
Maaf jikalau episode ini terlalu pendek 🙏
SELAMAT MEMBACA
★★★
Yusen terdiam sejenak. Lalu kemudian, tiba-tiba ia berkata, “Paman ingin tahu apa yang hatiku katakan sebenarnya?” tanya Yusen.
Yuan mengangguk dengan cepat.
“Katakan saja apa yang ada di dalam hatimu. Sekalipun itu menyakitkan. Papa tidak mungkin bisa marah padamu. Satu hal yang harus kau ingat, Yusen. Seorang raja singa pun tidak akan melukai darah dagingnya sendiri. Apalagi seorang pria kecil yang akan menjadi the next lion king,” jawab Yuan.
•••
Ufuk timur telah memunculkan sinarnya. Benda langit berwarna kuning terang itu perlahan beranjak naik ke atas. Memberikan sinarnya pada penghuni bumi.
Yusen menatap keluar jendelanya yang tebuka. Sinaran pagi itu terasa hangat menyentuh kulitnya. Ulasan senyum tipis Yusen goreskan pada wajah tampan pria kecilnya.
Puas menyapa cahaya mentari pagi. Yusen keluar dari dalam kamarnya, kemudian berjalan menuju dapur yang terhubung dengan ruang tamu dan pintu utama rumahnya.
“Selamat pagi, Ma,” sapa Yusen sembari duduk di kursinya.
Rose yang saat itu tengah sibuk menyiapkan sarapan. Ia menoleh sekilas menatap Yusen.
“Pagi, putraku,” balas Rose, menyebut Yusen dengan panggilan sayangnya.
“Yuna belum bangun?” tanya Yusen.
Rose kembali menoleh ke arahnya, “Belum, semalam Yuna bangun, dia bilang tidak bisa tidur, jadi Papa-mu menemaninya,” jawab Rose.
“Coba kau bangunkan mereka,” suruh Rose kemudian.
Helaan napas menjadi pengiring kepergian Yusen. Pria kecil itu melangkah menuju kamar saudari kembarnya.
Di depan pintu kamar Yuna, Yusen bergeming sejenak, sebelum kemudian mengetuk pintu kamar bercat putih itu.
“Yuna...,” serunya sembari mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
“Yuna...,” serunya lagi.
__ADS_1
Hening.
Yusen malas mengetuk pintu itu lagi. Karenanya, ia langsung membuka pintu kamar tersebut.
Hal pertama yang Yusen dapatkan adalah lampu kamar yang masih menyala terang, bertabrakan dengan cahaya matahari yang berusaha masuk melalui celah-celah tirai jendela.
Dua sosok orang berbeda usia tampak terbaring di atas karpet beludru berwarna merah muda. Yuna tidur dalam pelukan ayahnya, menjadikan tubuh sang ayah sebagai alas tidurnya.
Pemandangan itu menyentuh hati Yusen. Rasa suka pada apa yang ia lihat pun tak terelakkan dalam dirinya. Yusen merasakan gejolak bahagia yang selama ini terpendam jauh di dasar hatinya.
“Yusen, Mama menyuruhmu memanggil mereka, kenapa— ” perkataan Rose terhenti.
Hatinya berbunga melihat anak dan pria itu tidur dalam keharmonisan.
“Mama saja yang bangunkan. Yusen mau makan duluan,” kata Yusen, ia kemudian keluar dari dalam kamar kakak kembarnya itu.
“Iiiya. Mama sudah siapkan makananmu, makanlah dulu, biar Mama yang bangunkan mereka,” ujar Rose pada Yusen yang sudah keluar dari kamar putrinya.
Setelah itu, Rose kembali berbalik menatap sosok Yunara dan Yuan yang masih tidur lelap dalam mimpi mereka.
“Mereka berdua...,” lirih Rose sembari mengulas senyum hangatnya.
Cara yang Rose gunakan sungguh efektif, terdengar suara lenguhan dari seorang gadis kecil.
Yuna paling mudah terusik tidurnya. Ia bisa kesulitan tidur walau hanya ada suara bising yang mengganggunya.
“Yuna, ayo bangun, kau harus pergi ke sekolah. Hari ini bukankah kau masih ada ujian? Yusen sudah menunggumu di luar,” celoteh Rose mendekati anaknya yang sudah terduduk di atas karpet beludru itu.
“Jam berapa?” tanya Yuna sembari mengucek matanya.
“setengah-tujuh lebih,” jawab sang ibu yang mulai sibuk merapikan tempat tidur putrinya.
“Yuna mandi dulu,” ucap Yuna setelah beberapa menit mengumpulkan nyawanya yang masih bertebaran di alam mimpi.
Rose mengangguk. Ia memperhatikan Yuna yang kemudian berdiri, mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Yuna masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Rose beralih menatap seorang pria yang masih tertidur pulas.
“Dia ini, masih saja tidak berubah,” gumam Rose, ia berjongkok, hendak membangunkan Yuan yang masih memejamkan matanya.
“Yuan, bangun...,” lirih Rose seraya menggoyang-goyangkan tubuh pria itu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban, yang Rose dapat hanyalah sebuah lenguhan kemalasan dari Yuan.
Rose mendengus kesal, sekali lagi ia mengguncang tubuh pria itu, “Yuan, bangun...,” lirihnya lagi.
Masih sama. Tidak ada respon sama sekali.
Rose mendesah pelan. Rasa kesalnya semakin membuncah.
Sekali lagi kalau kau tidak bangun, anggap saja aku tidak akan pernah membangunkan mu lagi. — batin Rose.
“Yu— ”
Tangan kukuh itu menarik lengan Rose, membawa wanita itu ke dalam dekapannya.
“Aku butuh energi sebelum membuka mataku,” ucap Yuan dengan suara seraknya, khas orang yang baru bangun dari tidurnya.
“Yu...yuan, jangan seperti ini,” ucap Rose dengan nada terbata-bata.
“Kenapa?”
“Ada Yuna di dalam kamar mandi,” jawab Rose.
“Oh,” ucap Yuan seolah tak peduli.
“Eh?”
“Sebentar saja, biarkan seperti ini sebentar. Semalam aku tidak tidur denganmu, rasanya pagi ini rindu sekali. Aku ingin memelukmu seperti ini sepanjang waktu,” ujar Yuan sembari membenamkan wajahnya pada ceruk leher Rose.
Rose terlihat menggigit bibir bawahnya, merasakan deruan napas Yuan yang berhembus lembut di lehernya.
“Yuan...,” lirih Rose, ia bergerak, mencoba melepaskan diri dari dekapan Yuan yang entah sejak kapan menjadi sangat erat.
Mendapatkan penolakan dari wanita dalam dekapannya itu. Naluri jahil Yuan sebagai pria dewasa pun keluar. Tampak wajahnya menyeringai penuh pesona yang mampu melelehkan hati para wanita.
Detik berikutnya, Yuan terlihat menempelkan bibirnya pada leher Rose, niatnya ingin menjahili wanita itu. Tapi seharusnya Yuan tahu kalau di dalam kamar itu masih ada sosok gadis kecil.
Yuna baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Tapi malangnya dia. Kepolosan matanya kembali di rengut oleh kedua orangtuanya.
Di saat yang bersamaan, Rose menangkap sosok Yuna yang sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk panjang kimononya.
“Yuna,” ucap Rose, mengkode Yuan untuk menghentikan aksi gilanya.
__ADS_1