The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Permintaan Yuan


__ADS_3

Ray menghela nafasnya, ia yang tadinya bersandar pada sofa, kali ini duduk tegap menatap Alex, adik beda ayahnya itu.


“Apa aku pernah mengatakan kalau aku percaya pada pria bernama Hans dan mencurigai Yohan yang merupakan orang kepercayaan-ku selama beberapa puluh tahun? Aku hanya berkata kalau dalam dunia bisnis itu penuh dengan misteri. Orang yang kita anggap teman bisa menjadi musuh, begitupun sebaliknya. Apa kau tidak paham dengan maksudku itu?” ujar Ray.


Alex diam, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, ia sungguh tidak paham dengan apa maksud dari perkataan kakaknya itu. Yang Alex pikirkan hanyalah, Ray yang merasa curiga kalau Yohan berkhianat. Padahal sebenarnya, bukan itu maksud dari perkataan Ray tadi.


Ray kembali menghela nafasnya lagi. Ia menatap Alex sembari mengusap hidungnya sekilas.


“Ya sudah kalau kau tidak paham.” ucap Ray, semakin membuat Alex terheran-heran dan juga penasaran.


“Apa bisa kakak menjelaskannya dengan penjelasan yang langsung bisa di pahami oleh otakku ini?” ujar Alex.


Ray tersenyum tipis,


“Nanti saja, lagipula, itu baru berdasarkan asumsi-ku. Bukan sesuatu yang sudah pasti. Aku pikir, untuk saat ini, kita ikuti apa yang kau katakan tadi, kita butuh penyelidikan lebih lanjut dan bertindak dengan hati-hati, jangan sampai gegabah. Aku setuju dengan keputusanmu itu.” kata Ray sembari bangkit dari posisi duduknya.


“Kakak ingin pergi kemana? Apa ada pertemuan atau rapat penting?” tanya Alex ketika melihat sang kakak tampak berdiri dan mulai merapikan pakaian formalnya.


Ray mengernyit, ia merasa kalau penilaian Alex padanya itu aneh sekali. Di jam seperti ini, siapa yang mau mengadakan pertemuan apalagi rapat, kalaupun itu benar terjadi, kemungkinan juga karena sesuatu yang benar-benar mendesak. Tapi sekarang, sama sekali tidak ada hal mendesak yang harus di rapatkan.


“Apa aku ini terlihat seperti orang yang siap  masuk ke ruangan rapat?” tanya Ray.


“Iya, tentu saja. Memangnya tebakanku salah ya? Kalau begitu, kenapa barusan aku melihat kakak merapikan pakaian? Bahkan tadi aku juga melihat kakak merapikan dasi. Biasanya orang yang berlaku seperti itu karena ingin bertemu banyak orang penting.” ujar Alex.


Ray tertawa kecil mendengarnya, dalam hatinya berkata, apa ia terlihat seperti itu? Padahal dirinya itu merapikan pakaian dan dasi untuk bersiap menjemput Ana. Ray hanya tidak ingin terlihat berantakan saja.


Istrinya itu, selalu berpikir negatif kalau pakaian Ray kusut, apalagi dasinya longgar. Pikirian negatif istirnya itu bukan hanya menjuru pada perselingkuhan, tetapi juga tentang apakah pekerjaan Ray terlalu berat, Ana sungguh tidak senang melihat Ray tampak kelelahan.


“Ah, itu yang kau pikirkan? Tapi, memangnya siapa yang mau pergi rapat ataupun pertemuan di jam seperti ini? Ah sudahlah, aku harus segera pergi, menjemput kakak iparmu pulang.” kata Ray.


“Ck, hanya ingin menjemput kakak ipar Ana, apa perlu berpakaian rapi seperti itu? Dasar, memangnya kalian ini pasangan baru ya? Sudah bertahun-tahun juga bersama, masih saja— ”


“Romantis ya? Tentu saja, kau yang terus memilih untuk melajang mana tahu romansa para pasangan seperti kami ini. Ah sudah sudah, aku benar-benar harus pergi sekarang, sampai jumpa nanti di rumah.” kata Ray sembari melihat jam tangannya, kemudian, setelah itu, ia pergi dari ruangan Alex.


Dia itu memang berniat menyindirku kan? ‘Kau yang terus melajang mana tahu romansa para pasangan seperti kami’ cih, kakak pikir aku ini iri? Tentu saja— ya.. mungkin, sedikit, tapi juga tidak, ah entahlah, aku tidak ingin memikirkannya! — batin Alex, mendengus kesal


•••


“Oh, jadi seperti itu.” ucap Ana setelah mendengarkan Yuan bercerita tentang hubungannya dan Rose.


“Jadi kalian ini belum lama menjalin hubungan ya. Mom pikir sudah lama.” kata Ana.


“Mom terlalu banyak berpikir. Sekarang mom sudah puas kan? Aku sudah menceritakan semuanya pada mommy. Kalau begitu, karena mommy memberi Rose libur hari ini, aku pamit pergi. Aku akan mengantarkan Rose pulang ke apartemennya.” ujar Yuan.


Ana tersenyum sembari duduk menumpukan kaki kanannya ke atas kaki kirinya.


“Aaa— kalian ingin pergi kencan ya? Boleh, tentu saja boleh, silahkan pergi. Tapi ingat, jangan pergi ke tempat sepi dan tertutup. Lalu jaga diri masing-masing. Terutama kau Rose, jaga dirimu baik-baik dari Yuan ya. Terkadang pria itu suka berbuat kekhilafan, kau harus hati-hati pada manusia yang berjenis laki-laki.” kata Ana memberikan petuah-petuahnya.


“Eh, iya bibi, terimakasih sudah mengingatkan.” jawab Rose dengan senyum sopan-nya.


“Mom, apa yang mom katakan? Dan kau Rose, kenapa malah berterimakasih?” kata Yuan yang merasa kesal dengan dua wanita yang terlihat cocok untuk berkoalisi melawannya.


“Memangnya apa yang mommy katakan? Mommy kan hanya memberikan nasihat yang baik untuk kalian berdua. Iya kan Rose?” ujar Ana sembari menatap ke arah Rose, meminta dukungan pada gadis itu.


Yuan yang paham dengan maksud Ibunya, ia langsung menoleh ke arah Rose, melarang gadis itu untuk memberikan dukungan pada sang ibu.


Tapi bagaimanapun juga, sepertinya calon ibu mertua akan selalu menang daripada calon suami. Karena pada akhirnya Rose terlihat mengangguk, mendukung perkataan Ana.


“Iya bibi.” ucap Rose yang kemudian tersenyum kikuk ke arah Yuan, membuat pria itu merasa jengah dengan kedua wanita yang tidak akan mungkin dapat ia lawan.


“Iya iya, aku akan mendengarkan dan mengingat dengan baik nasihat dari mommy.” ujar Yuan sembari berdiri dari sofa yang ia duduki, lalu kemudian menghadap ke arah Rose yang masih duduk di sofa ruangan itu.


“Ayo Rose, aku akan mengantarmu pulang ke apartemenmu.” ucap Yuan dengan tangan kanan yang ter-ulur ke arah Rose.


“Kau mengajaknya kencan di apartemennya? Kau ini ingin mengabaikan nasihat mom tadi ya?!” Tanya Ana dengan tangan yang tampak bersedekap di depan dada, tak lupa tatapan matanya itu tampak sangat tajam seperti pisau yang baru saja di timpa oleh pandai besi.


“Siapa yang mengabaikan nasihat mom. Aku hanya ingin mengantarnya pulang ke apartemennya saja. Memangnya salah?” kata Yuan, membela dirinya yang merasa kalau ia sama sekali tidak salah.

__ADS_1


“Kau pikir mommy ini tidak tahu ya? Kau pasti bukan hanya akan mengantarkannya pulang ke apartemen saja. Mom yakin sekali, kau itu tidak akan langsung pergi pulang kan? Nanti setelah kau dan dia sampai di apartemen, pasti kau juga akan ikut masuk ke dalam. Katakan pada mom, apa mommy-mu ini salah menebak?” ujar Ana, masih dengan pandangan yang menatap putranya itu tajam.


Yuan menghela nafasnya, merasa kesal dengan ibunya yang terlalu berpikiran buruk terhadap anaknya sendiri.


“Mom, mom itu benar-benar terlalu banyak berpikir, pikiran mommy itu terlalu jauh. Kalaupun aku ikut masuk ke dalam apartemennya, itu karena aku hanya ingin duduk sebentar, makan, minum, lalu setelah itu pergi pulang. Lagipula kalau aku memang berniat melakukannya, pasti sekarang Rose sudah hamil.” kata Yuan yang berbicara tanpa disaring sedikitpun.


Ana dan Rose, kedua wanita berbeda usia itu tampak membulatkan matanya, merasa terkejut dengan apa yang baru saja Yuan ucapkan di akhir perkataannya.


“Yu— Yuan, apa yang kau katakan tadi? Kau itu, kenapa berbicara sembarangan.” ucap Rose yang bahkan sampai ikut berdiri menghadap ke arah Yuan.


“Yuan, ayo kemari, biar mommy memberimu pelajaran yang baik. Seingat mom, mom tidak pernah mengajarimu berkata sembarangan seperti itu. Kau, kalau kau sampai berani membuat anak orang hamil di luar nikah. Mommy benar-benar tidak akan mengampuni-mu.” kata Ana.


Yuan mendengus kesal, semakin jengah dengan situasi yang sangat menyudutkan dirinya itu.


“Astaga, Mommy, Rose, coba kalian berdua pahami perkataanku itu baik-baik. Aku berkata ‘kalau aku memang berniat melakukannya’, bukan ‘aku akan melakukannya’. Kenapa kalian harus bersikap seolah aku ini akan melakukannya? Apa aku salah karena telah mengatakannya? Ah! tidak tidak, perkataan-ku memang selalu salah dalam pendengaran kalian.” ujar Yuan.


Ana menghembuskan nafas beratnya,


“Okey, mommy paham. Tapi ingat, jangan sampai kata ‘kalau’ berubah menjadi ‘akan’.” ucap Ana.


“Iya~ mommy, Yuan akan mengingatnya dengan baik. Sudah tersimpan sangat baik di kepala Yuan. Ya sudah, sekarang, Yuan dan Rose pergi dulu. Permisi.” kata Yuan.


“Rose pamit undur diri ya bibi, sebelumnya, terimakasih atas ijin liburnya hari ini.” ucap Rose sembari membungkuk hormat pada ibu kekasihnya itu.


Ana tersenyum hangat,


“Iya, sama-sama. Lain kali jangan terllihat takut lagi ya kalau sedang bersamaku, aku ini tidak makan manusia loh.” kata Ana dengan candaannya.


“Ah iya bibi, pastinya.” jawab Rose.


“Sudah sudah basa-basinya. Rose, kau keluar saja lebih dulu, nanti langsung masuk saja ke dalam mobil.” kata Yuan.


“Eh, tidak ingin keluar bersama?” tanya Rose.


“Tidak, kau keluar saja dulu. Beri aku waktu sebentar saja, aku ada ingin bicara sedikit pada mommy, bukan hal penting, tapi harus dikatakan sekarang. Nanti aku akan ceritakan padamu di mobil. Jadi pergilah dan tunggu aku di dalam mobil okey?” kata Yuan.


Setelah Rose keluar, Yuan berbalik, menatap ibunya yang kini juga menatapnya, menunggu Yuan untuk berkata sesuatu.


“Ada apa? Hal tidak penting apa yang ingin kau bicarakan pada mom? Kau bahkan sampai tidak ingin Rose mendengarnya langsung?” tanya ibunya itu, Ana.


Yuan menghela nafasnya, kemudian berjalan mendekati ibunya, pria berusia dua puluh tahun lebih itu tiba-tiba berlutut dihadapan ibunya. Membuat Ana terperangah dengan sikap Yuan yang terlihat aneh itu.


“Mom, aku sampai berlutut seperti ini karena dua hal.” ucap Yuan.


Ana mengernyitkan keningnya, bingung.


“Dua hal? Apa? Katakan pada mom. Tapi sebelumnya, berdirilah, mommy tidak suka melihatmu sembarangan berlutut seperti itu.” kata Ana.


Yuan menggelengkan kepalanya, menegaskan kalau dirinya tidak akan berdiri sebelum ia berkata dua hal tersebut dan juga sebelum ia mendengarkan jawaban dari ibunya dari dua hal itu.


“Baik, kalau begitu, cepat katakan pada mom, dua hal apa yang membuatmu sampai menekuk lututmu di hadapan mom?” tanya Ana.


“Pertama, aku harap mom setuju dengan hubunganku dan Rose. Kedua, aku ingin mommy tidak memberitahukan hubunganku dan Rose ini kepada daddy. Itu dua hal yang membuatku berlutut. Mom, mungkin ini akan terdengar menggelikan bagi mommy. Tapi Yuan benar-benar mencintai Rose, dia satu-satunya wanita yang terasa tulus dan membekas di hati Yuan. Karena itu, Yuan harap kalau mommy akan setuju dengan hubungan kami, dan untuk masalah tidak mengatakannya pada dad, Yuan punya alasan tersendiri.” kata Yuan.


Ana menghela nafasnya, ia beranjak dari posisi duduknya, wanita paruh baya itu berdiri lalu mendekati putranya yang masih berlutut.


Ana pun kemudian ikut berlutut di hadapan Yuan, mensejajarkan dirinya dengan Yuan yang masih menekuk lututnya dengan kepala tertunduk, persis seperti seseorang yang sedang memohon sesuatu.


Perlahan, Ana merengkuh tubuh putranya itu, memeluknya lembut, memberikan rasa hangat untuk Yuan.


Dulu, tubuh yang Ana rengkuh itu terasa mungil, kecil dan rapuh. Tapi sekarang, tubuh itu terasa besar, tegap dan sangat kokoh. Hal itu membuat Ana sadar, waktu telah bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, putra kecilnya kini telah tumbuh dewasa. Bahkan telah menjajaki dunia cinta.


“Sayang, mommy tidak ingin mengekangmu dalam masalah pasangan hidupmu. Selama itu baik untukmu, mommy pasti akan mendukung pilihanmu. Dan juga, masalah daddy-mu, mommy paham apa yang kau pikirkan. Jadi mommy berjanji padamu, mom tidak akan memberitahukan hubunganmu dan Rose padanya. Tapi, bagaimanapun juga, suatu hari nanti, kau juga harus memberitahukan hubungan kalian itu pada daddy-mu secara langsung.” ujar Ana sembari mengelus pelan puncak kepala Yuan.


Yuan menjawabnya dengan anggukan, tangan pria itu kemudian bergerak membalas pelukan ibunya.


“Ehem, apa kalian sedang bermain drama pelukan hangat tanpa mengajakku?” tanya seorang pria paruh baya dengan suara khas-nya. Dia Ray, ayah dari Yuan dan juga suami Ana.

__ADS_1


“Sayang, sejak kapan kau ada disini?” tanya Ana yang kemudian langsung menatap ke arah Yuan.


Mereka berdua saling bertatapan, saling melemparkan raut wajah kekhawatiran. Mereka khawatir kalau pria paruh baya itu mendengar apa yang tadi keduanya bahas.


“Aku baru saja aku masuk. Memangnya ada apa? Apa ada yang aku lewatkan?” tanya Ray pada istrinya, Ana.


“Ah iya, sebelum kau menjawabnya, Yuan bisakah kau menyingkir dari pelukan mommy-mu dan biarkan daddy-mu ini gantian memeluk mommy-mu?” kata Ray sembari berjalan mendekat ke arah mereka.


Yuan dan Ana yang mendengar jawaban dari Ray itu, sekarang mereka bisa menghembuskan nafas lega, untungnya pria paruh baya itu tidak mendengarkan pembahasan mereka.


“Ya baiklah, silahkan daddy peluk mom sepuasnya. Lagipula, sekarang Yuan harus segera pergi, ada urusan penting.” ujar Yuan sembari melepaskan pelukannya dari sang ibu, lalu kemudian berdiri bersama Ana dari posisi mereka sebelumnya, yaitu sama-sama berlutut.


“Eh? Kau ingin pergi kemana? Urusan penting apa? Ck, dasar. Tingkahmu itu seakan-akan kau ini sudah bekerja mengurus perusahaan, merasa sibuk sekali.” sindir Ray.


Yuan mengangkat bahunya tidak peduli, ia kemudian kembali menatap ibunya dengan senyuman manisnya.


“Mom, Yuan pergi dulu ya, terimakasih sudah mau membantu Yuan. Yuan sayang mom." ucap Yuan yang dibalas Ana dengan anggukan kecil.


“Iya, hati-hati di jalan, jangan mengebut. Dan ingat, jaga diri baik-baik, jangan sampai melewati batas. Oh iya, satu lagi, jangan pulang terlalu malam. Ingat pesan mommy tadi, jangan sampai di lupakan.” kata Ana.


“Aku mengerti, Yuan janji akan mengingatnya dengan baik. Kalau begitu, sampai jumpa mom, Yuan pergi dulu.” pamit Yuan pada ibunya.


Sebelum pergi, Yuan mengecup pipi ibunya itu sekilas, Yuan mencium pipi ibunya dengan penuh kasih sayang dan ungkapan terimakasihnya.


“Ah iya, hampir lupa. Dad, sampai jumpa, bye bye dad.” ucap Yuan yang juga berpamitan pada ayahnya. Setelah itu ia berjalan menuju pintu keluar ruangan.


“Apa tidak ada ciuman sampai jumpa di pipi dad? Mommy-mu saja mendapatkannya, kenapa dad tidak?” keluh Ray, walau hanya bercanda.


“Ck, kalau aku melakukannya, yang ada daddy pasti akan memukul kepala berhargaku ini.” ujar Yuan yang kemudian pergi keluar dari ruangan itu.


“Apa yang kau bicarakan dengan Yuan tadi?” tanya Ray setelah Yuan pergi keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan itu kembali.


“Eh, apa? Ah— itu ya, bukan apa-apa, tidak penting juga.” jawab Ana sembari berjalan menuju ke arah meja kerjanya, menghindari tatapan Ray yang mungkin bisa membuatnya membuka rahasianya dan Yuan.


“Oh, benarkah? Tapi, kalian tadi sama-sama berlutut dan saling berpelukan seperti itu— pasti ada sesuatu, apa yang sedang kau sembunyikan dariku huh?” tanya Ray yang masih ingin mencaritahu.


Gawat, kalau Ray terus bertanya dan menatapku penuh selidik seperti itu, aku mana bisa menyembunyikan rahasia ini dengan baik darinya. Tidak boleh dibiarkan, aku harus segera mencari cara agar suamiku ini berhenti bertanya padaku. — batin Ana.


“Ray, apa kau itu seorang polisi? Atau petugas badan intelijen negara yang sedang menginterogasi penjahat? Atau— apa aku ini terlihat seperti seorang istri yang sedang tertangkap basah berselingkuh? Kenapa kau menatapku seperti itu?! Dan lagi, kenapa juga bertanya padaku dengan nada seperti sedang ingin mengintrogasi ku?! Membuatku kesal saja.” kata Ana dengan wajah kesal yang dipenuhi aura emosinya.


Ray yang melihat istrinya tampak siap menyemburkan api penuh amarah itu, ia pun menghela nafasnya pelan. Kemudian berjalan mendekati istrinya. Lalu, perlahan ia merengkuh lembut tubuh wanita yang telah mendampinginya selama puluhan tahun ini.


“Maaf, aku hanya bertanya karena penasaran saja. Sungguh tidak bermaksud membuatmu marah ataupun berniat menginterogasi mu. Maaf jika aku salah. Sayang, kau mau kan memaafkan suamimu yang sedang kelelahan karena masalah perusahaan ini?” ujar Ray dengan suara melasnya.


Yap, berhasil. Ray tidak lagi curiga dengan pembahasanku dan Yuan tadi. Baguslah, tapi maaf ya sayang, bukan maksudku ingin membuatmu seolah buta dengan urusan anak kita. Hanya saja, terakhir kali aku melihatmu yang sangat menekan Yuan untuk dekat dengan Rue. Aku jadi ragu kalau kau tidak akan setuju dengan hubungan putramu dan Rose. Karena itu, aku tidak akan memberitahumu, sesuai apa yang Yuan minta padaku. Sekali lagi, istrimu ini sungguh meminta maaf padamu. — batin Ana.


Maaf karena aku benar-benar tidak bisa mengatakannya padamu. Biarlah nanti waktu yang memberitahumu. — kata hati Ana.


“Masalah perusahaan? Apa ada masalah di perusahaan?” tanya Ana sembari melepaskan pelukan suaminya itu.


Ray terlihat tidak suka ketika Ana melepaskan pelukannya, tapi ia juga tidak terlihat ingin memprotes tindakan istirnya itu. Ray hanya tampak diam menerima.


“Ya, ada sedikit masalah yang lumayan rumit. Tapi kau tenang saja, tidak perlu khawatir. Karena semuanya pasti akan terselesaikan.” ujar Ray.


“Benarkah? Apa semua akan baik-baik saja? Masalahnya, kalau diperhatikan baik-baik, wajahmu itu terlihat sangat kelelahan karena terlalu banya berpikir.” kata Ana.


“Iya, semua akan baik-baik saja. Aku terlihat lelah juga bukan hanya hari ini saja. Bukankah setiap hari juga terlihat lelah? Semua ini karena faktor usia. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa mengelak kalau usiaku ini membuat performa kerjaku sedikit berkurang. Aku jadi lebih mudah merasa lelah dan letih.” ujar Ray.


Ana tersenyum, menatap suaminya itu dengan raut wajah yang penuh dengan pantulan kasih sayang.


“Baiklah, sampai dirumah nanti, ingatkan aku untuk memijat mu. Aku sungguh tidak tega melihatmu yang tampak lelah karena urusan perusahaan.” ucap Ana yang dibalas Ray dengan anggukan kecil penuh semangat.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Terpaksa Menikah Dengan Mantan, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=94282&\_language\=id&\_app\_id\=2

__ADS_1


__ADS_2