
Haruskah aku berpaling darimu dan pergi meninggalkan semua cerita yang telah lama kita rajut? Yuan~
Mata bening itu tertutup sejenak, membuat buliran air terlihat jatuh bebas dari sana.
Sebelum ada orang yang mengetahui kemalangannya, Rose melangkah pergi, menjauh dari kerumunan para sosialita tinggi.
Di sisi lain, Ana menghembuskan nafas beratnya, mendengar perdebatan suami dan anaknya yang tiada habis. Wanita paruh baya itu tidak ada minat sama sekali untuk ikut beradu argumen, ia sendiri sudah terlalu pusing dengan semua yang terjadi.
Lalu kemudian, ia menoleh, mengalihkan pandangannya dari sang suami dan anak, tepat saat itu juga, Ana melihat Rose yang tampak mengangkat royal dressnya sembari berlari kecil layaknya seorang cinderella yang kehabisan waktu karena melewati jam dua belas malam.
“Yuan.” panggil Ana sembari menepuk bahu Yuan tanpa menolehkan pandangannya dari Rose yang semakin menjauh dari jangkauan pandangannya.
“Yuan, kejar Rose. Dia pergi.” ucapnya lagi.
Mendengar itu, Yuan langsung menolehkan kepalanya, melihat ke arah dimana Rose tadinya berdiri. Gadis itu sudah tidak ada lagi disana.
Lalu, pandangannya beralih ke arah pintu keluar gedung, disana Rose berada, berlari kecil dengan susah payah karena gaunnya.
“Rose!” teriak Yuan.
Tidak peduli, itulah yang merasuki hatinya saat ini. Banyak pasang mata yang kini beralih fokus lagi padanya. Semua orang bertanya-tanya, nama siapa yang telah keluar dari bibir menawan itu.
Ketika namanya dipanggil, Rose pun membalikkan badannya. Yuan telah turun dari atas panggung, berjalan cepat ke arahnya.
Langkah kaki itu untuk beberapa saat terasa sangat slow motion, tapi kemudian, sebuah rengkuhan hangat dari Yuan menyadarkan Rose kalau pria itu sudah berada di sisinya.
“Apa kau berniat pergi tanpa mau mendengarkan sepatah katapun dariku?” tanya Yuan. Masih dengan posisi merengkuh tubuh gadis itu. “Jangan bilang kau percaya dengan omong kosong yang dadku katakan?” ucap Yuan sembari melepaskan pelukannya. Lalu menatap Rose yang terdiam tanpa suara.
Membisu adalah hal yang paling mudah di lakukan. Ketika tidak ada lagi kata yang mampu di ucapkan. Ketika otak dan pikiran terasa kosong. Rose hanya bisa diam, bukan karena marah ataupun kecewa. Tapi karena ia merasa sesuatu telah menghalangi suaranya.
Gigitan pada bibir bawahnya memberitahu Yuan kalau dirinya sedang gugup sekaligus takut.
Yuan pun menoleh kebelakang, mengikuti arah pandang Rose. Pada titik tumpuan pandangan gadis itu, ia melihat ayahnya yang sudah turun dari atas panggung diikuti oleh ibunya yang tampak berusaha menghalangi langkah kaki Ray.
“Aku harus pergi.” ucap Rose, nadanya sangat lirih, mirip seperti bisikan lembut penuh kegusaran.
Yuan kembali beralih pandang pada kekasihnya itu, menatapnya lekat, binaran rasa frustasinya tampak begitu jelas tertoreh di mata hitam legamnya.
__ADS_1
“Apa kau takut?” tanya Yuan. Dibalas gelengan kepala oleh Rose, “Aku hanya khawatir. Hatiku sangat cemas.” ungkapnya.
Helaan nafas Yuan terdengar, pria itu lantas meraih jari-jemari Rose, mengaitkan jari-jarinya diantara jari-jari tangan gadis itu. Menggenggamnya dengan erat, menyalurkan rasa hangat pada Rose, memupuk kepercayaan diri Rose yang perlahan tumbuh kembali.
“Jangan khawatir ataupun cemas. Jangan pernah merasa takut juga. Karena aku ada disini, selalu disini, disisimu.” ujar Yuan dengan mata yang tampak begitu sendu dihadapan Rose.
Senyum tipis pun terukir di wajah cantik bening itu, kilauan rasa ketenangan kini telah merayapi hatinya.
“Iya. Aku mengerti.” ucapnya.
Tepat saat itu juga, Ray sampai dihadapan mereka, dan Ana yang ada dibelakang Ray tampak masih berjalan dengan susah payah menyusul suaminya. Semua itu karena gaunnya yang memiliki desain sama seperti milik Rose, menyusahkan gerak cepatnya.
Plak. Suara tamparan itu menggema di antara keheningan yang sedang terjadi.
Tangan Ray melambung ke udara, mendarat tragis di wajah rupawan putranya. Entah terkontrol atau tidak, tapi tamparan itu terdengar cukup keras dan nyaring, membuat hati orang yang mendengarnya pun terasa ngilu.
“Kau sedang mencoba melawan perintahku huh?!” tanya Ray dengan nada tingginya. Para tamu undangan pun pastinya dapat mendengar apa yang ia katakan.
Plak. Sebuah suara tamparan terdengar kembali. Tapi bukan Ray pelakunya, melainkan dialah korbannya.
Ana menyembunyikan tangannya yang terasa bergetar setelah menampar suaminya itu dihadapan banyak orang. Mata wanita paruh baya itu terlihat seperti sebuah danau dangkal yang bendungannya hampir ambyar. Kelenjar air matanya pun seolah-olah sedang mengalami kebocoran fatal, tidak dapat lagi ia kontrol dengan baik.
“Ana.” lirih Ray, menampilkan raut wajah yang tak dapat orang lain pastikan ekspresi apa yang sedang ia tampilkan.
Pria itu sekilas terlihat marah, tapi juga ada aura kekecewaan dan kesedihan yang menyelimutinya.
“Berapakali aku harus mengatakan ini padamu? Jangan pernah paksa putraku dalam urusan pasangan hidup. Karena Yuan punya pilihannya sendiri. Dia punya hati, hatinya punya hak untuk memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Jangan hanya karena ada darahmu mengalir ditubuhnya, kau jadi seperti ini, sesuka hatimu memutuskan hal yang bagiku sangat tidak pantas.” ujar Ana.
Setelah itu, keheningan kembali melanda. Malam ini, terdiam dan membisu bagai pandemik yang menular, tidak ada satupun yang bersuara, bahkan mungkin suara nafas cicak pun akan terdengar karena keheningan yang sangat kental ini.
Lalu kemudian, suara tawa hambar menghancurkan dinding keheningan, kerutan kebingungan tampak menghiasi kening setiap orang.
Apa yang sedang dia tertawakan?
Pertanyaan itu meluncur bebas dari dalam hati setiap orang yang mendengar Ray tertawa setelah ia diam selama beberapa detik ke menit.
“Putramu? Dia itu juga putraku. Putra kita. Aku tahu kalau kau yang melahirkannya, tapi tanpa aku, kau tidak akan mungkin mengandungnya dan bahkan sampai melahirkannya ke dunia ini. Jangan keras kepala, aku juga sudah mengatakan ini padamu berulangkali. Ini semua untuk kebaikan masa depan anak kita.” kata Ray, tangannya beberapa kali tampak bergerak menunjuk Ana, dirinya dan juga Yuan secara bergantian.
__ADS_1
“Dad, apa Daddy sedang merendahkan Mommy?” tanya Yuan, merasa tidak suka dengan kata-kata yang keluar dari bibir paruh baya itu.
“Kau tidak perlu ikut campur masalah orangtua. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah kembali ke atas panggung dan sambut Rue sebagai tunanganmu.” perintahnya.
“Ray!” pekik Ana, nadanya sangat lantang, sepertinya amarah wanita paruh baya itu sudah sampai pada puncak pendakian.
Ray tersenyum miris. Tapi kemudian, sebuah ekspresi yang sudah lama tidak Ana lihat, tampil dengan berani di wajah suaminya itu.
“Penjaga!” teriak Ray. Beberapa petugas keamanan dengan seragam hitam pun tampak datang menghampirinya. “Bawa nyonya kalian kembali ke rumah. Sepertinya dia sedang tidak enak badan.” katanya lagi.
“Baik, Ketua Ray.” jawab para petugas keamanannya itu, menerima perintahnya.
“Ray, kau jangan keterlaluan. Ray, suruh mereka lepaskan aku. Ray— ” protes Ana terus terlontar sampai wanita paruh itu dibawa paksa untuk keluar dari dalam ruang pesta yang sudah kacau balau ini.
Ray kembali menoleh pada Yuan ketika istrinya tampak telah menghilang dari jarak pandangnya. “Cepat ikuti perintah Daddy. Kembali ke panggung dan sapa Rue sebagai tunanganmu.” katanya.
Yuan menatap ayahnya itu tajam, seolah rasa hormatnya telah menguap bercampur dengan udara yang terhirup oleh indra pernapasan.
“Maaf, Dad.” ucapnya. “Aku tidak bisa menuruti perkataan orang yang telah melukai hati Mommyku.” sambungnya lagi.
Pria berusia dua puluh lima tahun itu kemudian menarik tangan Rose, ia membawa gadis itu pergi menjauh dan keluar dari dalam gedung tersebut.
Telinganya pun seolah menuli terhadap teriakan ayahnya ataupun panggilan dari Rue
Yuan terus melangkah kedepan sembari menggenggam tangan Rose kuat, seolah memberitahu kalau dirinya tidak akan pernah melepaskan gadis itu begitu saja.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
*✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
**Spoiler episode selanjutnya*** ~
Yuan mengajak pergi Rose ke sebuah pulau yang telah beralih akta menjadi miliknya beberapa bulan yang lalu.
Akankah keduanya memutuskan tinggal disana dan hidup bahagia? Ataukah ini semua hanyalah permulaan dari segala ribuan pisau tajam yang akan menerjang?
Ikuti terus kisahnya untuk mendapatkan jawabannya. Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1
NP : Untuk novel TMDM sebenarnya ingin di up hari ini, tapi karena beberapa kendala, maka saya putuskan besok pagi akan di up. Terimakasih.
Jangan lupa dengan komentar, like dan vote kalian. Karena semua itu adalah penyemangat bagi saya. Salam hangat.