The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Janji Untuk Masa Depan


__ADS_3

“Yuan, kenapa kau tadi terlihat panik? Apa ada masalah?” tanya Rose sembari menoleh ke arah Yuan yang masih fokus menyetir.


Sekilas, Yuan tampak melirik kekasihnya, sudut matanya itu menatap Rose yang masih setia memandanginya, menunggu jawaban darinya.


“Tidak, aku sama sekali tidak panik atau apalah itu. Jadi kau jangan khawatir.” jawab Yuan.


Helaan nafas kembali terdengar dari diri Rose. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ke arah manapun itu, asalkan tidak ke sisi kanannya.


“Tadi kau bilang ingin menjelaskannya saat kita ada di jalan, bukankah saat ini kita sedang ada di jalan? Kenapa kau terlihat seperti seseorang yang berniat mengingkari janjimu sendiri?” ujar Rose.


Ucapannya itu bagaikan sindiran yang memang sengaja ia lontarkan. Sudah cukup sabar ia menahan diri untuk tidak bertanya tentang apa yang ingin kekasihnya itu katakan. Tapi Yuan, pria itu sampai sekarang seperti tidak berniat mengatakan apapun padanya selain kata ‘Tidak ada’.


“Rose.” panggil Yuan, entah sejak kapan, tanpa Rose sadari mobil yang ia tumpangi itu ternyata telah menepi di pinggir jalan raya.


“Kenapa berhenti?” tanya Rose sembari menolehkan kepalanya ke arah Yuan. Kekasihnya itu diam. Dalam hitungan menit, suasana sangat hening, yang terdengar hanya suara kendaraan dari luar mobil.


Rose kembali menghembuskan nafas beratnya, gadis itu tidak tahan lagi dengan situasi ini. Akhirnya ia pun memulai pembicaraan diantara mereka. “Kau ini, sebenarnya ada masalah apa?” tanya Rose.


“Tidak ada, bukan hal penting, tapi— hah, aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya padamu.” jawab Yuan.


“Baiklah, aku tidak akan menuntut mu untuk mengatakannya padaku kalau kau belum siap menceritakannya. Aku akan berusaha untuk mengerti dirimu itu.” kata Rose.


Yuan menatap mata gadis dihadapannya dalam diam. Bola mata berwarna coklat terang itu tampak seperti medan magnet yang seakan menarik dirinya untuk masuk lebih dalam.


Lalu kemudian, sebuah helaan nafas pendek mendorong Yuan untuk berbicara.


“Ini tentang ayahku." ucapnya.


“Ayahmu? Ketua Ray? Apa kau membuat ayahmu marah?” tanya Rose.

__ADS_1


Sebuah gelengan kepala yang berasal dari Yuan membuat Rose mengernyit, bingung sekaligus penasaran. “Lalu?”


“daddyku— dia, aku rasa dia mungkin akan berbeda pendapat dengan mom tentang hubungan kita.” ujar Yuan, ia sejujurnya ragu ingin mengatakan masalah itu kepada Rose. Tapi bagaimana juga, Rose memang sudah harus mengetahuinya.


“Eh? Maksudmu itu apa? Aku tidak mengerti.” ucap Rose yang memang tidak paham dengan perkataan Yuan.


“Mungkin ayahku tidak akan suka dengan hubungan kita” kata Yuan dengan suara kecilnya, membuat Rose harus menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar perkataan kekasihnya itu.


“Tidak setuju? Apa kau yakin? Aku pikir ayahmu bahkan belum mengetahui tentang hubungan kita, bagaimana bisa kau sudah berprasangka buruk seperti itu? Kita tidak boleh berpikir negatif, sebelum kita tahu pasti kenyataan yang sesungguhnya. Contohnya ibumu, awalnya aku pikir, ibumu tidak akan setuju. Tapi, kau tadi lihat kan? Aku sendiri juga tidak menyangkanya, ibumu sepertinya tidak mempermasalahkan hubungan kita. Dia bahkan terlihat mendukung hubungan kita ini.” ujar Rose.


Yuan tersenyum, tangannya mulai bergerak, mengusap lembut wajah cantik di hadapannya. Tapi, beberapa detik kemudian, senyuman-nya itu luntur, berganti dengan raut sedih dan juga takut.


“Ayahku itu berbeda Rose. Dia bukan seperti ibuku yang tidak peduli dengan pilihanku dalam hal pasangan hidup. Tapi tidak dengan ayahku. Mungkin— karena aku ini adalah pewaris tunggalnya, dia sedikit selektif dan pemilih dalam masalah pasangan hidupku.” kata Yuan.


“Begitu ya.” ucap Rose, lirih, hampir tak bersuara.


Gadis itu kemudian mengalihkan wajahnya dari hadapan Yuan. Ia memandang lurus ke depan, pikirannya mulai beradu pendapat.


Hah— rasanya, sedekat apapun aku dengan Yuan. Hati kami ini seperti ada jeruji yang menghalanginya.


“Rose? Apa kau kecewa?” tanya Yuan.


Rose menoleh, lantas tersenyum dengan kepala tergeleng.


“Tidak. Sama sekali tidak kecewa. Aku hanya sedang berpikir mungkin semua butuh waktu. Sesuatu yang baik dan indah tidak di dapatkan dengan cara instan. Mungkin kita butuh sedikit lebih banyak perjuangan. Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku paham, sungguh.” kata Rose.


Yuan menghembuskan nafasnya, lega. Ia sangat bersyukur karena telah menaruh hati pada seorang gadis seperti Rose, yaitu seorang gadis biasa namun mampu memahami dirinya dengan baik.


Tapi walaupun begitu, aku tetap merasa khawatir. Niat dad yang ingin menjodohkan aku dengan Rue. Aku takut, jika dad benar-benar akan mengaturnya. Aku harap itu tidak akan terjadi. — batin Yuan.

__ADS_1


“Rose, kelak, jika terjadi sesuatu padaku atau aku membuat pilihan yang salah, kau, tolong kau ingatkan aku. Jadi— apapun yang terjadi, kau harus selalu ada disisiku. Temani aku sampai mataku ini tidak dapat dibuka kembali.” ujar Yuan.


Kata-katanya itu adalah sebuah pesan yang ia harapkan di masa depan dapat Rose ingat. Yuan sangat berharap kalimat itu menjadi cahaya bagi gelapnya rasa keputus-asaan di masa yang akan datang.


“Aku berjanji. Di masa depan nanti, jika kau berpaling dariku, aku akan tetap berdiri di depanmu sampai kau kembali melihatku. Dan jika kau membelakangiku, lalu pergi menjauh dariku, aku akan memelukmu dari belakang, sekuat tenaga aku akan berusaha meyakinkan cintamu padaku. Yuan, percayalah, sejauh apapun kau pergi aku akan selalu menunggumu kembali.” kata Rose.


•••


Hembusan angin semilir sore hari itu menerpa wajah manis seorang gadis bernama Nana.


Di sampingnya tampak Kai tengah menatapnya dalam bingkaian senyum di wajahnya.


“Mau sampai kapan kau akan memandangiku seperti itu terus?” tanya Nana, menyadarkan lamunan panjang pria yang sedang duduk disampingnya.


“Bagaimana kalau aku menjawab ‘sampai matahari terbit dari barat’? Apa yang akan kau lakukan padaku, jika aku menjawab seperti itu?” kata Kai, masih dengan pandangan yang terarah pada Nana.


“Apa yang akan aku lakukan? Ck, tentu saja aku akan membongkar isi kepalamu itu, lalu memperbaiki konsleting yang ada di dalamnya. Lagipula, dari mana kau belajar kata rayuan seperti itu? Seingatku, Kai yang aku kenal sungguh tidak pandai merayu.” ujar Nana sembari menoleh ke arah Kai.


Kini keduanya saling bertatapan, melemparkan pandangan satu sama lain.


Lalu, kedipan mata Nana mengawali gerakan Kai yang tiba-tiba maju kedepan.


“Ka—kai, ap— ”


“Apa yang sedang coba kalian lakukan hah?!” tanya seorang pria paruh baya dengan suara berat, menahan emosinya.


Mendengar suara yang sangat familier di telinganya, Nana pun langsung menoleh. Kemudian, matanya itu terlihat membulat sempurna ketika melihat siapa yang telah berdiri di hadapannya dan Kai. Itu adalah ayah kandungnya, Alex.


Papa?!

__ADS_1


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2