The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Tanpa Kabar~


__ADS_3

"Bos Ana, ada pria muda yang ingin bertemu dengan anda. Saya tidak mengenalnya, tapi dia memperkenalkan dirinya sebagai keponakan anda." Ujar Dita, manajer yang berkerja di restoran Ana.


"Keponakan? Pria? Masih muda?" Tanya Ana sembari mengingat-ingat daftar list keponakannya.


Ana hanya memiliki tiga saudara, dua saudara tiri dan satu saudara kandung.


Rachel sama sekali tidak mempunyai seorang anak laki-laki.


Rio? Kakak kandung dari Rachel, yang juga merupakan kakak tiri Ana, dia sudah lama tidak ada kabar sejak tiga tahun yang lalu. Setelah Rio memutuskan untuk pindah negara dan ikut ke negara tempat istrinya berasal, Ana sudah lama sekali tidak melihatnya.


Tapi kalau di ingat-ingat, Rio punya tiga anak, dua kembar laki-laki dan satu perempuan, hanya saja yang Ana tahu, dua anak laki-laki Rio, semuanya sudah dewasa, dan lebih tua dua tahun dari Yuan.


Bagaimana dengan Kenan? Adik kandung Ana.


Kenan menikah saat Yuan berumur tiga tahun, itu artinya sekitar delapan belas tahun yang lalu. Seingat Ana, Kenan punya dua orang anak, tapi anak keduanya yang perempuan meninggal sejak bayi. Jadi, adik kandungnya itu saat ini hanya punya satu anak laki-laki.


Kalau Ana tidak salah ingat, anak laki-laki Kenan itu sekarang seharusnya berusia tujuh belas tahun.


Jadi, apakah pria muda yang mengaku sebagai keponakanku itu adalah anak Kenan? Apa itu Ken? Keponakanku yang jenius itu?


"Bos? Bos Ana? Jadi apa yang harus saya lakukan pada pria muda itu?" Tanya Dita ketika ia mendapati Ana hanya diam saja.


"Eh, itu, sepertinya dia memang keponakanku. Coba kau suruh dia masuk saja dulu. Biar aku melihatnya secara langsung apa dugaanku benar." Kata Ana.


"Baik bos, saya akan menyuruhnya untuk masuk ke ruangan anda." Ujar Dita, kemudian keluar dari ruangan Ana.


Tak lama manajer Dita keluar. Pintu ruangan itu kembali terbuka, kali ini yang muncul adalah figur pria muda yang terlihat sangat menawan hati para gadis yang menatapnya.


Melihat sosok pria muda itu, sungguh membuat Ana teringat dengan adiknya, si Kenan.


"Apa kau Ken? Ken Mauli? Anak Kenan, adikku?" Tanya Ana.


"Iya, aku Ken, anak dari Kenan Mauli. Apa aunty lupa dengan keponakan aunty sendiri?" Ujar Ken, sang keponakan yang telah lama tidak Ana jumpai.


"Astaga. Kau benar-benar mirip sekali dengan ayahmu saat dia masih muda dulu, sungguh seperti pinang dibelah dua, sangat mirip, aunty bahkan berpikir kalau kau itu adalah Kenan." Kata Ana sembari mendekat ke arah Ken, ia memeluk hangat keponakannya itu.


"Aunty, jangan memelukku seperti ini, aku bukan anak kecil lagi." Ucap Ken.


"Bahkan perkataanmu itu sama persis dengan ayahmu." Ujar Ana sembari melepas pelukannya.


"Kapan kau kembali dari Amerika?" Tanya Ana.


"Enam bulan yang lalu." Jawab Ken.


"Enam— Apa?! Enam bulan yang lalu kau kembali dari Amerika setelah delapan tahun tinggal disana. Tapi saat kau kembali ke negara ini, kau sama sekali tidak datang mengunjungi aunty?! Ayahmu itu juga tidak pernah datang, dimana dia? Apa dia juga ikut kemari bersamamu?"


Ken terlihat menghela nafasnya, ia merasa paling malas kalau dirinya di rundung oleh pertanyaan yang seperti deret aritmatika itu.


"Aunty, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi sebelumnya, apa aunty Ana tidak berniat menyuruhku untuk duduk?"


"Eh? Duduk? Oh iya, ayo ayo duduklah." Kata Ana sembari mengarahkan Ken untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.


Setelah Ken duduk di sofa, Ana pun kemudian juga ikut duduk, berhadapan dengan keponakannya itu.


"Jadi dimana Kenan? Eh, maksud aunty, dimana ayahmu itu? Aunty sudah hampir satu tahun ini tidak bertemu dengannya, apalagi semenjak kantor pusat departemen store keluarga Mauli di pindah ke Amerika. Anak itu sungguh tidak pernah menghubungiku." Tanya Ana.


"Kalau aku tahu keberadaan ayah, aku pasti tidak akan datang kemari." Jawab Ken.


"Astaga, kau ini, lihatlah cara berbicaramu ini, bahkan lebih dingin dari kakak sepupumu." Ujar Ana.


"Kakak sepupu Yuan maksudnya? Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya." Kata Ken, ia terlihat antusias ketika bibi-nya itu menyebutkan nama pria yang selama ini Ken jadikan sebagai sosok idola.


"Tidak, aunty tidak akan memberitahumu kalau kau belum memberitahu aunty dimana ayahmu."


"Aku tidak tahu dimana ayah. Aku datang kemari itu untuk bertanya apakah aunty tahu dimana ayah berada atau tidak. Tapi dari semua perkataan aunty, sepertinya aunty Ana tidak tahu juga ayah ada dimana." Kata Ken.


"Jangan bilang ayahmu hilang?! Kenapa tidak lapor polisi?!" Tanya Ana.


"Aku dan ibu hilang kontak dengannya sejak dua hari yang lalu. Kami sudah melaporkannya ke polisi." Jawab Ken.

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Apakah pihak kepolisian belum menemukannya juga?" Tanya Ana, wanita paruh baya itu terlihat sangat khawatir.


"Belum, tapi kemarin kami mendapat kabar pihak kepolisian, mereka menemukan dompet dan ponsel ayah di dekat halte bus antar kota."


"Astaga. Anak itu, ah maksud aunty, ayahmu itu— bagaimana bisa dia tiba-tiba menghilang? Apa dia sudah kehilangan daya ingatnya, jadi mungkin dia tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang." Ujar Ana.


"Kalau isi kepala ayahku semudah itu termakan oleh usia, dia tidak akan menghasilkan anak yang cerdas seperti aku." Kata Ken.


"Ya ya, kau si cerdas. Sekarang jelaskan, kenapa ayahmu bisa hilang?"


"Ayah itu walaupun cerdas tapi juga punya kekurangan, dia, ayah buta arah, ayah paling sulit mengingat arah, apalagi kalau itu tempat baru. Idealnya, butuh tiga hari melewati tempat itu terus-menerus, baru ayah bisa mengingatnya dengan baik." Ujar Ken.


"Tapi walaupun begitu, dia orang yang keras kepala. Saat itu ayah diam-diam pergi keluar rumah untuk jalan-jalan. Dia pergi ketika aku, ibu dan juga kakek sedang pergi ke mall studio." Sambung Ken.


"Lalu?"


"Lalu? Tentu saja karena sifat keras kepalanya itu, dia tersesat dan tidak bisa pulang."


"Kenapa tidak mencoba menghubunginya dari awal sebelum ia hilang lebih lama lagi?"


"Tanyakan saja pada adik aunty kalau nanti aunty bertemu dengannya. Ayah itu, dia dengan bodohnya mereject semua panggilanku."


"Dia mereject juga bukan tanpa alasan." Ujar Ana membela adiknya.


"Ya terserah aunty saja." Balas Ken sembari bersanda pada sofa yang ia duduki.


•••


Yuan melangkah keluar dari dalam kelas terakhirnya itu dengan raut wajah tanpa semangat, seperti seseorang yang tidak memiliki gairah untuk hidup.


Pria itu kembali melihat ponselnya, mengecek, apakah Rose sudah ada menghubunginya atau belum.


Namun sebuah helaan nafas kembali terdengar dari dirinya. Tak ada satupun pesan masuk dari Rose.


Gadis itu benar-benar seperti hilang tertelan bumi.


"Kakak Yuan." Panggil seorang perempuan dari arah kiri Yuan.


Rue tampak berlari kecil menghampiri Yuan yang masih berdiri di posisinya.


"Kakak Yuan, aku mencarimu kemana-mana dari pagi tadi. Ternyata kau ada disini." Ucap Rue setelah ia sampai di hadapan Yuan.


"Untuk apa kau mencariku?"


"Eh, apa kak Yuan lupa dengan permintaan ayahku? Ayah minta tolong padamu untuk menjagaku." Ujar Rue.


"Lalu karena ayahmu meminta tolong seperti itu padaku, apa aku harus benar-benar menjagamu? Aku juga punya waktu sibuk, tidak ada waktu untuk mengurusimu. Lagipula kau ini sudah dewasa, untuk apa perlu penjagaan, kalau memang takut terluka, sewa saja pengawal untuk menjagamu." Kata Yuan, kemudian, setelah ia mengatakan kalimat itu, Yuan pergi dari hadapan Rue.


"Kak Yuan." Ucap Rue ketika Yuan sudah pergi berlalu dari hadapannya.


"Tidak Rue, tidak boleh terlalu mengejarnya, kau harus tetap menjunjung tinggi harga dirimu. Kalau aku terlalu terang-terangan mengejar kak Yuan, dia pasti akan memandangku sama seperti perempuan-perempuan lain. Aku ini Rue Adelard, anak perempuan tersayang dari keluarga Adelard, calon pemilik perusahaan Jhoneq, perusahaan besar yang sebanding dengan perusahaan Tnp group. Aku itu satu-satunya perempuan yang paling pantas menjadi calon istrinya." Ujar Rue.


•••


"Yuan." Panggil Nana yang tidak sengaja melihat Yuan keluar dari gedung fakultasnya.


Yuan menoleh, ia melihat sepupunya itu sedang bersama tiga temannya, Julian, Kin dan Kai.


Melihat mereka, Yuan tersenyum, kemudian datang menghampiri keempat orang itu.


"Ada apa dengan raut wajahmu tadi? Kau terlihat lesu sekali." Tanya Kin.


"Kau mungkin salah lihat." Jawab Yuan.


"Oh apa kau bertemu dengan perempuan itu? Apa karena itu kau jadi lesu seperti ini? Dia itu memang perusak suasana hati orang." Ucap Nana.


"Hei, sejak kapan kau pandai berkomentar tentang perempuan yang mendekati Yuan? Biasanya kau akan membela mereka ketika Yuan bersikap buruk pada mereka itu." Ujar Kai.


"Ck, andai kau tahu tentang perempuan itu, kau mungkin akan setuju dengan perkataanku tadi. Dia itu— hah sudahlah, aku tidak mau membahasnya." Kata Nana.

__ADS_1


"Oh ya, kalian tadi ingin pergi kemana?" Tanya Yuan.


"Cafetaria depan kampus, kau ingin ikut? Sudah lama kita tidak berkumpul dan makan bersama." Ujar Julian.


"Benar, akhir-akhir ini kau lebih sering  terlihat bersama Rose daripada kami." Keluh Kin.


"Oh iya, Yuan apa kau melihat Rose? Sejak pagi tadi aku tidak melihatnya, aku sudah mencoba meneleponnya, tapi sepertinya ponselnya mati. Bahkan, Yana pun tidak tahu kenapa Rose tiba-tiba tidak masuk hari ini." Kata Nana.


"Dia juga tidak mengangkat panggilanmu?" Tanya Yuan.


"Eh? Apa kau juga menghubunginya? Kau— "


"Siapa yang menghubunginya, jangan salah paham." Sanggah Yuan.


"Benarkah? Aku yakin, kau pasti juga mencarinya kan?" Tanya Nana dengan nada menggoda sepupunya itu, membuat Yuan hanya bisa diam, mengalihkan pandangan.


"Sudahlah, urusan itu kita bahas belakangan saja. Sekarang, ayo kita pergi makan siang bersama." Ujar Julian.


"Benar kata Julian. Yuan, masalah asmara-mu itu nanti ceritakan saja padaku, aku ini ahlinya, jadi, aku pastikan, kalau aku bisa membantumu mengatasinya." Kata Kin.


"Apa yang sedang kau katakan? Ayo cepat ke cafetaria, aku yang akan membayar semua makanan dan minuman kalian." Ujar Yuan, ia berjalan mendahului teman-temannya itu.


•••


"Makanlah dengan perlahan, kau terlihat seperti anak yang tidak pernah diberi makan oleh orangtuamu saja." Komentar Ana ketika ia melihat keponakannya itu makan dengan rakus.


"Ibuku hanya bisa masak masakan western, dia payah dalam masakan Asia apalagi chinese seperti ini. Karena itu aku makan banyak, kapan lagi bisa makan makanan seperti ini." Ujar Ken.


"Kan sekarang kau tinggal di rumah kakekmu, memangnya kau tidak memakan masakan asisten rumah tangga?"


"Tidak ada asisten rumah tangga lagi di rumah kakek Farhan. Sekarang ibuku yang masak dirumah. Kalau ibu sibuk, kita semua hanya akan makan makanan dari restoran cepat saji, atau makan diluar. Mengharapkan nenek tiri untuk masak, juga tidak mungkin." Jawab Ken.


"Ck, kau ini. Ya sudah, nanti aunty bungkus-kan makanan untuk kau bawa pulang. Oh iya, lusa nanti, aunty akan datang berkunjung ke rumah kakek. Bilang sama kakek, kalau anaknya ini akan datang." Kata Ana.


"Baguslah, kakek, dia itu sangat merindukan aunty." Ucap Ken.


"Iya, ayo habiskan makanannya. Kalau mau lagi, bilang saja, aunty akan masakan lagi untukmu." Ujar Ana.


"Iya." Jawab Ken yang kemudian kembali menyantap hidangan makanan yang Ana masakan untuknya.


•••


Rose duduk di sisi ranjang rumah sakit, disana ibunya terbaring lemah tidak berdaya.


Alat-alat medis seperti oksigen dan detektor detak jantung pun terpasang di tubuh sang ibu.


Saat pertama kali Rose sampai disana, ia benar-benar shock melihat kondisi ibunya yang lebih memprihatinkan dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Pantas saja bibinya menyuruh Rose untuk segera datang, itu karena ibunya sedang dalam kondisi kritis.


"Rose, kau bisa pulang ke rumah bibi dan istirahatlah sebentar. Biar bibi dan pamanmu yang akan menjaga ibumu disini." Ujar bibi Vivi.


"Iya Rose, kau bisa sakit nanti. Ayo pulanglah ke rumah kami dan beristirahatlah disana. Andre akan mengantarmu." Kata pamannya Rose, Sam.


"Terimakasih paman, bibi. Tapi Rose baru juga sampai di sini, Rose ingin tetap ada di samping ibu." Ucap Rose.


"Kakak sepupu, setidaknya makanlah dulu. Kau terlihat pucat sekali." Ujar seorang pria yang telah berusia dua puluh empat tahun, dia adalah adik sepupu Rose, Andre.


"Nanti saja Andre, aku belum lapar." Kata Rose dengan senyum tipisnya.


"Rose, makanlah dulu walau hanya satu atau dua suap, jangan biarkan perutmu itu kosong tanpa makanan. Ayo Andre, ajak Rose pergi ke kantin rumah sakit." Ujar bibi Vivi.


"Ayolah Rose. Kalau kau sakit nanti, bagaimana kau bisa menjaga ibumu?"


Rose menghela nafasnya, sejenak ia melihat ke arah ibunya, lalu kemudian beralih menatap keluarga bibinya itu.


"Baiklah." Ucap Rose yang kemudian bangkit dari duduknya.


*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*

__ADS_1


__ADS_2