
“Jadi pesan yang sebenarnya sangat ingin kau balas itu tidak penting? Kalau tidak penting kenapa kau harus repot-repot bertanya padaku? Lagipula bukankah aku sudah memberimu kesempatan lagi untuk menanyakan hal lain? Kenapa kau tidak bertanya kategori penting itu yang seperti apa dan bagaimana?” ujar Samuel, ia berbicara seperti itu tanpa melihat Rose.
Ck, dia itu, apa hobinya memang suka memperumit keadaan? Pantas! satu kasus saja bisa sampai berbulan-bulan selesainya. Benar-benar harus mendetail. Jika terus seperti ini, apakah aku bisa bertahan bersamanya selama tiga bulan kedepan? Hah—
“Maaf, senior.” ucap Rose.
“Kalau memang itu bukan pesan yang terlalu penting, abaikan saja dulu dan kembalilah bekerja.” kata Samuel.
“Cepat selesaikan draft kasus itu. Besok kau akan ikut aku ke pengadilan sebagai pengalaman tambahan untukmu.” sambungnya.
“Baik senior.” jawab Rose.
•••
“Aku dengar tuan muda Yuan akan menjadi pekerja magang di departemen ini.” kata seorang pria yang merupakan salah satu staf departemen manajemen keuangan perusahaan Tnp group.
“Iya, itu benar, hari ini dia akan mulai magang di departemen kita.” ujar pria lainnya.
“Ck, anak dari orang yang memiliki latar belakang hebat memang berbeda ya.”
“Iya, padahal belum lulus kuliah, tapi sudah bisa masuk ke bagian inti dari perusahaan. Padahal departemen ini hanya bisa di tempati oleh orang-orang profesional yang memiliki prestasi terbaik.” kata pria itu.
“Kita yang sekarang berada di departemen ini saja sudah banyak rintangan yang kita lalui. Siklus jatuh dan bangkit berulangkali kita jalani. Tapi dia, hanya karena dia memiliki background yang luar biasa, dengan mudahnya bisa langsung sampai ke puncak piramida. Sungguh tidak adil.”
“Kalian ini, bukannya bekerja malah sibuk membicarakan orang lain. Apa kalian tidak sadar siapa yang telah kalian bicarakan itu? Kalau sampai orang yang kalian bicarakan itu mendengarnya, habis sudah riwayat kalian.” ujar seorang wanita yang tampak fokus dengan pekerjaannya.
Lalu kemudian, percakapan antar staf itu terhenti ketika seorang pria muda terlihat masuk ke dalam ruang departemen manajemen keuangan tersebut.
“Selamat pagi semuanya.” ucap Yuan dengan senyum ramah dan penuh sopan santunnya. Bagaimanapun, walau dirinya adalah pewaris perusahaan, tapi saat ini ia hanyalah pria berusia awal dua puluhan yang masih perlu banyak bimbingan dan pengalaman.
“Perkenalkan nama saya Yuan, saya pekerja magang dari universitas City Central, semester tujuh akhir, jurusan manajemen bisnis. Mohon bimbingannya para senior semua.” ujar Yuan sembari membungkuk hormat kepada para staf departemen itu.
“Bukankah dia terlalu sopan? Sungguh membuatku merasa tidak nyaman.” bisik seorang pria kepada rekan kerja prianya.
“Sssttt...diamlah. Bagaimana kalau tuan muda Yuan mendengarnya? Kau bisa kena masalah nanti.” kata rekan kerjanya itu.
Yuan yang saat itu posisinya berada di depan meja kerja mereka, ia tentu mampu mendengar percakapan itu. Tapi Yuan bukanlah orang yang suka menggunakan latar belakang untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, Yuan hanya bisa tersenyum sembari menghembuskan nafasnya.
Tenang Yuan, hal seperti ini, sudah sering terjadi dalam hidupmu. Hah, Lahir dengan latar belakang yang kuat tidak selamanya menjadikanku baik-baik saja. Sudah menjadi takdir bagiku untuk di berlakukan seperti orang bodoh. Mereka tersenyum sopan dan takut di depanku. Tapi di belakang mereka mencibir dengan ketakutan yang berselimut hinaan.
Tidak apa-apa Yuan, mari buktikan kemampuanku pada mereka, bukan hanya mereka, tapi seluruh penjuru negeri. Aku akan membuktikan kalau aku bisa sukses karena kemampuanku, bukan karena latar belakangku.
“Oh, tuan muda Yuan.” sapa seorang pria berusia paruh baya yang tampak baru saja keluar dari dalam ruangan khususnya.
“Perkenalkan, saya Morris, direktur departemen manajemen keuangan ini.” katanya sembari mengulurkan tangannya ke arah Yuan.
Yuan tersenyum, lalu membalas uluran tangan tersebut sembari sedikit membungkukkan badannya hormat.
“Suatu kehormatan bagi saya bisa di sambut langsung oleh direktur Morris. Kedepannya saya mohon bimbingan dari pak direktur.” kata Yuan.
“Anda tidak perlu sungkan, tuan muda Yuan. Saya pasti akan membantu anda selama anda menjadi pegawai magang di departemen ini.” ujar direktur Morris.
“Terimakasih. Tapi, bisakah anda memperlakukan saya seperti staf lainnya, akan lebih baik lagi perlakuan saya seperti seorang pegawai magang. Mohon kepada direktur Morris untuk tidak bersikap hormat hanya karena latar belakang saya. Karena saat ini, saya berada disini sebagai Yuan, seorang pegawai magang, bukan sebagai Yuan Mauli Gavin, anak dari ketua Ray.” kata Yuan.
“Ah itu— baik, baiklah. Yu—yuan. Sepertinya agak sedikit sulit membiasakannya tapi saya akan berusaha.” ucap direktur Morris.
“Kalau begitu, Yuan, kau bisa duduk di tempatmu. Selamat datang dan selamat bekerja. Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja pada staf lainnya atau kau bisa tanyakan saja langsung pada saya. Ruangan saya selalu terbuka lebar untukmu.” sambungnya.
“Dimengerti direktur. Terimakasih.” ucap Yuan.
Setelah itu, direktur Morris pun berlalu dari hadapan Yuan dan kembali masuk ke dalam ruangannya.
“Tuan muda Yuan, silahkan duduk disana, itu tempat duduk anda. Ah sebelumnya, perkenalkan nama saya Jena, saya manajer departemen ini.” kata wanita paruh baya itu.
“Suatu kehormatan bagi saya bisa di sambut oleh manajer Jena. Eng, itu bisakah manajer Jena juga memanggil saya layaknya sebagai bawahan? Saya hanya pegawai magang disini. Tidak sepantasnya dipanggil dengan panggilan hormat seperti itu.” ujar Yuan.
__ADS_1
“Untuk staf lainnya, saya juga berharap seperti itu pada kalian semua. Kalian ini bagaimanapun juga adalah senior saya. Jadi mohon perlakuan saya layaknya seorang junior yang sesungguhnya. Kalau saya ada kesalahan, saya sangat berharap agar kalian tidak sungkan untuk menegur atau bahkan memarahi saya.” sambungnya.
“Anak dari ketua Ray memang berbeda. Anda— eh maksudnya Yuan memang layak di sebut sebagai pewaris tunggal.” puji manajer Jena.
Yuan tersenyum, mendapatkan pujian dari orang-orang yang mengenal dirinya melalui sudut pandang sang ayah adalah hal biasa baginya. Karena itu, ia hanya mengeluarkan senyuman sebagai ungkapan terimakasih.
“Saat ini saya belum layak di puji seperti itu manajer. Lagipula, seseorang dapat dikatakan layak sebagai pemimpin ketika dirinya telah memiliki lima puluh persen sikap dan sifat bijak, lalu lima puluh persen jika kemampuannya dapat di akui. Karena itu, saya saat ini hanya biji yang baru saja akan bertunas. Belum ada apa-apanya dengan kalian semua yang sudah lebih dulu merasakan pedas dan pahitnya dunia kerja.” kata Yuan.
“Itu, saya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Perkataan tuan— maksud saya, perkataan mu memang benar.” ucap manajer Jena.
Yuan kembali menampilkan senyum sopan-nya. “Kalau begitu, kedepannya, saya mohon bimbingan dari manajer Jena dan para senior semua.” ujar Yuan yang kembali memberikan hormatnya pada semua orang.
•••
“Rose, siang ini kita akan pergi ke perusahaan konveksi di bagian timur ibu kota. Kau tolong persiapkan berkas yang diperlukan untuk wawancara, kita kesana untuk menemui saksi tambahan dari rekan kerja klien kita.” ujar Samuel.
Rose yang tadinya sedang fokus mengetik pada keyboard laptopnya, ia pun mengalihkan fokusnya kepada seniornya itu.
“Siang ini?” tanya Rose, memastikan kalau ia tidak salah mendengar.
“Iya. Kenapa? Kau tidak bisa karena ingin makan siang bersama teman spesialmu?! Kau harus tahu Rose, dalam keadaan seperti ini, pekerjaan kadang lebih penting daripada makan siang.” ujar Samuel.
“Klien kita ini adalah seorang pekerja imigran dari bagian timur negara kita, dia ingin balas menuntut perusahaan tempatnya bekerja. Karena disini dia adalah seorang imigran baru, dirinya tentu tidak memiliki dukungan dan bantuan, karena itu kita sebagai orang yang ia percayai harus sebisa mungkin membantunya. Kecuali kalau kau adalah tipe orang yang suka mematahkan kepercayaan orang lain terhadap dirimu sendiri.” katanya lagi.
“Menjadi seseorang yang paham tentang hukum, bukan untuk menjadikanmu orang yang besar kepala ataupun sombong. Tapi untuk menjadikanmu orang yang mampu membela orang lain, tidak peduli seperti apa latar belakangnya, selama dia benar, kau harus membelanya. Itulah sosok pengacara bagiku.” sambungnya.
“Jadi cepat persiapkan berkasnya.” perintah Samuel.
“Baik senior.” ucap Rose.
“Tapi, senior.” ujar Rose, ia tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Samuel yang tampak sedang membaca lembar dokumen.
“Apa?” tanya samuel tanpa menolehkan kepalanya.
Samuel tampak tersenyum mendengarnya, sebuah senyum miris yang membuat Rose merasa kehilangan kepercayaan dirinya.
“Pertama, ini bukan pekerjaan sukarela. Tapi tugas sebagai seorang pengacara yang akan membela kliennya. Kedua, kau harus ingat poin pertama kalau dia itu seorang imigran, jadi kalaupun dirinya mengadu pada kepolisian, prosesnya akan sangat lama atau malah hanya akan menjadi kasus sepele yang dingin.” ujar Samuel.
“Lalu, sidang besok itu— siapa yang dituntut dan siapa yang menuntut?” tanya Rose.
“Klien kita yang dituntut.” jawab Samuel.
“Tidak mungkin, bagaimana bisa? Dia yang di rugikan, tapi kenapa malah dia yang dituntut?”
“Dia dituntut atas kasus pencemaran nama baik, karena dia pernah melaporkan perusahaan ke pihal yang berkewajiban.” jawab Samuel.
“Apa? Bagaimana bisa seperti itu?! Ck, apa kejaksaan tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah? Kenapa mereka masih melanjutkan tuntutan dari perusahaan keparat itu?” ucap Rose.
“Rose, apa kau tahu persamaan menyedihkan menjadi seorang pengacara dan jaksa?” tanya Samuel.
Rose terdiam, ia ingin mencoba menjawab, karena itu dirinya tampak berusaha berpikir. Tapi selama apapun ia mencari jawabannya, ia tidak pernah terpikirkan hal menyedihkan menjadi seorang pengacara dan jaksa, yang Rose pikirkan adalah kalau mereka sama-sama luar biasa dengan tanggungjawab dan tugasnya masing-masing.
“Kau tidak tahu?” tanya Samuel, ia kemudian meletakkan dokumennya, lalu menatap ke arah Rose yang tampak menggelengkan kepalanya.
Sejenak Samuel menghela nafasnya, kemudian melonggarkan dasinya yang seolah terasa menyesakkan pernapasannya.
“Keduanya sama-sama tidak bisa melawan tugas mereka.” ucap Samuel.
“Maksud senior?” tanya Rose.
“Menjadi pengacara itu artinya kau adalah pihak pembela dalam sebuah sidang, disana kau bertugas membela klienmu. Dan menjadi seorang jaksa itu artinya kau adalah pihak yang menuntut dalam sebuah persidangan, disana kau bertugas menjadi jaksa penuntut.” ujar Samuel.
“Aku tahu tentang itu, tapi bagian mananya yang terlihat menyedihkan?” tanya Rose.
“Ketika kau tahu seseorang salah, tapi kau tidak bisa berbuat apa-apa.” ucap Samuel.
__ADS_1
“Itu— ”
“Ya, tapi setidaknya menjadi seorang pengacara, kita masih bisa memilih, ingin menjadi seorang pembela yang benar atau yang tidak benar.” ujar Samuel.
“Sepertinya aku terlalu banyak bicara padamu. Entah otakmu itu menerimanya atau tidak, tapi setidaknya kau terlihat seperti mendengarkannya, itu cukup bagus.” katanya.
“Senior tenang saja, saya pastikan akan mengingatnya dengan baik.” ujar Rose.
“Aku tidak peduli, itu terserah padamu. Sekarang kau bersiaplah, kita akan pergi ke bagian timur ibu kota.” kata Samuel sembari melihat arlojinya yang tampak bermerek ternama itu.
“Kita harus bergerak cepat untuk menghemat waktu. Jadi nanti kita pulang tidak akan terlalu malam.” ujar Samuel.
“Aku akan menunggumu di depan lobby utama. Cepat susun dan bawa berkas yang diperlukan. Jangan sampai ada yang tertinggal, aku sungguh tidak akan mentoleransimu jika itu terjadi.” kata Samuel, setelah itu ia meraih jaketnya dan pergi dengan membawa serta kunci mobilnya.
Melihat seniornya itu telah pergi dari ruangan, Rose terlihat menghembuskan nafasnya, lega.
“Dia terkadang terlihat bijaksana. Tapi juga sangat tegas dan penuh perhitungan. Benar-benar sulit di prediksi.” ucap Rose sembari memilah dan menyusun dokumen yang akan ia bawa.
Di saat Rose tengah di sibukkan dengan berkas yang akan dibawanya, ponsel gadis itu tampak mengeluarkan suara, sebuah notifikasi panggilan masuk tertera di layar ponsel miliknya.
Ketika Rose melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu adalah nama seorang pria terkasihnya. Ia pun segera meletakkan berkas yang akan di bawanya dan langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo Yuan” ucap Rose.
“Rose, apa kau sudah istirahat makan siang?” tanya Yuan dari seberang sana.
“Eng, itu— ”
“Benar dugaanku, kau pasti belum makan siang karena menungguku ya? Maaf.” ucap Yuan.
“Ah tidak. Jangan meminta maaf. Sebenarnya— ”
“Yuan, tolong antarkan dokumen ini ke ruangan direktur Morris untuk ditandatangani.” kata sebuah suara yang berasal dari sisi Yuan.
“Baik.” jawab Yuan sembari sedikit menjauhkan ponselnya yang masih terhubung dengan Rose.
“Sepertinya kau sangat sibuk.” ucap Rose yang tidak sengaja mendengar perkataan orang itu dari ponselnya.
“Ya, begitulah. Aku sebenarnya menelponmu karena ingin meminta maaf, aku sepertinya tidak bisa makan siang di luar bersamamu. Maaf.” kata Yuan.
“Tidak masalah. Aku juga sebenarnya tidak bisa makan siang di luar bersamamu. Aku bersyukur kau ternyata juga tidak bisa, jadi aku tidak akan merasa telah mengecewakanmu.” ujar Rose.
“Kau pasti juga sangat sibuk ya? Tapi Rose, sesibuk apapun, kau harus ingat perutmu ya, jangan sampai membiarkannya kosong tidak terisi, nanti kalau perutmu marah, kau yang akan rugi.” kata Yuan dengan candaannya.
Mendengar nasihat dari Yuan itu, Rose kembali teringat dengan perkataan seniornya, yang berkata kalau terkadang pekerjaan lebih penting daripada makan siang.
Sungguh bertolak belakang, sedingin-dinginnya Yuan pada orang lain, tapi sebenarnya dia memiliki sisi yang lembut dan penuh pengertian. Apakah senior Sam juga ada sisi seperti itu. Ck, aku rasa tidak. Dia itu hanya pandai menasihati melalui sudut pandang asumsinya. — batin Rose.
“Rose? Apa kau masih ada disana? Jika kau sangat sibuk, matikan saja, aku juga harus segera pergi ke ruangan direktur.” kata Yuan yang cukup lama tidak mendapatkan respon dari sang kekasih.
“Ah maaf, iya, aku memang sangat sibuk saat ini.” jawab Rose.
“Iya tidak masalah, kita sama-sama sedang sibuk. Kalau begitu sampai jumpa nanti pulang kerja. Ah iya, aku akan menjemputmu, nanti beritahu aku kalau kau sudah pulang.” ujar Yuan.
“Tapi Yuan, sepertinya kau tidak perlu menjemputku, karena aku akan pergi bersama seniorku untuk mewawancarai rekan kerja klien kami. Aku akan pergi ke bagian timur ibu kota. Jadi mungkin pulangnya agak malam.” kata Rose.
“Begitu ya. Ya sudah, mau bagaimana lagi, ternyata kita benar-benar sulit untuk bertemu, hanya bisa bertemu di waktu pagi. Ah, kalau begitu sampai jumpa, aku akan tutup panggilannya.” ucap Yuan, lalu kemudian sambungan pun terputus.
Setelah panggilan itu terputus, Rose terlihat menatap layar ponselnya sekilas.
“Aku pikir dia akan posesif seperti biasanya, padahal aku sudah memikirkan banyak kata-kata untuk menjelaskan padanya kalau saja dia bertanya tentang senior. Dia kan biasanya paling tidak suka jika aku terlalu dekat dengan pria lajang lain. Tapi hari ini— ah mungkin karena dia terlalu sibuk makanya tidak begitu peduli dengan siapa aku akan pergi. Ck, lagipula bukankah bagus kalau Yuan tidak terlalu posesif lagi.” kata Rose sembari mulai meraih dokumen dan membawanya pergi dari ruangan tersebut.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1