The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih banyakπŸ’• untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much πŸ’–


γ€€


γ€€


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


γ€€


γ€€


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


γ€€


γ€€


SELAMAT MEMBACA


γ€€


γ€€


✴✴✴


γ€€


γ€€


Yuan keluar dari dalam kamar putrinya setelah membaringkan Yunara ke atas tempat tidur, menyelimuti gadis kecil itu sembari mengecup kilat keningnya.


γ€€


γ€€


β€œSudah tidur?” tanya Rose ketika Yuan telah menutup pintu kamar itu.


γ€€


γ€€


Yuan mengangguk, β€œIya,” jawabnya.


γ€€


γ€€


β€œKarena kekenyangan juga kelelahan, dia jadi tidur lebih awal,” ujar Rose.


γ€€


γ€€


β€œBiarkan saja. Hari ini banyak yang sudah mereka lalui. Dari masalah di sekolah juga pertemuan mereka dengan orangtuaku,” kata Yuan. Mereka yang dia maksud adalah Yusen dan Yuna.


γ€€


γ€€


β€œTapi aku pikir Yusen tidak merasa lelah sama sekali. Dia bahkan masih bisa menyempatkan waktu untuk pergi menonton bersama pria bernama Sean itu,” ujar Yuan dengan nada cemburunya yang begitu kentara.


γ€€


γ€€


Pria itu menghela napasnya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar milik Rose. Menganggap kamar itu seperti kamarnya sendiri.


γ€€


γ€€


Rose mengikuti kemana Yuan pergi, ia ikut masuk ke dalam kamar tersebut. Lalu menutup pintu kamar tanpa menguncinya.


γ€€


γ€€


β€œKau sepertinya tidak suka melihat Yusen pergi bersama pamannya,” terka Rose menatap Yuan yang mulai melepas kancing bajunya.


γ€€


γ€€


β€œSiapa yang bilang kalau aku tidak suka?” Yuan melontarkan pertanyaan tersebut untuk mengalihkan jawaban 'iya' yang sudah dapat Rose tebak melalui sikapnya.


γ€€


γ€€


β€œDan lagi, tadi kau sebut pria itu pamannya? Paman Yusen dan Yuna? Ck, yang benar saja. Paman mereka itu hanya Kai suaminya Nana dan Ken anaknya Kenan,” jelas Yuan sembari melemparkan bajunya ke atas tempat tidur.


γ€€


γ€€


β€œItuβ€” ”


γ€€


γ€€


β€œSuruh Yusen untuk pulang cepat. Jangan lewat dari jam tujuh malam,” sela Yuan. Padahal Rose ingin memprotes karena Yuan dengan sengaja melempar baju kotor itu ke atas tempat tidurnya.


γ€€


γ€€


β€œIya, tapi ituβ€” ”


γ€€


γ€€


β€œAkan lebih baik kalau kau menyuruhnya pulang lebih awal lagi. Sekarang sudah pukul setengah enam,” sela Yuan lagi.


γ€€


γ€€


Rose yang sudah terlewat gemas, ia mendekati tempat tidurnya. Lalu meraih baju Yuan yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang itu.


γ€€


γ€€


Di hadapan Yuan, napas Rose terlihat naik turun, seperti orang yang baru saja lari marathon.


γ€€


γ€€


β€œOh itu, akuβ€” ” Yuan menggantungkan kalimatnya. Cengiran canggungnya keluar ketika ia melihat tangan Rose yang menggenggam bajunya kuat.


γ€€

__ADS_1


γ€€


Yuan baru sadar kalau dirinya telah membuat perempuan dihadapannya itu marah. Hanya saja, saat Yuan ingin mengakui kesalahannya. Rose sudah lebih dulu melemparkan baju tersebut ke wajahnya.


γ€€


γ€€


β€œKau pikir ini rumahmu? Kamarmu?!” oceh Rose dengan mata yang menghujam tajam pria dihadapannya itu.


γ€€


γ€€


β€œItu, maaf, aku, akuβ€” ”


γ€€


γ€€


β€œApa? Kau anggap kamar ini milikmu dan aku ini pembantumu, begitu?!” seru Rose.


γ€€


γ€€


β€œHust... jangan keras-keras. Yuna bisa terbangun karena suaramu,” Yuan mengingatkan.


γ€€


γ€€


Sedangkan Rose. Wanita itu semakin mencebik kesal mendengar perkataan Yuan barusan.


γ€€


γ€€


β€œKau bahkan berani memberiku peringatan,” kata Rose.


γ€€


γ€€


β€œRose, bukan begitu. Kau jangan salah paham. Aku tidak bermaksud membuatmu marah ataupun kesal seperti ini. Masalah baju aku minta maaf. Aku bukannya sengaja melemparkan bajuku sembarangan. Oke, itu salahku karena diriku terlalu terbiasa melemparkan baju sembarangan dan iya aku lupa kalau aku sedang tidak berada di rumahku sendiri,” jelas Yuan meminta maaf.


γ€€


γ€€


Rose menghela napasnya. Ia menatap Yuan yang tampak mengeluarkan raut melasnya.


γ€€


γ€€


β€œKau pikir aku akan terenyuh dengan tatapan mu itu? Cih,” ujar Rose sembari bersedekap dada dan mengalihkan pandangannya dari Yuan.


γ€€


γ€€


β€œRose, kau tidak benar-benar marah hanya karena seonggok baju ini kan?” tanya Yuan.


γ€€


γ€€


Rose tertawa sinis, β€œHanya seonggok baju katamu?!” tanya Rose dengan nada sarkasmenya.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


Melihat sikap Rose itu. YuanΒ  menghela napas beratnya, β€œKau tidak sedang dalam siklus bulanan kan? Kenapa sensitif sekali? Hanya karena masalah baju yang aku lemparkan sembarangan, kau sampai marah padaku,” kata Yuan.


γ€€


γ€€


Tanpa Yuan sadari. Ia telah mengeluarkan kata-kata yang patut di beri umpatan terburuk oleh para wanita yang sedang dalam mode marahnya.


γ€€


γ€€


Yuan bukan hanya terdengar mengeluh saja. Tapi tanpa sengaja ia telah menyindir Rose sebagai seorang wanita yang terlalu sensitif.


γ€€


γ€€


β€œPergi,” suruh Rose. Walaupun nadanya terkesan biasa saja. Tapi sesungguhnya ia sangat kesal luar biasa.


γ€€


γ€€


β€œRose...,” lirih Yuan.


γ€€


γ€€


Rose mendengus kesal, ia menatap Yuan yang tidak mengenakan pakaian bagian atasnya.


γ€€


γ€€


β€œKau itu, ah tidak tahu, kau sama sekali tidak mengerti bagaimana cara bersikap baik pada perempuan. Kau malah mengataiku terlalu sensitif hanya karena masalah seperti itu,” kesal Rose.


γ€€


γ€€


β€œItu, aku tidakβ€” ”


γ€€


γ€€


β€œSudahlah Yuan. Aku juga bukannya mau ribut denganmu. Tapi sebenarnya aku juga ingin kau pergi dari rumah ini,” kata Rose.


γ€€


γ€€


Sontak Yuan terkejut. Apa yang salah? Hanya karena sepotong baju yang tergeletak di atas tempat tidur, Rose menyuruhnya pergi dan meninggalkan rumah.


γ€€

__ADS_1


γ€€


β€œKau, kau menyuruhku pergi dari rumah ini hanya karena masalah baju ini?” tanya Yuan sembari mengangkat baju yang ia genggam.


γ€€


γ€€


Rose menghela napasnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.


γ€€


γ€€


β€œBukan, bukan karena itu,” jawabnya.


γ€€


γ€€


β€œLalu?” tanya Yuan lagi sembari berkerut kening.


γ€€


γ€€


β€œDengarkan aku Yuan. Tadi, saat Sean datang kemari, aku teringat sesuatu. Aku berpikir kalau tidak seharusnya aku yang seorang ibu tunggal tinggal bersama laki-laki yang bukan suamiku,” jelas Rose.


γ€€


γ€€


β€œMaksudmu?” Yuan kembali melontarkan pertanyaannya. β€œAku sungguh tidak mengerti,” lanjutnya.


γ€€


γ€€


β€œJadi begini. Dulu atau tiga tahun yang lalu. Sean sering datang kemari, bukan hanya sering. Tapi setiap hari. Dia bahkan terkadang menginap di sini dan tidur bersama Yusen,” urai Rose.


γ€€


γ€€


Ada gemuruh amarah yang terbendung di hati Yuan. Pria itu merasakan api cemburu yang semakin membara ketika harusΒ  mendengar fakta yang Rose sampaikan padanya barusan.


γ€€


γ€€


β€œLalu?” tanya Yuan.


γ€€


γ€€


β€œKita ini tinggal di negara penuh etika. Apalagi aku tinggal di perumahan yang dipenuhi dengan tetangga-tetangga yang peduli pada kabar hangat satu sama lain.”


γ€€


γ€€


β€œTerus?”


γ€€


γ€€


β€œKita tidak bisa tinggal bersama. Karena itu... kau harus kembali ke rumahmu, jangan tinggal ataupun menginap di sini,” lanjut Rose.


γ€€


γ€€


Yuan terdiam selama beberapa menit lamanya. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk berbicara.


γ€€


γ€€


Sampai kemudian, Yuan berjalan mendekati Rose. Merengkuh tubuh itu dari belakang.


γ€€


γ€€


β€œKalau begitu, kita menikah saja,” ujar Yuan, nadanya terdengar mengalun lembut di telinga Rose.


γ€€


γ€€


β€œKau, kau bilang apa?” gugup Rose.


γ€€


γ€€


β€œApa kau sedang mencoba bermain tuli-tulian denganku?” bisik Yuan, tepat di dekat telinga wanita itu.


γ€€


γ€€


Tindakan dari Yuan barusan sungguh semakin membuat Rose gelagapan dibuatnya, β€œTidak, aku, akuβ€” ”


γ€€


γ€€


β€œMenikahlah dengaku, Rose. Pegang janjiku. Kali ini aku tidak akan mengingkarinya. Sebelumnya, aku juga tidak pernah mengingkari janjiku padamu. Apa yang terjadi waktu itu, sungguh diluar rencanaku. Aku kehilanganmu, aku terpuruk karena merindukanmu, dan aku yang tidak bertanggung jawab sebagai seorang ayah. Maafkan aku untuk semua itu,” jelas Yuan.


γ€€


γ€€


β€œKalau saja waktu itu aku tahu jika kau sedang hamil anakku. Kau pikir aku akan melanjutkan rencana itu? Tentu saja, tidak. Aku pasti akan lebih memilihmu dan anak-anakku,” imbuhnya lagi sembari membenamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Rose.


γ€€


γ€€


πŸ’thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!πŸ’


γ€€


γ€€


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


γ€€


γ€€


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai.

__ADS_1


__ADS_2