The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Rahasia Ray


__ADS_3

Sebuah taksi biru berhenti di depan mansion dengan gaya khasnya.


Sarah keluar dari dalam taksi itu dan berjalan dengan kepala terangkat. Bukan sombong, tapi itu jati diri dia yang sebenarnya.


“Nona besar, anda sudah datang,” sapa seorang wanita paruh baya dengan baju pelayannya.


Ya, sarah seorang nona besar. Siapa yang menyangka itu, tidak ada. Karena dirinya yang sebenarnya hanyalah perempuan yang lahir dari keluarga biasa.


Saudara kembarnya lah yang telah menjadikan dia seorang nona besar. Semua kemewahan ini adalah pencapaian dari kesuksesan saudara kembarnya.


“Dimana Tuan besar kalian?” tanya Sarah sembari melepaskan kacamata hitamnya.


“Tuan besar sudah menunggu anda di ruang tamu, Nona,” jawab pelayan itu dengan penuh rasa hormat.


Mendapatkan petunjuk arah. Tanpa menunggu lagi, Sarah melenggang masuk ke dalam mansion tersebut.


Saat kakinya menginjak karpet, pintu rumah itu terbuka, para pelayan pun menyambutnya dengan kehormatan yang luar biasa.


Sarah menghela napasnya, bukan hal yang asing baginya, karena dia sudah terbiasa di perlakukan hormat sejak dua belas tahun yang lalu.


Ya, dua belas tahun yang lalu, ketika sang saudara kembar berhasil meraih kesuksesan dalam bisnisnya. Sarah mendapatkan status kaum sosialitanya.


“Tiga bulan tidak bertemu, kau jadi seekor siput ya. Bahkan siput pun bisa lebih cepat darimu,” kata pria itu.


Saudara kembar Sarah, dia Sean. Mereka kembar tidak identik. Wajah mereka tidak sama, namun lahir dari rahim, jam, hari, tanggal, dan tahun yang sama. Perbedaan mereka hanya pada menit kelahiran. Si pria lebih dulu lahir dari pada si wanita.


Sarah mendesis, ia berjalan menghampiri kakak beda lima belas menitnya itu, lalu duduk di sampingnya tanpa ragu.


“Tapi sikap tidak sopanmu masih saja tidak berubah,” komentarnya.


“Nona Sarah, anda ingin dibuatkan minuman apa?” tanya salah seorang pelayan mansion tersebut.


Sarah menoleh sejenak ke arahnya, lalu dengan senyum ramahnya ia menjawab, “Tidak perlu Bibi Eni. Lagipula saya tidak akan lama disini,”


“Ah baiklah, kalau begitu saya permisi,” ucapnya, kemudian pergi.


Sean mencebik dengan senyum khasnya, ia menatap keluarga satu-satunya itu dengan helaan napas penuh pengertian.


“Kau benar-benar tidak pernah betah berada di mansionku ini, mengecewakan,” ucap Sean.


“Sudah cukup basa-basinya. Aku tidak punya banyak waktu. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” ujar Sarah


Sean menyipitkan matanya, kemudian tertawa kecil.


“Aku ingat, beberapa menit lalu kau memanggilku saudara kembar manisku. Sekarang kemana perginya panggilan itu? Kau bahkan bersikap lebih tidak sopan dari biasanya. Ck, aku seharusnya mendidikmu dengan benar. Tapi herannya bagaimana bisa kau bekerja di perusahaan besar seperti Tnp group. Ya, untuk perihal itu aku kagum padamu, My Twins Sarah,”


“Cepatlah, Sean. Jangan membuang waktuku. Tanyakan saja, kau ingin bertanya apa padaku?” gemas Sarah yang sudah tidak sabar dengan kembarannya itu.


“Tidak ada yang ingin aku tanyakan padamu,” ucap Sean sembari menyesap kopi hitamnya. “Aku hanya ingin melihat adikku, itu saja,”


Sarah menoleh, menatap Sean yang tampak duduk dengan santai tanpa beban.


“Setelah bercerai dua kali, kau semakin menyebalkan,” kesal Sarah.


Mendengar aib-nya di sebut. Sean menoleh, menatap sang adik kembar. Biasanya ia akan marah kalau sudah di singgung tentang hal tersebut. Tapi ini adiknya, satu-satunya keluarga yang dia punya. Sean tidak bisa marah padanya. Tidak akan pernah bisa.


Pria itu hanya bisa menghela napasnya sembari membuang wajahnya ke sembarang tempat.


“Jangan mengatakannya lagi,” ucap Sean dengan nada rendah namun berisi peringatan.


“Kenapa? Kau malu? Di usiamu yang masih dua puluh enam tahun tapi sudah bercerai dua kali. Ck, Next time, sebelum menikah cari aku. Tanya padaku apakah calonmu itu pantas untukmu atau tidak. Jangan asal menikah saja. Akhirnya begini kan jadinya, bercerai dua kali, bahkan tidak ada yang bisa bertahan sampai satu tahun. Sangat di sayangkan,” kata Sarah sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


“Mungkin itu takdirku,” gumam Sean. “Memiliki segalanya, namun tidak dengan cinta sejati. Kau harus tahu, setiap orang pasti punya titik kekurangannya,”


•••


Tiga hari berlalu.


Rumah keluarga Gavin sepertinya kedatangan beberapa tamu. Mereka bukan tamu tak diundang, melainkan tamu kehormatan yang di undang khusus oleh Ray.


Dengan senyum merekahnya, Rue masuk ke dalam rumah itu. Ia berjalan beriringan dengan sang ibu.


“Dimana Nyonya Gavin?” tanya ibu Rue, Rin.


Ray tersenyum, sebelum menjawab, ia mempersilahkan para tamunya itu untuk duduk terlebih dahulu.


“Maaf karena harus membuat kalian kecewa. Istri saya sudah dua hari ini menginap di rumah keluarga Mauli,” ujar Ray, membuat alibi.


“Oh, benarkah? Apa ada masalah? Apa kalian bertengkar?” tanya ketua Barack.


Ray menggelengkan kepalanya sembari tersenyum ramah, “Tidak, tentu saja tidak. Ana datang berkunjung kesana karena ayahnya sedang dalam kondisi kesehatan yang kurang baik,” jawab Ray, kembali menuangkan kebohongannya.


“Paman Ray, maaf menyela. Kalau boleh tahu, dimana Kak Yuan? Kenapa Rue tidak melihatnya?” tanya gadis itu.


Ray kembali menyunggingkan senyumnya, “Sebentar lagi dia akan keluar dari kamarnya. Dia sedikit lelah karena pekerjaan. Jadi bangun sedikit lebih lama dari biasanya,” kata Ray.

__ADS_1


“Pasti sangat lelah mengurus perusahaan besar seperti Tnp group,” ucap Rue.


“Bukankah kau juga begitu, Rue. Kau juga sibuk mengurus perusahaan besar seperti Jhoneq. Apalagi dirimu ini seorang wanita. Sungguh membuatku kagum,” puji Ray.


Rue yang mendapatkan pujian itu, ia tersenyum malu-malu.


Di sela-sela obrolan mereka. Dari lantai atas terlihat sosok orang yang sudah di nantikan. Yuan berjalan menuruni tangga dengan ekspresi cold-nya. Aura dingin yang ia bawa pun menyeruak melingkupi ruang tamu.


“Dia sama sekali tidak berubah...,” gumam Rue tersenyum sumringah melihat Yuan yang sudah lama tidak di ditemuinya.


“Selamat malam, Ketua Barack dan Nyonya Rin, senang bisa bertemu anda kembali,” sapa Yuan.


“Kau tidak menyapa Rue?” tanya Ray, menyuruh putranya itu untuk menyapa anak dari ketua Barack.


“Selamat malam Presdir Rue,” sapanya, formal.


“Selamat malam, Kak Yuan. Tapi, bisakah Kak Yuan menyapaku tanpa menggunakan kata Presdir?” pinta Rue.


Yuan mengangguk setuju, “Baik,” ucapnya sembari tersenyum.


Melihat Yuan melemparkan senyum ke arahnya. Rue semakin melebarkan senyumannya. Hatinya melonjak bahagia. Ia senang, tentu saja. Ini seperti sebuah mimpi yang terkabulkan menjadi nyata.


“Kemari, Yuan. Duduklah,” suruh Ray.


Yuan pun mengikuti apa yang ayahnya perintahkan. Pria muda itu berjalan mendekat, lalu duduk pada salah satu sofa yang kosong, berhadapan dengan Rue.


“Sungguh di luar dugaan. Saya pikir, Yuan akan bersikap tak acuh pada kami karena menolak perjodohan ini,” ujar Ketua Barack.


“Maaf atas ketidaksopanan saya waktu itu,” ucap Yuan sembari menundukkan kepalanya, menyampaikan permintaan maafnya.


Ketua Barack tampak manggut-manggut, “Baguslah, kau akhirnya paham siapa yang lebih baik untuk menjadi istrimu. Saya senang kau sudah berhenti bermain dengan perempuan rendah itu,” katanya.


Yuan hanya menanggapinya dengan senyuman. Lalu ia menatap ayahnya sekilas. Sebuah senyum yang penuh dengan makna tersirat di dalamnya. Yuan pun kembali teringat dengan perbincangannya bersama sang ayah.


Dua hari yang lalu, Yuan menerobos masuk ke dalam ruangan Ray. Pria itu berniat menemui ayahnya. Tapi karena saat itu Ray masih dalam perjalanan pulang dari pulau pribadi Yuan. Ruangan itu pun kosong.


Yuan hanya bisa mendesah kesal karena kembali gagal mengajak ayahnya berdiskusi.


Pria itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan Ray. Tapi tiba-tiba, hasrat penasarannya pun menyelinap masuk mengetuk hatinya.


Yuan mendekati meja kerja sang ayah. Tanpa ragu, ia membuka setiap laci, mencari apa saja informasi yang bisa membantunya keluar atau setidaknya paham dengan situasi saat ini.


Beberapa menit berlalu, hampir satu jam Yuan mencari. Tapi dirinya tidak menemukan apapun.


“Sial,” umpatnya yang sudah putus asa.


“Apa yang kau lakukan di ruanganku?!” bentaknya, tidak suka. Apalagi melihat kondisi ruangannya yang kini terlihat berantakan.


“Dad...,”


“Kau!” Ray hampir saja menampar wajah itu, tapi ia urungkan ketika raut kerinduan Rose terhadap Yuan memasuki memorinya.


Pria paruh baya itu pun menurunkan tangannya yang sempat terayun. Kemudian menghela napasnya berat.


“Keluar dari ruangan Dad,” suruh Ray dengan nada lemasnya.


“Dad, apa yang sebenarnya Dad sembunyikan dariku?” tanya Yuan. Ia seolah bisa menangkap aura tersembunyi dari ayahnya itu.


“Keluar.” pinta Ray, masih dengan kesabarannya.


“Aku akan keluar, tapi setelah Dad menjelaskan tentang ini padaku.” ucap Yuan sembari menunjukkan sebuah map coklat bertali ke arah sang ayah.


Ray tampak terkejut. Namun kemudian ia menghembuskan napas beratnya seraya mengusap wajahnya kasar.


“Itu kasus empat tahun lalu, kasus proyek pembangunan wahana taman kota yang sempat bermasalah. Itu tidak ada hubungannya denganmu,” kata Ray, “Berikan padaku,” ucapnya lagi.


“Benarkah?”


“Apa?”


“Sungguh tidak ada hubungannya denganku? Dengan keluarga kita? Dengan Mom?” tanya Yuan.


Mendengar ibunya di sebut, Ray kembali di buat kaget. Ia bahkan sampai membelalakkan matanya untuk beberapa detik lamanya.


“Baiklah, anggap saja kau sudah melihat foto itu. Sekarang berikan pada Dad,”


“Foto?” tanya Yuan. Pria itu sebenarnya belum membuka isi map itu. Yuan hanya memancing ayahnya dengan kasus yang menurutnya sangat aneh karena sang ayah masih menyimpannya, padahal kasus itu sudah selesai dan di tutup.


Segera setelah mendapatkan petunjuk. Yuan langsung membuka map itu. Ray yang seolah sudah tertangkap basah. Ia tidak dapat lagi berbuat apa-apa, selain melihat sang anak mengorek rahasianya.


“Ini— ”


“Itu foto kecil Mommy-mu,”


“Dan perempuan di sampingnya ini?” tanya Yuan.

__ADS_1


“Dia sepupu Mommy-mu,” jawab Ray.


“Berarti dia bibi-ku?”


“Bisa di bilang begitu,”


“Lalu, dimana dia sekarang?” tanya Yuan lagi.


“Ada sesuatu terjadi di masa lalu. Dia menghilang setelah mendapatkan hukuman atas kejahatannya,” jawab Ray.


“Kalau begitu, kenapa Dad memasukkannya ke dalam map bersama kasus ini?”


“Karena itulah ka— tunggu, apa yang kau tanyakan?” Ray memotong jawabannya, ia hampir saja membongkar rahasia yang masih tersembunyi.


“Kenapa Daddy memasukkan foto Mommy dan sepupu Mommy ke dalam map berisi kasus lama ini?” tanya Yuan, mengulang kembali pertanyaannya.


“Dad hanya asal memasukkannya saja. Tidak ada hal khusus,” jawab Ray.


“Tidak, pasti ada hubungannya. Dad tadi hampir mengatakannya,”


“Yuan, berhenti menebak-nebak. Kau hanya terlalu banyak berpikir. Pergilah,” ujar Ray.


“Pasti sepupu Mommy ada kaitannya dengan perusahaan Jhoneq kan?”


“Tidak ada,” jawab Ray sembari mengalihkan pandangannya.


“Pasti ada. Katakan sejujurnya padaku. Kalau Dad mengatakannya, mungkin aku bisa bekerjasama dengan perjodohan itu.” kata Yuan.


Ray diam. Ia berpikir, apakah harus memberitahu Yuan atau tidak.


“Kalau Dad memberitahumu kebenarannya, kau mau bekerjasama dengan Dad dan menikah dengan Rue? Kau yakin? Itu akan melukai wanitamu,” ujar Ray.


“Akan lebih bagus kalau kau berpura-pura tidak tahu dan terpaksa, dari pada kau sukarela menikah dengannya. Hati perempuan itu pasti akan terluka,” sambungnya.


Yuan mengernyitkan keningnya, “Dad berkata seperti itu seolah baru saja menemui Rose,” selidik Yuan.


Ray kembali memalingkan wajahnya, menghindari tatapan penuh selidik dari sang anak.


“Katakan saja, kau ingin bersepakat dengan Dad atau tidak? Tapi semua keputusanmu memiliki resiko tinggi. High risk, high return. Dan yang paling menyedihkan, kau mungkin akan kehilangan wanitamu, ya, itu kalau dia tidak memiliki kepercayaan besar terhadapmu. Tapi Dad rasa, dia bukan perempuan seperti itu. Dia gadis dengan rasa sabar seluas lautan,” kata Ray.


Yuan tersenyum sinis, “Dad menemuinya 'kan?” tanya Yuan.


Alih-alih menjawab, Ray hanya manggut-manggut.


“Baiklah, mari bersepakat. Tapi sebelumnya, Dad harus menceritakan semuanya padaku. Semua, tanpa terkecuali,” ujar Yuan.


“Baik. Itu keputusanmu sendiri,” ucap Ray, kemudian ia berjalan ke arah sofa yang ada di ruangannya. “Duduklah,”


Yuan menurut, ia duduk di dekat sang ayah.


“Dia Angelina. Angelin, itu nama panggilannya. Perempuan itu sepupu Mommy-mu. Dad tidak bisa menjelaskannya secara detail. Intinya, Angelin suka dengan Dad, tapi Dad mencintai Mommy-mu. Angelin selalu iri dengan Mommy-mu,” kata Ray, ia menatap Yuan sekilas, lalu kembali menjelaskan.


“Sampai akhirnya rasa bencinya terhadap Mommy-mu semakin besar. Dia pernah mencelakai Mommy-mu saat kami masih kecil. Lalu saat berusia dewasa sepertimu, dia juga berniat mencelakai Mommy-mu lagi. Tapi kami berhasil menggagalkannya. Dia di tahan, setelah itu kami tidak tahu kabarnya,”


“Lalu, apa hubungannya dengan kasus itu?” tanya Yuan.


“Angelin punya seorang ayah, ayahnya adalah CEO perusahaan Ussa. Beberapa tahun yang lalu, Dad baru mengetahuinya, kalau ternyata perusahaan Jhoneq lah yang telah mengakuisisi perusahaan Ussa.” jawab Ray.


“Jadi maskdunya— ”


“Ya, perusahaan Ussa adalah perusahaan Jhoneq yang sekarang. Ketua Barack hanyalah sebuah boneka manekin yang di gerakkan oleh seseorang.” sela Ray.


“Bagaimana Daddy tahu?”


“Dari kasus empat tahun yang lalu. Dad dan sekertaris Chenli menyelidiki semuanya diam-diam dari koneksi Dad di masa lalu,”


“Koneksi masa lalu?”


“Dad enggan mengakui ini. Tapi dulu Dad pernah terjun di dunia mafia,”


“Apa?” Yuan tampak tidak percaya betapa kelamnya dunia sang ayah dulu.


“Kau tenang saja, Dad tidak lagi terjun ke dunia itu setelah menikah dengan Mommy-mu. Ya, terkadang Dad bertemu mereka, tapi hanya sebatas saat Dad perlu bantuan mereka. Dad meminta bantuan mereka dan mereka karena royalitasnya membantu Dad dengan senang hati.”


“Bantuan? Maksudnya membunuh orang atau semacamnya?”


“Kau pikir dunia mafia seperti itu? Ck, bodoh. Tentu saja berbeda dari apa yang kau bayangkan. Mereka memiliki banyak ahli di bidang teknologi, contohnya saja hacker profesional.” jawab Ray.


“Intinya. Saat ini Daddy sedang mencaritahu lebih dalam lagi tentang perusahaan Jhoneq. Siapa sebenarnya yang membuat perusahaan biasa itu berubah menjadi perusahaan raksasa yang bergerak di berbagai bidang?”


“Jadi aku menikah dengan Rue, maksudnya adalah— ”


“Ya, kau adalah umpannya. Umpan yang akan bergerak mencari pemangsanya. Apa kau cukup berani untuk itu?” tanya Ray.


“Daddy tidak memaksamu. Tapi ini semua demi kebaikan Mommy-mu, keluarga kita dan juga perusahaan Tnp group. Karena Dad yakin, semua ini dibawah kendali Angelin.” ucap Ray mengakhiri penjelasannya.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2