambur ke dalam pelukan adiknya itu.
"Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Semua orang sangat khawatir padamu." Ucap Ana di dalam pelukan hangat sang adik.
"Kakak, jangan memelukku seperti ini, tidak enak rasanya dilihat oleh Ken dan kakak ipar Ray." Ujar Kenan.
"Eh? Ken? Ray?" Tanya Ana sembari melepaskan pelukannya dari adiknya itu. Kemudian ia melihat dua orang pria berbeda usia sedang berdiri di belakang tubuh Kenan.
"Bibi tidak berniat untuk memelukku juga kan?" Ucap Ken ketika Ana terlihat mendekat ke arahnya.
Ana tersenyum lebar, kemudian menarik pipi pria muda itu.
"Baiklah, tidak akan memelukmu." Ujar Ana.
"Kalau begitu peluk aku saja." Sahut Ray yang berdiri di samping Ken, anak laki-laki Kenan.
Ana menatap suaminya itu dengan raut wajah yang tersenyum manis, seolah tatapannya itu mengatakan 'baiklah'.
"Tidak." Ucap Ana yang kemudian berbalik ke arah Kenan.
"Ayo kalian berdua, sini sini, duduk dulu." Ujar Ana sembari berjalan menuju sofa.
"Hanya mereka berdua? Aku bagaimana?" Protes Ray, kesal.
Ana tersenyum lebar, ia paling suka melihat Ray kesal ataupun cemburu, karena menurut Ana itu sangat menggemaskan.
"Kau juga tuan besar Ray. Ayo silahkan duduk." Ucap Ana yang telah menghampiri suaminya itu dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Ray tersenyum senang, ia menurut dan duduk di tempat yang istrinya itu arahkan.
"Kalian sudah makan?" Tanya Ana.
"Belum." Jawab Ken.
"Aku lapar~ " Jawab Ray dan Kenan, hampir bersamaan.
Ray menatap Kenan datar, sedangkan Kenan juga balas menatapnya lebih datar.
Mencoba mencari perhatian kakakmu heh?! — Batin Ray.
Ingin merebut perhatian kakakku ya?! Tidak akan kubiarkan. — Batin Kenan.
"Aduh, kalian berdua ini dari dulu memang tidak berubah ya. Selalu saja kompak, kalian memang sangat cocok satu sama lain, benar-benar seperti kakak beradik bersaudara loh." Ujar Ana.
"Siapa yang kakak beradik dengannya?!" Ucap Ray dan Kenan, kali ini bersamaan.
Ana tertawa kecil, ia tahu akan berakhir seperti ini, perdebatan kecil mereka memang selalu akan terjadi ketika keduanya sama-sama ingin dimanja oleh Ana.
Tapi hal-hal seperti ini lah yang justru akan Ana rindukan dikemudian hari.
"Apa kalian ini bayi? Kenapa bertengkar hanya karena hal sepele? Memalukan." Celetuk Ken dengan diri yang disibukkan oleh game ponsel.
Ray maupun Kenan yang mendengar sindiran tajam dari seorang bocah ingusan seperti Ken itu, membuat mereka semakin merasa geram.
"Apa?" Tanya Ken sembari mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedang menampilkan permainan RGP. Ken membalas tatapan paman dan ayahnya itu secara bergantian.
"Hei sudah sudah, Ken hanya asal bicara, jangan di anggap serius. Kalian tidak mungkin kan marah hanya karena ucapan dari Ken? Kecuali kalau yang Ken katakan itu benar." Ucap Ana.
Ray mengalihkan pandangannya dari Ken, kemudian menghela nafas beratnya.
"Anak dan ayah memang sama, sama-sama menjengkelkan." Ujar Ray.
"Apa katamu?!" Ucap Kenan.
"Oke berhenti. Hentikan pertengkaran kalian. Kalau tidak, aku tendang kalian semua keluar dari ruangan ini." Ujar Ana yang terlihat mulai kesal dengan tingkah kedua orang pria paruh baya itu.
"Lihat, gara-gara kalian, bibi Ana jadi marah kan." Ucap Ken.
"Kau juga termasuk Ken." Ujar Ana.
"Eh? Kenapa aku juga? Kan aku— "
"Berbicara tidak sopan seperti tadi, sangat tidak baik. Kau harus lebih hormat pada orangtua. Bagaimanapun juga, mereka berdua itu lebih tua darimu. Lain kali jangan seperti itu lagi okey?" Kata Ana dengan nada suara yang berubah menjadi lembut, layaknya seorang ibu yang sedang menasihati anaknya.
"Baik, aku mengerti." Ucap Ken.
"Bagus, dan kalian berdua?" Tanya Ana yang kini beralih pada Ray juga Kenan.
"Apa?" Tanya Ray.
"Masih belum paham juga?" Ujar Ana.
"Iya, kami paham."
•••
"Rue? Ada apa denganmu?" Tanya Feng ketika ia melihat adiknya berjalan ke arahnya dengan wajah yang telah sembab karena menangis.
Feng yang baru saja datang ke kampus dan ingin masuk ke dalam gedung fakultasnya dibuat terkejut dengan keadaan adiknya itu.
"Kakak~ "
Rue langsung memeluk kakaknya itu dengan isakan tanpa suara.
"Ada apa? Ceritakan pada kakak?" Tanya Feng yang biasanya tidak peduli dengan Rue, kini melihat adiknya sedih, hatinya sebagai seorang kakak tentu saja merasa khawatir.
"Kak Yuan." Ucap Rue lirih.
"Yuan?! Apa dia yang membuatmu seperti ini?!" Tanya Feng, mulai terbakar amarah.
"Tidak, jangan marah padanya, ini salahku. Aku yang terlalu ceroboh sudah memeluknya di depan umum, lalu meneriakinya kalau aku ini tunangannya dan juga calon istrinya di masa depan." Ujar Rue.
Feng menatap adiknya itu sedih, ia mengusap lembut rambut adiknya, memberikan ketenangan pada Rue.
"Sebegitu cintanya kah kau padanya?" Tanya Feng yang di jawab dengan anggukan oleh adiknya.
"Sudah, jangan menangis lagi." Ucap Feng.
"Jangan ceritakan masalah ini pada ayah ataupun ibu. Berjanjilah." Pinta Rue.
"Iya, kakak tahu." Balas Feng.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍