The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Pembicaraan di Malam Hari


__ADS_3

Yuan melangkah kakinya ke luar cafe itu, pria itu berdiri di bagian samping cafe, menunggu wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kenapa bibi membongkar identitasku?" Tanya Yuan ketika wanita paruh baya itu sudah sampai di hadapannya.


"Apa yang anda katakan tuan muda? Saya hanya merasa senang karena tanpa sengaja bertemu anda. Lagipula apa yang salah dengan identitas asli anda, menjadi seorang tuan muda dari keluarga Gavin, itu seharusnya sangat membanggakan, dengan nama itu, maka tidak ada yang berani merendahkan anda." Jawab wanita paruh baya itu, bibi Jeni.


Yuan menghela nafasnya, ia mengusap wajahnya kasar, wanita paru baya di depannya ini, bukan hanya seorang pelayan yang sangat loyal di rumahnya, tapi dia juga seorang ibu dari teman baiknya. Karena itu, Yuan tidak bisa bersikap tidak sopan padanya, ia masih menghormati bibi Jeni sebagai ibu Kai, walaupun ia merasa kesal pada bibi Jeni saat ini.


"Tanpa bibi menjelaskannya pun aku tahu, keluargaku sangat dihormati, bahkan kepala negara sekalipun sangat menghormati keluargaku. Tapi aku tidak bisa membongkar identitas asliku saat ini, bibi tahu kan kalau aku sedang kabur dari rumah. Jika penyamaranku terbongkar, dad akan menyuruh bawahannya untuk membawaku pulang kembali ke rumah. Aku tidak mau itu terjadi, jadi aku mohon pada bibi, katakan pada mereka jika bibi salah mengenaliku." Kata Yuan.


Bibi Jeni tampak diam sesaat, namun kemudian ia menyunggingkan senyumnya, tangan wanita paruh baya itu perlahan bergerak memegang tangan milik Yuan. Rasa hangat dari seorang ibu, terasa mengalir ke telapak tangan Yuan, itu membuatnya merindukan sang ibu—Ana yang sudah lama tidak ia jumpai.


"Tuan muda, anda adalah orang yang sangat baik dan hangat, anda bahkan mau berteman baik dengan anak saya walaupun kami dari keluarga kelas bawah, anda seperti sebuah matahari yang tinggi namun selalu memberikan sinarnya tanpa henti. Tuan muda, saya tahu anda sedang mengejar keinginan anda, tapi tidak seharusnya anda pergi dari rumah, semua orang khawatir pada anda. Berpikir untuk hidup mandiri, itu bukan hal yang mudah, percayalah pada saya tuan muda, lebih baik anda pulang ke rumah." Ujar bibi Jeni berusaha membujuk tuan mudanya itu.


Yuan menghela nafasnya, ia melepaskan tangan bibi Jeni yang memegangnya.


"Maaf bi, aku tidak bisa pulang sekarang, masih ada hal yang harus aku lakukan sebelum kembali ke rumah." Jawab Yuan


Sampai hari dimana aku dan yang lainnya akan tampil di acara perayaan hari jadi kampus, aku tidak akan kembali ke rumah. Saat ini, aku sedang fokus pada latihanku sebelum hari itu tiba, jika aku kembali ke rumah sekarang, dad tidak akan pernah memberikanku kesempatan untuk pergi berlatih, ia pasti akan menghukumku dengan mengekangku lagi. Karena itu, aku tidak bisa kembali ke rumah sampai aku tampil di acara itu dan menunjukkan bakatku di hadapan dad. — Batin Yuan.


"Tuan muda, anda—"


"Bi, aku mohon pada bibi Jeni, tolong bantu aku, katakan pada mereka jika bibi salah mengenaliku." Pinta Yuan.


•••


Rose membantu ibunya untuk berbaring di tempat tidur, tubuh itu terasa ringan dan begitu lemah, membuat hati sang putri merasa teriris melihat kondisi ibunya yang seperti ini.


"Rose, ikut bibi keluar sebentar ya." Kata seorang wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di pintu masuk kamar itu.


Rose melihat ibunya sekilas, senyum hangat dan anggukan dari ibunya, menyuruh Rose untuk mengikuti bibinya yang sudah pergi keluar dari kamar itu.


"Rose keluar sebentar ya." Ucap Rose pada ibunya.


"Iya." Jawab ibunya.


Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Rose beranjak dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, ia berjalan menyusul adik ibunya yang sudah berada di ruang tamu.


"Apa yang ingin bibi bicarakan padaku?" Tanya Rose.


Wanita paruh baya yang merupakan adik kandung dari ibu Rose itu menatap wajah keponakannya dengan senyum hangatnya.


"Saat ibumu pingsan dan di bawa ke rumah sakit, kami melihat banyak sekali bekas luka lebam di tubuhnya."


"Rose tidak akan terkejut dengan kabar itu, bi." Ucap Rose, karena dirinya sudah tahu itu sejak lama.


"Jadi, apa benar luka-luka lebam di tubuhnya itu perbuatan ayahmu yang sering memukulinya?"


Rose menghela nafasnya, ingatan buruknya tentang hari-hari dimana ibunya selalu mendapat perlakuan kasar dari ayahnya kembali terlintas di benak gadis itu.

__ADS_1


"Rose.." Panggil wanita paruh baya bernama Nita itu.


"Iya." Jawab Rose sembari menundukkan kepalanya kebawah.


Hembusan nafas berat terdengar dari diri bibi Nita, wanita paruh baya itu terlihat memegang keningnya, merasakan denyutan emosi pada kakak iparnya yang entah sekarang ada dimana.


"Kita perlu laporkan ini ke polisi." Ujar bibi Nita yang sontak membuat Rose mendongakkan kepalanya, menatap bibinya itu.


"Ibu pasti melarangnya." Kata Rose, gadis itu sejak dulu juga ingin sekali melaporkan ayahnya ke polisi atas tindakan kekerasan dalam keluarga dan judi ilegal, tapi ibunya selalu melarangnya dengan alasan yang menurutnya sangat klasik. Dia itu ayahmu, kata-kata itu, kata-kata yang selalu diucapkan ibunya saat Rose ingin melaporkan ayahnya.


"Ah ya ampun, dia masih berharap walaupun harapan itu kecil sekali." Ucap bibi Nita.


"Maksud bibi apa?" Tanya Rose yang tidak paham dengan ucapan wanita paruh baya itu.


"Itu semacam cinta yang terlalu cinta atau lebih tepatnya—ah entahlah, bibi tidak pandai merangkai kata-kata. Intinya, dulu ayahmu tidak seburuk itu, dia pria yang baik dan penuh kasih sayang, dia juga berasal dari keluarga yang berada. Namun saat kau berumur dua tahun, keluarganya bangkrut, ayahmu yang bekerja di perusahaan keluarganya otomatis juga kehilangan pekerjaan, semenjak saat itu, banyak penagih hutang datang ke rumahmu, karena merasa terpukul begitu dalam dengan kehidupannya yang berubah total, ayahmu sering sekali mabuk, dari situlah, pria itu menjadi pria buruk."


Rose seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tapi sekarang, dirinya sedikit mengerti, kenapa ibunya selalu membela ayahnya, itu semua karena ibunya masih memiliki setitik harapan agar ayahnya bisa berubah seperti dulu lagi.


•••


"Kenapa ibuku bisa salah mengenalimu?" Tanya seorang pria yang baru saja datang dari arah belakang bibi Jeni.


Yuan mengangkat wajahnya, ia menatap pria yang melontarkan pertanyaan padanya.


"Kai? Kau juga ada disini?" Tanya Yuan.


"Aku datang untuk menjemput ibuku, tapi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian." Jawab Kai.


"Ah baiklah, aku baru saja datang, jadi tidak mendengar seluruh pembicaraan kalian, aku hanya mendengar bagian akhirnya saja." Kata Kai mencoba memberi penjelasan dari tatapan Yuan yang penuh arti itu.


"Lupakan itu, sekarang yang lebih penting, tolong bantu aku. Katakan pada mereka jika aku bukan tuan muda dari keluarga Gavin." Ujar Yuan pada Kai.


"Berbohong? Kau menyuruhku, ah tidak, maksudku, kau menyuruh kami untuk berbohong? Yuan, Memangnya apa yang salah jika kau ini adalah tuan muda dari keluarga Gavin, kenapa kau seakan-akan merasa malu dengan status sosialmu yang tinggi itu?" Tanya Kai, ia tersenyum kecut pada Yuan, perkataan dari Yuan sekaan menohok hatinya.


Yuan berasal dari keluarga yang terpandang tapi tuan muda itu merasa tidak nyaman dan tidak suka. Semua itu menjengkelkan bagi Kai, seharusnya Yuan bersyukur dengan semua yang dimilikinya.


"Kai, kau paham kan apa masalahku? Aku harus menutupi identitas ku untum saat ini." Jawab Yuan.


Kai melangkah mendekati teman baiknya itu, ia menggeser tubuh ibunya pelan, agar ia bisa berhadapan langsung dengan Yuan.


"Yuan, kau tahu, sikapmu ini sangat menjengkelkan bagiku. Kau itu dari keluarga terhormat, kenapa kau seakan-akan merasa tidak suka dengan status sosialmu yang tinggi itu?" Tanya Kai lagi.


"Kai—"


"Lihat aku Yuan. Orang-orang seperti ku akan merasa iri padamu, disaat kau berkata seperti itu, semakin membuat kami iri, kenapa kau tidak mensyukuri semua yang kau miliki? Kenapa—"


"Kau tahu alasannya Kai! Aku pergi dari rumah, aku menyembunyikan identitasku, aku bekerja paruh waktu. Kau tahu alasan kenapa aku melakukan semua itu! Kau mengetahuinya! Tapi kenapa sekarang kau tidak mendukungku sama sekali?!" Tanya Yuan.


Kai menghela nafasnya sesaat, pria itu kemudian meletakkan tangannya di bahu Yuan.

__ADS_1


"Saudaraku— maaf." Ujar Kai.


"Ha?" Tanya Yuan yang tidak paham dengan ucapan Kai barusan.


"Jangan terlalu serius, aku hanya bercanda." Kata Kai diiringi tawa kecilnya.


Yuan melebarkan matanya, ia merasa ingin menyemburkan sinaran laser dari matanya kepada pria dihadapannya itu.


"Tapi aku serius dengan kekesalanku padamu. Kau jangan berkata seperti itu lagi di depanku. Itu menjengkelkan." Ujar Kai.


"Maaf, bukan maksudku—"


"Yah, aku tahu. Sudahlah, lupakan saja." Ucap Kai sembari mengakhiri tawa kecilnya itu.


"Kalau begitu, kau mau membantuku kan?" Tanya Yuan.


"Membantumu? Aaaa tentang berbohong pada mereka ya?"


"Iya." Jawab Yuan.


"Maaf, tapi kami harus pulang. Sampai jumpa besok." Kata Kai sembari menarik pelan tangan ibunya.


"Kai, tunggu dulu, kau harus membantuku." Pinta Yuan, pria itu bahkan sampai menahan lengan Kai.


"Hei, kau itu lebih pintar dariku. Mereka tidak akan percaya pada kami sekalipun kami berkata jujur." Ujar Kai.


"Bagaimana bisa? Kita bahkan belum mencobanya."


"Yuan Yuan, coba kau pikirkan, identitas aslimu sudah terbongkar. Sekarang mereka tahu jika kau adalah tuan muda dari keluarga Gavin. Kau pikir dengan kita berkata bohong pada mereka, lantas mereka akan percaya? Kau lupa dengan the power of internet? Mereka pasti sudah mencari di internet, apa benar kau tuan muda dari keluarga Gavin atau bukan, mereka pasti sudah melihat foto-fotomu di internet." Kata Kai.


Yuan menghembuskan nafas beratnya, ia baru menyadari hal itu, apa yang dikatakan Kai benar.


"Percayalah, ayahmu tidak akan langsung datang dengan personilnya sekalipun mengetahui tempat kerjamu. Beliau akan memantaumu, tapi berita tentang kebenaran malam ini pasti akan terungkap di media besok. Tuan muda dari keluarga Gavin menyamar menjadi orang biasa dan bekerja sebagai seorang pelayan di cafe. Kau tahu? itu sangat mengagumkan. Jadi tetap bekerjalah, dan abaikan mereka semua." Ujar Kai sembari melihat kedalam cafe dari kaca jendela cafe itu.


"Aku harus pergi sekarang, ayahku sudah menunggu kami. Oh iya, maaf soal ibuku yang—"


"Tidak masalah, aku juga minta maaf untuk—"


"Yah itu bukan masalah juga. Hei tunggu, kenapa kita saling menyela perkataan satu sama lain." Ujar Kai, ia kembali tertawa lagi.


Yuan membalas tawa Kai dengan senyum lebarnya,


"Cepat pergilah, ayahmu sudah menunggu kalian." Ucap Yuan.


"Ah iya benar, kalau begitu saya permisi tuan muda, sampai jumpa besok." Ujar Kai masih dengan candaannya, pria itu kemudian masuk kedalam mobilnya bersama sang ibu.


Sebelum melajukan mobilnya keluar dari area cafe, Kai melambaikan tangannya pada Yuan dari kaca mobil yang dibukanya.


"Sampai jumpa." Pamit Kai.

__ADS_1


"Em, sampai jumpa besok, hati-hati." Balas Yuan.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2