The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Percakapan Biasa


__ADS_3

"Bukan seperti itu tuan.muda.Yuan, saya hanya— "


"Sudah sudah. Rose, kau tidak perlu menjawabnya lagi. Aku paham maksudmu, lagipula kau sudah susah payah menolaknya dengan bersikap sopan dan tidak ingin menyinggung hatiku, sungguh perempuan yang sangat paham tata krama dan sopan santun. Maaf paman sudah menyusahkan mu, tapi paman juga tidak mengira kalau ternyata kau ini lebih tua dari Ken, karena dari wajahmu itu, kau terlihat masih sangat muda. Jadi paman pikir kau ini baru berusia belasan tahun." Kata Kenan.


"Sejak kapan dia suka memuji orang terus-menerus? Benar-benar menjengkelkan." Gumam Yuan yang dapat di dengar oleh Ana.


"Ada apa denganmu? Kau tahu tidak? Kau itu terlihat seperti seorang pria yang sedang cemburu pada kekasihnya." Bisik Ana.


Mendengar ibunya membisikkan pertanyaan seperti itu, Yuan langsung mengalihkan pandangannya dari sang ibu, sembari menjawabnya dengan singkat.


"Tidak, aku tidak cemburu." Ucap Yuan pelan.


Ana tertawa kecil dengan tingkah putranya itu.


"Oh iya Rose, ini, paman kembalikan uang yang pernah kau berikan pada paman." Ujar Kenan sembari beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Rose, lalu menyerahkan beberapa lembar uang ke arah Rose.


"Eh tidak tuan Kenan, tidak perlu dikembalikan, saya dari awal memang sudah berniat memberikannya kepada tuan Kenan, sama sekali tidak mengharapkan tuan Kenan untuk mengembalikannya kepada saya." Ujar Rose, berusaha menolaknya dengan sopan.


"Tapi aku tidak ingin berhutang padamu, lagipula aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kelak kalau aku bertemu denganmu lagi, aku akan mengembalikan uangmu. Jadi paman mohon padamu, terima saja ya." Kata Kenan.


"Maaf tuan Kenan, saya sungguh tidak bisa menerimanya, karena waktu itu saya dari hati memang berniat memberikannya untuk tuan Kenan, tidak tahu kalau tuan Kenan ternyata adalah seorang yang luar biasa. Lagipula, apa yang sudah saya berikan pada orang lain, saya mana bisa mengambilnya kembali, walaupun tuan Kenan memaksa saya untuk menerimanya, saya minta maaf, karena saya harus menolaknya." Ujar Rose.


Kenan menghembuskan nafasnya, beberapa detik menatap Rose yang tampak menundukkan kepalanya, membuat adik dari Ana itu merasa kalau Rose seperti sedang tertekan dengan situasi ini.


Akhirnya Kenan pun mengalah, ia kembali memasukkan lembaran uang itu kedalam dompetnya, lalu menyimpan kembali dompetnya di balik jas kerjanya.


"Kalau begitu, ini, aku berikan padamu. Kau bisa bekerja di perusahaanku. Ya, walaupun tidak sebesar perusahaan Tnp group, tapi perusahaan Mauli cukup menjanjikan, itu perusahaan yang aku bangun sendiri setelah mengembangkan departemen store milik ayahku." Ujar Kenan sembari menyodorkan sebuah kartu nama ke arah Rose.


"Eh itu— saya ini masih kuliah dan lagi, saya bukan dari jurusan bisnis ataupun sejenisnya, basic saya dari jurusan hukum. Maaf tuan Kenan." Kata Rose, ia merutuki dirinya karena harus selalu berada di pihak yang menolak.


"Kau dari jurusan hukum?" Tanya Kenan.


"Dia itu satu universitas dengan Yuan, yang artinya kemampuannya dalam bidang hukum juga pasti luar biasa." Sahut Ana.


"Aaa— pantas saja dari awal kau terlihat menampilkan aura yang sulit di prediksi, ternyata kau punya skill di bidang itu, sungguh luar biasa mengejutkan." Kata Kenan.


"Paman tidak bosan ya terus-menerus memujinya? Paman sedang mencoba untuk merayu-nya ya?" Tanya Yuan yang masih jengkel dengan pamannya itu, apalagi sekarang Kenan berdiri di hadapan Rose, sungguh terlihat seperti seorang pria paruh baya yang tengah merayu seorang gadis muda.


"Siapa yang merayunya, kau ini berlebihan Yuan. Ah iya Rose, sayang sekali ya, perusahaanku tidak terlalu besar, jadi ya belum memiliki bagian-bagian khusus seperti bagian hukum. Tapi aku punya seorang teman di Amerika, dia pemilik firma hukum ternama, bagus untukmu bekerja disana. Aku bisa merekomendasikan-mu padanya, kalau kau mau." Kata Kenan.


"Aku— "


"Ck, paman ini sedang bermain taktik penculikan ya? Paman berpura-pura mempunyai teman di bagian firma hukum, lalu setelah berhasil meyakinkan dia dan membawanya ke Amerika, sampai disana paman akan menikahinya dan menjadikannya istri kedua kan? Paman tega dengan Ken dan bibi Hannah?" Ujar Yuan.


"Kakak sepupu, ayahku tidak mungkin akan melakukan apa yang tadi kakak sepupu katakan. Bukan maksudku ingin membela ayahku, tapi apa yang ayah katakan tentang seorang teman yang memiliki firma hukum terkenal itu memang benar adanya. Aku sendiri juga mengenalnya dengan baik. Jadi karena ayahku tidak berbohong dari awal, maka aku percaya padanya, lagipula kalau sampai dia melakukannya, aku akan menyusulnya ke Amerika lalu membawanya kemari dan merantainya dengan baik, agar dia tidak kabur dari sisi ibuku." Kata Ken.


"Sudah cukup, kenapa kalian berdua malah berdebat? Yuan, kau sejak tadi selalu berpikir negatif pada pamanmu, dia itu hanya berniat baik pada Rose. Kau— "


"Yuan, kau itu seperti seorang pria yang sedang khawatir padanya." Ucap Ray yang tiba-tiba menyela perkataan istrinya.


Raut wajah Ray kali ini terlihat biasa saja, tapi tatapannya itu menatap Yuan penuh tanda tanya, ia bahkan juga menatap Rose sesaat, membuat hati Yuan merasa gelisah.


"Dad, apa yang kau katakan? Aku, untuk apa khawatir padanya, lagipula dia itu bukan siapa-siapaku." Ucap Yuan sembari mengarahkan pandangan matanya ke bawah.


Maaf Rose, maaf, sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud membuangmu atau menyembunyikan hubungan kita. Hanya saja, daddyku ini orang yang berbeda, tidak sama seperti mom. Maaf mengecewakanmu Rose. — Batin Yuan.


Rose menghela nafasnya, sejujurnya hatinya sakit, rasanya seperti ada sesuatu yang menyayat hatinya. Tapi, ia berusaha menepis sayatan itu, lalu mencoba memahami situasi yang terjadi, mencoba mengerti maksud perkataan kekasihnya itu.


Dia sedang melindungiku, dia tidak ingin hubungan ini diketahui ketua Ray karena takut aku terluka. Aku akan memahamimu Yuan. Tidak masalah, walaupun hatiku sedikit terasa sakit mendengar perkataanmu itu.


"Sayang, jangan bertanya seperti itu pada Yuan, kau bahkan berani menyela perkataanku. Sungguh tidak tahu konsekuensinya ya?" Kata Ana.


Terkadang, perasaan seorang ibu terhadap anaknya lebih terikat, karena itu, Ana seolah tahu apa yang sedang mengusik hati Yuan.


"Kenapa kau marah padaku?" Tanya Ray pada istrinya itu.


"Lupakan itu sekarang, kita bisa membahasnya nanti di rumah." Kata Ana dengan tatapan tajam yang terarah pada Ray.

__ADS_1


"Maaf, kalau tidak ada yang ingin dibahas lagi, saya ijin pergi dari ruangan." Ujar Rose.


"Iya iya, kau bisa pergi Rose, maaf ya sudah membuatmu masuk ke dalam situasi seperti ini." Ucap Ana.


"Tidak masalah bos. Kalau begitu, saya dan yang lainnya permisi undur diri." Kata Rose yang kemudian mundur perlahan, lalu berbalik menuju manajer Dita dan William yang sejak tadi hanya menjadi penonton setia.


"Rose, tunggu, ini, paman— "


"Kenan, sudahlah." Ucap Ana.


"Bukan, aku hanya ingin memberikan kartu namaku." Jawab Kenan.


"Kau seperti itu, malah membuatnya seperti seorang gadis yang buruk, biarkan dia pergi, jangan membuatnya semakin tidak nyaman." Ujar Ana menasihati.


"Baiklah, Rose maaf, kau bisa pergi. Tapi jika di kemudian hari dirimu butuh bantuan, cari saja paman ya. Paman dan keluarga kecil paman akan membantumu." Kata Kenan, yang dimaksud keluarga kecil olehnya adalah dirinya, Ken dan juga istrinya.


"Iya, terimakasih atas tawaran tuan Kenan." Ucap Rose.


"Kalau begitu kami permisi." Ujar manajer Dita yang langsung mendorong pelan tubuh Rose dan William untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


•••


Nana baru saja keluar dari kelas mata kuliah terakhirnya.


Gadis itu berdiri di depan pintu ruang kelas, menunggu seseorang.


"Nana, sedang menunggu ibu ya?" Tanya Rachel, dosen yang mengajar di kelas mata kuliah terakhir Nana.


"Ibu, eng, maksudku dosen Rachel, tidak tidak, aku sedang menunggu Kai dan teman-teman Yuan lainnya. Hari ini aku pulang bersama mereka." Ujar Nana.


"Oh, kalau begitu hati-hati. Bagaimanapun juga, kau itu adalah seorang perempuan diantara mereka. Jaga dirimu baik-baik." Nasihat Rachel.


"Iya ibu, aku mengerti." Jawab Nana.


"Ya sudah, ibu pulang lebih dulu bersama Daisy. Kau kalau mau pergi bersama mereka jangan pulang terlalu malam, batas sampai pukul delapan ya." Kata Rachel.


Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum melihat Nana yang tampak sangat akrab dengan ketiga pria itu. Bisa melihat Nana tertawa bersama mereka saja, Rachel sudah merasa bahagia.


"Eh Nana, kau tidak pulang bersama dosen Rachel?" Tanya Julian yang tidak sengaja melihat ibu Nana sudah berjalan pergi menjauh.


"Tidak, aku sudah bilang padanya kalau aku akan pulang bersama kalian. Jadi kalian harus menjagaku baik-baik ya, kalau sampai terjadi sesuatu padaku, hati-hati saja nilai mata kuliah kalian akan hancur, atau lebih menakutkan lagi, kalian akan dipersulit untuk lulus kuliah. Kalian harus ingat, ibuku itu ketua prodi fakultas ini." Ujar Nana.


"Ck, dasar nepotisme." Sindir Kin.


"Dia hanya bercanda." Ucap Kai, membela Nana.


"Kai memang yang terbaik." Ujar Nana sembari memberikan dua jempolnya ke arah Kai.


"Jangan berlebihan, ayo cepat, kita mau pergi kemana?" Ujar Kai.


"Oh ya, apa Yuan sudah pulang?" Tanya Julian.


"Eng, itu, sepertinya sudah." Jawab Nana, ia tahu Yuan pasti sudah pulang lebih dulu, atau mungkin masih bermesraan bersama Rose.


"Begitu ya, sayang sekali, padahal kita sudah lama tidak pergi keluar bersama." Ucap Kin.


"Dia itu pasti sedang direpotkan oleh gadis dari keluarga kaya raya itu. Apa aku benar Nana?" Tanya Julian.


"Kalau yang kau maksud itu adalah Rue Adelard, mungkin itu benar." Jawab Nana.


Tapi sebenarnya, pasti saat ini dia itu mungkin sedang sibuk bermanja ria dengan Rose. — Batin Nana.


•••


Yuan yang sedang memakan makanannya tiba-tiba bersin. Ia merasa hidungnya terasa gatal.


"Ada apa Yuan? Apa kau sedang tidak enak badan?"

__ADS_1


"Tidak mom, Yuan baik-baik saja." Ucap Yuan.


Siapa yang telah berani membicarakan aku dari belakang? Apakah Rose?


•••


"Ck, Yuan, dia itu kasihan sekali." Ucap Julian.


"Ah iya, bgaimana kalau kita pergi ke tempat arcade?" Sambungnya lagi, Julian memberi saran.


"Kau pikir kita ini anak sekolah dasar? Tidak, aku tidak mau, lebih baik kita pergi ke tempat lain, seperti bar atau club yang banyak wanitanya." Sahut Kin.


"Dasar playboy, apa kepalamu itu hanya terisi penuh dengan wanita?!" Protes Nana yang sangat tidak suka dengan sifat Kin satu itu.


"Kau tahu aku kan Nana. Aku ini butuh asupan dari para wanita." Jawab Kin dengan tampang polosnya.


"Dasar, tidak tahu malu." Umpat Nana.


"Daripada memikirkan kemana kita akan hangout, bagaimana kalau kita memikirkan tempat untuk magang?" Saran dari Kai.


"Ah benar. Aku baru ingat dengan hal itu. Tapi, bagaimanapun juga, aku sudah memiliki pengalaman magang, hanya saja di bidang yang berbeda." Ujar Nana.


"Jadi, kemana kita akan magang?" Tanya Julian.


"Untuk jurusan seni seperti kita cukup mudah mencari tempat magang, tapi bukan  berarti kita harus meremehkannya. Setiap bidang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Tapi karena kita ini berjumlah genap, maka akan lebih baik, kita mencari dua tempat tujuan magang, jadi nanti kita bagi dua orang untuk tempat A dan dua orang di tempat B. Bagaimana?"


"Setuju." Ucap Kai yang diiringi oleh anggukan dari Kin dan juga Julian.


"Tapi, perusahaan hiburan mana yang akan menerima kita?" Tanya Julian.


"Jurusan seni tidak harus di perusahaan hiburan. Contohnya, kau Kin, perusahaan ayahmu kan bergerak di bidang properti, kau bisa bekerja di bagian desain interiornya, ajak Julian bersamamu." Kata Nana.


"Lalu bagaimana denganmu dan Kai?" Tanya Kin.


"Kami bisa mendiskusikannya sendiri nanti. Tidak perlu khawatir, ayahku dan juga papaku itu pejabat eksekutif perusahaan besar." Ujar Nana.


"Ck, dasar sombong." Ucap Kin yang di balas tawa kecil oleh Nana.


"Ya, terserah padamu saja wahai kaum orang iri." Balas Nana, bercanda.


•••


"Feng, ayah dengar, kau sudah harus magang, apa itu benar?" Tanya sang ayah setelah menelan makanannya.


"Hm." Jawab Feng singkat.


"Kalau begitu kau tidak perlu susah payah mencari tempat untuk kau magang, serahkan saja pada ayah. Ayah akan memasukkanmu ke departemen hukum perusahaan kita." Ujar ketua Barack.


"Maaf ayah, aku bukan tipe orang yang suka berpangku tangan lalu menunggu orang lain mengerjakan sesuatu untukku. Aku bisa mengurus urusanku sendiri, ayah tidak perlu ikut campur." Kata Feng.


"Kau ini, apa salahnya memanfaatkan sesuatu yang sudah ada? Kau hanya tinggal masuk dan magang disana. Kenapa harus mempersulit dirimu sendiri. Kau itu anak dari ketua perusahaan Jhoneq, apa yang kau mau, ayahmu ini bisa memberikannya padamu." Ujar ketua Barack.


"Nyawa ayah." Ucap Feng.


"Apa maksudmu?" Tanya ketua Barack yang tidak mengerti dengan ucapan Feng tersebut.


"Ayah bilang apapun yang aku mau, maka ayah akan memberikannya padaku. Lalu bagaimana kalau aku meminta nyawa ayah? Apa ayah akan memberikannya juga padaku?" Tanya Feng, kesal.


"Itu— "


"Maka dari itu, biarkan aku berdiri sendiri. Aku tidak ingin di kenal sebagai orang sukses karena ada dorongan dari orang belakang. Jadi ayah, berhenti mencampuri urusanku, kecuali aku memintanya." Ujar Feng.


"Dan lagi, aku sudah mendapatkan tempat magang." Tambah Feng.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2