The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Bertemu Keluarga (bagian satu)


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih banyak💕 untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


“Presdir Yuan,” sapanya, membungkuk hormat pada pria itu.


“Saya Adinata, kepala sekolah di sini. Tadi saya mendengar kalau anda datang ke sekolah ini. Jadi saya langsung datang kemari untuk menemui anda,” ujarnya, penuh kehati-hatian.


“Kalau saya boleh tahu, ada perlu apa anda datang kemari? Mari, saya akan antar anda ke ruangan saya, saya akan menjamu anda dengan baik di sana. Di sini sedikit ada keributan, tapi tidak lama lagi akan terselesaikan,” lanjut pria yang mengaku kalau dirinya adalah si kepala sekolah.


Yuan yang sedari tadi diam menatap kedua anaknya, ia kini beralih menatap kepala sekolah itu.


“Akan segera terselesaikan katamu?” tanya Yuan.


Kepala sekolah itu mengangguk, “Iya, guru bimbingan konseling yang akan mengurusnya. Jadi, anda tidak perlu khawatir tentang keributan yang terjadi di sekolah ini,” jawabnya.


Yuan mengangguk, lalu pria itu menatap ke arah para guru yang berdiri tak jauh darinya.


“Siapa guru bimbingan konselingnya?” tanya Yuan.


“Saya, saya Presdir Yuan,” jawab seorang pria paruh baya, ia maju satu langkah dari posisi sebelumnya.


“Apa kau sudah mengambil kesimpulan?” Yuan kembali mengajukan pertanyaannya, membuat semua orang yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan Yuan dan dua kakak-beradik kembar itu, mereka mengira kalau Yuan hanya sedang melakukan evaluasi pada sekolahan yang berada dalam naungan Tnp Group itu.


Ya, perusahaan Tnp Group merupakan investor utama dari sekolah swasta berskala internasional tersebut.


“Sudah, Presdir,” jawabnya.


“Lalu, apa kesimpulannya? Jadi, siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang salah dan yang harus disalahkan? Dan siapa yang harus di hukum dan meminta maaf?” tanya Yuan beruntun.


Guru BK itu terlihat bingung. Dari segi kolusi, maka tentu saja ia akan membela Eric, karena keluarga mereka adalah salah satu investor besar sekolah dasar itu. Dan jika di lihat dari segi keadilan, maka guru BK itu akan menyuruh Eric meminta maaf pada Yuna. Lalu, Yusen meminta maaf pada Eric, lalu keduanya berdamai dan saling memaafkan.


“Itu— ”


“Tentu saja dua anak haram ini yang salah. Mereka sudah membuat wajah anak saya babak belur seperti ini,” sela wanita dengan gaya gotic itu.


“Ngomong-ngomong, Presdir Yuan. Saya adalah istri dari direktur utama perusahaan Jeany. Suami saya banyak bercerita tentang anda pada saat pertemuan kalian beberapa waktu yang lalu,” imbuh wanita itu. Mulai berusaha menggunakan koneksi untuk menentang keadilan.


Yuan diam, ia menatap Rose yang tampak kesal dengan wanita itu. Kemudian, pria itu beralih menatap dua anaknya yang masih diam di tempatnya.


Melihat keadaan Yunara, ingin sekali Yuan merengkuh tubuh putrinya itu. Apalagi wajah Yuna yang masih memerah karena tamparan keras Eric membuat hati Yuan merasa geram.


“Ah, anda istri direktur utama perusahaan Jeany ya,” ucap Yuan yang langsung di balas dengan anggukan oleh wanita itu.


Yuan tersenyum tipis, ia kemudian menarik lengan Rose, mendekatkan tubuh wanita itu dengan dirinya. Tindakan Yuan spontan membuat semua orang membelalakkan matanya, kecuali Yusen dan Yuna.


“Kalau begitu, biar saya perkenalkan istri saya. Rosela, dia istri saya. Dan dua anak kembar yang kau sebut anak haram itu, mereka adalah anak kandung saya,” kata Yuan dengan senyum manis yang menusuk.


Senyum Yuan itu seperti senyum yang terpahat di wajah boneka Annabelle, sebuah senyum menyeramkan.


“Tidak mungkin, anda pasti hanya sedang berusaha membantunya saja kan, iya kan Presdir Yuan?” tanya wanita itu, mewakili pertanyaan yang tersimpan di dalam hati semua orang.

__ADS_1


Yuan lagi-lagi tersenyum. Tapi sebuah senyum yang berbeda. Senyumannya kali ini lebih kalem dan ramah


“Banyak hal yang terjadi. Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian yang bukan siapa-siapa bagiku. Intinya, mereka adalah istri dan anak-anakku. Kalau kalian tidak percaya, tunggu saja kabar pesta perayaan pernikahan kami yang tidak lama lagi akan diselenggarakan,” tutur Yuan, kalem.


“Benarkan, Sayang?” lanjutnya sembari menatap ke arah Rose yang tampak bingung harus menjawab apa.


“Itu, Presdir Yuan dan Nyonya Rose, maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya selaku guru BK sudah mendengar penjelasan dari salah satu guru yang menjadi saksi pertengkaran mereka. Jadi, di sini yang salah adalah Eric, anak ini lebih dulu menampar Yuna karena— ”


“Sudah cukup, tidak perlu kau lanjutkan,” sergah Yuan, ia tidak ingin tersulut emosi yang bisa saja membuatnya marah pada orang yang sudah menampar wajah berharga putrinya.


“Kepala sekolah Adinata, saya harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Hanya karena seseorang memiliki latar belakang yang bagus, bukan berarti pula ia harus diperlakukan secara khusus dan berbeda. Sikap diskriminasi seperti itu bisa mencoreng nama baik sekolah ini,” jelas Yuan.


“Dan untuk anak yang di pukul oleh Yusen. Saya selaku ayah Yusen, mewakilinya untuk meminta maaf. Pesan saya, jangan menampar orang lain sembarangan, apalagi seorang gadis kecil tidak bersalah,” lanjutnya.


“Saya bisa saja membawa masalah ini ke ranah hukum. Apalagi istri saya seorang pengacara. Tapi saya pikir, kedua anak saya dan juga istri saya tidak menyukai konflik yang berkepanjangan. Karena itu, jika istri dari direktur utama perusahaan Jeany berkenan, saya mengusulkan untuk berdamai secara kekeluargaan,” sambung Yuan.


Wanita yang mengaku istri dari direktur utama perusahaan Jeany itu tampak diam. Ia yang tadinya berlagak seperti seekor raja singa, kini nyalinya menciut, wanita itu entah bagaimana berubah menjadi seekor domba hitam yang terjepit.


Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Kalaupun dia berusaha melawan, yang terjadi adalah perusahaan suaminya kemungkinan setelah itu akan bangkrut. Karena Yuan sudah pasti akan membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan tersebut.


“Tentu, tentu saja akan lebih baik bagi kita untuk saling memaafkan dan berdamai,” ujar wanita itu setelah diam untuk sekian lamanya.


Yuan tersenyum, “Kalau begitu, tidakkah kau ingin menyuruh anakmu untuk meminta maaf pada putri ku? Dan juga— apa kau sendiri tidak ingin meminta maaf pada anak-anakku karena telah menyebut mereka anak haram?” tutur Yuan, ucapannya terdengar ramah, tapi sebenarnya berisi ancaman


“Itu, itu, saya, saya minta maaf karena telah melukai hati anak-anak anda, Presdir Yuan,” kata wanita itu.


Setelah itu, ia terlihat menatap putranya, menyuruh pria berusia sebelas tahun itu untuk meminta maaf pada Yuna.


Dengan terpaksa dan berat hati. Eric berjalan mendekati Yuna, ia mengulurkan tangannya, berniat meminta maaf pada gadis kecil itu.


Yuna pun dengan ragu-ragu menerima uluran tangan yang beberapa jam lalu menampar wajahnya. Rasa takut sebenarnya masih menjalar di hatinya.


“Maaf, Yuna. Maaf karena sudah menamparmu, aku menyesal,” ucapnya.


Yuna mengangguk, lalu menarik tangannya dengan cepat.


“Anak saya sudah meminta maaf, Presdir Yuan. Apakah dengan begini, anda bisa memaafkan keluarga saya?” tanya wanita itu.


Yuan menghembuskan napasnya. Ia menatap Yuna yang masih diam membisu.


“Apa kau khawatir tentang kerjasama perusahaan? Kau tidak perlu khawatir. Aku bukan orang yang suka mencampur adukkan sesuatu. Semua masalah ini tidak ada hubungannya dengan kerjasama Tnp Group dan Jeany,” jelas Yuan.


“Aku rasa semuanya sudah selesai. Kalau begitu, kami undur diri, selamat siang,” pamit Yuan.


Pria itu kemudian mendekati Yuna, ia mengusap kepala Yuna lembut. Lalu menggendong tubuh gadis kecil itu.


“Yusen, ayo kita pulang,” ajak Yuan.


Yusen mengangguk, ia pun turun dari kursinya. Lalu menggenggam tangan ibunya yang terulur ke arahnya.


Lalu kemudian, mereka berempat keluar dari ruang bimbingan konseling itu, menyisakan rasa keterkejutan yang masih menyeruak di hati semua orang.


•••


Sesampainya di mobilnya. Yuan menurunkan putrinya itu pada kursi penumpang, ia mengusap lembut wajah Yuna yang masih memerah.


“Kau baik-baik saja?” tanya Yuan, putrinya itu mengangguk, “Pasti sakit ya?” tanya Yuan lagi. Kali ini Yuna hanya diam, ia tidak mampu menjawab.

__ADS_1


“Setelah ini, tidak akan ada yang berani mengganggu kalian, Papa janji” ujar Yuan sembari mengecup lembut kening putrinya itu.


“Baiklah, mari lupakan apa yang sudah terjadi. Sekarang Yuna katakan pada Papa, kemana Yuna ingin pergi?” tanya Yuan, mengalihkan topik pembicaraan, agar putri kecilnya itu kembali ceria dan bersemangat lagi.


Yuna menoleh ke arah Yusen yang ada disampingnya, seperti meminta pendapat kepada adik kembarnya itu.


Yusen pun tersenyum tipis ke arahnya. Lalu, pria kecil itu terlihat menganggukkan kepalanya.


“Aku ingin pergi ke toko mainan yang waktu itu,” ujar Yunara kemudian.


“Toy store Tnp Group?” tanya Yuan.


Yuna mengangguk, “Em, iya, aku ingin boneka Grizzly bear nya,” ucap Yuna, terasa menggemaskan di telinga sang ayah.


“Boneka Grizzly bear ya. Baik, Papa akan menghubungi pihak toko agar menyiapkannya untukmu,” kata Yuan sembari mengusap wajah putrinya itu lagi.


“Bagaimana dengan mu, Yusen? Kau ingin mainan seperti apa?” tanya Yuan.


Yusen menggelengkan kepalanya, “Tidak ada,” jawabnya singkat.


“Yusen tidak terlalu suka bermain-main dengan mainan anak-anak, jadi wajar saja kalau dia berkata seperti itu,” kata Rose, ia tak ingin Yuan merasa kecewa dengan jawaban dari putranya itu.


Yuan mengangguk paham, “Aku mengerti,” ucap Yuan.


“Baiklah, ayo kita berangkat,” ujar Yuan, setelah itu ia menutup pintu mobil nya. Lalu berpindah menuju kursi kemudi. Yuan pun masuk ke dalamnya, ia duduk, menunggu Rose masuk ke dalam mobil juga.


Setelah Rose masuk dan memakai sabuk pengamannya. Yuan pun menyalakan mesin mobilnya. Lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan normal, keluar dari area sekolah dasar itu.


•••


Ana tersenyum tipis melihat pantulan dirinya pada cermin di hadapannya itu.


“Kau sudah siap?” tanya Ray.


“Kenapa lama sekali? Padahal kita hanya akan pergi ke toko mainan,” kata nya mengeluarkan protesnya.


Ana menoleh ke arah suaminya itu, lalu kemudian kembali fokus pada cermin di hadapannya.


“Bukankah setelah pergi ke toko mainan, kita akan pergi ke rumah Rose, menemui cucu kita? Tentu saja aku harus berdandan dan berpenampilan baik, agar mendapat kesan bagus dari cucu-cucuku,” ujar Ana.


“Ck, kau pikir ini ajang pencarian bakat? Siapa yang akan menilaimu dari penampilan? Lagipula, mereka itu hanya anak kecil, tidak paham dengan apa yang kau maksud barusan,” tutur Ray.


“Iya, iya, aku mengerti, ayo cepat kita berangkat,” ujar Ana sembari meraih tas branded milik nya.


Ray menghela napas pendek nya. Sejak kapan istrinya itu gila penampilan? Seingatnya, dulu Ana sangat masa bodoh dengan penampilan, wanita itu sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan orang lain nilai darinya.


Tapi sekarang, Ana bahkan rela berdiri berjam-jam di depan cermin untuk memperbaiki penampilannya dengan alasan agar dirinya elok di pandang oleh cucu-cucunya.


“Dasar wanita,” gumam Ray ketika istrinya itu sudah keluar dari dalam kamar mereka.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


NP : Bab ini belum sempat di edit. Jadi mohon di maklumi kalau ada beberapa kata yang typo/ acak-acakan. Terimakasih.


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme

__ADS_1


__ADS_2