
Kini keduanya saling bertatapan, melemparkan pandangan satu sama lain.
Lalu, kedipan mata Nana mengawali gerakan Kai yang tiba-tiba maju kedepan.
“Ka—kai, ap— ”
“Apa yang sedang coba kalian lakukan hah?!” tanya seorang pria paruh baya dengan suara berat, menahan emosinya.
Mendengar suara yang sangat familier di telinganya, Nana pun langsung menoleh. Kemudian, matanya itu terlihat membulat sempurna ketika melihat siapa yang telah berdiri di hadapannya dan Kai. Itu adalah ayah kandungnya, Alex.
Papa?!
“Eh, paman Alex, ha—halo, selamat sore.” ucap Kai dengan nada gugupnya.
Pria itu kini seperti seekor siput yang perlahan-lahan bersembunyi ke dalam cangkangnya. Nyalinya menciut seketika.
“Papa, itu, kenapa papa ada disini? Dan juga— Bagaimana papa tahu kalau aku ada disini?” tanya Nana.
Alex menghela nafasnya, pria itu melangkah gusar mendekati anak perempuannya.
Seperti inikah rasanya menjadi seorang ayah dari seorang gadis muda? Aku sangat khawatir melihatnya berdekatan dengan pria, bukan karena apa, tapi entah kenapa rasanya sangat khawatir sekali. — batin Alex.
“Papa.” panggil Nana lirih ketika sang ayah telah berdiri dihadapannya, gadis itu lantas berdiri dari posisi duduknya. Begitupun juga Kai yang ikut berdiri bersama Nana.
Kini keduanya saling menatap, kemudian beralih ke arah Alex yang memandang mereka tanpa ekspresi apapun, sulit bagi Nana untuk mendeskripsikan pikiran ayahnya saat ini.
“Ayo, siapa diantara kalian yang akan menjelaskannya padaku?” tanya Alex dengan tangan yang telah bersedekap di depan dada, menatap keduanya tanpa berniat mengalihkan pandangan sedikitpun.
“Aku akan menjelaskannya.” bisik Kai pada Nana yang ada di sampingnya.
Nana menoleh ke arah Kai, kemudian membalas bisikan pria itu dengan bisikan kecil juga. “Tidak, biar aku saja.”
“Aku saja. Lagipula, aku yang ingin melakukan itu padamu.” kata Kai, masih dengan suara bisikan.
“Apa yang kau katakan? Kalau kau mengakuinya, papaku itu, nanti bisa salah paham padamu. Jadi, biarkan aku saja yang menjelaskan semua kesalah-pahaman ini padanya. Kau tenang saja, papaku tidak akan marah padaku. Percayalah.” bisik Nana.
Alex menatap kedua pria dan wanita di hadapannya itu secara bergantian. Sejujurnya, ia sendiri tidak terlalu dapat mendengar jelas bisikan mereka. Karena itu, Alex merasa geram karena seakan-akan dirinya itu seperti sebuah pohon yang dianggap tidak pernah ada.
“Ehem, apa yang sedang coba kalian lakukan?! Saling berbisik satu sama lain dihadapanku. Kalian, apa yang sedang kalian rencanakan hah?” tanya Alex dengan deheman kerasnya.
Mendengar deheman dari pria paruh baya itu. Keduanya tampak berjengkit kaget, sungguh terkejut dengan suara deheman keras Alex yang tiba-tiba terdengar di telinga mereka.
“Pa, Nana akan menjelaskannya. Jadi sebenarnya, apa yang papa lihat tadi itu— itu sebenarnya hanya kesalahpahaman saja.” ujar Nana.
“Memangnya, apa yang papa lihat?” tanya Alex, membuat Nana menggaruk tengkuknya, ia bingung harus berkata apalagi. Nana tahu, ayahnya sedang menyelipkan jebakan di dalam pertanyaan itu, atau pertanyaan itu sengaja Alex lontarkan padanya agar ia skakmat dan tidak dapat lagi berkata-kata.
“Paman Alex. Sebenarnya ini salah saya, saya yang memulainya lebih dulu, saya yang bergerak mendekatinya, jadi tolong jangan salahkan Nana.” kata Kai yang tiba-tiba bertekuk lutut dihadapan Alex.
Nana bahkan tampak membulatkan matanya, berpikir kalau Kai telah melakukan tindakan bodoh.
“Kenapa kau berlutut? Memangnya kau salah apa?” tanya Alex yang kembali menanyakan pertanyaan yang penuh dengan belokan tajam.
“Papa, dia hanya terlalu takut padamu, makanya sampai berlutut seperti itu.” ujar Nana, mencoba membantu Kai yang tampak kebingungan harus menjawab apa.
“Papa sedang bertanya padanya. Jadi Nana, kau diamlah dulu.” ucap Alex tanpa menoleh pada Nana, kini matanya seratus persen fokus pada Kai yang masih berlutut.
“Apa semudah itu kau menekuk lututmu hanya untuk seorang gadis?” Alex bertanya kembali, namun kali ini pertanyaannya membuat Kai berani mendongakkan kepalanya.
“Ya?” tanya Kai dengan suara lirihnya.
“Sebegitu cintanya kah kau pada putriku ini? Sampai-sampai kau demi dia berlutut dihadapanku?” tanya Alex, lagi.
__ADS_1
“Ah itu, itu, aku— ”
“Papa, papa sungguh terlalu banyak berpikir, papa benar-benar salah paham dengan kami berdua. Aku dan dia bukan sepasang ke— ”
“Iya.” ucap Kai menyela perkataan Nana yang belum selesai diucapkan.
“Ii—iya? Iya apa Kai? Kau jangan bicara sembarangan.” kata Nana.
“Paman, tentang pertanyaanmu tadi, jawabanku adalah iya. Aku, aku, itu, cintaku kepadanya— ”
“Sudah cukup.” ucap Alex.
“Papa?”
“Kalian berdua ikut aku, cepat.” ujar Alex yang kemudian berbalik membelakangi mereka.
“Eh? Kita akan pergi kemana?” tanya Nana.
“Cepat ikuti saja, jangan banyak bertanya.” kata Alex.
Dengan kekhawatiran yang merajalela, kedua pria dan wanita itu pun akhirnya mau tidak mau harus mengikuti Alex yang sudah lebih dulu berjalan di depan mereka.
•••
“Kau yakin tidak ingin masuk lebih dulu?” tanya Rose ketika dirinya telah masuk ke dalam apartemennya.
Yuan menggelengkan kepalanya, lagi. Ya, sebelum ini, Rose sudah beberapakali terdengar mengucapkan pertanyaan itu, dan Yuan selalu menolaknya dengan gelengan kepala.
“Apa kau sangat ingin aku masuk ke dalam? Ck, kau ini sedang mencoba merayuku ya? Rose, sejak kapan kau jadi perempuan perayu. Ingat, aku ini laki-laki normal, kalau kau terus memberiku pertanyaan seperti itu, aku bisa salah paham padamu dan aku benar-benar akan masuk ke dalam lalu— ”
“Ya sudah kalau tidak mau masuk, pergi sana. Sampai jumpa!” ucap Rose, memotong pembicaraan Yuan, kemudian menutup pintu kamar apartemennya dengan cukup keras, membuat Yuan sampai menutup matanya sekilas.
“Dasar wanita. Kalau sudah marah, sangat menakutkan.” gumam Yuan dengan tatapan mata yang terus memandangi pintu kamar apartemen itu.
Yuan pun menoleh, melihat siapa yang telah mengajaknya berbicara.
“Tidak, terimakasih.” jawab Yuan pada wanita paruh baya yang merupakan tetangga Rose.
“Sungguh? Ah ya sudah, sayang sekali.” ucapnya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar apartemennya.
“Eh! Tunggu dulu bibi Meng, tunggu, tunggu.” ujar Yuan dengan tangan yang menahan pintu kamar apartemen wanita paruh baya itu agar tidak tertutup.
“Ada apa? Kau tidak bisa masuk ke dalam apartemen pacarmu itu, sekarang kau mau masuk ke dalam apartemenku?” tanya Bibi Meng.
Yuan berdecih, menatap wanita paruh baya itu dari atas sampai ke bawah.
Cih, apa dia pikir, dia ini masih muda?! Beraninya berkata seperti itu padaku. Tapi, di dalam ada suaminya atau tidak ya? Kalau sampai suaminya mendengar perkataannya, lalu salah paham padaku, bukankah itu cukup berbahaya untukku. — batin Yuan.
“Hei anak muda. Apa yang sedang kau pikirkan dengan pandangan seperti itu padaku? Kau ini, pikiranmu itu sedang kotor ya?! Cih, dasar anak muda jaman sekarang.” kata bibi Meng yang sudah salah paham dengan cara Yuan menatap orang.
“Ko—kotor?! Siapa yang bibi katakan punya pikiran kotor?! Aku mana mungkin berpikiran kotor hanya karena memandang bibi. Ck, menggelikan sekali.” ujar Yuan sembari melemparkan tatapan yang geli ke arah wanita paruh baya itu. Lalu kemudian, ia berjalan mundur menjauh dari depan pintu apartemen bibi Meng.
Setelah itu, ia berbalik dan perlahan pergi menjauh dengan hembusan nafas beratnya.
“Hei! Kau ingin pergi begitu saja? Bagaimana dengan kunci cadangan apartemen pacarmu? Apa kau sudah tidak menginginkannya lagi?” tanya bibi Meng dengan suara berteriak agar Yuan yang telah berjalan cukup jauh darinya dapat mendengar perkataannya.
Persetan dengan kunci cadangan apartemen Rose, aku sudah tidak menginginkannya lagi. Lebih baik seperti ini daripada harus berhadapan dengan wanita tua gila itu. Menjijikan. — batin Yuan.
Pria itu semakin melangkahkan kakinya lebar-lebar, berharap ia segera keluar dari gedung apartemen yang hampir mirip seperti rumah susun itu.
•••
__ADS_1
“Sayang.” panggil Ana. Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir.
“Hm, apa?” tanya Ray, sekilas menoleh ke arah istrinya, tapi kemudian kembali fokus pada jalan raya yang di lintasi mobilnya.
“Kau— ah tidak tidak, tidak jadi.” ucap Ana.
“Ada apa? Katakan saja.” ujar Ray.
Ana menghela nafasnya, sebenarnya ia ingin menyinggung masalah masa depan Yuan tentang hubungan asmara putranya itu. Tapi, Ana takut kalau itu mungkin akan membuatnya salah berkata.
“Tidak, bukan hal yang penting juga.” jawab Ana.
“Tidak perlu memendamnya, katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku. Lagipula, kita ini sudah bersama selama puluhan tahun lebih, tapi kau masih saja ragu untuk bersikap terbuka padaku. Ayo katakan saja. Kalau perkataanmu itu nantinya akan membuatku marah, maka aku tidak akan marah, percayalah. Aku juga, mana mungkin bisa marah padamu.” ujar Ray.
“Tidak, sungguh tidak ada, aku hanya— Hah, iya, baiklah. Sebenarnya— aku hanya ingin bertanya pendapatmu tentang masa depan Yuan.” kata Ana.
“Masa depan Yuan? Kenapa kau tiba-tiba membahasnya? Dan juga sampai bertanya bagaimana pendapatku.” tanya Ray.
Ana mengalihkan pandangannya dari sang suami. Kini ia menatap jalanan yang tampak sepi di jam-jam seperti ini.
“Hanya ingin bertanya saja, apa tidak boleh?” ucap Ana.
“Bukan seperti itu, aku hanya merasa heran saja padamu. Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang masa depan Yuan.” jawab Ray.
“Kalau kau tidak ingin memberikan pendapatmu, ya sudah, lupakan saja.” ucap Ana.
Ray mengalihkan fokusnya, kini ia menatap istrinya itu, walaupun hanya dalam hitungan detik.
“Baik, aku akan mengatakan pendapatku. Jadi masa depan yang seperti apa yang ingin kau bahas?”
“Tidak perlu, aku bilang lupakan saja.” ujar Ana.
“Sayang~”
“Lupakan, lupakan saja. Aku sudah tidak bernafsu untuk membahasnya lagi.” kata Ana.
“Baik, baiklah, aku minta maaf. Aku salah karena tidak menanggapi pertanyaanmu dengan cepat dan malah bertanya hal lain. Jadi jangan marah lagi, okey?” ujar Ray yang membuat Ana menoleh padanya.
“Ck, kau itu selalu saja mengalah dan mudah sekali meminta maaf padaku. Aku sangat membencimu.” ucap Ana sembari memeluk lengan kiri suaminya.
“Ya, aku juga sangat mencintaimu.” balas Ray dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.
•••
Rose merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Cukup lama, ia menutup matanya, memikirkan semua kejadian yang telah terjadi hari ini.
Semua terlihat seperti roll film yang terputar jelas di kepala Rose.
Lalu kemudian, terdengar desahan pelan dari gadis itu.
Rose membuka matanya, ia mengusap sudut matanya yang tampak mengeluarkan tetesan kecil air mata.
“Ibu, andaikan ibu masih ada, aku ingin bercerita banyak padamu.” ucap Rose.
“Berada di dekat bibi Ana itu sungguh membuatku nyaman. Yuan sungguh beruntung mempunyai ibu seperti bibi Ana yang baik hati dan lembut, juga ayah seperti ketua Ray yang sangat hebat dan luar biasa. Benar-benar keluarga yang sangat sempurna.” ujar Rose.
Jika mereka adalah keluarga yang sangat sempurna— kalau aku masuk ke dalam keluarga mereka, apa aku sungguh pantas?
“Yuan, walaupun hatimu itu sudah menjadi milikku. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang menarikku untuk menjauh dari sisimu. Yuan, terkadang— saat aku sedang tertawa bersama dirimu, aku selalu berpikir, apakah besok aku masih bisa tertawa seperti ini bersamamu? Apakah besok masih ada waktu untuk kita bedua bersama?”
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍