
Repost part yang kehapus. Maaf atas ketidaknyamanan kalian.
Sebelumnya, terimakasih banyak💕 untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Mobil SUV hitam terlihat berhenti di depan sebuah rumah dengan paduan warna pastel dan hitam.
Setelah mematikan mesin mobilnya. Yuan bergegas membukakan pintu untuk Rose, lalu dengan cepat ia beralih menuju pintu penumpang, tempat dimana Yuna menunggu pintu itu terbuka.
“Ayo keluar, kita sudah sampai,” ucap Yuan sembari mengulurkan tangannya.
Yuna pun meraih uluran tangan ayahnya itu tanpa ragu.
“Mau Papa gendong lagi?” tanya Yuan dengan nada menggodanya.
Yuna tersenyum mesem, “Papa...,” rengeknya malu.
Yuan terkekeh mendengarnya. Dirinya semakin tertawa gemas ketika gadis kecilnya itu tampak memukul dirinya manja.
“Mama, lihat Papa, dia menertawaiku,” adu-nya pada sang ibu.
Rose tersenyum. Lalu kemudian terlihat menatap Yuan tajam, seolah memarahi pria itu agar putrinya merasa senang.
“Iya, iya, Papa minta maaf,” ucap Yuan pada akhirnya dia harus mengalah.
Di sisi lain. Yusen terlihat diam bergeming, dia hanya sibuk memperhatikan setiap tawa yang menyelemuti keluarganya.
Pria kecil itu kemudian keluar setelah melakukan helaan napas untuk kesekian kalinya.
Yusen keluar dari dalam mobil tersebut. Setelah keluar, Yusen langsung berjalan menuju rumahnya.
Tepat di depan pintu rumahnya. Mata Yusen menangkap sosok pria yang sangat familiar di ingatannya.
“Paman Sean,” cicit Yusen, menghentikan langkah kakinya. Kemudian ia menoleh ke belakang, menatap orangtuanya berserta kakak kembarnya yang tampak berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
Yusen kembali menatap Sean. Paman yang pernah menjadi sosok pengganti ayah untuknya.
Pandangan pria berusia tiga puluh empat tahunan itu terlihat sedih. Matanya memancarkan binaran kaca bening yang tertahan.
Sean kemudian mengalihkan pandangannya ketika Rose dan keluarga kecilnya sampai di depan rumah tersebut.
“Sean...,” lirih Rose. Ada rasa senang sekaligus tanya yang tersirat dalam nadanya bicaranya itu.
“Tadi aku tidak sengaja melihat film kesukaan Yusen. Jadi aku mampir kesini untuk mengajaknya menonton bersama,” alibi Sean dengan cepat.
“Aaa... film kesukaan Yusen. Tapi, apa ya?” tanya Rose, dirinya pun tidak tahu film seperti apa yang Yusen sukai.
“Itu— ”
“Aku sudah membuat janji dengan Paman Sean kalau hari ini kami akan pergi menonton film action bersama,” sela Yusen.
Rose mengerutkan keningnya, “Membuat janji? Kalian saling berhubungan di belakangku?” tanya Rose.
“Yusen berhubungan dengan siapapun selama itu orang baik, bukankah Mama tidak melarangnya? Lagipula Paman Sean kan bukan orang asing untuk kita,” jawab Yusen.
Rose mengangguk paham, “Baiklah, kau boleh pergi dengan Pamanmu Sean. Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam dan juga jangan merepotkan Paman Sean mu. Kau mengerti?” pesan Rose.
Yusen mengangguk tanpa menjawabnya dengan kata-kata.
“Kalau begitu, ayo Yusen,” ajak Sean sembari meraih tangan pria kecil itu.
Yusen menurut ia pergi bersama Sean setelah berpamitan dengan ibunya.
“Sean, tolong jaga Yusen ya. Maaf merepotkanmu, terimakasih,” seru Rose ketika pria bernama Sean itu hendak masuk ke dalam mobilnya.
Sean pun menoleh, ia menatap perempuan itu dengan anggukan kepala di sertai senyum tipisnya.
“Dia yang bernama Sean?” tanya Yuan setelah memilih diam untuk meredam gejolak di dalam hatinya.
Rose menoleh pada pria di sampingnya. Lalu kemudian menganggukkan kepalanya.
“Em, dia Sean,” jawab Rose.
“Yusen terlihat dekat dengannya,” ujar Yuan, sejujurnya ia merasa iri. Sean bisa dengan mudah mengajak putranya pergi. Sedangkan dirinya, Yusen selalu terlihat kurang nyaman ketika berdekatan dengannya.
“Sejak kecil Yusen banyak menghabiskan waktu bersamanya. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu. Hampir sekitar tiga tahunan mereka tidak bertemu. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata Yusen diam-diam menghubungi Paman-nya itu,” jelas Rose.
“Ah, ayo masuk. Lihat Yuna, dia sepertinya kelelahan,” ucap Rose sembari menunjuk putrinya yang tampak menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.
Gadis kecil itu sudah setengah sadar, ia benar-benar mengantuk karena terlalu lelah setelah menjalani ujian sekolah dan di tambah masalah yang tadi terjadi.
Yuan mengangguk, pria itu kemudian mengikuti Rose yang lebih dulu berjalan di depannya.
Rose membuka kunci pintu rumahnya. Lalu setelah itu, ia membuka lebar pintu tersebut, mempersilahkan Yuan yang sedang menggendong Yuna untuk masuk lebih dulu.
Setelah pria beserta putrinya itu masuk. Rose pun ikut masuk sembari menutup pintu rumahnya kembali.
•••
Sepanjang perjalanan. Yusen ataupun Sean tidak ada yang berbicara. Keduanya di sibukkan oleh pikiran mereka masing.
Yusen menatap lurus ke depan, pikirannya memang tidak serunyam milik Sean si pria dewasa. Tapi kebingungan yang melanda dirinya membuat Yusen merasa lemas dan lesu secara bersamaan.
“Paman,” panggil Yusen. Akhirnya ada yang bersuara.
__ADS_1
Sean menoleh sekilas pada pria kecil itu. Lalu kembali fokus pada kemudinya. Sejenak pria itu diam, tapi kemudian ia berkata, “Kenapa kau berbohong pada Mama-mu?” tanya Sean.
“Bukankah Paman Sean juga melakukannya?” Yusen balik bertanya.
“Paman tahu kalau aku tidak pernah suka menonton film genre apapun. Tapi tiba-tiba Paman datang ke rumahku dengan membawa alasan aneh itu,” imbuh Yusen.
Sean menghela napasnya. Pria kecil disampingnya itu memang lebih cerdas dari usianya. Setiap kali berbincang dengan Yusen, Sean selalu merasa kalau dirinya sedang berbincang dengan seorang teman.
“Yusen, sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku lupa sesuatu. Kau itu sangat menjengkelkan,” ujar Sean berupa gurauan garingnya.
Yusen mengalihkan perhatian pada kaca jendela di sisi kirinya. Pria kecil itu menatap jajaran gedung dan ruko yang berdiri teguh di pinggir jalan raya ibu kota.
“Paman, disaat-saat seperti ini, andai aku seorang pria dewasa. Paman akan membawaku pergi kemana?” tanya Yusen tanpa mengalihkan pandangannya.
Sean tersenyum tipis, pria kecil ini, batinnya.
“Club atau bar atau sejenisnya,” jawab Sean dengan ulasan senyum bercandanya.
Yusen terkekeh, “Bagaimana kalau kita pergi ke taman kota?” tawar Yusen.
“Kau ingin pergi kesana?” tanya Sean kemudian.
Yusen menghela napasnya, sebelum kemudian menganggukkan kepala sembari menatap pria disampingnya itu, “Em, iya,” jawab Yusen.
“Tapi bukankah kita ijin untuk pergi menonton bersama? Kalau kita pergi ke tempat lain, artinya kita sudah dua kali membohongi wanita itu,” tutur Sean dengan gaya percakapannya ala pria dewasa.
“Kata siapa kita membohongi wanita itu? Kita kan memang sedang pergi menonton. Menonton pemandangan yang ada di taman kota,” jawab Yusen menawarkan alibinya.
“Ck, kau yang memulainya. Jangan salahkan Paman kalau kita ketahuan berbohong,” kata Sean.
“Paman tidak perlu khawatir. Otakku lebih cerdas untuk membuat alasan yang lebih masuk akal daripada alasan yang tadi paman buat,” balas Yusen.
“Kau sedang mengejekku?” sungut Sean, pura-pura kesal.
Lalu keduanya tertawa kecil.
Mereka memang sudah akrab sejak dulu. Walaupun keduanya tidak pernah bertemu selama tiga tahun lamanya. Tapi sosok Sean begitu melekat dihati Yusen. Karenanya, tidak ada kecanggungan di antara mereka.
Apalagi pria itu pernah mengambil peran pengganti sebagai sosok ayah untuk Yusen.
Sean lah yang membantu dirinya melalui semua kesepian karena tidak memiliki seorang ayah. Pria itu pula lah yang mengisi dan mengusir kekosongan yang menimpa hati Yusen.
Tapi bagaimanapun juga. Yusen tetap tidak bisa memberikan Sean predikat sebagai sosok ayah untuknya. Bukan karena Yusen tak mau. Melainkan karena ibunya yang tidak memiliki ruang untuk Sean singgahi.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1
Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai.